Pendekatan Filologis

Secara etimologis filologi berarti cinta kata-kata. Dalam lingkup kajian linguistik filologi sering dirujuk sebagai ilmu untuk memahami teks dan bahasa kuno. Atas dasar anggapan lingusitik itulah dalam tradisi akademik istilah filologi dijelaskan sebagai kajian terhadap sebuah bahasa tertentu bersamaan dengan aspek kesusasteraan dan konteks historis, serta aspek kulturalnya. Kesemua aspek kajian filologis tersebut memang mutlak diperlukan, umumnya dalam memahami sebuah karya sastra dan teks-teks lain yang memiliki signifikansi secara kultural. Dalam hal ini dapat pula dijelaskan di sini bahwa lingkup kajian filologis meliputi kajian tentang tata bahasa, gaya bahasa, sejarah, dan penafsiran tentang pengarang, serta tradisi kritikal yang dikaitkan dengan bahasa yang disampaikan. Oleh karena itu, jika filologi digunakan untuk memahami suatu bahasa, maka pendekatan yang memakai disiplin ilmu ini dimaksudkan untuk mencari pemahaman terhadap asal usul bahasa tersebut.
Meskipun begitu, terdapat upaya-upaya untuk mempersempit ruang lingkup filologi dalam membentuk filologi menjadi sebuah kajian modern. Di sini, pengaruh Ferdinand de Saussure dengan karyanya The Course in General Linguistics memberikan kontribusi penting dengan menetapkan lingkup pengertian disiplin filologis dalam arti yang lebih terbatas lagi. Di sini, filologi bukan lagi menjadi induk segala macam cabang ilmu, tetapi filologi modern dalam pandangan F. de Saussure menjadi pendekatan saintifik pertama terhadap bahasa-bahasa manusia pada abad ke-19 yang menjadi tonggak perkembangan bagi sebuah disiplin ilmu linguistik modern pada awal abad ke-20. Dengan begitu, istilah pendekatan filologis yang dipakai dalam buku ini mencakup pengertian-pegertian akademik istilah ini baik sebagai disiplin kajian bahasa secara umum yang disebut sebagai filologi klasik, maupun perkembangan mutakhirnya yang mengalami penyempitan sebagai bagian dari ilmu linguistik modern.

a. Filologi Klasik
Lepas dari sentuhan mutakhir dalam perkembangan ilmu filologi, pendekatan ilmiah yang memakai filologi sebagai pisau bedah analisis dalam sejarah perkembangan kajian al-Qur’an dan ulumul al-Qur’an, atau katakanlah dalam kajian Islam secara umum, sudah dilakukan sejak lama lantaran materi al-Qur’an dan Hadis tertuang dalam bahasa Arab. Jika kita menilik perkembangan bahasa Arab sekarang, dan membandingkannya dengan bahasa Arab yang tertuang dalam al-Qur’an dan naskah-naskah hadis, misalnya; maka kita bisa menilai bahwa bahasa Arab memiliki keunikan yang tidak hanya dianggap bagian dari bahasa kuno, tetapi kekunoan itu terus terpelihara hingga kini. Alasan inilah yang menegaskan pentingnya pendekatan filologis terhadap al-Qur’an.
Penelitian filologis dilakukan oleh sarjana muslim abad pertengahan menemukan beberapa temuan yang mengejutkan. Berpegang pada makna istilah filologis dalam pengertian klasiknya sebagai disiplin ilmu yang menjelaskan pengaruh keberadaan bahasa-bahasa asing terhadap pemakaian sebuah bahasa ditemukan sebuah fakta menarik bahwa pada bahasa Arab yang digunakan oleh al-Qur’an pada masa turunnya sekitar abad ke-7 masehi, juga bahasa Arab yang dipakai dalam teks-teks hadis dalam tradisi kenabian memiliki beberapa elemen asing yang berasal dari bahasa-bahasa di sekitar Arabia. Observasi yang dilakukan dengan memakai pendekatan filologi komparatif (Comparative Philology) terhadap teks al-Qur’an dan hadis menemukan adanya pengaruh beberapa bahasa asing non-Arab dalam rumpun bahasa semitik yang berkembang saat itu, maupun juga pengaruh dialek-dialek lokal selain Quraisy, dalam kandungan teks al-Qur’an dan teks hadis. Temuan-temuan tersebut pada gilirannya dapat memberi ruang lapang tidak saja bagi kalangan apologi Islam yang menegaskan tesis mereka tentang ketinggian bahasa al-Qur’an yang memiliki nilai i’jâz yang tidak lekang ditelan waktu, tetapi juga memberi ruang bagi para kritikus Barat yang begitu konsern dengan kajian al-Qur’an seputar anggapan mereka bahwa ada keterkaitan antara sajian teks al-Qur’an atau hadis dengan sumber-sumber Yahudi dan Kristen pra-Islam. Kedua anggapan yang berangkat dari sebuah premis akademik tersebut menjadi semakin terbuka untuk dikaji guna dapat menemukan bukti-bukti yang menguatkan melalui penelitian dengan menggunakan pendekatan filologi klasik.
Beberapa temuan hasil penelitian terhadap al-Qur’an yang memakai pendekatan filologi komparatif dapat dilihat dalam dua buah artikel Jalaluddin al-Suyuti di dalam al-Itqân yang mengupas tentang adanya kata-kata di dalam al-Qur’an yang bukan berasal dari dialek Hijaz, dan bahkan istilah-istilah serapan (mu‘arrab) yang berasal dari bahasa-bahasa asing non-Arab. Ternyata, temuan ini merupakan kontribusi penting yang lahir dari hasil investigasi yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dalam artikel pertama tentang kata-kata asing dalam al-Qur’an yang diserap dari dialek-dialek lokal Arab non-Quraisy (al-Itqan, i, hal. 134-136), Suyuti menyebut beberapa pengaruh dialek Arab pinggiran seperti Yaman dalam beberapa istilah al-Qur’an. Ia mencontohkan, misalnya, bahwa kata lahw yang dipakai al-Qur’an untuk menunjuk arti “permainan” atau “kesenangan” dalam dialek Quraisy sebenarnya berasal dari dialek Yaman yang berarti “perempuan”; atau kata marjân yang juga berasal dari dialek Yaman yang merujuk pada arti permata (lu’lu’) yang lebih kecil ukurannya.
Sementara dalam uraian tentang lafazh-lafazh yang mua‘arrab, artikel Suyuti dalam al-Itqân (vol. 1, hal. 136-142) merupakan ringkasan dari salah satu karyanya sendiri berjudul al-Muhadzdzab fî mâ waqa‘a fi al-Qur’ân min al-mu‘arrab. Karya ini diakuinya sebagai satu-satunya literatur yang memberikan penjelasan terhadap persoalan serupa setelah para ulama sebelumnya seperti Tâjuddin Subkî (w.769/1368) dan Ibn Hajar al-Asqallânî (w. 852/1449) hanya menyebutkan lafazh-lafazh mu’arrab itu dalam bait-bait syair yang mereka gubah. Peran besar Suyuti dalam hal ini adalah dengan memberikan sajian penjelasan yang lebih bersifat analitis-ilmiah melalui telaah filologis klasik terhadap problematika bahasa al-Qur’an tersebut.
Signifikansi dari penelitian melalui pendekatan filologi komparatif dalam kajian al-Qur’an dan Hadis, serta kajian tafsir pada umumnya, seperti yang dilakukan Suyuti di atas, pada titik tertentu akan dapat menjadi pijakan bagi tesis tentang ketinggian bahasa al-Qur’an yang memupus anggapan jika al-Qur’an melulu menyajikan materi dalam bahasa Arab yang terisolasi dari perkembangan peradaban lain di sekitar Arabia kala itu. Temuan-temuan filologi komparatif seperti disebutkan di muka merupakan landasan yang kuat bagi ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang menguatkan fenomena i’jâz dalam dimensi kritik sastra. Pada saat yang sama, temuan-temuan filologi komparatif semacam itu juga bisa menjadi pijakan bagi dilakukannya kritik yang lebih berdimensi teologis terhadap pencarian sumber di belakang kitab suci, sebagaimana dilakukan para kritikus Barat dalam menjelaskan kaitan antara kitab suci umat Islam ini dengan kitab-kitab Allah yang lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum Muhammad SAW. Terlepas dari tujuan awal kajian orientalisme Barat yang terkesan bermata ganda, ketika generasi awal kesarjaan Barat menaruh minat pada kajian keislaman untuk mengkritik kenabian Muhammad, penelitian al-Qur’an dari aspek bahasa dalam dimensi pendekatan filologi klasik agaknya tidak akan sampai merubah tesis tentang keaslian al-Qur’an itu sendiri, seperti yang kemudian gencar dilakukan dalam lingkup akademik filologi modern.

b. Filologi Modern
Penelitian terhadap bidang kajian tafsir hadis melalui pendekatan filologi dalam lingkup kademiknya secara modern dalam disiplin ilmu linguistik modern menemukan arti pentingnya dalam mengkaji relasi transkripsi sebuah teks dengan sumber-sumber aslinya. Hal penting yang bahkan dianggap paling signifikan dalam penelitian Tafsir Hadis melalui pendekatan filologi modern dapat dilihat dalam cabang disiplin ilmu filologi yang dinamai dengan ‘rekonstruksi teks” (text reconstruction). Dalam hal ini, elemen kritik teks dalam kajian filologis yang disebut dengan istilah higher criticism menekankan upaya rekonstruksi sebuah naskah asli hasil karya seorang pengarang berdasarkan varian salinan manuskripnya. Unsur-unsur utama yang dicari dalam kritisisme teks ini mencakup status kepengarangan (authorship), penanggalan, dan keaslian naskah.
Jika kemudian para sarjana orientalis Barat banyak menekankan penelitian mereka untuk merekonstruksi teks al-Qur’an, kajian semacam ini mungkin tidak menarik sarjana muslim yang umumnya telah menerima hasil kesepakatan (ijma’) bahwa penyusunan codex al-Qur’an telah selesai pada masa Utsman dengan terbitnya mushhaf Utsmani. Dalam sejarah perkembangan penulisan al-Qur’an, naskah lengkap al-Qur’an sendiri yang sudah dikodifikasikan dalam jangka waktu beberapa dekade saja jaraknya dari wafatnya Nabi SAW menunjukkan pula prinsip-prinsip rekonstruksi sebuah teks ala Islam, yang mungkin tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip filologi yang dipegangi dewasa ini.
Begitu pula dengan fenomena kodifikasi hadis-hadis Nabi SAW, setelah selesainya kodifikasi al-Qur’an. Kodifikasi hadis menandai perkembangan baru kajian keislaman, di mana tidak saja menaruh minat pada pembukuan hadis yang keberadaanya terserak-serak saat itu, penyeleksian hadis-hadis dan klasfikasinya ke dalam beberapa kategori yang menandai validitasnya, sampai pada pada lingkup penyusunan model-model kitab hadis, serta upaya-upaya lanjutan yang menaruh perhatian pada aspek tafsir untuk memberikan penjelasan (syarh) terhadap hadis-hadis tersebut. Pada saat yang bersamaan, relevansi pendekatan ini juga erat kaitannya dengan kajian tafsir al-Qur’an, sebagai cikal bakal berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Di sini, arti penting pendekatan filologis dalam lingkup kajian rekonstruksi teks adalah guna memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap karya-karya yang tidak mencantumkan nama pengarang dalam tulisan manuskripnya, ataupun penisbatan sebuah karya yang masih bersifat meragukan, seperti dalam kasus sebuah karya tafsir sufi yang secara meragukan dinisbatkan kepada Ibnu ‘Arabi —hanya lantaran isinya yang banyak mengungkapkan konsep wahdat al-wujûd. Di sini, pendekatan rekonstruksi teks menjadi jawaban bagi persoalan yang lekat dengan upaya penerbitan sebuah teks hasil kajian tafsir hadis dari salinan-salinan manuskripnya yang ada.

Walhasil, sebagai sebuah kajian yang menekankan penelitian bahasa-bahasa kuno, ataupun naskah-naskah yang tergolong literatur klasik, maka peran seorang filolog dalam kajian filologi dapat dikatakan sebagai pelaku peran penghubung yang bisa menjembatani kesenjangan komunikasi yang ada di antara pengarang yang menggubah karya sebuah karya pada masa lalu dengan para pembaca karya tersebut di era sekarang. Oleh karena itu, tugas utama seorang filolog dapat disimpulkan dalam sebuah frase, “membuat sebuah teks agar dapat dibaca dan dimengerti.” Dalam hal ini, ada dua upaya yang bisa dilakukan seseorang dalam membuat akses bagi sebuah teks, yaitu dengan memberikan penyajian (presentation) dan penafsiran (interpretation). Presentasi dimaksudkan sebagai menyajikan naskah dalam bentuk edisi kritik, yang dalam prosesnya tidak bisa dilepaskan dari aspek interpretasi dalam menentukan pilihan-pilihan bacaan dari varian yang ada termasuk interpretasi tentang siapa yang menjadi penulis naskah tersebut. Di sini, kaitan antara kedua upaya tersebut saling terkait antara satu dengan yang lain, di mana aspek penyajian tidak bisa dipisahkan sama sekali dengan penafsiran.
Begitu juga dalam perkembangan ilmu tafsir, sejak periode klasik sudah banyak kitab-kitab tafsir yang dihasilkan oleh para ulama, dan sudah pula dituliskan yang menandai kekayaan literatur dalam kajian Tafsir dan Hadis. Persoalan yang tersisa bagi kita, para pemerhati kajian Tafsir dan Hadis yang hidup di masa belakangan yang terpaut jarak waktu yang sangat lama dengan masa dilahirkannya karya-karya literatur itu adalah bagaimana kita bisa membaca dan memahami naskah-naskah tersebut dengan jaminan bahwa tidak ada kesalahan baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja yang telah dilakukan oleh para penyalin yang menuliskan ulang karya-karya itu dari masa ke masa hingga saat ini, ketika bahkan naskah asli yang ditulis oleh penulisnya sendiri telah hilang dan rusak ditelan waktu? Penelitian melalui pendekatan rekonstruksi teks yang merupakan disiplin filologi menjadi alternatif kajian interdisipliner yang bukan saja mampu menjawab tantangan semacam itu, tetapi juga menjadi langkah besar yang paling utama dilakukan mengingat masih banyak naskah-naskah literatur yang dihasilkan pada masa klasik Islam dan masa-masa abad pertengahan yang belum terpublikasikan dalam bentuk edisi cetak sehingga karya-karya itu bisa dibaca secara luas.
Literatur yang bersifat manual metodologis yang berfungsi memandu secara teknis pola-pola yang harus dilakukan dalam penelitian yang memakai pendekatan filologis dalam lingkup kajian terhadap literatur yang lebih menekankan aspek keindonesiaan dapat dilihat pada karya Stuart Robson Principles of Indonesian Philology yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Prinsip-prinsip Filologi Indonesia terbitan Universitas Leiden tahun 1994. Karya ini merupakan buku panduan yang cukup penting mengingat masih banyak literatur bidang tafsir dan literatur-literatur tentang kajian Islam pada umumnya yang ditulis oleh ulama Indonesia yang hingga kini masih tertulis dalam bentuk salinan manuskrip dan belum memiliki edisi cetak yang bisa dibaca secara luas.

2 Tanggapan to “Pendekatan Filologis”

  1. wardah Says:

    kira2 untk meneliti sebuah novel/buku sastra bisa tidak menggunakan pendekatan filologi ?

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Pendekatan filologi adalah pisau bedah yang bersifat umum, sehingga bisa dipakai untuk meneliti karya sastra, seperti novel. Tetapi fokusnya lebih pada kata-kata yang dimuat dan proses transmisinya, terutama jika karya sastra itu termasuk karya lama yang jauh dari masa kita hidup sekarang ini, ketika transmisi buku belum seakurat masa kini dengan adanya teknologi mesin cetak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: