Kajian Naskah dan Pendekatan Kritik Sastra

Pendekatan yang akan diuraikan di bawah ini mengambil bentuk pendekatan kritik yang berbasis pada teks, yaitu ungkapan tertulis yang telah disepakati sebagai korpus kitab suci. Atas pertimbangan pendasaran pada teks inilah maka kemudian pendekatan ini dipisahkan dari filologi yang dalam sejarah perkembangannya memiliki cakupan kajian yang lebih luas dari hanya sekedar rekonstruksi teks, atau kritik teks semata. Disebut dengan pendekatan kritik karena karakter yang ditampilkan di dalamnya lebih banyak bertumpu pada upaya dekonstruksi dengan mengasumsikan adanya kesalahan yang telah dibuat pada saat proses penetapan naskahnya. Ada beberapa poin pendekatan kritik yang bisa diuraikan dalam hal ini, yaitu kajian kritik naskah (textual criticism) sebagai salah satu disiplin cabang dari filologi atau bibligrafi yang lebih dikenal dengan istilah lower criticism, ditambah dengan pendekatan kritik sastra dalam kajian Islam yang dapat dilihat dalam kritik bentuk (form cirticism) dan kritik redaksi (redaction criticism). Kesemua pendekatan kritik ini dipinjam dari kajian biblikal terhadap perjanjian baru khususnya, di mana signifikansinya secara terpisah mungkin bisa diterapkan dalam penelitian bidang kajian tafsir hadis.

Kritik Naskah
Filologi sebagai sebuah disiplin induk yang memiliki banyak disiplin cabang sebagaimana ditunjukkan dalam apa yang disebut dengan istilah Textual Reconstruction yang menunjukkan bagaimana pendekatan ini mengarah pada sebuah analisis yang bermuara pada kajian kritik teks. Sebuah kajian yang diberi nama dengan istilah Textual Criticism atau Kritik Teks yang masih dianggap sebagai cabang filologi dan bibliografi memusatkan perhatiannya dengan mengidentifikasi dan membuang kesalahan dari sebuah teks. Produk yang dihasilkan dari kajian kritik teks adalah sebuah naskah yang telah diedit yang diyakini oleh editornya memiliki kemiripan sedekat mungkin dengan teks asli yang hilang (disebut Archetype), atau beberapa versi lain naskah yang ada, ataupun naskah yang pernah ada pada masa lalu. Berbeda dengan Text Reconstruction yang disebut sebagai higher criticism, kritik teks disebut sebagai lower criticism yang upayanya tidak dimaksudkan untuk menentukan ihwal kepengarangan, penanggalan, ataupun tempat disusunnya sebuah teks, akan tetapi hanya mengidentifikasi kesalahan dan membuangnya.
Dalam perkembangannya, kritik teks telah dipraktekkan sejak dua ribu tahun yang lalu. Pedekatan ini diterapkan terhadap Bible, dan karya-karya klasik Yunani. Di Inggris, kritik teks juga dilakukan terhadap karya-karya Shakespeare, bukan saja karena naskah karya Shakespeare yang beredar mengandung beberapa kesalahan, tetapi juga karena upaya untuk menghasilkan naskah editan yang kuat terhadap karya sastra tersebut secara luas dipandang sebagai upaya yang sangat bernilai.
Secara teoretis kerangka kerja dari pendekatan ini tidak jauh berbeda dengan pendekatan disiplin induknya yaitu filologi. Jika melihat beberapa dokumen yang berbeda, atau sebut saja “bukti-bukti” dari sebuah teks, maka tidak selalu akan tampak jelas mana yang naskah yang asli dan mana naskah salinan yang mengandung kesalahan. Tugas seorang pelaku kritik teks adalah menyortir naskah-naskah tersebut, untuk kemudian membentuk sebuah edisi yang paling mewakili naskah aslinya dengan menjelaskan semua bukti-bukti yang ada. Dalam melakukan pekerjaan ini, seorang pelaku kritik teks dituntut untuk mempertimbangkan baik aspek-aspek eksternal (usia manuskrip, keaslian, dan hubungan antara butki yang satu dengan yang lain) maupun aspek internal (apa yang sepertinya telah dilakukan oleh pengarang, penyalin ataupun pencetaknya). Dengan begitu didapatkan sebuah naskah edisi yang kuat yang memiliki kemiripan sedekat mungkin dengan naskah aslinya.
Salah satu alasan yang menganggap pentingnya dilakukan sebuah kritik teks, ataupun kajian filologis secara umum sebagaimana dijelaskan pada uraian sebelumnya, adalah karena sebelum mesin cetak ditemukan karya-karya literatur umumnya disalin dengan tangan. Setiap kali sebuah manuskrip disalin kesalahan mungkin saja dilakukan oleh juru tulisnya. Kesalahan yang sama juga bisa saja terjadi pada naskah cetakan akibat kecerobohan seorang compositor atau pihak percetakan. Oleh karena masing-masing penyalin atau percetakan melakukan kesalahan yang berbeda-beda, maka sebuah upaya rekonstruksi terhadap suatu manuskrip asli yang hilang memerlukan beberapa bahan bacaan selektif yang diambilkan dari berbagai sumber. Sebuah naskah edisi yang diambil dari beragam sumber disebut eclectic. Pendekatan eklektik merupakan salah satu pendekatan yang lazim dilakukan dalam sebuah upaya kritik teks. Selain itu masih ada dua pendekatan fundamental lain yang biasa dilakukan dalam kritik teks yaitu, stemmatik dan edisi naskah-salinan (copy-text editing).
Eclecticism adalah praktek dalam menguji sejumlah besar bukti-bukti dan menyeleksi varian-varian yang dipandang terbaik. Dalam pendekatan eklektik murni, tidak ada satu bukti naskah pun yang lebih disukai secara teoretis, sehingga semua teks diperlakukan secara sama. Sebaliknya, seorang pelaku kritik akan membentuk opini tentang bukti-bukti secara individual, dengan cara bergantung kepada ciri-ciri internal dan eksternalnya.
Stemmatik adalah pendekatan akurat terhadap tekt kritik yang dikembangkan oleh Karl Lachman (1793-1851). Nama pendekatan ini diambil dari kata stemma yang berarti pohon keluarga yang menunjukkan hubungan-hubungan antara bukti-bukti naskah yang ada. Prinsip kerja yang dimiliki oleh pendekatan ini adalah banyaknya kesalahan mengimplikasikan keaslian semuanya. Oleh karena itu, jika dua buah manuskrip memiliki kesalahan secara rata-rata, maka dapat dikatakan bahwa keduanya dihasilkan dari sebuah sumber intermediate yang umum, disebut dengan istilah hyparchetype. Hubungan di antara intermediate-intermediate yang hilang ditentukan melalui proses serupa, yaitu dengan menempatkan manuskrip-manuskrip yang ada dalam sebuah pohon keluarga yang disebut dengan stemma codicum, dengan merujuk kepada sebuah archetype tunggal. Proses dalam menentukan stemma disebut dengan resensi.
Setelah menentukan stemma, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan seleksi, di mana teks yang dijadikan sebagai archetype ditentukan melalui pengujian terhadap varian-varian yang ada dari beberapa hyparchetype atau intermediate yang terdekat dengan archetype dengan menyeleksi salah satu yang terbaik. Jika sebuah bacaan lebih sering muncul dibandingkan dengan bacaan lain dalam tingkatan yang sama, maka pembacaan yang dominan kemudian dipilih. Jika ada dua bacaan yang saling berkompetisi secara sama-sama seringnya, maka editor memutuskan archetype melalui pertimbangannya sendiri, bacaan mana yang ia anggap paling mendekati kebenaran.
Setelah melakukan pilihan, naskah bisa jadi masih memiliki kesalahan-kesalaha, ketika dalam beberapa kalompok kalimat tidak ditemukan sumber yang menyajikan bacaan yang benar. Untuk itu dilakukan langkah selanjutnya, yaitu tahap pengujian untuk menemukan korupsi. Ketika editor mengatakan bahwa naskah telah terkorupsi, maka kemudian hal itu dikoreksi dengan cara emendasi atau dengan menghilangkan bagian yang salah tersebut. Proses emendasi yang tidak didukung oleh sumber-sumber yang dikenal terkadang disebut dengan istilah emendasi konjektural.
Proses seleksi yang dilakukan dalam pendekatan stemmatik menyerupai pendekatan eklektik dalam kritik teks. Akan tetapi proses seleksi ini dilakukan terhadap sekumpulan dugaan hyparchetype secara terbatas. Sementara tahap pengujian dan emendasi menyerupai pendekatan copy-text editing. Dalam hal ini, teknik-teknik khusus yang menandai tahap-tahap pendekatan stemmatik merupakan kasus spesifik. Meskipun begitu, sebuah pohon keluarga yang akurat dari naskah tidak bisa ditentukan kecuali melalui perkiraan semata-mata. Jika sebuah manuskrip sejauh yang bisa dinilai merupakan naskah terbaik, maka yang paling tepat dilakukan adalah metode copy text editing, sementara jika sekumpulan manuskrip sama-sama menunjukkan unsur-unsur terbaik, maka eklektisisme merupakan pendekatan yang paling pas.
Copy-text editing adalah upaya kritik teks yang dilakukan terhadap sebuah naskah dasar (base text) dari sebuah manuskrip yang dianggap terpercaya (reliable). Naskah dasar ini sering dipilih dari manuskrip yang tertua. Akan tetapi dalam tahap-tahap awal pencetakan, proses penyalinan naskah ini menggunakan manuskrip yang ada di tangan ketika itu. Dengan metode copy text, seseorang melakukan pengujian terhadap naskah dasar dan membuat beberapa koreksi (dengan cara emendation) pada tempat-tempat di mana naskah dasar tadi nampak menunjukkan kesalahan menurut pandangannya. Ini dilakukan dengan cara mencari tempat-tempat di naskah dasar yang tidak bisa dipahami, atau dengan melihat naskah pada manuskrip yang lain untuk mencapai sebuah bacaan yang kuat.
Literatur-literatur yang berisi panduan teknis tentang langkah-langkah yang dilakukan dalam pendekatan kritik teks dapat ditemukan dalam beberapa karya metodologis seperti karya Pieter von Reenen dan Margot van Mulken, eds. (1996). Studies in Stemmatology. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company; dan Philip Gaskell (1978), From Writer to Reader: Studies in Editorial Method. Oxford: Oxford University Press. Di samping buku manual, beberapa panduan praktis juga dapat ditemukan dalam bentuk artikel-artikel menjadi bagian dari sebuah buku kompilasi yang lebih besar, maupun artikel-artikel yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah.[1]
Dalam perkembangannya aplikasi metode kritik teks dalam pendekatan textual criticism telah dterapkan terhadap manuskrip-manuskrip biblikal yang berbahasa Ibrani dan Injil dalam sekian banyak ragam manuskripnya dalam berbagai bahasa. [2] Bila pendekatan ilmiah ini akan diterapkan sebagai salah satu pendekatan dalam sebuah penelitian Tafsir Hadis, maka penerapan pendekatan kritik teks dapat dilakukan, musalnya, terhadap naskah-naskah kitab hadis, atau karya-karya dalam literatur tafsir al-Qur’an, baik yang masih berbentuk manuskrip maupun yang sudah berbentuk edisi cetak, mengingat tidak mustahil dalam manuskrip-manuskrip karya yang ada, ataupun edisi cetak diterbitkan oleh penerbit yang berbeda-beda ditemukan beberapa varian mencolok antara satu naskah dengan naskah yang lainnya. Dalam hal ini, penyusunan sebuah edisi kritik merupakan aktivitas yang paling diminati.

Kritik Bentuk
Kritik bentuk (form criticism) merupakan sebuah metode kritik yang telah diterapkan terhadap kajian biblikal. Metode ini diadopsi sebagai sebuah instrumen untuk menganalisis gambaran tipikal sebuah teks, terutama bentuk dan struktur konvensionalnya agar bisa dikaitkan dengan konteks sosiologisnya. Salah satu alasan yang mendasari pentingnya pendekatan ini adalah karena teks-teks biblikal berasal dari tradisi oral, yang mana proses penyusunannya telah menghasilkan munculnya beberapa buah lapisan (layers), yang masing-masing lapisan tersebut memiliki arti khusus. Elemen yang paling utama dari lapisan-lapisan ini adalah bahan-bahan historis asli, yaitu ungkapan atau peristiwa yang tidak disangsikan lagi terjadi melalui beberapa cara dan disaksikan. Dalam penuturan tentang peristiwa dan kejadian tersebut, serta penuturan ulang yang dilakukan dari waktu ke waktu, beberapa penjelasan yang bersifat rincian atau detail kejadian terkadang ditambahkan ke dalam teks. Tambahan-tambahan penjelasan yang nampaknya tidak bisa dielakkan tersebut merefleksikan tujuan dari para penyusun; di mana material yang asli digunakan untuk menguatkan sebuah pesan khusus. Tentunya, setiap penuturan ulang bisa saja membawa proses gradual di mana sesuatu yang baru ditambahkan yang bisa jadi menambah besar atau mengubah bentuk teks, jika beberapa makna tambahan tadi kemudian dilekatkan dengan teks. Pada akhirnya, tradisi semacam itu kemudian terkumpul menjadi penjelasan yang tertulis. Akan tetapi, pengarangnya tetap saja memiliki agenda tersendiri, ketika penyusunan materi-materi tradisional tadi akan senantiasa dihantarkan menjadi sebuah narasi yang dipandang perlu untuk diberikan penekanan terhadap aspek-aspek khusus dalam pandangan teologis tertentu.
Sebagaimana dikembangkan oleh Rudolf Bultmann dan sarjana lainnya, kritik bentuk bisa dilihat sebagai sebentuk dekonstruksi sastra dalam upaya menemukan kembali intisari dari makna aslinya. Proses ini dijelaskan sebagai proses demitologisasi, meskipun istilah ini harus digunakan secara hati-hati. Mitos dalam ungkapan ini tidak dimaksudkan sebagai istilah yang menunjuk kepada makna “tidak benar”, tetapi merupakan signifikansi dari sebuah peristiwa dalam agenda penyusunnya. [3] Dalam Injil, dekonstruksi atau proses demitologisasi dimaksudkan untuk mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan. Apa yang dikatakan oleh perjanjian baru tentang karakter dan signifikansi Isa AS dan pengajarannya, misalnya. Kritik bentuk dalam upaya ini merupakan usaha untuk merekonstruksi opini teologis dari gereja-gereje primitif dan ajaran judaisme sebelum masa pembentukan hukum-hukum yahudi yang tertuang dalam Talmud.
Kritisisme bentuk dimulai dengan mengidentifikasi genre sebuah teks atau bentuk konvensional sastra, seperti tamsil, proverb, epistle, puisi percintaan, dan bentuk-bentuk lainnya. Hal ini kemudian diteruskan dengan mencari konteks sosiologis dari masing-masing genre tersebut, atau katakanlah “situasi hidup”. Contohnya, setting sosiologis dari sebuah diktum hukum adalah pengadilan, sementara setting sosiologis dari sebuah lagu pujian atau hymne adalah konteks peribadatan atau pemujaan itu sendiri, sedangkan proverb bisa jadi seperti nasehat seorang Bapak kepada anaknya. Setelah selesai mengidentifikasi dan menganalisis genre sebuah teks, kritisisme bentuk selanjutnya mengajukan sebuah pertanyaan, bagaimana bisa genre yang lebih kecil ini memberi kontribusi bagi tujuan teks secara keseluruhan.
Dalam perkembangannya, kritisisme bentuk dikembangkan untuk penelitian terhadap kajian-kajian Perjanjian Lama seperti yang dilakukan oleh Hermann Gunkel. Pada masa belakangan kemudian diaplikasikan untuk penelitian terhadap Injil diantaranya oleh Karl Ludwig Schmidt, Martin Dibelius, dan Rudolf Bultmann.
Penerapan kritik bentuk dalam kajian Islam dapat diterapkan, terutama terhadap bahan-bahan dalam kajian Tafsir Hadis, di mana substansi pernyataan pengarangnya telah tercampur bersama tafsir yang ditambahkan oleh murid-murid dan pengikutnya atau penutur riwayatnya pada masa belakangan. Batasan-batasan yang telah ada dan secara jelas dan tegas dalam penetapan tentang mana saja lafaz-lafaz al-Qur’an, dan elemen-elemen mana saja yang termasuk ke dalam kategori tafsir mungkin menjadikan pendekatan ini tidak lagi terlalu relevan diterapkan dalam kajian al-Qur’an. Akan tetapi, pendekatan kritik bentuk mungkin bisa dipakai dalam menganalisis hadis-hadis yang memiliki kelemahan mendasar dalam matan yang dimuatnya, di mana substansi pernyataan orisinal Nabi SAW sangat diragukan otentisitasnya. Fenomena keberadaan hadis semacam ini umumnya ditemukan dalam kitab-kitab yang berisi nasehat targhib wa tarhib, di mana hadis-hadis yang lemah biasa dipakai sebagai argumen atau dalil amaliah-amaliah utama (fadâ’il al-a‘mâl). Arti penting pendekatan kritik bentuk dalam analisis hadis-hadis semacam itu adalah untuk memberi batas-batas yang jelas tentang mana substansi pernyataan yang berasal dari Nabi SAW, dan mana yang merupakan mitos dan merupakan lapisan tambahan yang dilakukan oleh pengikutnya pada masa belakangan, atau bahkan palsu semata dan sama sekali tidak berasal dari Nabi SAW.
Fokus perhatian yang diusung oleh pendekatan ini menitikberatkan penelitian substansi pernyataan atau matan. Dalam hal ini, pendekatan ini bisa digabungkan dengan analisis kritik matan. [4] Bila kaidah-kaidah pendekatan kritik hadis dalam kajian ilmu hadis selama ini cenderung hanya mendasarkan diri pada analisis sanad, atau persesuaiannya dengan argumentasi yang tertuang dalam hadis lain yang disepakati kesahihannya, bahkan bisa juga melalui pertimbangan rasional dan pendekatan konpromis (jam’) terhadap makna-makna yang ditunjukkan oleh sebuah matan hadis, maka analisis ini mungkin bisa diperkaya melalui penelitian kritis terhadap bentuk-bentuk ungkapan yang menjadi kategori dasarnya dalam pendekatan kritik bentuk.
Secara sederhana, kritik bentuk berupaya untuk mengeliminir setiap elemen tambahan yang menjadi bentuk-bentuk mitos dari sebuah teks. Dengan menganalisis dan mengidentifikasi bentuk dasar atau genre sebuah teks, proses demitologisasi yang umumnya menjadi tujuan dari gerakan purifikasi ajaran agama, diharapkan akan dicapai dengan mengetahui bagian-bagian mana yang merupakan bahan-bahan historis yang asli dari sebuah teks, dan bagian mana yang hanya merupakan lapisan tambahan yang dilekatkan ke dalam teks oleh para perawinya. Intinya, bila hadis yang menjadi dasar argumentasi bagi amalan yang bersumber dari Rasul SAW merupakan sunnah, maka penelitian melalui pendekatan kritik bentuk diharapkan dapat memebri kontribusi tambahan dalam memperkaya analisis kritis matan dalam kajian kritik hadis. Walhasil, upaya purifikasi yang menjadi tujuan mulia gerakan pembaharuan pemikiran Islam mampu menghasilkan sebuah sebuah pisau bedah ilmiah yang akan dapat memisahkan sunnah dari bid’ah dan mitos-mitos yang melingkupi keberadaan hadis-hadis Nabi SAW.

Kritik Redaksi
Kritik Redaksi merupakan salah satu metode penelitian kritik terhadap Bibel, terutama Injil dan kitab-kitab lain yang isinya saling tumpang tindih. Kritik redaksi merupakan sebuah disiplin sejarah yang bertujuan untuk menemukan maksud yang dikehendaki oleh pengarang atau editor terakhir sebuah buku. Tidak seperti kritik bentuk yang menjadi disiplin asalnya, disiplin cabang ini tidak melihat ragam bentuk narasi untuk menemukan bentuk aslinya, tetapi dengan memusatkan pada bagaimana pengarang atau editornya membentuk dan membuat material dalam sumber-sumbernya untuk mengekpresikan tujuan susastra bagi karyanya, yaitu untuk alasan apa ia menulis karyanya tersebut. Kritik redaksi juga melihat pengarang atau editor bukan sekali-kali sebagai kolektor yang melakukan tindakan “cut and paste” sebuah cerita, tetapi sebagai seorang teolog yang berupaya untuk mempertemukan agenda teologisnya dengan cara membentuk sumber yang ia gunakan.
Ada beberapa metode yang bisa dilakukan dalam pendekatan kritik redaksi dalam upaya mendeteksi aktivitas pengeditan:
1. Pengulangan motif-motif dan tema-tema umum.
2. Perbandingan di antara dua buah pernyataan. Di sini, kritik redaksi menguji apakah pernyataan yang terakhir menambahkan, menghilangkan, atau menjaga beberapa bagian dari pernyataan terdahulu mengenai peristiwa yang sama?
3. Kata-kata yang digunakan dan gaya seorang penulis. Apakah teks mencerminkan kata-kata yang sering digunakan oleh seorang editor, atau adakah kata-kata yang jarang digunakan atau juga upaya untuk menghindari penggunaan sebuah kata, misalnya. Jika pemilihan kata-kata mencerminkan bahasa seorang editor, maka hal itu menunjuk ke arah pengerjaan ulang editorial sebuah teks, sementara jika hal itu mencerminkan bahasa yang tidak digunakan atau dihindari untuk digunakan, maka hal ini kemudian mengarah pada bagian dari sumber yang terdahulu.
Ketiga langkah metodis yang dilakukan dalam kritik redaksi seperti yang diungkapkan di atas adalah langkah-langkah yang biasa dilakukan dalam mengkritisi redaksi naskah biblikal, khususnya terhadap redaksi dalam kitab Injil. Relevansi dalam bentuk aplikasi pendekatan kritik redaksi dalam kajian keislaman secara umum dapat diterapkan dalam kajian kritik terhadap redaksi matan hadis. Penerapan metode kritik redaksi sebenarnya sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu, khususnya dalam kajian hadis untuk menilai redaksi matan hadis apakah memiliki kecacatan (‘illat) berupa tambahan penjelasan (idrâj) yang diberikan oleh perawinya. Kritik redaksi juga dilakukan untuk menentukan bahwa sebuah riwayat dianggap sebagai riwayat yang janggal (syâdz) dan berbeda dengan riwayat lain yang kebanyakan (disebut riwayat mahfuzh). Kritik redaksi dalam kajian hadis adalah langkah utama untuk mendeteksi apakah sebuah hadis memiliki kualifikasi yang dianggap menjatuhkan sehingga dikelompokkan sebagai bagian dari hadis yang lemah dan tidak dapat diterima (da’if), seperti hadis maqlûb, hadis mudtarib, hadis muharraf, hadis musahhaf, hadis mubham, hadis majhûl, dan lain sebagainya.
Keunggulan ilmu hadis pada umumnya adalah menyangkut tingkat ketelitian yang sangat tinggi terhadap isnâd, di mana kualifikasi para perawi akan sangat menentukan diterima atau tidaknya sebuah tradisi kenabian. Bahkan nilai sebuah matan juga ditimbang dari kesahihan isnâd yang membawanya. Penerapan pendekatan kritik redaksi yang dipinjam dari studi biblikal diharapkan dapat meningkatkan aspek metodologis terhadap penelitian terhadap redaksi matan hadis, sehingga diketahui mana substansi yang benar-benar berasal dari tradisi kenabian, dan mana elemen tambahan yang hanya merupakan penjelasan, atau pesan khusus yang dibuat oleh para perawinya. Penerapan metode kritik redaksi terhadap matan hadis ini penting mengingat kemunculan hadis palsu banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor non-religius seperti faksi politik yang tidak jarang menampakkan biasnya dalam bingkai agama yang sengaja dilakukan oleh para perawi hadis di kalangan para pengikut generasi awal yang dihormati.

catatan akhir:
[1] Lihat Bowers, Fredson (1964). “Some Principles for Scholarly Editions of Nineteenth-Century American Authors”. Studies in Bibliography 17: 223–228; Bowers, Fredson (1972). “Multiple Authority: New Problems and Concepts of Copy-Text”. Library, Fifth Series XXVII (2): 81–115; Davis, Tom (1977). “The CEAA and Modern Textual Editing”. Library, Fifth Series XXXII (32): 61–74; Greg, W. W. (1950). “The Rationale of Copy-Text”. Studies in Bibliography 3: 19–36; Love, Harold (1993). “section III”, Scribal Publication in Seventeenth-Century England. Oxford: Clarendon Press; Shillingsburg, Peter (1989). “An Inquiry into the Social Status of Texts and Modes of Textual Criticism”. Studies in Bibliography 42: 55–78; Tanselle, G. Thomas (1972). “Some Principles for Editorial Apparatus”. Studies in Bibliography 25: 41–88; Zeller, Hans (1975). “A New Approach to the Critical Constitution of Literary Texts”. Studies in Bibliography 28: 231–264.

[2] Injil tertulis dalam 5.300 manuskrip berbahasa Yunani, 10.000 manuskrip berbahasa Latin, dan 9.300 manuskrip dalam bahasa kuno lainnya seperti Syriac, bahasa Slav, Etiopia, dan Armenia. Dalam hal ini, kritik teks terhadap Injil telah dilakukan secara eklektik dengan menyortir naskah-naskah yang ada dan mengelompokkannya menjadi tiga kelompok besar: Type Teks Alexandria, Type Teks Western, dan Type Teks Byzantium. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Textual_criticism.

[3] Untuk telaah lebih lanjut lihat Rudolf Bultman, Myth and Christianity: An Inquiry into the possibility of Religion without Myth, terjemahan 1958 oleh Noonday Press, Promotheus Book tahun 2005. Karya ini merupakan dialog Bultman dengan filsuf Karl Jaspers. Jaspers memulai dengan sebuah kasus bahwa agama Kristen tidak dapat dimengerti secara terpisah dengan kerangka mythical-nya, ketika mitos diakui sebagai bentuk penting dalam komunikasi melalui simbol. Bultmann memberi tanggapan bahwa analisis ilmiah modern terhadap teks mempersyaratkan pemisahan antara yang asli dan anggapan-anggapan kemukjizatan, sehingga dapat diungkapkan pesan yang sebenarnya.

[4] Lihat M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1992, hal. 121-158.

About these ads

Satu Tanggapan to “Kajian Naskah dan Pendekatan Kritik Sastra”

  1. aron Says:

    siiip…trma kasih atas idenya…sangat membantu saya..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: