Corak Penafsiran

Ada banyak corak tafsir yang termasuk di dalam metode tafsir Tahlili ini, yang berdasarkan klasifikasi kecenderungan utama pemikiran dan karakter pendekatan ilmiahnya dapat dibagi ke dalam 7 corak penafsiran: Tafsir bi al-Ma’tsur, Tafsir bi al-Ra’yi, Tafsir Sufi, Tafsir Fiqhî, Tafsir Falsafi, Tafsir Ilmi, dan Tafsîr Adabî ijtima‘î.

Tafsîr bil ma’tsûr
Tafsir bil ma’tsur pada dasarnya menampilkan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang diambil dari sumber-sumber tradisional Islam yang secara hierarkhis diurutkan mulai dari al-Qur’an, hadis Nabi SAW, atsar sahabat, dan qawl tabiin. Oleh karena itu, dalam tafsir bil ma’tsur, penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an utamanya didasarkan kepada penjelasan yang diberikan oleh bahagian lain al-Qur’an sendiri. Bila tidak didapati penjelasan di bagian lain al-Qur’an, maka penjelasan diambilkan dari hadis-hadis yang dinukilkan dari Rasulullah SAW yang memberikan penjelasan kepada para sahabatnya tentang masalah yang mereka hadapi. Bila ini tidak bisa dicapai, maka yang menjadi sandaran adalah penjelasan yang dinukilkan dari para sahabat yang dengan ijtihadnya mereka mengungkapkan penjelasan atas ayat-ayat al-Quran. Jika tidak didapati atsar sahabat, maka penafsiran diambilkan melalui penjelasan kaum Tabiin mengenai ayat-ayat al-Quran yang merefleksikan ijtihad yang mereka lakukan (Dzahabi, TM, i/52). Menurut Husein Dzahabi, ada dua cara yang ditempuh oleh para ulama dalam memberikan tafsir bi al-ma’tsūr ini: Pertama, marhala syafahiyya (penuturan lisan) yang disebut dengan marhala riwā’iyya, di mana seorang sahabat meriwayatkannya dari Rasulullah, atau dari sesama sahabat, atau seorang tabi’i meriwayatkan melalui jalan seorang sahabat, dengan cara penukilan yang terpercaya, mendetail, dan terjaga melalui isnad, sampai pada tahap selanjutnya. Kedua, marhala tadwīn, dengan cara menuliskan riwayat yang ditunjukkan seperti di dalam marhala yang pertama. Hal ini seperti juga ditunjukkan dalam kitab-kitab hadis sejak masa awal hingga berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu yang terpisah.
Contoh Tafsir yang menampilkan corak penafsiran bil ma’tsur dengan rangkaian sanad yang lengkap adalah karya Ibnu Jarir at-Tabarī (w. 310 H), Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an. Di dalam kitab ini Tabari selain menyebutkan pendapat, juga memberikan arahan, menimbang validitas riwayat antara satu dengan yang lain, juga memberikan penjelasan tentang i’rab jika dibutuhkan, serta memberikan istinbat hukum yang dimungkinkan untuk diambil dari ayat-ayat Quran tersebut (Dzahabi, TM, i/142). Dalam perkembangan sesudahnya, para ulama menyusun kitab tafsir bil ma’tsur tanpa menyertakan isnadnya, dan kebanyakan menyertakan pendapat di dalam kitab tafsir mereka tanpa memilah mana yang sahih dan mana yang tidak, oleh sebab dimungkinkannya pula menyertakan pandangan yang mawdū‘ dan dibuat-buat. Diantara kitab-kitab tafsir bil ma’tsur sesudah Tabari adalah Ma‘ālim al-Tanzīl karya al-Baghāwī (w. 512 H); Tafsir al-Quran al-‘Azhîm karya Ibn Katsir (w. 774 H), dan Al-Durr al-Mantsūr fī tafsīr al-Ma’tsūr karya al-Suyūtī (w. 911 H).

Tafsir bi al-Ra’yi
Tafsir bi al-Ra’yi adalah sebutan untuk tafsir al-Quran yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan ijtihad. Prasayarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir dalam penafsiran ini adalah pengetahuan yang baik tentang kalimat bahasa Arab dan aspek-aspeknya. Selain itu, ada juga yang mensyaratkan bahwa seorang mufassir juga harus memiliki pengetahuan tentang syair-syair jahiliah, serta mengetahui asbab al-nuzul, memiliki pengetahuan yang cukup dalam hal nasikh mansukh ayat al-Quran, dan ilmu lainnya yang menjadi perangkat yang harus dipenuhi seorang mufassir (Dzahabi, TM, 1/152).
Sebab-sebab yang mengakibatkan munculnya corak penafsiran bil ra’yi ini adalah ketika ilmu-ilmu keislaman berkembang dengan aneka ragam corak yang bermunculan, pada saat yang sama para ulama mengalami puncak kejayaan mereka bersanmaan dengan kemunculan beragam karya yang memuat ilmu-ilmu keislaman. Ilmu-ilmu keislaman sendiri berkembang lantaran kegigihan para sarjana muslim dalam menelaah kitab suci al-Qur’an yang diyakini menjadi sumber bagi segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ketika tafsir sudah mulai berkembang banyak dan ilmu-ilmu keislaman juga sudah muncul dengan aneka ragam disiplin, maka setiap mufassir berusaha mengembangkan corak penafsiran yang berbeda dengan corak penafsiran yang dibuat oleh mufassir lainnya.
Kecenderungan untuk membuat tafsir yang berbeda dengan tafsir yang dibuat oleh ulama lain, misalnya menjadi alasan mengapa Zamakhsyari menyusun kitab tafsirnya al-Kasysyaf sebagai tafsir yang mencirikan analisis atas ketinggian balaghah al-Qur’an. Begitu juga ketika seorang alim disamping terkenal dalam ilmu tafsir, ia juga seorang faqih, atau ahli bahasa, atau bahkan seorang failasuf dan ahli ilmu astronomi serta teologi. Maka muncullah pandangan-pandangan ijtihadi yang menjadi ciri khas corak keilmuan yang dikuasai dalam tafsir yang disusunnya. Sehingga, jika sebuah ayat al-Quran memiliki kaitan dengan ilmu yang dimilikinya, maka keluarlah pengetahuannya tentang masalah tersebut (A.K Mahdī, Āyat al-Qasam fī al-Quran al-Karīm, h. 4).
Diantara karya-karya tafsir bi al-ra’yi yang menonjolkan pandangan ijtihadi para mufassirnya berdasarkan kepasitas ilmiah yang mereka kuasai adalah: Mafātih al-Ghayb karya Fakhr al-Din al-Rāzī (w.606 H); Anwār al-Tanzīl wa asrār al-ta’wīl karya al-Baghāwī (w.691 H); Madārik al-Tanzīl wa haqā’iq al-ta’wīl karya al-Nasafī (w.701 H); Lubāb al-ta’wīl fī ma‘ānī al-tanzīl karya Imam al-Khāzin (w.741 H); dan Irshād al-‘aql al-Salīm ilā mazāya al-Kitāb al-karīm karya Abū Sa‘ūd (w.982 H).

Tafsir Sūfī
Perkembangan pemikiran Islam, khususnya dalam dimensi penafsiran esoteris terhadap ayat-ayat al-Qur’an memunculkan corak penafsiran sufi. Corak penafsiran ini didasarkan pada argumen bahwa setiap ayat al-Qur’an secara potensial mengandung 4 tingkatan makna: zhahir, batin, hadd, dan matla’. Keempat tingkatan makna ini diyakini telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila corak penafsiran semacam ini memang bukan hal yang baru, bahkan telah dikenal sejak awal turunnya al-Qur’ān kepada Rasulullah SAW, sehingga dasar yang dipakai dalam penafsiran ini umumnya juga mengacu pada penafsiran al-Qur’an melalui hierarkhi sumber-sumber Islam tradisional yang disandarkan kepada Nabi, para sahabat, dan pendapat kalangan Tabiin.
Di samping itu, selain penafsiran yang didasarkan melalui jalan periwayatan secara tradisional, ada sebuah doktrin yang cukup kuat dipegangi kalangan sufi, yaitu bahwa para wali merupakan pewaris kenabian. Mereka mengaku memiliki tugas yang serupa, meski berbeda secara substansial. Jika para rasul mengemban tugas untuk menyampaikan risalah ilahiyah kepada ummat manusia dalam bentuk ajaran-ajaran agama, maka para sufi memikul tugas guna menyebarkan risalah akhlaqiyyah, ajaran-ajaran moral yang mengacu pada keluhuran budi pekerti (Tawfiq b. Amir, Dirasah fi al-Zuhd wa al-Tasawwuf, hal. 15-17). Klaim sebagai pengemban risala akhlaqiyya memberi peluang bagi kemungkinan bahwa para sufi mampu menerima pengetahuan Tuhan berkat kebersihan hati mereka ketika mencapai tahapan ma’rifat dalam tahap-tahap muraqabah kepada Allah. Sebuah konsep mistik yang oleh Ibn ‘Arabi dikategorikan sebagai kemampuan para sufi dalam mencapai kedudukan yang disebutnya sebagai al-nubuwwat al-amma al-muktasabah (predikat kenabian umum yang dapat diusahakan). Berbeda dengan predikat para rasul dan nabi yang menerima nubuwwat al-ikhtisas (kenabian khusus) ketika mereka dipilih oleh Allah sebagai utusannya, kenabian umum bisa dicapai oleh siapa saja, bahkan setelah pintu kenabian tertutup sampai akhir zaman nanti (Abu Zayd, Hakadza Takallama Ibn Arabi, p.54).
Walhasil, dalam penafsiran sufi mufassirnya tidak menyajikan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an melalui jalan i’tibari dengan menelaah makna harfiah ayat secara zhahir, tetapi lebih pada menyuarakan signifikansi moral yang tersirat melalui penafsiran secara simbolik, atau dikenal dengan penafsiran isyari. Yaitu, bukan dengan mengungkapkan makna lahiriahnya seperti dipahami oleh penutur bahasa Arab kebanyakan, tetapi dengan mengungkapkan isyarat-isyarat yang tersembunyi guna mencapai makna batin yang dipahami oleh kalangan sufi.
Contoh karya yang menampilkan corak tafsir sufi adalah Tafsir al-Qur’ān al-Azhim, karya Sahl al-Tustarī (w.283 H); Haqā’iq al-Tafsīr karya Abu Abd al-Rahman al-Sulamī (w.412 H); Lata’if al-Isyarat karya al-Qusyairi, dan ‘Arā’is al-Bayān fī Haqā’iq al-Qur’ān karya al-Syirazī (w.606).

Tafsir Fiqhī
Bersamaan dengan lahirnya corak tafsir bil ma’tsūr, corak tafsir fiqhī juga muncul pada saat yang bersamaan, melalui penukilan riwayat yang sama tanpa ada pembedaan di antara keduanya. Ini terjadi lantaran kebanyakan masalah yang muncul dan menjadi bahan pertanyaan para sahabat sejak masa awal Islam, sampai pada generasi selanjutnya adalah masalah yang berkaitan dengan aspek hukum. Di sini, keputusan hukum yang bersumber dari al-Qur’an bisa muncul dengan cara melakukan penafsiran terhadapnya. Pada awal Islam, ketika menemukan sebuah masalah, maka yang selalu dilakukan oleh para sahabat adalah mengembalikan permasalahannya kepada Nabi SAW. Dengan begitu, Nabi SAW kemudian memberikan jawaban. Jawaban-jawaban Nabi SAW ini digambarkan sebagai bentuk penafsiran bi al-ma’tsūr, yang dengan muatan penjelasan tentang hukum Islam dapat pula disebut dengan tafsir fiqhī. Oleh karena itu, boleh dikatakan pula bahwa tafsir fiqhi muncul dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya ijtihad, yang hasilnya tentu saja sudah sangat banyak, dan diteruskan dari generasi ke generasi secara tulus sejak awal turunnya al-Qur’ān sampai masa penyusunan aliran-aliran hukum Islam menurut madzhab tertentu.
Pada masa pembentukan madzhab, beragam peristiwa yang menimpa kaum muslimin mengantarkan pada pembentukan hukum-hukum yang sebelumnya mungkin tidak pernah ada. Maka masing-masing Imam madzhab melakukan analisis terhadap kejadian-kejadian ini berdasarkan sandaran al-Qur’ān dan al-Sunnah, serta sumber-sumber ijtihad lainnya. Dengan itu, para imam memberikan keputusan hukum yang telah melalui pertimbangan pemikiran di dalam hatinya, dan meyakini bahwa hal yang dihasilkan itu merupakan sesuatu yang benar, yang didasarkan pada dalil-dalil dan argumentasi (Dzahabi, al-Tafsir Wal Mufassirun, iii, 99).
Faktor yang cukup mencolok berkaitan dengan kemunculan corak tafsir fiqhi adalah karya-karya yang menampilkan pandangan fiqih yang cukup sektarian, ketika kita menemukan tafsir fiqhi sebagai bagian dari perkembangan kitab-kitab fiqh yang disusun oleh para pendiri madzhab. Meskipun begitu, ada pula sebagian yang memberikan analisis dengan membandingkan perbedaan pandangan madzhab yang mereka anut.
Di antara kitab-kitab yang tergolong tafsir fiqhī adalah Ahkām al-Quran karya al-Jassās (w. 370 H); Ahkām al-Quran karya Ibn al-‘Arabi (w. 543 H); dan Al-Jāmi‘ li ahkām al-Quran karya al-Qurtubī (w. 671 H).

Tafsir Falsafī
Latar belakang yang menyebabkan munculnya corak penafsiran falsafi terhadap al-Qur’an adalah karena berkembang pesatnya gerakan penerjemahan yang dilakukan pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Gerakan penerjemahan ini telah membuka khazanah berbagai ilmu pengetahuan, termasuk pemikiran-pemikiran filsafat yang berasal dari tradisi Yunani. Ada dua reaksi atas perkembangan semacam ini:
Pertama, sebagian kelompok menolaknya, karena mereka mendapati ilmu itu bertentangan dengan agama, maka dikerahkanlah seluruh hidupnya untuk menolak dan menjauhkan orang-orang dari filsafat. Di antara para tokohnnya yang terkenal adalah Imam Ghazali, dan Fakhr al-Din al-Rāzī yang memaparkan dalam tafsirnya teori-teori filsafat yang jelas-jelas berada dalam pandangan yang bertentangan dengan agama, dan dengan al-Quran secara khusus. Maka mereka menolak sesuai dengan kadar yang bisa mencukupkan argumentasi dan mengkritik metodenya.
Kedua, kelompok yang sangat mengagumi filsafat dan menerima teori-teroi yang sebenarnya bertentangan dengan nass syariat, yang dipercaya bersifat pasti. Kelompok ini mengupayakan adanya keserasian antara falsafah dengan agama, dan menghilangkan pertentangan di antara keduanya. Akan tetapi, kelompok ini tidak sampai pada tahap penyesuaian yang benar-benar sempurna. Sebagaimana terlihat dalam penjelasan mereka terhadap ayat-ayat al-Quran yang berupa penjelasan yang disokong oleh teori-teori filsafat yang tidak mungkin dimiliki oleh nash al-Quran dalam kondisi apapun (Dzahabi, al-Tafsir Wal Mufassirun, iii, 83-90)
Kitab tafsir yang tergolong ke dalam corak penafsiran falsafi yang mewakili kelompok yang menolak filsafat adalah Mafātih al-Ghayb karya Fakhr al-Razī (w. 606 H), sedangkan dari kelompok yang kedua, menurut Husein al-Dzahabi, tidak ada karya yang bisa dikelompokkan sebagai sebuah karya tafsir selain dari penafsiran terhadap penggalan-penggalan ayat al-Qur’an yang terserak di antara kitab-kitab filsafat yang mereka susun.

Tafsir Ilmi
Alasan yang melahirkan penafsiran ilmiah adalah karena seruan al-Quran pada dasarnya adalah sebuah seruan ilmiah. Yaitu seruan yang didasarkan pada kebebasan akal dari keragu-raguan dan prasangka buruk, bahkan al-Quran mengajak untuk merenungkan fenomena alam semesta, atau seperti juga banyak kita jumpai ayat-ayat al-Quran ditutup dengan ungkapan-ungkapan, “Telah kami terangkan ayat-ayat ini bagi mereka yang miliki ilmu”, atau dengan ungkapan, “bagi kaum yang memiliki pemahaman”, atau dengan ungkpan, “bagi kaum yang berfikir.”
Apa yang dicakup oleh ayat-ayat kauniyah dengan makna-makna yang mendalam akan menunjukkan pada sebuah pandangan bagi pemerhati kajian dan pemikiran khususnya, bahwa merekalah yang dimaksudkan dalam perintah untuk mengungkap tabir pengetahuannya melalui perangkat ilmiah yang berkenaan dengan itu. Walhasil, ketika sebagian ulama menangkap hakikat bahwa al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir dan menguasai ilmu pengetahuan, mereka menyusun tafsir ayat-ayat kauniyah, menurut kaidah bahasa dan kelazimannya, menurut ukuran yang mereka bisa terangkan sebagai bagian ilmu yang bersumber dari agama mereka berdasarkan kesimpulan analisis yang mereka dapatkan dari kenyataan pula.
Karya yang bisa digolongkan dalam kelompok tafsir ilmi adalah Tafsir al-Kabīr karya Imam Fakh al-Razî dan Tafsir al-Jawahir karya Tantawi Jauhari. Sebagian ulama ada juga yang memasukkan beberapa karya seperti Ihyā’ ‘ulūm al-dīn, dan Jawāhir al-Quran karya Imam al-Ghazāli; serta al-Itqan karya al-Suyūtī sebagai karya yang mencerminkan corak tafsir ilmi ini, akan tetapi bila tafsir dipahami sebagai genre untuk karya yang menampilkan penafsiran al-Qur’an berdasarkan tata urutan ayatnya sesuai dengan mushaf, sebagaimana corak ini tergolong kepada metode tafsir tahlili, maka ketiga karya yang disebut terakhir tidak bisa di masukkan ke dalamnya.

Tafsir Adabi Ijtima’i
Corak Adabi Ijtima’i adalah corak penafsiran yang menekankan penjelasan tentang aspek-aspek yang terkait dengan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an (balaghah) yang menjadi dasar kemukjizatannya. Atas dasar itu mufassir menerangkan makna-makna ayat-ayat al-Qur’an, menampilkan sunnatullah yang tertuang di alam raya dan sistem-sistem sosial, sehingga ia dapat memberikan jalan keluar bagi persoalan kaum muslimin secara khusus, dan persoalan ummat manusia secara universal sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh al-Qur’an. Karya-karya tafsir yang dapat dimasukkan dalam kategori ini adalah Tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Rida (w. 1935), Tafsir al-Maraghi karya Mustafa al-Maraghi (w. 1945), dan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Syaltut.

Satu Tanggapan to “Corak Penafsiran”

  1. Metode Tafsir « Blog MENGAJAR Says:

    [...] Blog MENGAJAR blog seorang dosen tentang mata kuliah yang diampunya « Corak Penafsiran [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: