Proposal/Disain Penelitian Mini (untuk nilai UTS)

13/04/2014

Dear Mahasiswa,

Judul/tema penelitian yang saya minta dipikirkan sejak awal perkuliahan sudah harus dirumuskan ke dalam proposal/disain penelitian secara konkrit. Kesiapan anda mengajukan proposal ini akan berpengaaruh terhadap praktek penelitian yang akan anda tempuh pada paruh akhir perkuliahan. Untuk itu, saya minta anda agar masing-masing sudah mengantongi judul/tema penelitian yang akan diusulkan, konsultasikan kepada saya mengenai kemungkinan bisa atau tidaknya, lalu rumuskan ke dalam sebuah proposal singkat 1-3 halaman saja yang berisi:

1. Judul Penelitian
2. Latar Belakang Permasalahan
3. Research Question (atau perumusan masalah)
4. Metodologi Penelitian, dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Proposal paling lambat diajukan pada 14 Mei 2014 pk. 24.00 WIB, sesuai kesepakatan dalam jadwal kuliah. Proposal dibuat dalam bentuk dokumen softcopy dikirim ke email saya: m.anwarsy@gmail.com

Segera setelah anda mengirimkan proposal, anda diminta memberitahukan melalui sms/WhatsApp/facebook untuk mendapatkan konfirmasi penerimaan. Pesan penerimaan dari saya penting untuk disimpan dan bisa ditunjukkan sebagai bukti komplain jika di kemudian hari nilai anda tidak muncul di AIS.

Pesan konfirmasi penerimaan juga perlu dicermati apakah proposal anda diterima sepenuhnya, sehingga anda bisa langsung melakukan penelitian, atau diterima dengan catatan, sehingga anda perlu melakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melaksanakan penelitian, atau bahkan ditolak dan diminta untuk membuat yang baru. Hal yang terakhir hanya akan terjadi bila terdapat unsur plagiasi.

Demikian harap diperhatikan. Masih ada waktu sekitar satu bulan sebelum tenggat pengiriman proposal habis. Pergunakan waktu anda dengan baik. Semakin cepat anda mengirimkan proposal dan mendapatkan konfirmasi penerimaan, semakin banyak waktu yang anda dapatkan untuk melakukan praktek penelitiannya.

Selamat Bekerja.

Salam,

MAS

Contoh proposal dapat dilihat di beberapa link di bawah ini:

http://anwarsy.wordpress.com/2010/04/10/285/

http://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/mahdi/

http://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/nurul-wati/

SAP MPTH 2013-2014

03/03/2014

Nama Matakuliah            : Metodologi Penelitian Tafsir Hadis

Kode Matakuliah              : QUR 7026

A. Deskripsi Matakuliah

Matakuliah Metodologi Penelitian Tafsir Hadis ditekankan pada pengembangan kemampuan mahasiswa dalam memahami sekaligus mempraktekkan penelitian bidang Tafsir Hadis. Untuk itu, fokus kajian mata kuliah ini dimulai dengan pemahaman tentang ruang lingkup bidang kajian Tafsir Hadis, penguasaan ragam metode pendekatan dalam penelitian Tafsir Hadis, termasuk ragam penedekatan interdisipliner yang mengaitkan pemakaian bidang kajian filologi, analisis sosio-historis, filsafat hermeneutika, dan kajian jender. Selain itu, mahasiswa juga diarahkan untuk mampu membuat sebuah disain penelitian dan mempraktekkan disain yang sudah dibuat dalam sebuah kegiatan penelitian mini.

B. Kompetensi Dasar     

  1. Kecakapan dan kemampuan menjelaskan definisi metodologi penelitian Tafsir Hadis dan menentukan ruang lingkup batasannya.
  2. Kecakapan dan kemampuan menunjukkan hubungan antara berbagai kelompok kajian dalam lingkup tafsir hadis dengan kekhususan paradigma yang berlaku di dalamnya, dan kemungkinan melakukan upaya pengkajian melalui kerangka konseptual yang berasal dari paradigma keilmuan di luar ruang lingkupnya.
  3. Kecakapan dan kemampuan menyebutkan dan menguraikan ragam pendekatan yang bisa dilakukan dalam penelitian bidang kajian Tafsir Hadis melalui skema penelitian interdisipliner, baik itu melalui kajian naskah secara tekstual melalui pendekatan filologis dan kritik sastra, kajian kritik kontekstual, hermeneutika, dan kajian jender.
  4. Kecakapan dan kemampuan membuat sebuah rancangan/disain penelitian dengan merumuskan tema penelitian, latar belakang pentingnya penelitian tersebut, pertanyaan penelitian, metodologi, serta bahan bacaan yang diperlukan.
  5. Kecakapan dan kemampuan melakukan praktek penelitian sesuai dengan judul yang sudah diajukan sebelumnya, dan menuliskan hasil penelitiannya dalam sebuah tulisan ilmiah yang tidak dipublikasikan.

 

C. Daftar Pustaka

Abu Zahw, Muhammad Muhammad. Al-Hadits wa al-Muhadditsûn. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1984.

Abu Zayd, Nasr Hâmid. Mafhûm al-Nass. Kairo: Al-Hayât al-Misriyyah li Ammat al-Kitâb, 1993.

Amal, Taufik Adnan.; dan Panggabean, Syamsu Rizal. Tafsir Kontekstual Al-Qur’an. Sebuah Kerangka Konseptual. Bandung: Mizan, 1990.

Arkoun, M. Berbagai Pembacaan al-Qur’an (terj. Machasin) Jakarta: INIS, 1997.

Azami, M.M. Metodologi Kritik Hadis (terj. A Yamin), Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992.

Bleicher, J. Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy and Critique. London: Routledge & Kegan Paul.

Bogdan, R.C.;  dan Knopp Biklen, Sari. Qualitative Research for Education, an Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, 1998.

Dzahabî, M.H. Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Kairo: Mustafâ al-Bâb al-Halabî, nd, 2 vols.

Dzahabî, M.H. Ittijahat al-Munharifa fi tafsir al-Quran, Kairo: Dâr al-I‘tisâm, nd.

Farmawi, Abd al-Hayy al-. al-Bidaya fi Tafsir al-Mawdu’i. Fajjala: Matba’a al-Hadara al-‘Arabiyya, 1977.

Gadamer, Hans Georg. Philosophical Hermenutics. (terj. David E. Linge). Berkeley: University of California Press, 1977.

Goldziher, I.  Madzâhib al-Tafsîr al-Islâmî. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1975.

Hasan, Rif‘at.; dan Mernisi, Fatima. Setara di Hadapan Allah Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam tradisi Islam. Yogyakarta: LSPAA, 1995.

Howard, R.J. Three Faces of Hermeneutics: An Introduction to Current theory of Understanding, Los Angeles: University of California Press, 1982.

Humphreys, R. Stephen. Islamic History, A Framework for Inquiry. Princeton: Princeton Univ. Press, 1991.

Ismail, M. Syuhudi. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Mc Auliffe, Jane Dammen. Quranic Christians an Analysis of Classical and Modern Exegesis, Cambridge: Cambridge Univ. Press, 1991.

Palmer, Richard. Hermeneutics, Evanston: Northwestern University Press, 1969.

Patte, Daniel. What is Structural Exegesis? Philadelphia: Fortress Press: 1976.

Qattan, Manna’ Khalîl. Mabâhits fî ‘ulûm al-Qur’ân. Beirut: Dâr al-I’tisâm.

Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung: al-Ma’arif.

Rippin, Andrew (ed). Approaches to the History of the Interpretation of the Qur’an. Oxford: Clarendon Press

Robson, Stuart. Principles of Indonesian Philology, Dordrecht: Foris Publication, 1988.

Salih, Subhi. Mabahits fi ulum al-Qur’ân. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1988.

Suyuti, Jamaluddin al-. al-Itqan. Kairo: Maktaba al-Masyhad al-Husayniyya, 1967.

Syarifuddin, M. Anwar. Metodologi Penelitian Tafsir Hadis, hasil penelitian buku ajar, 2006.

Watt, W. Montgomery. Bell’s Introduction to the Qur’an. Edinburg: Edinburg Univ. Press, 1970.

Zarkashi, Badruddin. Al-Burhan fi ulum al-Quran, Kairo: 1959, 4 vols.

Internet: Blog MENGAJAR di http://anwarsy.wordpress.com

Topik Bahasan
SAP MPTH SAP MPTH 2

UAS MPTH 2013: Tugas Praktek Penelitian

25/11/2013

Ujuan Akhir Semester untuk mata kuliah MPTH 2013 dilakukan dengan menyerahkan sebuah tulisan/artikel/paper/makalah yang merupakan hasil dari penelitian mini yang dilakukan berdasarkan proposal/disain penelitian yang diusulkan sebelumnya.

Panjang tulisan adalah 3.000 kata (atau jika menggunakan format mesin ketik, maka 3000 kata itu setara dengan tulisan 15 halaman kwarto spasi ganda).

Waktu untuk melakukan penelitian ini dan penulisan hasilnya secara formal diberikan dalam 7 pekan, maksimum. Bagi mereka yang telah menyerahkan disain penelitian lebih awal, maka dapat memulai pelaksanaan penelitian ini juga lebih awal. Bagi mereka yang masih bermasalah dengan proposalnya diharapkan dapat menyerahkan disain/proposal penelitian secepatnya. Format laporan penelitian dapat diserahkan dalam bentuk paper/makalah/artikel untuk jurnal. Penyerahan laporan dapat dilakukan secepatnya, jika sudah selesai tanpa harus menunggi hingga batas akhir penyerahan untuk menghindari menumpuknya koreksi, mengingat tahun ini saya menerima 103 proposal dari 4 kelas yang saya ampu.

Tulisan diharapkan dapat diserahkan dalam bentuk softcopy dalam sebuah attachment melalui email ke alamat m.anwarsy@gmail.com paling lambat sudah diterima tanggal 08 Januari 2014. Pengirim diharapkan menuliskan nama dan nimnya di sudut kiri atas tulisan. Agar memudahkan klaim, setiap pengirim juga diharapkan memberi konfirmasi melalui sms, baik secara kolektif atau individu; dan bila sudah diterima, maka saya akan mengirimkan konfirmasi balik, baik melalui sms ataupun balasan email. Konfirmasi balik dari saya ini diperlukan sebagai bukti kalau anda benar-benar telah mengirimkan tugas UAS sesuai dengan format yang dikehendaki. Jika di kemudian hari terdapat komplain, seperti kasus nilai yang tidak keluar, padahal anda merasa sudah menyerahkan tugas melalui email, maka anda bisa mengajukan konfirmasi balik tersebut sebagai alat bukti penguat sebagai dasar bagi saya untuk memberikan nilai susulan.

Selamat Bekerja!!!

Konsultasi selama praktek penelitian berlangsung dapat dilakukan melalui email, komunikasi seluler, atau online. Bila diperlukan, anda juga dapat menjadwalkan pertemuan di kampus.

Kesetaraan Jender

04/11/2013

Pendekatan baru yang masih digandrungi sebagai sebuah model penelitian dalam banyak aspek kajian, dan lebih khusus kajian keislaman dewasa ini terutama menyangkut masalah perempuan, adalah pendekatan kesetaraan gender. Kata jender atau gender didefinisikan sebagai semua hal baik yang dikonstrusksi secara sosial maupun kultural, yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu kelas ke kelas lainnya. Gender adalah pembedaan peran, status, pembagian kerja, yang dibuat oleh sebuah masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Hal ini menjadi bentukan manusia yang tidak baku, karena bisa berubah. Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Perbedaan gender ini tidak menjadi masalah krusial ketika tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities), akan tetapi pada kenyataannya perbedaan jender justru melahirkan struktur ketidakadilan, dalam berbagai bentuk: marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, beban kerja, yang secara ontologis merupakan modus utama kekerasan terhadap perempuan. Pada kondisi inilah kekuasaan laki-laki mendominasi perempuan, bukan saja melangengkan budaya kekerasan, tetapi juga melahirkan rasionalitas sistem patriarki. Ideologi patriarki adalah ideologi kelaki-lakian, di mana laki-laki dianggap memiliki kekuasaan superior dan priviledge ekonomi. Patriarki dianggap sebagai masalah yang mendahului segala bentuk penindasan. Hal inilah yang menjadi agenda kaum feminis ke depan, ketika pusat persoalan adalah tentang tuntutan kesetaraan, keadilan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dari sinilah persoalan mengenai jender seolah tidak bisa dilepaskan dengan masalah feminisme.

Apa itu feminisme? Dalam hal ini, ada 3 definisi yang memberi makna istilah ini:
(1) Feminisme adalah teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga Juliet Mitchell dan Ann Oakley dalam What is Feminism? (1986) mengatakan seorang daat dikategorikan sebagai feminis jika ia mempertanyakan hubungan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan, sekaligus secara sadar menyatakan dirinya sebagai seorang feminis.
(2) seorang dapat dikatakan feminis sepanjang pemikiran dan tindakannya dapat dimasukkan ke dalam aliran-aliran feminisme yang dikenal sekarang ini, seperti feminisme liberal, marxis, sosialis, dan radikal.
(3) Feminisme adalah sebuah gerakan yang didasarkan pada adanya kesadaran tentang penindasan perempuan yang kemudian ditindaklanjuti dengan aksi untuk mengatas penindasan tersebut. Di sini kesadaran dan aksi menjadi inti komponen yang harus ada kedua-duanya agar dikatakan sebagai feminis.

Kesimpulan yang bisa diambil dari 3 definisi di atas, feminisme tidak mendasarkan pada sebuah grand theory yang tunggal, tetapi lebih pada realitas kultural dan kenyataan sejarah yang konkrit, dan tingkatan-tingkatan kesadaran, persepsi, dan tindakan. Untuk itulah maka gerakan feminisme kerap diasosiasikan sebagai gerakan pembebasan, di mana kemudian ketika terjadi penyandaran argumentasi yang mengatasnamakan agama, atau opengambilan sumber-sumber ajaran yang berasal dari kitab suci, maka terjadilah apa yang disebut sebagai teologi feminisme, yang kemudian dikenal pula sebagai bagian dari teologi pembebasan.

Teologi Feminisme berasal dari teologi pembebasan (liberation theologi) yang dikembangkan oleh James Cone pada akhir tahun 1960-an, di mana perempuan dianggap sebagai kelas tertindas. Namun, tidak seperti paradigma marxisme murni, faham teologi feminis tetap menyertakan agama. Hanya saja, bukan agama yang melegitimasi penguasa, tetapi agama sebagai alat untuk membebaskan golongan yang tertindas, yaitu perempuan. Hal yang ingin dicapai dalam teologi feminisme adalah tercapainya perubahan struktur agar keadilan jender dan keadilan sosial dapat tercipta. Teologi feminisme berkembang dalam agama-agama semitik: Yahudi, kristen, Islam, di mana agama sering ditafsirkan dengan memakai ideologi patriarki yang menyudutkan wanita. Para teolog feminis dalam Islam adalah mereka yang mencari konteks dan latar belakang ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkenaan dengan perempuan. Seperti dikatakan Rif’at Hassan, seorang Feminis Pakistan, bahwa cara pandang dan sikap negatif terhadap perempuan yang banyak terjadi pada masyarakat muslim berakar pada teologi. Oleh karena itu, jika dasar-dasar teologi yang cenderung membenci perempuan (misoginis) dan androsentris tidak dibongkar dan dihancurkan, maka diskriminasi terhadap perempuan dalam Islam akan terus berlangsung.

Pengkajian terhadap agama yang mengetengahkan perspektif kesetaraan jender seringkali diidentikkan dengan pembahasan yang berpusat pada persoalan seputar perempuan. Persoalan ini selalu menjadi pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para feminis dan para pemerhati perempuan. Ini dikuatkan dengan kemunculan gerakan-gerakan feminisme (Liberal, Marxis, Sosialis, Radikal), yang kesemuanya bermaksud memperjuangkan kebebasan perempuan dari dominasi laki-laki, atau juga membebaskan teks dari dominasi penafsiran yang bias laki-laki dengan mengeliminasi aspek-aspek penafsiran yang bernada misoginis, membenci perempuan.

Latar belakang yang mendasari kemunculan gerakan kesetaraan gender ini dalam sisi pembaharuan pemikiran Islam adalah sebuah upaya untuk mengembangkan apa yang disebut oleh orang barat sebagai “teologi feminis” yang dalam konteks Islam yang memiliki tujuan untuk membebaskan kaum perempuan dan kaum muslimin pada umumnya dari struktur-struktur dan perundang-undangan yang tidak adil dan tidak memungkinkan terjadinya hubungan yang hidup antara laki-laki dan perempuan. Rifat menilai bahwa ada ketidaksesuaian yang mencolok antara cita-cita Islam dan praktek umatnya sejauh menyangkut perempuan. Dalam hal ini, beberapa kesalahan mendasar ditemukan dalam pandangan normatif Islam yang berakar pada penafsiran terhadap al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam beragam konteks, kesetaraan kedudukan semua manusia baik laki-laki maupun perempuan di hadapan Allah dipertentangkan dengan bias penafsiran yang menganggap kelebihan status laki-laki sebagai qawwamun (yang umunya diterjemahkan sebagai “penguasa” atau “pengatur”) perempuan, laki-laki memperoleh bagian waris dua kali lebih besar dibandingkan dengan bagian kaum perempuan, kesaksian laki-laki yang sama dengan kesaksian dua orang perempuan, maupun argumen-argumen yang berakar dari hadis ketidaksempurnaan perempuan daam salat, atau menyangkut kecerdasan akalnya sebagai konsekuensi dari kesaksiannya yang dihitung hanya setengah dar kesaksian laki-laki. Kesemua doktrin teologis tersebut di atas memerlukan telaah lebih dalam, mengingat pemahaman tersebut masih mengindikasikan bias gender, padahal dalam sudut pandangan Islam normatif laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, kendati ada perbedaan status biologis dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Penafsiran yang dianggap bias gender, dan bercorak misoginis, sehingga menempatkan status laki-laki dalam derajat yang lebih superior dibandingkan dengan perempuan juga dijumpai dalam tradisi agama-agama lain. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, akar pandangan yang bias gender didapati dalam 3 asumsi teologis: (1) Ciptaan Tuhan yang utama adalah laki-laki, dan bukan perempuan karena perempuan diyakini diciptakan dari tulang rusuk Adam. Konsekuensinya, secara intologis kedudukan perempuan bersifat derivatif dan sekunder; (2) Perempuan, dalam hal ini Hawa, menjadi penyebab kejatuhan manusia dari surga. Konsekuensinya, semua anak perempuan Hawa dipandang dengan rasa benci, curiga, dan jijik; (3) Perempuan tidak saja diciptakan dari laki-laki, tetapi juga untuk laki-laki. Konsekuensinya, keberadaan perempuan hanya bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar. Ketiga asumsi teologis yang memandang rendah kaum perempuan ini, sedikit banyak masih tergambar dalam pandangan masyarakat Arab yang melatarbelakangi setting historis dan sosiologis turunnya al-Qur’an.

Dalam hal ini, tidak pula dipungkiri bahwa Islam telah berupaya untuk sedikit demi sedikit mengangkat derajat kaum perempuan dari pandangan sosialdan teologis yang ada sebelumnya. Akan tetapi, struktur sosial yang patriarkhis dan dominasi peran laki-laki dalam kultur peradaban dan perkembangan pemikiran Islam masa klasik dan periode salanjutnya menjadikan cara berfikir yang bias gender masih saja berlangsung, atau setidaknya terekam dalam praktek-praktek penafsiran al-Qur’an, yang umumnya juga dilakukan oleh ulama lak-laki. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam banyak kasus, penafsiran yang tidak didasarkan pada asas kesetaraan gender ini masih terus berlangsung sampai pada saat tafsir-tafsir tersebut digagas pada periode perkembangan pemikiran Islam abad pertengahan sampai abad awal abad ke-20. Istilah feminisme Islam sendiri baru digagas sekitar tahun 1990-an, sebagai sebuah gerakan dalam mengimbangi perkembangan gerakan Islamism. Akar gerakan kesetaraan gender sendiri sudah ada sejak seabad yang lalu, sebagaimana diadvokasi oleh Qasim Amin dari Mesir dan Mumtaz Ali dari India. Beberapa tokoh ternama lainnya yang berkecimpung dalam gerakan feminisme Islam adalah Leila Ahmad, professor kajian wanita asal Mesir; Fatima Mernissi, seorang penulis asal Maroko; Amina Wadud, dan tokoh-tokoh lainnya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa perspektif kesetaraan gender dalam penelitian kajian al-Qur’an maupun hadis ditujukan untuk menganilisis ulang teks-teks yang beredaksi misoginis, dalam sebuah upaya kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang tidak saja mempertimbangkan konteks sosio-historis dalam memahaminya, tetapi juga dengan menarik signifikansinya bagi konteks sosiologis yang terjadi pada masa kini, sehingga tetap didapatkan makna pesan-pesan al-Qur’an yang teguh berpegang pada dimensi keadilan dan kesetaraan derajat antara sesama manusia.

Penekatan Hermeneutika

29/10/2013

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10

Pendekatan Kritik Kontekstual melalui Ilmu-ilmu Sosial

22/10/2013

Memahami Makna Konteks
Dalam pendekatan kontekstual, konteks yang dimaksud dari sebuah kejadian, kata, paradigma, perubahan, atau realitas sejenisnya adalah “situasi dan kondisi yang mengelilingi sesuatu.” Makna konteks dalam ilmu bahasa mengandung 2 macam arti: (1) sekeliling teks atau percakapan tentang sebuah kata, kalimat, peralihan atau turn (yang disebut pula co-text), dan (2) dimensi situasi komunikatif yang relevan guna memproduksi atau menyempurnakan sebuah diskursus. Dari dua macam makna tadi, maka beberapa arti khusus yang menandai definisi istilah ini secara terminologis dapat dijelaskan berdasarkan spesifikasi bidang ilmu yang memakainya. Makna konteks dalam ilmu komunikasi, linguistik, dan discourse analysis; misalnya, cenderung diartikan sebagai cara-cara para partisipan menentukan dimensi relevan situasi yang komunikatif dari sebuah teks, percakapan, atau pesan, seperti setting (waktu, tempat); aktivitas yang berlangsung (misalnya, makan malam keluarga, perkuliahan, debat parlemen, dll); atau fungsi partisipan dan peranannya (misalnya pembicara, teman, wartawan, dll); serta tujuan, rencana/niat, dan pengetahuan partisipan.
Konteks dapat pula dibedakan dari dua sudut pandangan yang berbeda menyangkut sebuah peristiwa. Dalam hal ini konteks pembicara di satu sisi, dan konteks peserta atau komunikan di sisi lain, keduanya dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Konteks yang berada di sekeliling pembicara atau penulis secara tipikal mengontrol bagaimana sebuah diskursus dapat disesuaikan dengan situasi sosialnya, yaitu dengan cara membedakan gaya penuturan: bagaimana sebuah kata diucapkan, misalnya. Sementara itu, konteks yang berada di sekeliling penerima mengontrol bagaimana partisipan mengerti sebuah perbincangan, seperti bagaimana fungsi, peranan, tujuan, dan pengetahuan, atau ketertarikan mereka terhadap perbincangan tersebut berpengaruh terhadap pemahaman yang mereka dapatkan.
Dalam rangka menarik relevansi penerapan pendekatan kontekstual dalam penelitian ilmiah yang kita minati, sebut saja dalam studi kitab suci misalnya, pendekatan konteks mengindikasikan terjalinnya hubungan harmoni antara ayat-ayat kitab suci atau potongan bagian teks yang tengah dikaji terhadap apa yang harus diikuti oleh makna skriptural dalam menentukan makna yang dipilih dalam menjelaskan hubungan yang erat antara makna itu dengan ayat yang ditafsirkan. Inilah yang disebut sebagai kaidah “teks dalam konteks”. Dalam hal ini bisa juga dipahami bahwa konteks kitab suci juga semestinya mengikuti maksud dan tujuan sebagaimana dipahami oleh penulis asli terhadap sebuah pandangan dalam menyampaikan kebenaran skriptural kepada pendengarnya.

Kronologi Historis dan Setting Sosial 
Dari sini, kita bisa menarik pembahasan lebih dalam lagi dalam menyelami studi al-Qur’an dan ilmu tafsir, di mana arti penting penerapan pendekatan kontekstual dalam bidang kajian Tafsir Hadis menempati posisi krusial. Asbab nuzul atau peristiwa yang menjadi latar belakang sejarah dan setting sosial sebuah ayat merupakan elemen penting dalam tafsir dalam menjelaskan fenomena hidup (the living phenomenon) dari sebuah diskursus dalam proses pewahyuan al-Qur’an. Oleh karenanya, selain secara tekstual tertuang dalam mushaf, atau apa yang dikonsepsikan M. Arkoun sebagai korpus resmi tertutup (Arkoun 1994:35-40), al-Qur’an memiliki fenomena hidup sebagai diskursus selama kurun masa pewahyuannya yang berlangsung sekitar 23 tahun lamanya. Al-Qur’an sebagai diskursus ini menandai periode awal Islam sebelum kemudian teks al-Qur’an disepakati secara resmi pada masa pemerintahan khalifah Usman RA, yaitu ketika al-Qur’an dibukukan ke dalam sebuah teks baku dan mushaf yang resmi yang mengakhiri pertentangan yang ada terhadap beragam persoalan tentang variasi bacaan ketika itu. Mushaf Usmani inilah yang menjadi mushaf standar dan dilestarikan hingga saat ini.
Membuka kembali al-Qur’an sebagai diskursus yang berlangsung pada saat pewahyuannya dianggap sebagai cara yang tepat dalam menilai arah yang tepat berkenaan dengan penetapan hukum dalam syariat, begitu pula dalam menilai hukum-hukum yang bersifat partikular, karena bisa jadi sebuah lafazh menunjuk sebuah karakter umum, sementara latar belakang turunnya ayat tertentu menjadi argumen yang mengkhususkannya. Tentang asbâb al-nuzûl, pentingnya ilmu ini untuk diketahui oleh siapa saja yang berniat menafsirkan al-Qur’an disebutkan dengan jelas dalam pernyataan al-Wahidi, bahwa tidaklah mungkin seseorang menafsirkan al-Qur’an jika ia tidak berpegang pada kisah dan penjelasan berkenaan dengan turunnnya. Tokoh lain seperti Ibn Taymiyya juga menjelaskan bahwa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat akan membantu dalam memahami ayat itu, karena dengan mengetahui suatu konteks (sabab) pada gilirannya akan menurunkan pengetahuan tentang teks (musabbab) (Suyuti 1979: i, 29).
Pentingnya asbab nuzul dalam memahami al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh para pakar tafsir di atas, adalah karena al-Qur’an turun dalam situasi kesejarahan yang konkret. Al-Qur’an merupakan respon Tuhan terhadap situasi Arabia pada zamannya. Respon itu terekan di sana sini, bahkan bukan saja dalam tradisi kenabian yang menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa berpengaruh terhadap turunnya malaikat dalam membawa pesan Allah sebagai jawaban bagi persoalan yang dihadapi. Gambaran mengenai konteks historis tentang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dapat dilihat dalam literatur asbâb al-nuzûl, seperti karya Wâhidî yang berjudul Asbâb al-Nuzûl, ataupun karya Suyuti Lubab al-Nuqûl fi Asbâb al-Nuzûl.

Konteks Susastra
Pertimbangan terhadap konteks juga memegang peranan penting dalam kajian al-Qur’an, terutama dalam menelaah redaksi al-Qur’an yang menunjukkan bagaimana teks al-Qur’an diturunkan dalam bentuk retorika dan dialektika dalam sebuah diskursus atau perbincangan yang tidak menampilkan suara yang monofonik, ketika Allah dianggap satu-satunya penutur (speaker). Sebagaimana tergambar dalam beberapa model redaksi yang bersifat dialogis, al-Qur’an menampilkan sebuah paduan suara yang cukup beragam. Dengan melihat diskursus yang menandai proses pewahyuannya, suara al-Qur’an tergolong polifonik. Begitu banyak sumber bunyi yang tergambar dari sebuah redaksi teks al-Qur’an, sehingga perkataan “Aku” atau “Kami” tidak selalu merujuk kepada Tuhan sebagai penutur. Bahkan suara Tuhan sendiri terkadang diwujudkan dalam bentuk orang ketiga, “Dia”, atau juga orang kedua “Engkau”. Identifikasi suara Tuhan dalam bentuk pembicara ketiga kadang-kadang didahului dengan ungkapan “Katakanlah!” yang tidak disebutkan siapa subyeknya. Model perbincangan semacam ini sangat banyak terjadi di dalam al-Qur’an, terutama yang menandai karakter ayat-ayat yang turun pada periode Mekkah.
Redaksi teks yang terekam dalam QS. Al-Ikhlâs, sebagaimana dicontohkan oleh Nasr Abu Zayd menunjukkan akan keikutsertaan 3 macam suara dalam proses pewahyuannya (Abu Zayd 2004:19). Secara literal, terjemahan dari surat itu dapat disebutkan sebagai berikut:
Katakanlah, Dia adalah Allah yang Esa.
Allah yang kekal selamanya.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Dan tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.

Dari redaksi surat al-Ikhlas di atas, sesuatu yang menandai keyakinan kaum muslimin menerangkan sebuah penjelasan bahwa subyek yang tidak teridentifikasi ini merupakan suara malaikat Jibril AS, mediator dan utusan Allah yang menyampaikan pesan Allah kepada Muhammad SAW. Sebagai utusan yang membawa pesan Allah, Jibril menjelaskan Kalamullah melalui suara dirinya yang bertindak atas nama Tuhan. Dari sini, suara Tuhan secara tidak langsung (implicit), yang terpancar jelas oleh Muhammad dalam wujud suara malaikat, pada gilirannya harus diumumkan pula kepada khalayak sebagai target akhir penerima pesan ilahi. Penyampaian ini tentu saja melalui suara Muhammad sendiri sebagai seorang manusia. Dengan keikutsertaan ketiga macam suara, maka model diskursus yang berlangsung dalam surat al-Ikhlas bersifat “informatif”.
Al-Qur’an tidak saja menampilkan model diskursus informatif, tetapi terdapat pula model “dialog implisit” dalam bentuk hymne atau ayat-ayat liturgis di mana penuturnya adalah suara manusia, sementara Tuhan digambarkan sebagai komunikan. Contoh terbaik untuk model dialog ini adalah QS. Al-Fâtihah, yang merupakan pembacaan yang sangat jelas (ekslpisit); sementara respon Tuhan bersifat implisit. Oleh karena itu, bagi setiap pembaca disarankan untuk membaca ayat-ayat ini secara pelan-pelan dengan cara berhenti sejenak di setiap akhir ayat guna dapat menerima jawabannya. Dengan kata lain, pembacaan surat ini meliputi proses yang meliputi baik vokalisasi maupun juga proses mendengarkan dengan seksama (sama’) karena pada saat yang sama ketika pembacaan surat al-Fatihah dilakukan di dalam salat, Allah memberikan jawaban bagi permohonan hambanya (Abu Zayd 2004:21). Dari beberapa susunan model diskursus al-Qur’an, seorang peneliti akan menemukan arti penting konteks dalam kajian kitab suci ini.
Sebuah bidang kajian yang mendapatkan perhatian cukup besar dalam upaya ijtihadi setiap penafsir al-Qur’an adalah ilmu munâsabât, yaitu keterkaitan antara bagian-bagian dalam al-Qur’an. Kajian ini juga menyangkut aspek konteks dalam arti keterikatan redaksional maupun makna ditinjau dari tata urutan ayat-ayat dan surat dalam mushaf. Dengan kata lain, jika konteks yang dibicarakan dalam asbâb al-Nuzûl adalah latar belakang sosio-historis yang menandai kronologis ayat berdasarkan turunnya, maka konteks yang diurai dalam ilmu munasabat adalah kronologi teks dalam mushaf (Abu Zayd 1993:179-197). Dalam hal ini keterkaitan redaksional maupun makna dapat dilihat baik antara satu ayat dengan ayat-ayat sesudahnya, kelompok besar ayat-ayat dengan kelompok besar ayat-ayat lainnya, sebuah surat dengan surat lain sesudahnya, atau bahkan bagian akhir sebuah surat dengan bagian pembuka surat sesudahnya. Keterkaitan antar bagian-bagian al-Qur’an dalam susunan redaksional dan maknanya menunjukkan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang mendukung konsepsi i’jaz al-Qur’ân yang benar-benar datang dari sisi Tuhan, dan tidak bida ditandingi oleh komposisi yang dibuat oleh manusia manapun.

Konteks dalam Hadis dan Fiqh
Arti penting konteks juga berlaku dalam penelitian hadis, di mana sebuah ungkapan, atau perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW biasanya lahir dari sebuah kejadian yang melatarbelakangi munculnya pernyataan dan amaliah tersebut. Untuk itu, pendekatan kontekstual baik dalam bentuk ulasan tentang setting historis, sosiologis, maupun budaya yang mendasari sebuah tradisi kenabian ataupun diktum agama pada masa pembentukannya di masa-masa sesudahnya menjadi sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan makna dan pemahaman yang bisa diambil darii hadis-hadis di luar susunan redaksionalnya. Konteks dalam hal ini juga menjadi pertimbangan dalam melakukan interpretasi terhadap hadis bagi kepentingan penetapan hukum dalam fiqh Islam.
Dalam proses dan aktivitas penelitian tentang diktum maupun doktrin agama baik yang berasal dari kitab suci maupun tradisi kenabian, penyertaan konteks memiliki peranan cukup penting dalam membentuk karakter dari diktum maupun doktrin tersebut. Lokasi turunnya wahyu, seperti yang membedakan antara kelompok ayat-ayat makkiyah yang turun di Mekkah dan kelompok ayat-ayat madaniah yang turun di Madinah sesudah hijrah, turut membentuk karakter redaksional maupun isi kandungan pesan yang disampaikan yang menandai ciri-ciri umum redaksi masing-masing periodisasi pewahyuan al-Qur’an tersebut. Dalam hal ini, perbedaan penggunaan kata panggilan (munada) dan substansi pesan yang disampaikan juga menandai perbedaan karakter antara dua kategorti historis tadi.
Pertimbangan konteks, atau lebih tepatnya kronologi historis juga berpengaruh terhadap penetapan dan pembatalan hukum dalam kasus nasikh mansukh. Dalam hal ini, bacaan atau hukum yang berlaku lebih awal dibatalkan oleh bacaan atau hukum yang datang belakangan. Konteks yang menjadi latar belakang peristiwa yang menjelaskan turunnya sebuah perintah yang dikandung dalam sebuah ayat al-Qur’an, jika dilihat melalui teksnya secara telanjang melalui tata urutan mushaf semata, maka aspek-aspek kronologis semacam pembatalan hukum sama sekali tidak bisa terdeteksi. Konteks kronologis menjadi kajian yang harus dicermati, sehingga pembacaan terhadap al-Qur’an dengan menyertakan konteks turunnya ayat tersebut dapat dijadikan patokan mana ayat yang turun lebih dulu —yang hukumnya dibatalkan, dan mana yang turun belakangan dan menggantikan hukum yang pertama.

Kesimpulan
Menelusuri konteks melalui pendekatan sejarah, sosiologi, maupun budaya seperti yang ditampilkan Nasr Abu Zayd dalam membedah konsep-konsep dalam karyanya Mafhum al-Nass dan karya-karya sarjana muslim lain merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan kajian agama dalam merespon perkembangan kajian sosiologis dan humaniora melalui pendekatan cultural studies (kajian budaya) yang mulai marak dikembangkan pada akhir abad ke-20. Pendekatan ini dilakukan dengan mengenalkan pemikiran aliran marxisme ke dalam sosiologi, dan sebagiannya melalui artikulasi sosiologi dan displin akademik lain, seperti kritik sastra, maupun disiplin agama. Gerakan ini bertujuan untuk memusatkan analisis terhadap subkultur-subkultur dalam masyarakat kapitalis. Mengikuti tradisi non-antropologi, kajian budaya biasanya memfokuskan kajian konsumsi barang (seperti pakaian, seni, dan literatur). Karena ada perbedaan antara kultur rendah dan kultur tinggi pada abad ke-18-19 yang tidak lagi pantas untuk diaplikasikan pada konsumsi barang yang diproduksi dan dipasarkan secara massal yang menjadi pokok analisis kajian kultur, maka sarjana merujuknya sebagai budaya populer.
Walhasil, apapun pisau bedah yang digunakan dalam meneliti fenomena keagamaan melalui pendekatan kontekstual, pendekatan akademis ini bermuara pada semakin banyaknya titik-titik persinggungan antara agama dan kenyataan dalam kehidupan manusia kontemporer yang membutuhkan metodologi pemecahan masalah yang harus tetap berlandaskan pada semangat universalitas al-Qur’an agar bisa menjadi rahmat bagi semesta alam.

Pendekatan Filologis

08/10/2013

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide12 Slide13

Daftar Nama Pemakalah

07/10/2013

DAFTAR PEMAKALAH DISKUSI MPTH

RAGAM PENDEKATAN DALAM KAJIAN TAFSIR HADITS

WAKTU/TEMA

KELAS

VII/TH/A

VII/TH/B

VII/TH/C

09-10

Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra

Hurin in

Ferra Dwi J

Muh. Khalimi

Andi Firman

Ernik Sulis Setiawati

Adi Sunarya

Maghfiroh

Hafiz

Yadi Mulyadi

M. Rasyidi

Gugun G.

Nurkholis S.

Suprihatini

Dani

Ima

Ai Nurfatwa

I. Haromain

Januri

23-10

Pendekatan Kritik Kontekstual melalui Ilmu-ilmu Sosial

Wahyu

Al-Ghifri M

Zaenuri

Ali Akbar

Maulana

Aceng Aum

Lailu R

Nurul H.

Ina Nur

Afwan

Leli

Denis

30-10

Pendekatan Hermeneutika

M. Dedi Sofyan

Habibullah

Maringo

Serpin

Gusti Rahmat

R. Usman

M. Hanif

Hani

Ai Popon

Ulul Azmi

Syarifatunnisa

Dede Rihana

Inggit

Anisa

06-11

Perspektif Kesetaraan Jender

Rida

Nisa

Rina

Putri

Ida

Sa’adah

Annalia

Alfionita

M. Ghozali

Alamuddin

Sartika

Maliya

Lukman

Ilmawan

Ruang Lingkup dan Perlunya Pendekatan Interdisipliner dalam Penelitian TH

30/09/2013

Slide1Slide2Slide3Slide4Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide16 Slide17 Slide18

Kuliah Pengantar 1: Apa itu MPTH?

23/09/2013

Slide1 Slide2 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide11Slide2

 

MPTH 2013-2014

09/09/2013

Selamat Datang di BLOG MENGAJAR, Bagi para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Metodologi Penelitian Tafsir Hadits (MPTH) semester ini di FU/TH/VII/a-b-c-d diberitahukan bahwa perkuliahan baru akan dimulai pada Rabu, 25 September 2013, karena seluruh mahasiswa semester 7 di UIN Jakarta masih melaksanakan KKN di lokasi penempatan masing-masing. Untuk itu, bagi mahasiswa yang bermaksud mengulang MK ini atau mereka yang berasal dari semester bawah dan mendaftar untuk mengambil MPTH tahun ini diharapkan dapat menyesuaikan jadwal perkuliahan. Berikut saya lampirkan jadwal perkuliahan untuk MPTH 2013-2014:

Jadwal Perkuliahan Metodologi Penelitian Tafsir Hadits 2013-2014

WAKTU

MATERI

PENYAJI

Pekan 1 Pendahuluan: Apa itu Metodologi Penelitian Tafsir Hadits Dosen
Pekan 2 Lingkup Kajian Tafsir Hadits

  1. Kelompok Kajian al-Qur’an dan Ulum al-Qur’an
  2. Kelompok Kajian Tafsir dan Metode Penafsiran
  3. Karya-karya dalam Rumpun Kajian Tafsir al-Qur’an
  4. Kelompok kajian Hadis dan Ulum al-Hadis
  5. Karya-karya dalam Rumpun Kajian Hadis
Dosen
Pekan 3 Penelitian Tafsir Hadis melalui Pendekatan Interdisipliner

  1. Latar Belakang Perlunya Pendekatan Interdisipliner dalam Kajian Tafsir Hadis
  2. Perkembangan Penelitian Tafsir Hadis dalam Iklim Kesarjanaan Muslim Kontemporer
  3. Perkembangan Penelitian Tafsir dan Hadis dalam Iklim Kesarjanaan Barat Modern
 
Pekan 4 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra

  1. Pendekatan Bahasa dalam Filologi Klasik
  2. Kritik Naskah dalam Filologi Modern
  3. Kritik Sastra, Kritik Bentuk, Kritik Redaksi
 
Pekan 5 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Kritik Kontekstual

  1. Arti Penting Konteks dalam Kajian al-Qur’an dan Hadis
  2. Beberapa Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial/humaniora sebagai alat/metodologi Kritik: Ilmu Sejarah, Politik, Sosiologi, dan Antropologi
 
Pekan 6 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Hermeneutika

  1. Memahami Perkembangan Makna Hermeneutika dalam Kajian Teks  Kitab Suci
  2. Penerapan Teori-teori Hermeneunika Modern dalam Kajian Tafsir Hadis
 
Pekan 7 Penelitian Interdisipliner melalui Perspektif Kesetaraan Jender.

  1. Mengenal Apa itu Perspektif Kesetaraan Jender
  2. Arti Penting Analisis Jender dalam Kajian Keislaman
 
Pekan 8 Menyusun Disain Penelitian Tugas Mandiri
Pekan 9
Pekan 10 Praktik Penelitian Tugas Mandiri

Catatan:

  1. Mahasiswa diharapkan sudah menetapkan tema/judul penelitian pada pekan ke-3 perkuliahan
  2. Tugas UTS menyerahkan Disain Penelitian max 20/11/2013
  3. Tugas UAS menyerahkan makalah/paper penelitian max 08/01/2014 (lebih cepat lebih baik).
  4. Tugas-tugas dikumpulkan via email: m.anwarsy@gmail.com
  5. Informasi & materi perkuliahan dapat dilihat dan diunduh di BLOG MENGAJAR http://anwarsy.wordpress.com

UAS TAFSIR AHKAM VI/TH/D

20/05/2013

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)

MATA KULIAH TAFSIR AHKAM 2013

KELAS: VI/TH/D                                                                 Dosen: M. Anwar Syarifuddin

 

Dari salah satu rincian tema di bawah ini, buatlah satu makalah dengan judul yang sama!!! Dengan ketentuan susunan dan isi pembahasan sebagai berikut:

  • Ayat al-Qur’an,
  • Terjemah ayat al-Qur’an,
  • Mufradat: Penjelasan harfiah seputar kata-kata penting yang dikandung ayat,
  • Asbab Nuzul (jika ada),
  • Munasabat dengan ayat sebelum/sesudahnya,
  • Penjelasan/tafsir,
  • Kesimpulan.

Makalah diserahkan secepatnya (lebih baik) atau selambat-lambatnya pada Selasa, 18 Juni 2013, melalui email attachment, kirim ke m.anwarsy@gmail.com

Catatan:

  1. Bagi mahasiswa yang sudah menyerahkan tugas UAS ini diharapkan menginformasikan ke nomor hp 081318580108, sehingga bila ada kekeliruan pengiriman atau kesalahan sehingga email tidak sampai ke akun dimaksud, dapat dikonfirmasi lebih lanjut.
  2. Nama-nama mahasiswa yang sudah ditetapkan masih dapat memilih/bertukar judul dengan teman, asalkan masih dalam lingkup tema besar yang pernah dipresentasikan dalam diskusi di kelas.

 

 

 

TEMA BESAR RINCIAN TEMA/JUDUL NAMA MAHASISWA
Riba Jual beli tidak sama dengan riba: QS. al-Baqarah [2]:275 Ai Nurfatwa
Allah menghancurkan riba dan melipatgandakan [pahala] sadaqah: QS. al-Baqarah [2]:276 Eneng Ima Siti Madihah
Perintah meninggalkan praktek riba yang sudah berlangsung selama masa jahiliah: QS. al-Baqarah [2]:278-279  
Bahaya praktek riba: QS Ali Imran [3]:130  
Larangan Menyuap Hakim dan Memakan Hak Orang Lain Larangan memakan harta yang bukan haknya dan menyuap hakim untuk memperdaya hukum: QS. Al-Baqarah [2]:188 Azhari Fadilah
Perintah memenuhi takaran dan timbangan: QS. An-Nisa’ [4]:29-30. Seman Ansyarie
Bughat dan Hirabah Kebolehan memerangi kaum muslim yang memberontak (bughat): QS. Al-Hujurat [49]:9-10. Khafidzoh
Hukuman bagi pelaku hirabah: QS. Al-Maidah [5]:33-34. Syarifatunnisa
Riddah Ancaman riddah bagi komunitas muslim: QS al-Baqarah [2]:217 Mabrur
Allah akan mengganti orang-orang yang murtad dengan generasi muslimin yang lebih baik: QS. Al-Maidah [5]:54. Moh. Khoiri
Qatl dan Sariqah Membunuh satu jiwa tanpa hak sama seperti membunuh seluruh manusia (QS. Al-Maidah [5]:32) Danisi
Sanksi diyat bagi pembunuhan secara tidak sengaja (QS. An-Nisa’ 92) Nurlaeli
Hukuman potong tangan bagi pencuri  (QS. Al-Maidah [5]:38-39)  
Qadzaf dan Zina Larangan mendekati perbuatan zina (QS al-Isra’[17]:32) Maringo
Hukuman cambuk bagi pezina yang masih bujangan (QS An-Nur [24]:2) Adi Sunarya
Larangan menikahi lelaki/wanita pezina (QS An-Nur [24]:3) M. Indra Purnama
Nikah dan Mahar Tujuan menikah dalam Islam : QS. An-Nisa’ [4]:1, Khairul Anam
Kewajiban memberi mahar untuk wanita yang dinikahi: QS. An-Nisa’ [4]:4, Intan Tri Aisyah
Wanita-wanita yang haram dinikahi: QS. An-Nisa’ [4]:22-23.  
Poligami Kebolehan mengambil istri hingga empat orang: QS. An-Nisa’ [4]:2-3 Jajang Jaeni
Sulitnya berlaku adil terhadap para isteri: QS. An-Nisa’ [4]:129. Eristia Mulyawan
Nikah Beda Agama Larangan menikahi lelaki/wanita musyrik: QS. Al-Baqarah [2]:221, Ai Popon Fatimah
Fasakh nikah akibat pindah agama: QS al-Mumtahanah [60]:10 Hani Hilyati Ubaidah
Kebolehan menikahi wanita kitabiyah:QS. Al-Maidah [5]:5.  
Talaq Hukum Thalaq dan hak untuk rujuk: QS. al-Baqarah [2]: 229, 230, 231, 232 Rizal Mampa
Aturan tentang Thalaq: QS at-Thalaq [65]:1 Maslam Danur
Iddah Masa Iddah bagi wanita tertalak: QS. al-Baqarah [2]: 229, 234-237. Annisa
Iddah untuk wanita dalam periode menopause: QS at-Thalaq [65]:4, Noviyanti
Tidak ada masa Iddah untuk wanita tertalak yang belum disentuh QS. Al-Ahzab [33]:49.  
Nusyuz dan Syiqaq Sikap bagi suami yang kuatir isterinya akan nusyuz:QS. An-Nisa [4]:34, Ahmad Shalahuddin
Mencari penengah dalam menyelesaikan perselisihan rumah tangga: QS. An-Nisa [4]:35, M. Usman
Tawaran perdamaian dalam menghadapi perselisihan rumah tangga: QS. An-Nisa [4]:128. Dedi Sofyan
Waris Perintah agar memenuhi hak (waris) anak yatim: QS. An-Nisa [4]:5-6, Wilda
Bagian-bagian waris menurut Islam: QS. An-Nisa [4]:7-15 Annalia

Selfi

 

UAS TAFSIR AHKAM VI/TH/C

20/05/2013

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)

MATA KULIAH TAFSIR AHKAM 2013

KELAS: VI/TH/C                                                                 Dosen: M. Anwar Syarifuddin

 

Dari salah satu rincian tema di bawah ini, buatlah satu makalah dengan judul yang sama!!! Dengan ketentuan susunan dan isi pembahasan sebagai berikut:

  • Ayat al-Qur’an,
  • Terjemah ayat al-Qur’an,
  • Mufradat: Penjelasan harfiah seputar kata-kata penting yang dikandung ayat,
  • Asbab Nuzul (jika ada),
  • Munasabat dengan ayat sebelum/sesudahnya,
  • Penjelasan/tafsir,
  • Kesimpulan.

Makalah diserahkan secepatnya (lebih baik) atau selambat-lambatnya pada Selasa, 18 Juni 2013, melalui email attachment, kirim ke m.anwarsy@gmail.com

Catatan:

  1. Bagi mahasiswa yang sudah menyerahkan tugas UAS ini diharapkan menginformasikan ke nomor hp 081318580108, sehingga bila ada kekeliruan pengiriman atau kesalahan sehingga email tidak sampai ke akun dimaksud, dapat dikonfirmasi lebih lanjut.
  2. Nama-nama mahasiswa yang sudah ditetapkan masih dapat memilih/bertukar judul dengan teman, asalkan masih dalam lingkup tema besar yang pernah dipresentasikan dalam diskusi di kelas.

 

 

 

TEMA BESAR RINCIAN TEMA/JUDUL NAMA MAHASISWA
Riba Jual beli tidak sama dengan riba: QS. al-Baqarah [2]:275 Ilmawan Hikmansyah
Allah menghancurkan riba dan melipatgandakan [pahala] sadaqah: QS. al-Baqarah [2]:276 Abdul Rizal
Perintah meninggalkan praktek riba yang sudah berlangsung selama masa jahiliah: QS. al-Baqarah [2]:278-279  
Bahaya praktek riba: QS Ali Imran [3]:130  
Larangan Menyuap Hakim dan Memakan Hak Orang Lain Larangan memakan harta yang bukan haknya dan menyuap hakim untuk memperdaya hukum: QS. Al-Baqarah [2]:188 Nurul Hasanah
Perintah memenuhi takaran dan timbangan: QS. An-Nisa’ [4]:29-30.  
Bughat dan Hirabah Kebolehan memerangi kaum muslim yang memberontak (bughat): QS. Al-Hujurat [49]:9-10. M. Afwan Muta’ali
Hukuman bagi pelaku hirabah: QS. Al-Maidah [5]:33-34.  
Riddah Ancaman riddah bagi komunitas muslim: QS al-Baqarah [2]:217 Shibghotullah Mujaddidi
Allah akan mengganti orang-orang yang murtad dengan generasi muslimin yang lebih baik: QS. Al-Maidah [5]:54.  
Qatl dan Sariqah Membunuh satu jiwa tanpa hak sama seperti membunuh seluruh manusia (QS. Al-Maidah [5]:32)  
Sanksi diyat bagi pembunuhan secara tidak sengaja (QS. An-Nisa’ 92) Wandi Ruswandi
Hukuman potong tangan bagi pencuri  (QS. Al-Maidah [5]:38-39)  
Qadzaf dan Zina Larangan mendekati perbuatan zina (QS al-Isra’[17]:32) Syeck Abu Bakar
Hukuman cambuk bagi pezina yang masih bujangan (QS An-Nur [24]:2)  
Larangan menikahi lelaki/wanita pezina (QS An-Nur [24]:3)  
Nikah dan Mahar Tujuan menikah dalam Islam : QS. An-Nisa’ [4]:1, Alfionitazkiyah
Kewajiban memberi mahar untuk wanita yang dinikahi: QS. An-Nisa’ [4]:4,  
Wanita-wanita yang haram dinikahi: QS. An-Nisa’ [4]:22-23.  
Poligami Kebolehan mengambil istri hingga empat orang: QS. An-Nisa’ [4]:2-3 Januri
Sulitnya berlaku adil terhadap para isteri: QS. An-Nisa’ [4]:129.  
Nikah Beda Agama Larangan menikahi lelaki/wanita musyrik: QS. Al-Baqarah [2]:221, Sartika
Fasakh nikah akibat pindah agama: QS al-Mumtahanah [60]:10 Maliya
Kebolehan menikahi wanita kitabiyah:QS. Al-Maidah [5]:5.  
Talaq Hukum Thalaq dan hak untuk rujuk: QS. al-Baqarah [2]: 229, 230, 231, 232 Alamudin Syah
Aturan tentang Thalaq: QS at-Thalaq [65]:1 Ulil Azmi
Iddah Masa Iddah bagi wanita tertalak: QS. al-Baqarah [2]: 229, 234-237. Ina Nurjannah
Iddah untuk wanita dalam periode menopause: QS at-Thalaq [65]:4,  
Tidak ada masa Iddah untuk wanita tertalak yang belum disentuh QS. Al-Ahzab [33]:49.  
Nusyuz dan Syiqaq Sikap bagi suami yang kuatir isterinya akan nusyuz:QS. An-Nisa [4]:34, M. Ghozali
Mencari penengah dalam menyelesaikan perselisihan rumah tangga: QS. An-Nisa [4]:35,  
Tawaran perdamaian dalam menghadapi perselisihan rumah tangga: QS. An-Nisa [4]:128.  
Waris Perintah agar memenuhi hak (waris) anak yatim: QS. An-Nisa [4]:5-6, M. Irsyad
Bagian-bagian waris menurut Islam: QS. An-Nisa [4]:7-15  

 

Soal UTS Tafsir Ahkam 2013

06/05/2013

Bacalah soal-soal berikut ini dengan cermat dan teliti. Pilih satu soal saja untuk anda berikan jawabannya secara singkat dan padat!

  • I. Memerangi/membunuh dan menumpahkan darah sesama muslim pada dasarnya merupakan tindakan yang tidak diperkenankan dalam Islam, kecuali dalam beberapa kondisi/kasus tertentu. Uraikan jawaban anda mengenai persoalan ini melalui penafsiran ayat-ayat berikut:
  1. QS. Al-Baqarah [2]:217.
  2. QS. An-Nisa’ [4]: 92.
  3. QS. Al-Maidah [5]:32.
  4. QS. Al-Maidah [5]:33-34.
  5. QS. Al-Hujurat [49]:9-10.
  • II. Hukum mu’amalat Islam melarang seorang muslim untuk memakan harta orang lain yang bukan haknya. Menurut anda, apakah ayat-ayat berikut ini mencerminkan prinsip utama Islam tersebut? Dalam hal apa saja? Uraikan jawaban anda dengan mengulas tafsir masing-masing ayat berikut:
  1. QS. Al-Baqarah [2]:188.
  2. QS. Al-Baqarah [2]:275-276.
  3. QS. Ali Imran [3]:130.
  4. QS. Al-Nisa’ [4]: 29-30.
  5. QS. Al-Maidah [5]:38-39.
  • III. Setujukan anda bahwa nilai penting hukum Islam dalam aturan ahwal syahsyiyyah, muamalah, maupun hukum-hukum yang terkait dengan sanksi pidana (jinayah) sangat menjunjung tinggi prinsip keadilan. Uraikan jawaban anda dengan menjelaskan tafsir ayat-ayat berikut ini:
  1. QS. Al-Baqarah [2]:278-279.
  2. QS. An-Nisa’ [4]:2-3.
  3. QS. An-Nisa’ [4]:129.
  4. QS. An-Nisa’ [4]:4.
  5. QS. An-Nur [24]:3.

Catatan: Ujian ini bersifat openbook, dikerjakan di rumah. Jawaban diserahkan selambat-lambatnya hari Selasa, tanggal 07-05-2013.

Rincian daftar tema diskusi tafsir ahkam 2013

06/05/2013

Riba

  1. Tafsir QS. al-Baqarah [2]:275-279 tentang hukum yang terkait dengan riba:
    1. Jual beli tidak sama dengan  riba
    2. Allah menghancurkan riba dan melipatgandakan pahala sadaqah,
    3. Perintah meninggalkan praktek riba yang sudah berlangsung selama masa jahiliah,
  2. Bahaya praktek riba: QS Ali Imran [3]:130

Larangan Menyuap Hakim dan Memakan Hak Orang Lain

  1. Tafsir  QS. Al-Baqarah [2]:188,
    1. Larangan memakan harta yang bukan  haknya,
    2. Larangan menyuap hakim untuk memperdaya hukum,
  2. Perintah memenuhi takaran dan timbangan: QS. An-Nisa’ [4]:29-30.

Bughat dan Hirabah

  1. Kebolehan memerangi kaum muslim yang memberontak (bughat): QS. Al-Hujurat [49]:9-10.
  2. Hukuman bagi pelaku hirabah: QS. Al-Maidah [5]:33-34.

Riddah

  1. Tafsir QS al-Baqarah [2]:217 tentang ancaman riddah bagi komunitas muslim:
    1. Mana yang lebih berdosa: deklarasi perang di bulan haram atau merintangi jalan Allah?
    2. Tafsir makna “fitnah  lebih berdosa daripada membunuh”
    3. Muslim yang mati dalam keadaan kafir akan rusak amalnya.
  2. Allah akan mengganti orang-orang yang murtad dengan generasi muslimin yang lebih baik: QS. Al-Maidah [5]:54.

Qatl dan Sariqah

  1. Membunuh satu jiwa tanpa hak sama seperti membunuh seluruh manusia: QS. Al-Maidah [5]:32
  2. Hukuman bagi pembunuhan secara tidak sengaja: QS. An-Nisa’ 92
  3. Hukuman potong tangan bagi pencuri: QS. Al-Maidah [5]:38-39

Qadzaf dan Zina

  1. Larangan mendekati perbuatan zina: QS al-Isra’[17]:32
  2. Hukuman cambuk bagi pezina yang masih bujangan: QS An-Nur [24]:2,
  3. Larangan menikahi lelaki/wanita pezina: QS An-Nur [24]:3.

Nikah dan Mahar

  1. Tujuan menikah dalam Islam : QS. An-Nisa’ [4]:1,
  2. Kewajiban memberi mahar untuk wanita yang dinikahi: QS. An-Nisa’ [4]:4,
  3. Wanita-wanita yang haram dinikahi: QS. An-Nisa’ [4]:22-23.

Poligami

  1. Kebolehan mengambil istri hingga empat orang: QS. An-Nisa’ [4]:2-3
  2. Sulitnya berlaku adil terhadap para isteri: QS. An-Nisa’ [4]:129.

Nikah Beda Agama

  1. Larangan menikahi lelaki/wanita musyrik: QS. Al-Baqarah [2]:221,
  2. Fasakh nikah akibat pindah agama: QS al-Mumtahanah [60]:10
  3. Kebolehan menikahi wanita kitabiyah:QS. Al-Maidah [5]:5.

Thalaq

  1. Hukum Thalaq dan hak untuk rujuk: QS. al-Baqarah [2]: 229, 230, 231, 232
  2. Aturan tentang Thalaq: QS at-Thalaq [65]:1

Iddah

  1. Masa Iddah bagi wanita tertalak: QS. al-Baqarah [2]: 229, 234-237.
  2. Iddah untuk wanita dalam periode menopause: QS at-Thalaq [65]:4,
  3. Tidak ada masa Iddah untuk wanita tertalak yang belum disentuh QS. Al-Ahzab [33]:49.

Nusyuz dan Syiqaq

  1. Sikap bagi suami yang kuatir isterinya akan nusyuz:QS. An-Nisa [4]:34,
  2. Mencari penengah dalam menyelesaikan perselisihan rumah tangga: QS. An-Nisa [4]:35,
  3. Tawaran perdamaian dalam menghadapi perselisihan rumah tangga: QS. An-Nisa [4]:128.

Hukum Waris Islam

  1. Perintah agar memenuhi hak (waris) anak yatim: QS. An-Nisa [4]:5-6,
  2. Bagian-bagian waris menurut Islam: QS. An-Nisa [4]:7-15.

Jadwal Kuliah TAFSIR AHKAM

04/03/2013

II. TH VI/C

WAKTU DISKUSI

TOPIK INTI

PEMAKALAH

19/03
  1. Riba
  • QS, al-Baqarah [2]: 275-279
  • QS, Ali Imran [3]: 130
Ilmawan HikmansyahAbd Rijal
26/03
  1. Larangan Menyuap Hakim dan Memakan Hak Orang lain
  • QS, al-Baqarah [2]: 188
  • QS, al-Nisa’ [4]: 29-30
  • QS, Hud [11]: 85
Nurul Hasanah
02/04
  1. Bughat dan Hirabah
  • QS, al-Hujurat [49]: 9-10
  • QS, al-Ma’idah [5]: 33-34
Afwan Muta’ali
09/04
  1. Murtad
  • QS, al-Baqarah [2]: 217
  • QS, al-Ma’idah [5]: 54
Sibghatullah
16/04
  1. Al-Qatl (Pembunuhan) dan al-Sariqah
  • QS, al-Ma’idah [5]: 32 & 95
  • QS, al-Nisa’ [4]: 92
  • QS, al-Ma’idah [5]: 38-39
Wandi Ruswandi
23/04
  1. Qadzaf dan Zina
  •  QS, al-Isra’[17] : 32
  • QS, al-Nur [24]: 2-3
  • QS, al-Furqan [25]: 65
Syekh Abu Bakar
30/04
  1. Nikah dan Mahar
  • QS, al-Nisa’ [4]: 1, 4, 22, 23
  • QS, al-Nur [24]: 32
Alfionitazkiyah
30/04
  1. Poligami
  • QS, al-Nisa [4]: 2-3
  • QS, al-Nisa [4]: 129
Maliya
07/05
  1. Nikah Beda Agama
  • QS, al-Baqarah [2]: 221
  • QS, al-Mumtahanah [60]: 10
  • QS, al-Ma’idah [5]: 5
Sartika
 14/05
  1. Thalaq
  • QS, al-Baqarah [2]: 229, 230, 231, 232
  • QS, al-Thalaq [65]: 1
Alamuddin SyahUlil Azmi
 14/05
  1. ’Iddah
  • QS, al-Baqarah [2]: 228, 234-237
  • QS, al-Thalaq [65]: 4
  • QS, al-Ahzab : 49
Ina Nurjannah
 21/05
  1. Nusyuz dan Syiqaq
  • QS, al-Nisa [4]: 34, 35, 128
Ghazali
 21/05 13. Waris

  • QS, al-Nisa’ [4]: 5-14
  • b. QS, al-Ahzab [33]: 40
Moh. Irsyad

 

III. TH/VI/D 

WAKTU DISKUSI

TOPIK INTI

PEMAKALAH

19/03
  1. Riba
  • QS, al-Baqarah [2]: 275-279
  • QS, Alu Imran [3]: 130

Ai Nur Fatwa

Eneng Ima Siti Madihah

26/03
  1. Larangan Menyuap Hakim dan Memakan Hak Orang lain
  • QS, al-Baqarah [2]: 188
  • QS, al-Nisa’ [4]: 29-30
  • QS, Hud [11]: 85
AzhariSeman
02/04
  1. Bughat dan Hirabah
  • QS, al-Hujurat [49]: 9-10
  • QS, al-Ma’idah [5]: 33-34
KhafidzohSyarifatunnisa
09/04
  1. Murtad
  • QS, al-Baqarah [2]: 217
  • QS, al-Ma’idah [5]: 54
Moh. KhoiriMabrur
16/04
  1. Al-Qatl (Pembunuhan) dan al-Sariqah
  • QS, al-Ma’idah [5]: 32 & 95
  • QS, al-Nisa’ [4]: 92
  • QS, al-Ma’idah [5]: 38-39
Nurlaeli

Danisi

23/04
  1. Qadzaf dan Zina
  •  QS, al-Isra’[17] : 32
  • QS, al-Nur [24]: 2-3
  • QS, al-Furqan [25]: 65
AdiMaringo
30/04
  1. Nikah dan Mahar
  • QS, al-Nisa’ [4]: 1, 4, 22, 23
  • QS, al-Nur [24]: 32
SitiIntanKhoirul Anam
30/04
  1. Poligami
  • QS, al-Nisa [4]: 2-3
  • QS, al-Nisa [4]: 129
Eristia MulyawanJajang Jaeni
07/05
  1. Nikah Beda Agama
  • QS, al-Baqarah [2]: 221
  • QS, al-Mumtahanah [60]: 10
  • QS, al-Ma’idah [5]: 5
Hani Hilyati UbaidahAi Popon Fatimah
 14/05
  1. Thalaq
  • QS, al-Baqarah [2]: 229, 230, 231, 232
  • QS, al-Thalaq [65]: 1
MusfaturrahmanMaslam
 14/05
  1. ’Iddah
  • QS, al-Baqarah [2]: 228, 234-237
  • QS, al-Thalaq [65]: 4
  • QS, al-Ahzab : 49
NoviyantiAnnisa
 21/05
  1. Nusyuz dan Syiqaq
  • QS, al-Nisa [4]: 34, 35, 128
Ah. ShalahuddinM. Usman

Dedi

 21/05 13. Waris

  • QS, al-Nisa’ [4]: 5-14
  • b. QS, al-Ahzab [33]: 40
Wilda

Annalia

Selfi

REFERENSI

  1. Al-Qurṭubī, al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān, Kairo: Dār al-Hadīts, 2002.
  1. Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātiḥ al-Ghaib, Beirut: Dār al-Fikr, 1993
  2. Al-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf, Mesir: Maktabah Mesir, Tanpa Tahun
  3. Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-Aẓīm, Beirut: Dār al-Fikr, Tanpa Tahun.
  4. Muḥammad Rasyīd Riḍā, Tafsīr al-Qur’ān al-Ḥakīm, Beirut: Dār al-Kutub al-’Ilmiyah, 1999
  5. Ali al-Ṣabūnī, Rawā’i’ al-Bayān, Damaskus: Maktabah al-Ghazāli, 1971.
  6.  Ibn al-’Arabī, Aḥkām al-Qur’ān, Kairo: Dār al-Kutub, 1999
  7. Al-Jaṣṣāṣ, Aḥkām al-Qur’ān, Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāts al-’Arabī, 1405 H.
  8. Al-Ṭabarī, Jāmi’ al-Bayān ’an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Beirut: Dār al-Fikr, 2001

Silabus Tafsir Ahkam

13/02/2013

Tafsir Ahkam

Nilai-nilai UQ dan Kajian Orientalis

14/01/2013

Pengantar Ulumul Qur’an

1a-pa1

Kajian Barat terhadap Qur’an Hadis

7b 7a 7

Kajian Orientalis: Revisi Makalah untuk UAS

04/12/2012

Dear Students,

Masa UAS telah tiba, domohon untuk segera menyerahkan revisi makalah-makalah yang sudah dipresentasikan melalui email ma_syarifuddin@yahoo.com atau m.anwarsy@gmail.com. Mengingat banyaknya makalah sesuai judul-judul yang sudah diinformasikan dalam tulisan sebelum ini, maka diharapkan menyerahkan revisi secepatnya, sebelum closing date 08-01-2013.

Nilai diterbitkan sepekan setelah tanggal UAS resmi.

Terima kasih

Kajian Orientalis: 4 tema besar kumpulan makalah 2012-2013

28/11/2012

Orientalis dan Kajian al-Qur’an dan Hadis

  1. Martin Luther
  2. Alfons Mingana
  3. Robert Morrey
  4. Snouck Hurgronje
  5. Snouck Hurgronje
  6. William Muir
  7. William Muir
  8. Charles Adams
  9. Ignaz Goldziher
  10. A.J. Arberry
  11. HAR Gibb

Barat dan Kajian Kritik Filologis terhadap Teks al-Qur’an

  1. Arthur Jeffery
  2. Regis Blachere
  3. Christoph Luxenberg
  4. Christoph Luxenberg
  5. Kritik Balik Adnin Armas

Penelitian Barat Kontemporer terhadap al-Qur’an

  1. Maurice Bucaille
  2. W. Montgomery Watt
  3. W. Montgomery Watt
  4. Toshihiko Izutsu
  5. Toshihiko Izutsu
  6. Toshihiko Izutsu
  7. John Wansbrogh
  8. Hans Jansen

Skeptisisme Barat terhadap Hadis Nabi dan Kritik Baliknya

  1. Ignaz Goldziher
  2. Joseph Schacht
  3. Joseph Schacht
  4. GHA Juynboll
  5. Fuat Sezgin
  6. Nabia Abbot
  7. Jonathan Brown

Kajian Orientalis: Daftar Nama Pemakalah

26/11/2012
A.J. Arberry Mahmudah
Pemikiran W. Muir tentang al-Qur’an Salina dan Nurlaela
Pandangan SnouckHurgronje terhadap al-Qur’an dan hadis Munajat Adisaputra & Ristya Fitra
Alfons Mingana “Dalam Kecemburuan Bible terhadap al-Qur’an Amirudin Natonis & Tomi Sutrisno
Hujatan Martin Luther terhadap al-Qur’an Nidaul Husna & Roro Estri Melati
W. Muir Neneng R & Ade Irawan
Pandangan Robert Morrey terhadap al-Qur’an Faridah
Kronologi al-Qur’an: Perspektif Regis Blachere Baharuddin
Muhammad dan al-Qur’an dalam pandangan HAR Gibb M. Reza fadil
Kritik Snouck Hurgronje terhadap keberagamaan Masyarakat Aceh M. Zamzami & Ma’mun
Metode dan Pendekatan Studi Islam dalam Pemikiran Charles J. Adams Masrukhin & Nurul Zibad
Arthur Jeffery M. Khairul Anam & M Fadli bin Rosli
Christoph Luxenberg: Kritik  terhadap Filologi al-Qur’an Tirtha Ranji & Fasjud Syukroni
Asal Bahasa al-Qur’an Menurut Christoph Luxenberg Mia F & Nurul Hasanah
Ignaz Goldziher dan madzhab Tafsir al-Qur’an Helrahmi Yusman & Zakiah M. Bandjar
Pandangan Hans Jansen terhadap Tafsir Muhammad Abduh Fathul Mubin & Nurhidayat Septiawan
Maurice Bucaille Harisman
Toshihiko Izutsu dan Etika Beragama dalam al-Qur’an Khodijatus Sholihah
Al-Qur’an dalam perspektif Toshihiko Izutsu Mabrur & Izzul Muttaqin
Pandangan W. Montgomery Watt terhadap Ayat-ayat Setan Farihah Jadwa Izzaty
Relasi Ontologi Tuhan dan Manusia dalam Pandangan Toshihiko Izutsu Yatimurrahmi & Rizki Nurhidayati
Metodologi Penafsiran Kitab Suci: John Wansbrough Naylatus Sa’adah & Nurlaila Syahidah
Fenomena Wahyu menurut W. Montgomery Watt Ahmad Fauzan Yakub & Fikri Abdurrahman
Kritik Terhadap Metode Common Link Juynboll Ahmad Zaki Yusran & Sholahuddin al-Ayyubi
Joseph Schacht Zulkifli Natonis & Ali Hamzah al-Husaini
Joseph Schacht: Pembukuan Hadis dan Dominasi Kepentingan Fiqh Ahmad Baiquni
Nabia Abbott M. Mora Ganti Aritonang
Kritik atas Skeptisisme Ignaz Godlziher terhadap Hadis M. Nabiel
Fuat Sezgin A. Amirudin Mukhlas & Badrul Qomar
J. Brown dan Kanonikasi Hadis Nabi M. Khairul Huda
Kritik Adnin Armas terhadap Orientalisme: Arthur Jeffery Dwi Haryanto

MEREKA YANG BELUM PRESENTASI ADALAH SBB:

M. Iqbal  108…07
Ahmad Ahad Syabani 109…04
Ahmad Fuad 109..12
Ahmad Mujamiludin 109…33
Reza Wahyudi 109…27
Yusuf Hamdani 109…39
Agung Syafiullah 109…45
Daud Catur Wicaksono 107…853

UQ PA/IA 2012

23/10/2012

Hari ini UTS, take home assignments. Soal diberikan di kelas.

Kajian Orientalis 23/10/2012

23/10/2012

23-10-2012

Kelas A

Farihah, W.M. Watt Ayat-ayat setan

Masrukin, A.J. Wensinck

Munajat A, Alexander Ross

Yatimurrahmi, T. Izutsu

Khodijatus Sholihah, T. Izutsu

Dwi Haryanto, T. Izutsu

 

Kelas B

Fatkhul Mubin & Nurhidayat S, J.J.G. Jansen

Zulkifli & Ali Hamzah, Henry F. Amendros

Zamzami & Ma’mun, Snouck H.

UQ 2012 PA/1/A 16-10-2012

16/10/2012

Kuliah hari ini membahas tentang Asbab Nuzul dan Munasabat

Kajian Orientalis: 16/10/2012

16/10/2012

Hari ini tema-tema yang akan dipresentasikan adalah:

Kelas A

M. Mora Ganti, Nabia Abbott

Khairul Huda, J. Brown

Neneng R dan Ira, W. Muir

Tirta R/Fasjud S, A. Jeffery/J. Schacht.

 

Kelas B

Nida’ul Husna/Roro E, Martin Luther

Mahmudah A.J. Arberry

Salina & Nurlaela, W. Muir

Mabrur & Izzul M, T Izutsu,

Faridah, R Morrey?

 

UQ PA 02/10/2012

02/10/2012
Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu yang terkait dengan al-Qur’an.
Di antara karya-karya yang membahas Ulumul Qur’an dalam sejarah perkembangan kesarjanaan Islam, dapat disebutkan di sini seperti:
  • Muhammad b. ‘Alî al-Adfawî (w. 388) al-Istighnâ’ fî ulum al-ul-Qur’an;
  • Ibn al-jawzi (w. 597) Funûn al-Afnân fi ‘ajâ’ib ulum al-Qur’ân;
  • Badr al-Din Zarkâsyî (w. 794) al-Burhan fi Ulûm al-Qur’an;
  • Jalal al-Din al-Bulqini (w. 824) mawaqi’ al-‘ulum min mawâqi’ al-nuzûl;
  • Jalal al-Din al-Suyûtî (w. 911) al-Itqân fî ‘ulûm al-Qur’ân;
  • Tâhir al-Jazâ’irî, al-Tibyân fî ‘ ulûm al-Qur’ân;
  • Muhammad ‘Alî Salama Manhaj al-Furqân fî ‘ulûm al-Qur’ân;
  • ‘Abd al-Azîm al-Zarqânî Manâhil al-‘Irfân fî ‘Ulûm al-Qur’an;
  • Ahmad Ahmad Ali Madzkara fi ulum al-Qur’an;
  • Subhi Salih Mabahis Fi Ulum al-Qur’an;
  • Manna Khalil Qattan, Mabahits fi ulum al-Qur’an;
  • Nasr Abu Zayd, Mafhum al-Nass dirasah fi Ulum al-Quran.

Kajian Orientalis 02/10/2012

02/10/2012

Selasa, 2 oktober 2012

Kelas A:

  1. Ahmad Baiquni, juynboll/schacht
  2. Helrahmi Y & Zakiah MB, Ignaz Goldziher
  3. Tirta R & Fasjud Syukroni, A. jeffrey/schacht
  4. M. Reza Fadhil, HAR Gibb
  5. Baharuddin, R. Blachere

Kelas B

  1. Mia & Nurul , luxenberg
  2. Nurlaela Syahidah & naelatus S, John Wansbrough
  3. Mabrur,
  4. Makhmudah, Aj. Arberry
  5. Salina & Nurlaela, W. Muir

Kajian Orientalis: Pemakalah Pertama 18-09-2012

18/09/2012

Hari ini Selasa, 18 September 2011, mata kuliah Kajian Orientalis/Barat terhadap al-Qur’an dan hadis akan diisi dengan presentasi tentang pemikiran beberapa tokoh orientalis, di antaranya:

Kelas 7/TH/A

Ahmad Fauzan dan Fiqri A: Gagasan W. Montgomery Watt tentang Fenomena Wahyu

Ahmad Baiquni: G.H.A. Juynboll: Paradigma Fiqih dalam kitab hadis.

M. Nabiel: Ignaz Goldziher?

Kelas 7/TH/B

Harisman: J. Jomier?

Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an UQ/PA/1/2012

18/09/2012

Pengertian
Makna Jam’
– Menghafalkan – jumma’ al-Qur’an = huffazh. Ada 7 huffazh yang terkenal:
• Abdullah b Mas’ud
• Salim b Ma’qal maula Abu Hudzaifa
• Mu’adz b Jabal
• Ubay b Ka’ab
• Zayd b Tsabit
• Abu Zayd b al-Sukun
• Abu Darda’
– Menuliskan – nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan al-Qur’an sesaat setelah turun wahyu.
• Beberapa sahabat yang terkenal sebagai penulis wahyu:
– Ali
– Mu’awiya
– Ubay b Ka’ab
– Zayd b Tsabit
• Beberapa media yang digunakan: potongan tulang, daun-daunan, kayu, kulit biatang, batu, dll.

Masa Abu Bakr
• Latar belakang:
– 70 huffazh gugur pada saat perang Yamama (12 H).
– Umar Khawatir al-Qur’an akan hilang dengan meninggalnya huffazh tersebut.
– Al-Qur’an sudah dituliskan pada masa NAbi SAW, tetapi masih terserak-serak.
– Perlu dilakukan upaya pengumpulan tulisan-tulisan itu secara formal dalam sebuah mushaf.
• Abu Bakr kemudian memerintahkan proyek pengumpulan al-Qur’an sehingga terkmpul dalam sbeuah mushaf.
• Sebenarnya masih ada sahabat yang memegang mushaf pribadi, tetapi bebrbeda dalam hal tata urutan ayat dan surat, penghapusan ayat-ayat mansukh, dan kesepatakan terhadap persoalan tersebut.
• Penamaan al-Qur’an sebagai “mushaf” bermula pada periode pengumpulan al-Qur’an masa Abu Bakr ini.

Masa Utsman
• Latar belakang:
– Penaklukan Islam meluas,
– Qurra’ tersebar di berbagai kota,
– Penduduk sebuah kota mengambil bacaan al-Qur’an dari sahabat yang ada di sana,
– Ada perbedaan cara membaca (qiraat)
– Jika terjadi perang, maka kaum muslimin berkumpul, dan mengagungkan bacaan masing-masing,
– Mereka menganggap bahwa kesemua bacaan tersebut bersumber dari Nabi SAW,
– Tapi ada keraguan terhadap klaim sandaran bacaan dari Nabi ini, yang berujung pada pertikaian.
• Pada saat perang penaklukan Arminia dan Azerbaijan, Hudzayfa b al-Yaman menyaksikan pertikaian tentang bacaan ini, antara ahlu Syam dengan ahlu Iraq yang bahkan saling mengkafirkan.
• Persoalan ini terdengar oleh Utsman, sehingga ia memerintahkan upaya kodifikasi al-Qur’an berdasarkan dialek bahasa Quraisy, karena Nabi seorang Quraisy.
• Komite yang dibentuk Utsman terdiri dari:
– Zayd b Tsabit
– Abdullah b Zubayr
– Sa’id b al-Ash
– Abdurrahman b Harits b Hisyam
• Ada berapa naskah yang dihasilkan saat itu:
– Ada 7 Makkah, Syam, Basra, Kufa, Yaman, Bahrain, Madina
– Ada 4 saja: Iraqi, Syami, Misri, dan Mushaf Imam. Atau kekempatnya adalah Kufi, Basri, Syami, Mushaf Imam.
– Ada 5, kata Suyuti, ini pandangan yang paling masyhur.

Sumber: Manna’ Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an.

Wahyu dan al-Qur’an UQ PA/I/A/2012

11/09/2012

WAHYU

Secara bahasa wahyu berarti: (1) ilham yang diterima manusia (QS 28:7), (2) insting makhluk hidup (QS 16:68), (3) isyarat yang cepat melalui tanda-tanda (QS 19:11), (4) bisikan persekongkolan jahat oleh syetan kepada manusia (QS 6:112, 121 ), (5) perintah Allah kepada para malaikat (QS 8:12), atau para nabi (QS 53:6) wahyu = الموحى.

Secara istilahi, wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada hamba yang dipilihNya, dengan maksud memberi petunjuk (hidayah) secara cepat dan rahasia.

Definisi M. Abduh, wahyu adalah “irfan” yang ditemukan seseorang dalam jiwanya, seraya meyakini bahwa itu datang dari Allah, dengan atau tanpa perantara/suara. Wahyu ini berbeda dengan ilham karena ketika menerima ilham/instink, manusia tidak tahu dari mana datangnya.

AL-QUR’AN

“كلام الله، المنزل على محمد -صلى الله عليه وسلم- المتعبد بتلاوته”

Nama-nama lain al-Qur’an, apa bedanya?

  1. Al-Qur’an
  2. Al-Kitab
  3. Al-Furqan
  4. Adz-Dzikr

(Mannā’ Qaṭṭān, Mabāḥits fī ulum al-Qur’an, 1-15)

Pertanyaan:

  1. Lihat QS Asy-Syura 42: 51, wahyu itu pesan atau cara/proses menyampaikan pesan Tuhan?
  2. Jika dikaitkan dengan al-Qur’an, wahyu itu kalam/Qur’annya atau proses komunikasi Tuhan-manusia?
  3. Apa beda proses pewahyuan al-Qur’an dengan kitab-kitab sebelumnya?
  4. Bagaimana memahami proses pewahyuan dulu dan kini, sehingga manusia bisa menerima?
  5. Jika ada yang menolak, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi?
  6. Apa kaitan wahyu dan keimanan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.