Arsip untuk ‘Tugas Mengajar’ Kategori

DAFTAR TOKOH ORIENTALIS

10/09/2012

Dalam iklim kajian al-Qur’an dan hadis di Barat, ada beberapa nama tokoh orientalis yang belum dibahas pada tahun lalu dan bisa menjadi materi bahasan semester ini. Tentu saja anda dapat memilih tokoh-tokoh lain yang sesuai dengan ketertarikan anda di luar nama-nama tersebut. Namun, sebagai panduan saja dapat saya sampaikan beberapa nama berikut ini:

Nama Orientalis

Karya/Pemikiran

Kajian

Alfred Guillaume The Legacy of Islam (1931) with T. Arnold; Tradition of Islam  Alfred Guillaume (1888-1965), differs from his predecessors with his claim that the different ways in which the hadiths were fabricated reflect the political and religious tendencies of competing groups. He also argues that only a few of the hadiths can belong to the authorities to whom they were attributed, based on mistakes made during the narration process. His work on the hadith literature entitled The Traditions of Islam makes it necessary to mention his name in this context. Hadis
Alloys Sprenger Das Leben und die Lehre des Mohammad, tiga jilid, published between 1861 and 1865. Ia mengatakan bahwa literature tentang hadith mengandung isi kandungan yang lebih authentic dari sekedar peristiwa yang dibuat-buat.

Alloys Sprenger dalam bukuu yang sama juga menulis  uraian tentang perbedaan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniah sepanjang 36 halaman di volume ke-3 karya biografinya Das Leben und die Lehre des Mohammad (Berlin 1861).

Qur’an

Hadis

Angelika Neuwirth Angelika Neuwirth adalah professor of Sastra Arab di the Freie Universitat Berlin and directur proyek Corpus Coranicum  di Berlin-Brandenburg Academy of the Sciences. Dia juga mengajar di Ayn Shams University (Cairo) and the University of Jordan (Amman). Sejak tahun 1994 to 1999 menjadi directur pada Oriental Institute of the German Oriental Society (DMG) di Beirut and Istanbul. Pusat kajian penelitiannya meliputi kajian al-Qurʾan dan Tafsirnya, dan sastra Arab modern, terutama puisi-puisi bangsa Palestina dan sastra Levantine. Salah satu buah karyanya adalah Studien zur Komposition der mekkanischen Suren (second edition 2007). Qur’an
Arthur J. Arberry The Holy Koran, an Introduction with Selections (London 1953), yang dilanjutkan dengan terjemah secara komplet dalam The Koran Interpreted (2 vol, London 1955). Qur’an
C. Snouck Hurgronje C. Snouck Hurgronje (1857-1936), a contemporary of Goldziher’s, claimed, just like the latter, that the hadith literature was a product of dominant groups in the first three centuries of Islam, and thus it reflected their views. Both orientalists agree on the idea that different groups made up many hadiths and used them as a means to gain their objectives. Hadis
Carl Brockelmann Geschichte des Arabischen Literature (1989-1902). Manuskrip Arab
Christoph Luxenberg The Syro-Aramaic Reading of the Qur’an (2000). Qur’an
Claude Gilliot Claude Gilliot adalah professor bahasa Arab dan kajian keislaman pada University of Provence, Aix-en-Provence (France). Salah satu karyanya adalah Exégèse, langue, et théologie en Islam. (Paris: Vrin, 1990) and “Le Coran, fruit d’un travail collectif?” dalam D. De Smet, G. de Callatay and J.M.F. Van Reeth (eds), Al-Kitab. La sacralité du texte dans le monde de l’Islam, Acta Orientalia Belgica, 2004, 185–223. Qur’an
D.S. Margoliouth David Samuel Margoliouth (1858-1940). Highly influenced by Goldziher and Muir, Margoliouth claims that the development of the hadith literature, as explicated in Goldziher’s studies, should lead the researcher to be skeptical and to constantly ask the question, “what is the possible reason for the fabrication of this particular hadith?” In addition to being influenced by his predecessors, Margoliouth also had a considerable impact on subsequent orientalists, particularly Joseph Schaht, and through him, the entire orientalist tradition. In this context, his most effective assertion is the idea that the concept of the “sunnah” was originally used to refer to pre-Islamic customs/traditions that had not been abolished by the Quran. For him, the attribution of the term “sunnah” to the Prophet’s sayings and deeds was a result of a slow and gradual process. One of the reasons behind this transformation, he argues, was the desire to prevent a potential anarchical situation that might be caused by the prevalence of the traditions and life styles of the different groups that were integrated into the Muslim world as a result of the expansion of Islam. Hadis
Fred M. Donner Fred M. Donner professor bidang kajian sejarah Timur Dekat di Institut Studi Ketimuran Department of Near Eastern Languages & Civilizations at the University of Chicago (USA). Salah satu karyanya adalah Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing (Princeton: Darwin Press, 1997) dan “From believers to Muslims: Communal self-identity in the early Islamic community,” Al-Abhath 50–1 (2002–3), 9–53. Qur’an
Fuat Sezgin Geschichte des Arabischen Schrifttums (vol. I, 1967) Manuskrip Arab
Gabriel Said Reynolds Gabriel Said Reynolds adalah asisten professsor kajian Islam dan teologi pada University of Notre Dame (USA). Beberapa karyanya adalah A Muslim Theologian in the Sectarian Milieu: ʿAbd al-Jabbār and the Critique of Christian Origins (Leiden 2004), dan The Qurʾān in Its Historical Context (London, 2008). Qur’an
Gerhard Bowering Gerhard Bowering adalah seorang professor kajian keislaman di Yale University (USA). Salah satu publikasinya adalah Mystical Vision of Existence in Classical Islam (Berlin: de Gruyter, 1980) and Sulami’s Minor Qur’an Commentary (Beirut: Dar al-Mashriq, 1995; 1997). Qur’an
Gregor Schoeler Gregor Schoeler memangku jabatan sebagai ketua bidang kajian Islam di Universitas Basel (Switzerland). Fokus kajian penelitiannya selain bahasa Arab, juga sastra Persia, sejarah Islam awal, seperti biografi Nabi Muhammad, warisan lama dan transmisi ilmu pengetahuan dalam Islam. Salah satu karyanya adalah sebagai editor untuk The Oral and the Written in Early Islam, London and New York 2006; Die ältesten Berichte über das Leben Muhammads (bersama  A. Gorke), Princeton 2008; The Genesis of Literature in Islam. From the Aural to the Written, Edinburgh 2009. Qur’an
Gustav Flugel Corani Textus Arabicus (1834), Concordantiae Corani Arabicae (1842; repr 1898). Ia membuat edisi al-Qur’an yang memasukkan 7 qiraat sab’ah. Quran

 

Gustav Weil Gustav Weil dengan karyanya tentang sejarah hidup Muhammad (1843), menyinggung sebuah kajian terhadap al-Qur’an sehingga memunculkan karya-karya gabungan seperti Historische-kritische Einleitung in den Koran (Bielefeld, 1844; edisi keduanya pada 1878). DalamGeschichte der Chaliphenia mengatakan bahwa hadis-hadis Bukhari harus ditolak. Selain itu ia juga meragukan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menegaskan Nabi sebagai makhluk fana, serta ayat-ayat yang bercerita tentang Isra. Qur’an &Hadis

 

H.A.R. Gibb Mohammedanism(1946). Karya ini adalah sebuah pernyataan ulang (restatement) terhadap usaha terdahulu oleh D.S. Margoliouth yang menulis volume asli tentang Mohammedanism pada tahun 1911. Ia beralasan bahwa setelah 35 tahun berlalu, maka perlu diadakan “pernyataan ulang” atau “penulisan ulang” dan bukan sekedar mengedit kembali edisi aslinya.MenurutGibb, Muhammad bukan saja seorang rasul, satu di antara rasul-rasul lain, tetapi bahwa dalam diri Muhammad, titik kulminasi kerasulan berakhir, dan melalui al-Qur’an yang diwahyukan melalui lisannya bentuk final wahyu Tuhan terbentuk dan menasakh semua catatan wahyu yang diturunkan sebelumnya (Gibb, 1946: 11-12). Islam
Harald Motzki Harald Motzki menjadi suara penentang yang paling lantang, seperti disuarakan dalam karyanya yang berjudul Analysing Muslim Traditions: Studies in legal, Exegetical, and Maghazi Hadith, (Leiden: E.J. Brill, 2010). Hadis
Helmut Gatje The Qur’an and Its Exegesis (1976) Quran
Henri Lammens Henri Lammens (1862-1937). According to him, since the Muslim ulema (scholarly class) largely confined their efforts to the critique of narrative chains (isnad) and paid insufficient attention to the internal/textual critique of the hadiths, they failed to notice logical and historical impossibilities and anachronisms in the narrations. Hadis

 

Jane Dammen McAuliffe Jane Dammen McAuliffe menjabat sebagai Dekan di Georgetown College, seorng Professor of Sejarah dan bahasa Arab di Georgetown University, Washington DC, USA. Beberapa karyanya adalah “Qur’anic Hermeneutics: The Views of al-Tabari and Ibn Kathir” in A. Rippin, Approaches to the History of theInterpretation of the Qur’an. Oxford: Clarendon Press, 1988, pp. 46 – 62;  Qur’anic Christians: An Analysis of Classical and Modern Exegesis.Cambridge: Cambridge Univ. Press, 1991. Qur’an
Johann Fueck Johann Fueck (1894-1974), mengkritik pendekatan skeptic para pendahulunya. Menurut Fueck, mereka yang menganggap hadis sebagai koleksi pandangan generasi belakangan telah mengabaikan pengaruh mendalam Nabi terhadap kaum muslimin. Dengan begitu, mereka gagal melihat orisinalitas literature hadis, dan menganggapnya hanya sebagai “mozaik” yang dirangkai dari elemen-elemen asing. Akibatnya mereka menganggap hadis sebagai sesuatu yang dibuat-buat hingga terbukti sebaliknya. Hadis
Josef Horovitz Koranische Untersuchungen (Berlin, 1926) berkenaan dengan bahagian naratif dan nama-nama dalam al-Qur’an, sedangkan   “Alter und Ursprung des Isnad” in Islam viii (1918); ix (1921) mencoba merangkai kronologi isnad dengan memakai metode Ibn Ishaq. Menurutnya, isnad pertama kali muncul pada kuarter akhir abad pertama hijrah, ini membuatnya berbeda dengan para pendahulunya mengenai persoalan kronologi isnad, meskipun ia menggunakan kerangka berfikir yang sama dengan mereka bahwa Islam mengandung beragam elemen agama dan kebudayaan lain, hingga ia menyebut Islam sebagai “sebuah wilayah di mana sikretisme mendominasi”. Qur’an & hadis
Josef van Ess Zwischen hadit und theologie (1975). Hadis
M. Cook and Patricia Crone Hagarism, the Making of Islamic World (1977) Qur’an
M.J. Kister Studies in Jahiliyya and Early Islam (1980) Hadis
Michael Cook Early Muslim Dogma: A Source Critical Study (1981) Qur’an
Nabia Abbot Studies in Arabic Literary Papyri II: Qur’anic commentary and tradition (1967) Qur’an &Hadis
Patricia Crone Slaves and Horses: the Evolution of Islamic Polity (1980), Meccan Trade and the Rise of Islam (1987) ?
Paul Nwyia “Sentences de Nuri par Sulami dans Haqa’iq al-Tafsir” Mélanges de l’Université Saint-Joseph. Imprimerie Catholique, Appendice A, pp. 30-33 (1968). Exégèse coranique et langage mystique: nouvel essaisur le lexiquetechnique des mystiques musulmans. Beyrut: Dar el-Machreq , pp. 316-48 (1970), Trois oeuvre inédites de mystique musulmans Šaqiq al-Balkhi, Ibn‘Ata’, Niffari (ed. critique avec introd. par P. Nwyia). Beyrouth: Dar El-Machreq (1972). Qur’an
Regis Blachere Le Coran: traduction selon de reclassement des sourates (3 vols., 1947-1951) Quran
Reinhart Dozy Het Islamisme (1863). Influenced by both Sprenger and Muir, Dozy argued that about half of the hadiths in al-Bukhari were authentic. Hadis
Richard Bell “A Duplicate of the Koran; the Composition of Surah xxiii”, Moslem World, xviii (1928), 227-33; “Who were the Hanifs”, MW, xx (1930), 120-4; “The Men of the A’raf (Surah vii:44), MW, xxii (1932), 43-8; “The Origin of Idul Adha”, MW, xxiii (1933), 117-20; “Muhammad’s Call”, MW, xxiv (1934) 13-19; Muhammad’s Vision, MW, xxiv, 145-54; “Muhammad and Previous Messenger, MW, xxiv, 330-40; “Muhammad and Divorce in the Qur’an”, xxix (1939), 55-62; “Surat al-Hasr: a Study of its Composition”, JRAS, 1937, 233-44; “The Development of Muhammad’s teaching and Prophetic Consciousness”, SOSB Cairo, June 1935, 1-9; “The Beginnings of Muhammad’s Religious Activity, Transactions of the Glasgow University Oriental Society, vii (1934-5), 16-24; “The Sacrifice of Ishmael, TGUOS, x, 29-31; “The Style of the Qur’an”, TGUOS, xi (1942-4), 9-15; “Muhammad’s Knowledge of the Old Testament”, Studia Semitica at Orientalia, ii, Glasgow, 1945, 1-20.   Qur’an
Rudi Paret Der Koran: Kommentar und Konkordanz (1971). Memahami makna asli yang dipahami oleh Muhammad dan para sahabat, dan tidak mengandalkan penafsiran generasi belakangan. Qur’an
Stefan WiId Stefan Wild adalah seorang professor emeritus untuk kajian filologi bahasa-bahasa Semit dan kajian Islam di Universitas Bonn. Selain ahli dalam bidang kajian al-Qur’an dan sastra klasik dan modern Arab, ia juga ahli dalam bidang leksikografi bahasa Arab klasik. Beberapa karyanya adalah sebagai editor Self-Referentiality in the Qurʾan (2006) dan co-editor untuk Die Welt des Islams: International Journal for the Study of Modern Islam (Leiden). Qur’an
Tor Andrae Muhammed The Man and His Faith (1936).  Ia  mengatakan bahwa perkembangan Islam menegaskan sebuah fakta bahwa kepribadian Muhammad sebagai seorang nabi menjadi sumber orisinal bagi terciptanya sebuah agama baru. Menurut Andrae, Islam adalah sebuah energi spiritual, sebuah benih yang hidup, yang kemudian berkembang sesuai dengan kehidupannya sendiri dan menarik kehidupan spiritual lain ke dalam dirinya. Bahkan setelah periode perkembangan selama 13 abad, menurutnya, kita masih melihat ketaatan Islam yang asli, sebuah keunikan yang diambil dari pengalaman spiritual pendirinya terhadap Tuhan. Islam
Toshihiko Izutsu Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal, 1966) Qur’an
William Muir Dalam pengantar bukunya The Life of Mahomet, ia  menyodotkan beberapa criteria tentang otentisitas hadis. William Muir juga menulis utuh sebuah karya tentang al-Qur’an The Coran, Its Composition and Teaching; and its Testimony it bears to the Holy Scriptures (London, 1878). Qur’an & Hadis
William St. Clair Tisdall William St. Clair Tisdall (1859-1928) yang bertugas sebagai sekretaris Missionary Society dari Church of England di Isfahan, Iran, menyebutkan pengaruh luar lebih banyak lagi yang menjadi sumber bagi al-Qur’an. Oleh karena itu, menurut Tisdall, bukan saja ajaran Judaisme yang memberi pengaruh terhadap al-Qur’an,  tetapi dalam The Sources of the Qur’an (1905) Tisdall menyebut pengaruh agama-agama lain termasuk dari kebiasaan bangsa Arab pra-Islam, cerita-cerita dari sekte-sekte heretik Kristen, serta sumber-sumber Zoroaster dan tradisi agama Hanif yang berkembang di Arabia pada masa awal Islam. Qur’an

UQ 2012 FU/PA/1 Pertemuan Kedua

04/09/2012

Kita akan membahas seputar konsep wahyu dan al-Qur’an. Tugas individu yang saya berikan kepada setiap mahasiswa adalah memahami definisi konsep wahyu dan al-Qur’an.

Apa definisi wahyu? dan apa definisi al-Qur’an?
Apa manfaat memahami konsep wahyu dalam kajian studi agama-agama?

Kedua pertanyaan tersebut akan didiskusikan dalam pertemuan kedua Selasa, tanggal 11-09-2012. Setiap mahasiswa diharapkan aktif berpartisipasi aktif dengan memaparkan hasil catatan pembacaan yang ditugaskan, serta aktif mengikuti diskusi yang dilakukan.

Berikut adalah list topik-topik yang akan dibahas dalam tiap-tiap tatap muka di dalam kelas:
01. Wahyu
02. Al-Qur’an
03. Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an
04. Ulum al-Qur’an dan Perkembangannya
05. Ilmu Asbab Nuzul
06. Ilmu Munasabat
07. Ilmu Makki dan Madani
08. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih
09. I’jaz al-Qur’an
10. Tafsir dan Ta’wil
11. Penyimpangan dalam Tafsir

Kajian Barat terhadap al-Qur’an dan Hadis

04/09/2012

Selamat datang di blog MENGAJAR,
Semester ini,salah satu  mata kuliah yang saya asuh di FU-TH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah Kajian Barat terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mata kuliah ini lebih khusus dari sekedar kajian tentang Orientalisme secara umum, karena kita tidak akan memperbincangkan pemikiran, metode/pendekatan. motif, ataupun sikap kita sebagai muslim terhadap bidang kajian Islam secara umum yang dibahas oleh tokoh-tokoh Barat yang non-Muslim, tetapi kita lebih berfokus pada kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis yang menjadi pusat kajian jurusan Tafsir dan Hadis.

Memang al-Qur’an dan Hadis telah dikaji banyak sarjana, baik Orientalis atau sarjana Muslim sendiri, yang menjadikan keduanya sebagai sumber untuk menggali aspek-aspek pemikiran Islam lainnya seperti teologi, hukum, sastra, dan lain sebagainya. mengingat luasnya cakupan bidang kajian yang termasuk studi Islam secara umum tadi, maka kajian ini hanya akan dibatasi pada gagasan intelektual kalangan orientalis dalam mengkaji al-Qur’an dan Hadis sebagai sebuah disiplin akademik, yang lebih tepatnya disebut sebagai Qur’anic Studies dan Hadis Studies. Jikapun masih ada ketertarikan untuk membahas aspek lain di luar dua bidang kajian, yang sebenarnya masih saling terkait tersebut, maka mahasiswa masih bisa melakukan kajian baik yang menyangkut bidang kajian studi Islam secara umum ataupun konsep-konsep orientalisme secara lebih umum lagi, yang tidak saja menyangkut bidang kajian Islamologi.

Untuk itu, pembagian pembahasannya dapat dibedakan menjadi tiga kategori:
1. Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an/tafsir (Qur’anis Studies),
2. Kajian Orientalis terhadap Hadis (Hadis studies)
3. Kajian Orientalis tentang Orientalisme secara umum, atau aspek-aspek kajian Islam di luar Tafsir Hadis, serta kritik-kritik Sarjana Muslim terhadap Orientalisme.

Untuk itu, sebagai panduan di tahun kedua saya mengasuh mata kuliah ini, beberapa tokoh orientalis memang sudah dikaji oleh para mahasiswa tahun lalu, seperti dapat dilihat dalam bagian PENDAHULUAN buku saya yang dapat anda akses di link berikut:

http://anwarsy.files.wordpress.com/2012/01/kajian-orientalis-thd-al-quran-hadis.pdf

Untuk daftar nama tokoh orientalis yang bisa dibahas akan disertakan dalam posting blog ini berikutnya.

TUGAS
1. Mahasiswa diharuskan mengambil salah satu kajian dari tokoh-tokoh tersebut, atau tokoh lain menurut pilihannya sendiri.
2. Aspek-aspek pembahasan yang wajib untuk dimuat dalam makalah adalah tentang (1) pemikiran tokoh tersebut, (2) metode/pendekatan yang dilakukan, (3) motivasi yang melatarbelakangi, (4) Sikap kita terhadap gagasan tersebut.
3. Tugas dilakukan mandiri atau berkelompok (maksimal 2 orang untuk kelompok).
4. Tugas dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari FLOOR.
5. Setelah presentasi, tugas direvisi sesuai saran/tanggapan dalam diskusi.
6. Nilai didasarkan pada kehadiran (10%) aktivitas dalam floor diskusi (20%), presentasi makalah (30%), dan makalah akhir hasil revisi (40%).
7. Setiap ketidakhadiran akan mendapatkan pengurangan nilai 5 poin dari maksimal 100 poin kehadiran.
8. Berikut jadwal perkuliahan sementara:

Selasa, 04-09-2012 Dosen: Kontrak Kuliah
Selasa, 11-09-2012 Dosen: Pengantar Perkuliahan

Selasa, 18-09-2012 Kelas A: Ahmad Fauzan & Fiqri A (A.J. Arberry), Ahmad Baiquni (R. Bell), Kelas B: Menyusul

Selasa, 25-09-2012

nilai mpth 2011-2012

26/06/2012

MAKALAH PENELITIAN dan form angket

21/06/2012

Dear Mahasiswa,

Terima kasih saya ucapkan bagi mahasiswa yang telah menyerahkan tugas UAS tepat waktu. Bagi mereka yang meminta koreksi berkas diharapkan untuk bersabar menunggu, karena prioritas pekan ini adalah memeriksa dan memberi nilai anda. Melalui email anda semua, juga telah saya kirimkam form evaluasi dosen, kiranya anda bersedia mengisi form tersebut, dapat mengembalikannya secepatnya.

MAS

Tugas UAS Ayoo kirim segera, jangan tunggu tanggal 19…

09/06/2012

Dear Mahasiswa,

Bagi mahasiswa yang sudah selesai melakukan penelitian, sudah bisa menyerahkan MAKALAH yang menjadi LAPORAN HASIL PENELITIAN MINI yang dilakukan sesuai dengan judul yang sudah diajukan sebelumnya. So, bagi mereka yang sudah selesai, tidak perlu menunggu TENGGAT WAKTU TERAKHIR, yaitu tanggal 19 Juni 2012.

Semakin cepat menyerahkan tugas, semakin baik, karena sepekan setelah waktu formal UAS, nilai anda sudah harus diterbitkan via ais.

Mohon diperhatikan!!!!!!!!!!!!!!

Salam

MAS

Belum Menyerahkan UTS

15/05/2012

Ini daftar mahasiswa yang belum serahkan tugas UTS berupa proposal penelitian mini.

Muhammad Muslih

Ahmad Junaedi

Muhammad Syaman

Dimas Yedia Satria Adiguna

Misbak (diminta revisi)

Ali Hamzah Al-Husaini, 20-05 “Jual Beli Ilegal dalam Perspektif Tafsir dan Hadis”

Izzul Muttaqin

Agung Syafiullah

Roro Estri Melati

Ahmad Jaenuddin

Harri Lukman

Untuk mahasiswa semester 8 ke atas yang mengulang mata kuliah MPTH diharapkan menyerahkan tugas-tugasnya sekaligus, sehingga bisa secepatnya diterbitkan nilainya.

Harap diperhatikan!!!!

Salam

MAS

Pengumpulan Tugas UTS

09/05/2012

Tugas UTS MPTH dilakukan dengan menyerahkan proposal penelitian. Bagi mahasiswa yang telah menyerahkannya tepat waktu saya ucapkan terima kasih atas kerja keras anda, tugas anda selanjutnya adalah melakukan penelitian dan menyiapkan makalah hasil penelitiannya sebaik-baiknya, dengan bentuk seperti diberikan dalam contoh.

Bagi mereka yang belum menyerahkan diharapkan untuk segera menyerahkan tugas UTS, karena semakin lama anda menunda menyerahkannya kepada saya, maka semakin sedikit waktu yang anda miliki untuk pelaksanaan penelitiannya.

Harap dicatat!!!

Salam,

MAS

Daftar Judul Penelitian MPTH 2012

05/05/2012

Alhamdulillah, sudah ada beberapa proposal/disain penelitian mini yang masuk untuk tugas UTS MPTH 2011-2012. Ketentuannya dapat dilihat dalam posting tulisan saya sebelum ini, atau juga dengan mengakses halaman berikut: http://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/ Dalam list di bawah ini saya cantumkan tanggal penyerahan, nama-nama mahasiswa, dan judul penelitian yang diajukannya. Bila memungkinkan, maka anda semua dapat mengakses teksnya sebagai contoh agar memiliki pedoman yang dapat menjadi bandingan, selain dari proposal saya sendiri yang saya cantumkan dalam katagori tulisan tugas UTS di blog ini.

04-23 — Azizatul Iffah “Reinterpretasi Ayat Mawaris dalam al-Qur’an Perspektif Jender”

05-02 — Makhmudah “Tinjauan al-Qur’an dan Kedokteran tentang Bayi Tabung”

05-06 —Nur Laila Syahidah “Studi Komparatif antara Metodologi Pemahaman Hadis Ibn Hajar al-Asqallani dengan Ulama Modern”

05-07 — Aan Nurjannah “Penafsiran QS an-Nisa 4:101 tentang Kebolehan Mengqashar Shalat Menurut Ibnu Katsir”

05-07 — Mahfudoh “Jihad dalam Pandangan Abu Bakar Baasyir”

05-07 — Mia Fitriatunnisa “Pemahaman dan Praktek Masyarakat terhadap Hadis-Hadis Imsakiyah (Studi Kasus Anggota Majlis Ta’lim di Kecamatan Gunung Putri Bogor”

05-07 — Susi Ernawati “Studi Kritik atas Hadis-hadis Tawassul dan Tabarruk dalam kitab Sahih Ibnu Hibban”

05-07 — Taufik Akbar “Praktek Poligami dalam Tinjauan Hadits”

05-08 — Naelatus Sa’adah “Tanaqud dalam al-Qur’an (Kajian atas Ayat-ayat yang diangga Kontroversial oleh Kalangan Orientalis”

05-08 — Ai Eli Latifah, ““Konsep Cinta dalam al-Qur’an: Kajian atas Makna Kata al-Hubb dalam Tafsir al-Azhar Karya HAMKA”

05-08 — Ahmad Heri, “Fitnah Wanita dalam Hadis (Kajian Kritik Sanad dan Matan Hadis)”

05-08 — Salina “Tafsir Tematik Surat An-Nisa’ tentang Hak dan Kewajiban Kaum Perempuan”

05-08 — Nasroh “KAJIAN KRITIK HADIS-HADIS TENTANG JUAL BELI”

05-08 —Agus Maulana Yusuf “Kajian Ma’ani Hadis-Hadis Tentang Terputusnya Salat Karena Melintasnya Anjing, Keledai dan Wanita”

05-08 — Nurhidayat Setiawan “Al-Qur’an dan Solusi Masalah Kejiwaan pada Diri Manusia”

05-08— Mahdi “Konsep al-Qur’an tentang Kebersihan dan Pelestarian Lingkungan Hidup”

05-08 — M. Zamzami “PERPECAHAN UMAT BERAGAMA DALAM AL-QURAN Kajian terhadap Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab

05-08 —Arrahmah “KAJIAN KRITIK HADIS TENTANG TAHLIL”

05-08 — M. Reza Fadil 

05-08 —Muhammadun KONSEP KEPRIBADIAN MUSLIM DALAM AL QUR”AN

05-08 — Zainal Mu’id “Pentingnya Hubungan Silaturrahmi Dengan Tetangga dalam Persepektif Hadis”

05-08 — Nurlaila “Penafsiran Larangan Berbuat Syirik dalam Q.S. Luqman ayat 13 Menurut M. Quraish Shihab”

05-08 — Ayu Siti Khaerunnisa “KB dalam Islam dan Perannya dalam Membangun Keluarga Sakinah”

05-08 — Lia Herliati “Kajian Kritik terhadap Hadis-Hadis Perawatan Jenazah”

05-08 — Ahmad Damanhury “Sains dalam pandangan al-Quran”

05-08— Mu’min maulana “Transfer Hadîts bil Lafdzi dan bil Ma’na (Studi Kasus Gharib al-Hadîts)”

05-08 —Ahmad Gunawan “Perbandingan Interpretasi Mu’tazilah dan Ahlussunah wal jama’ah terhadap Ayat-ayat Amsal (analisis tafsir al-kasyaf dan Ibnu Katsir pada Q.S. Al-Ahzab:72)”

05-08— Faridah “Pendekatan Jihad dalam al-Qur’an dan  Terorisme (Kajian Tafsir al-Azhar)

05-08 —Ma’mun “Konsep Masyarakat Ideal Perspektif al-Qur’an”

05-08 —Ummi Hannik “Hadis-hadis KKN: Studi Kasus atas Hadis tentang Larangan Menerima Hadiah bagi Pejabat  Pemerintah dalam Melaksanakan  Tugas-tugas Negara”

05-08 — Amirudin Natonis “Tafsir Tematik Hak-hak Asasi Manusia dalam al-Qur’an.

05-08 —Nidaul Husna “Konsep Kependidikan Ditinjau dari Al-Qur’an”

05-08 — Nurulwati “Studi Kritik Kualitas Sanad dan Matan Tentang Hadis-Hadis Ilmiah”

05-08 — M. Khaoirul Anam “Pembuktian Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Berbagai Aspek”

05-08 — Harisman, Hukum Berjabat Tangan dengan Lawan Jenis

05-09 — Fatkhul Mubin “Motivasi Kerja dalam al-Qur’an”

05-09 —Nurul Hasanah, “Studi Komprehensif atas Penafsiran Kalangan Mutakallimin tentang Perbuatan Manusia”

05-10 —Ari Nurhayati “MEMAHAMI NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19″

05-12 —Sahlan Sohri Badawi “Toleransi Beragama dalam al-Qur’an (Kajian atas Tafsir Surat al-Kafirun)

05-12 —Taufik Abdul Aziz “Konsep al-Qur’an tentang Jihad”

05-13 —Zulkifli Natonis “Persoalan tentang Hijab di dalam al-Qur’an”

Catatan:

bagi mahasiswa yang belum menyerahkan tugas UTS diharapkan untuk secepatnya menyerahkannya via email. Bagi yang diberikan peluang perbaikan diharapkan untuk secepatnya menyerahkan revisi proposal yang diajukan sesuai yang disarankan.

Terima kasih

Salam,

MAS

TUGAS-TUGAS MPTH 2012

24/04/2012

My Dear Students,

Waktu terus berjalan dan saatnya diskusi teoretis segera mencapai batas akhir. Anda diharapkan secepatnya mempersiapkan judul penelitian yang akan anda lakukan di sisa waktu yang tersedia. Tugas praktek pertama adalah MEMBUAT DISAIN/PROPOSAL PENELITIAN sebagai tugas pengganti Ujian Tengah Semester (UTS). Anda diharuskan menyetorkan sebuah disain peneilitian yang terdiri dari 1-3 halaman saja yang berisikan:

  1. Judul Penelitian
  2. Latar Belakang Permasalahan
  3. Research Question (atau perumusan masalah)
  4. Metodologi Penelitian,</strong> dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
  5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Sebagai gambaran, contoh tugas ini dapat anda lihat dalam link berikut:

http://anwarsy.wordpress.com/2010/04/10/285/

Tugas ini dapat anda kirimkan melalui email saya dengan alamat m.anwarsy@gmail.com atau ma_syarifuddin@yahoo.com selambat-lambatnya tanggal 8 Mei 2012. Demikian harap diperhatikan.
LEBIH CEPAT ANDA MENGAJUKAN DISAIN/PROPOSAL PENELITIAN INI, LEBIH BANYAK WAKTU YANG AKAN ANDA DAPATKAN UNTUK MELAKUKAN PRAKTEK PENELITIAN YANG MENJADI TUGAS UAS ANDA.

SELAMAT BEKERJA!!!

Kelengkapan Materi MPTH

13/03/2012

Dear Mahasiswa,
Bagi mereka yang membutuhkan materi kuliah MPTH dalam bentuk slide powerpoint maupun bentuk cetak pdf-nya dapat mengklik link dibawah ini:

untuk slide powerpoint: http://anwarsy.wordpress.com/?attachment_id=272

untuk slide PDF : http://anwarsy.files.wordpress.com/2010/03/mpth-slide.pdf
Semoga membantu!

MPTH 2012

06/03/2012

Dear Mahasiswa,
Selamat datang saya ucapkan untuk para mahasiswa yang mengambil mata kuliah METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR HADIS (MPTH) 2012, yang terdaftar di kelas FU-TH/VI-b/c. Di blog ini tersedia semua yang terkait dengan materi perkuliahan selama satu semester ke depan.

Berikut saya sajikan jadwal perkuliahan untuk semester ini:

HARI/TANGGAL MATERI PENYAJI
Selasa, 06-03-2012 Pengantar Perkuliahan: Apa itu Metodologi Penelitian Tafsir Hadis? Dosen
Selasa, 13-03-2012 Memahami Ruang Lingkup Kajian Tafsir (al-Qur’an, Ulum al-Qur’an, Tafsir, dan Metode Penafsiran.
Selasa, 20-03-2012 Memahami Ruang Lingkup Kajian Hadis dan Ulum al-Hadis.
Selasa, 27-03-2012 Urgensi Penelitian Tafsir Hadis melalui Pendekatan Interdisipliner. Dosen
Selasa, 03-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra.
Selasa, 10-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Kritik Kontekstual (Sejarah, Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora).
Selasa, 17-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Hermeneutika.
Selasa, 24-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Perspektif Kesetaraan Jender.
Selasa, 01-05-2012 UTS – Praktikum Penelitian: Menyusun disain penelitian. Kerja Mandiri
Selasa, 08-05-2012 UTS – Praktikum Penelitian: Menyusun disain penelitian. Kerja Mandiri
Selasa, 15-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 22-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 29-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 05-06-2012 Review Perkuliahan Semua
Selasa, 16-06-2012 Pekan Tekun -
Selasa, 19-06-2012 UAS: Mengumpulkan tugas Praktik Lapangan

Jakarta, 06 Maret 2012
Dosen pengampu

Moh. Anwar Syarifuddin, MA.
NIP : 19720518 199803 1 003

Tugas Pertemuan Kedua UQ PA/I/A 11-09-2012

06/10/2010

Kita akan membahas seputar konsep wahyu dan al-Qur’an. Tugas individu yang saya berikan kepada setiap mahasiswa adalah memahami definisi konsep wahyu dan al-Qur’an.

Apa definisi wahyu? dan apa definisi al-Qur’an?
Apa manfaat memahami konsep wahyu dalam kajian studi agama-agama?

Kedua pertanyaan tersebut akan didiskusikan dalam pertemuan kedua Selasa, tanggal 11-09-2012. Setiap mahasiswa diharapkan aktif berpartisipasi aktif dengan memaparkan hasil catatan pembacaan yang ditugaskan, serta aktif mengikuti diskusi yang dilakukan.

Berikut adalah list topik-topik yang akan dibahas dalam tiap-tiap tatap muka di dalam kelas:
01. Wahyu
02. Al-Qur’an
03. Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an
04. Ulum al-Qur’an dan Perkembangannya
05. Ilmu Asbab Nuzul
06. Ilmu Munasabat
07. Ilmu Makki dan Madani
08. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih
09. I’jaz al-Qur’an
10. Tafsir dan Ta’wil
11. Penyimpangan dalam Tafsir

UAS MPTH 2013, Kerjakan mulai sekarang!!!

26/04/2010

Ujuan Akhir Semester untuk mata kuliah MPTH dilakukan dengan menyerahkan sebuah tulisan/artikel/paper/makalah yang merupakan hasil dari penelitian mini yang dilakukan berdasarkan design yang diusulkan sebelumnya.

Panjang tulisan adalah 3.000 kata (atau jika tidak menggunakan komputer; misalnya, jika ada yang ingin menyerahkannya dalam format ketikan mesin ketik, maka 3000 kata itu setara dengan tulisan 15 halaman kwarto spasi ganda).

Waktu untuk melakukan penelitian ini dan penulisan hasilnya secara formal diberikan dalam 7 pekan, maksimum. Bagi mereka yang telah menyerahkan disain penelitian lebih awal, maka dapat memulai pelaksanaan penelitian ini juga lebih awal. bagi mereka yang sudah dapat menyelesaikan paper/makalah penelitian juga diharapkan secepatnya menyerahkan, tanpa harus menunggu batas waktu akhir penyerahan.

Tulisan diharapkan dapat diserahkan dalam bentuk softcopy dalam sebuah attachment melalui email ke alamat  m.anwarsy@gmail.com paling lambat sudah diterima tanggal 08 Januari 2014. Pengirim diharapkan menuliskan nama dan nimnya di sudut kiri atas tulisan. Agar memudahkan klaim, setiap pengirim juga diharapkan memberi konfirmasi melalui sms, baik secara kolektif atau individu; dan bila sudah diterima, maka saya akan mengirimkan konfirmasi balik, baik melalui sms ataupun balasan email. Konfirmasi balik dari saya ini diperlukan sebagai bukti kalau anda benar-benar telah mengirimkan tugas UAS sesuai dengan format yang dikehendaki. Jika di kemudian hari terdapat komplain, seperti kasus nilai yang tidak keluar, padahal anda merasa sudah menyerahkan tugas melalui email, maka anda bisa mengajukan konfirmasi balik tersebut sebagai alat bukti penguat untuk dasar pengeluaran nilai susulan.

Bagi mereka yang menuliskannya dalam format ketikan mesin ketik dapat diserahkan draft asli ketikannya, bukan fotokopi, tanpa dijilid, cukup diklip atau distreples saja. Tulisan diserahkan langsung ke tangan saya langsung.

SELAMAT BEKERJA!!!

UTS MPTH

26/04/2010

Ujian Tengah Semester (UTS) dilakukan dengan menyetorkan sebuah disain peneilitian (dengan contoh terlampir) dan terdiri dari 1-3 halaman saja yang berisikan:

1. Judul Penelitian
2. Latar Belakang Permasalahan
3. Research Question (atau perumusan masalah)
4. Metodologi Penelitian,
dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Sehubungan dengan pemberitahuan yang dilakukan sejak masa awal perkuliahan tentang kewajiban setiap mahasiswa untuk mempersiapkan judul penelitian, serta kesiapan melakukan sebuah penelitian mini berdasarkan disain tersebut, maka besar harapan tugas UTS ini bisa diserahkan tepat waktu.

SELAMAT BEKERJA!!!

Contoh Makalah Penelitian Mini

24/04/2010

Contoh Makalah Penelitian Mini

Salah satu output yang dihasilkan dari perkuliahan MPTH adalah kemampuan mahasiswa dalam menjalankan penelitian, baik dalam menyusun disain penelitiannya, maupun juga menghasilkan artikel/makalah/tulisan/paper berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di akhir masa perkuliahan.

Untuk itu, di sini saya berikan salah satu contoh artikel yang memuat hasil penelitian saya sendiri, berdasarkan disain penelitian yang sudah saya berikan contohnya dalam tugas UTS. Artikel saya diberikan tajuk yang sama “Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an”. Versi cetak tulisan ini dapat dilihat dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat vol.1, no.2 Desember 2004, halaman 1 – 18. Jurnal ini dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Bias Jender dalam Bahasa Arab

24/04/2010

Diskusi

Salah satu kritik utama kelompok feminisme terhadap keberadaan bias jender dalam konsep-konsep ajaran Islam adalah lantaran Islam menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa rujukan utama. Bahasa ini memiliki bias jender, sehingga tidak pula mengherankan bila kemudian hal tersebut menularkan bias jender serupa terhadap konsep-konsep yang dilahirkan, apalagi didukung dengan proses kelahirannya yang juga berasal dari kultur Arabia yang seperti juga bahasanya mengenal bias jender.

Di sini, jelas ada keterkaitan erat antara bahasa dan bidaya sebuah masyarakat. Persoalannya, ketika Islam dilahirkan dalam konteks budaya dan bahasa Arab yang bias jender, maka sejauh mana peran peneliti muslim masa kini dalam menjelaskan persoalan ini agar didapatkan penjelasan dan penalaran serta kritik yang seimbang, terutama dalam melakukan penafsiran ulang atau sebut saja reinterpretasi terhadap konsep-konsep yang bias dalam pandangan kesetaraan jender, terlepas dari kuatnya kesan apologi dalam masalah ini.

Sebagai bahan bacaan tambahan, anda bisa membaca makalah saya yang berjudul “Bias Jender dalam bahasa Arab“. Di situ, tertuang beberapa persoalan yang memicu timbulnya kesan ketimpangan jender, baik dalam struktur bahasa Arab yang menjadi bahasa al-Qur’an, maupun juga beberapa konsep yang dilahirkannya.

Perspektif Kesetaraan Jender

24/04/2010

Pendekatan baru yang kini tengah digandrungi sebagai sebuah model penelitian dalam banyak aspek kajian, dan lebih khusus kajian keislaman dewasa ini terutama menyangkut masalah perempuan, adalah pendekatan kesetaraan gender. Sebelum memasuki diskusi lebih mendalam tentang persoalan ini, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dulu apa yang disebut dengan jender atau gender dalam bahasa Inggrisnya, sehingga ketika isu ini diintegrasikan ke dalam persoalan kesetaraan jender antara kaum laki-laki dan perempuan, maka pembahasan kemudian lebih banyak menyoroti persoalan feminism.

Kata jender atau gender didefinisikan sebagai semua hal baik yang dikonstrusksi secara sosial maupun kultural, yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu kelas ke kelas lainnya. Gender adalah pembedaan peran, status, pembagian kerja, yang dibuat oleh sebuah masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Hal ini menjadi bentukan manusia yang tidak baku, karena bisa berubah. Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Perbedaan gender ini tidak menjadi masalah krusial ketika tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities), akan tetapi pada kenyataannya perbedaan jender justru melahirkan struktur ketidakadilan, dalam berbagai bentuk: marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, beban kerja, yang secara ontologis merupakan modus utama kekerasan terhadap perempuan. Pada kondisi inilahm kekuasaan laki-laki mendominasi perempuan, bukan saja melangengkan budaya kekerasan, tetapi juga melahirkan rasionalitas sistem patriarki. Ideologi patriarki adalah ideologi kelaki-lakian, di mana laki-laki dianggap memiliki kekuasaan superior dan priviledge ekonomi. Patriarki dianggap sebagai masalah yang mendahului segala bentuk penindasan. Hal inilah yang menjadi agenda kaum feminis ke depan, ketika pusat persoalan adalah tentang tuntutan kesetaraan, keadilan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dari sinilah persoalan mengenai jender seolah tidak bisa dilepaskan dengan masalah feminisme.

Apa itu feminisme? Dalam hal ini, ada 3 definisi yang memberi makna istilah ini:
(1) Feminisme adalah teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga Juliet Mitchell dan Ann Oakley dalam What is Feminism? (1986) mengatakan seorang daat dikategorikan sebagai feminis jika ia mempertanyakan hubungan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan, sekaligus secara sadar menyatakan dirinya sebagai seorang feminis.
(2) seorang dapat dikatakan feminis sepanjang pemikiran dan tindakannya dapat dimasukkan ke dalam aliran-aliran feminisme yang dikenal sekarang ini, seperti feminisme liberal, marxis, sosialis, dan radikal.
(3) Feminisme adalah sebuah gerakan yang didasarkan pada adanya kesadaran tentang penindasan perempuan yang kemudian ditindaklanjuti dengan aksi untuk mengatas penindasan tersebut. Di sini kesadaran dan aksi menjadi inti komponen yang harus ada kedua-duanya agar dikatakan sebagai feminis.

Kesimpulan yang bisa diambil dari 3 definisi di atas, feminisme tidak mendasarkan pada sebuah grand theory yang tunggal, tetapi lebih pada realitas kultural dan kenyataan sejarah yang konkrit, dan tingkatan-tingkatan kesadaran, persepsi, dan tindakan. Untuk itulah maka gerakan feminisme kerap diasosiasikan sebagai gerakan pembebasan, di mana kemudian ketika terjadi penyandaran argumentasi yang mengatasnamakan agama, atau opengambilan sumber-sumber ajaran yang berasal dari kitab suci, maka terjadilah apa yang disebut sebagai teologi feminisme, yang kemudian dikenal pula sebagai bagian dari teologi pembebasan.

Teologi Feminisme berasal dari teologi pembebasan (liberation theologi) yang dikembangkan oleh James Cone pada akhir tahun 1960-an, di mana perempuan dianggap sebagai kelas tertindas. Namun, tidak seperti paradigma marxisme murni, faham teologi feminis tetap menyertakan agama. Hanya saja, bukan agama yang melegitimasi penguasa, tetapi agama sebagai alat untuk membebaskan golongan yang tertindas, yaitu perempuan. Hal yang ingin dicapai dalam teologi feminisme adalah tercapainya perubahan struktur agar keadilan jender dan keadilan sosial dapat tercipta. Teologi feminisme berkembang dalam agama-agama semitik: Yahudi, kristen, Islam, di mana agama sering ditafsirkan dengan memakai ideologi patriarki yang menyudutkan wanita. Para teolog feminis dalam Islam adalah mereka yang mencari konteks dan latar belakang ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkenaan dengan perempuan. Seperti dikatakan Rif’at Hassan, seorang Feminis Pakistan, bahwa cara pandang dan sikap negatif terhadap perempuan yang banyak terjadi pada masyarakat muslim berakar pada teologi. Oleh karena itu, jika dasar-dasar teologi yang cenderung membenci perempuan (misoginis) dan androsentris tidak dibongkar dan dihancurkan, maka diskriminasi terhadap perempuan dalam Islam akan terus berlangsung.

Pengkajian terhadap agama yang mengetengahkan perspektif kesetaraan jender seringkali diidentikkan dengan pembahasan yang berpusat pada persoalan seputar perempuan. Persoalan ini selalu menjadi pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para feminis dan para pemerhati perempuan. Ini dikuatkan dengan kemunculan gerakan-gerakan feminisme (Liberal, Marxis, Sosialis, Radikal), yang kesemuanya bermaksud memperjuangkan kebebasan perempuan dari dominasi laki-laki, atau juga membebaskan teks dari dominasi penafsiran yang bias laki-laki dengan mengeliminasi aspek-aspek penafsiran yang bernada misoginis, membenci perempuan.

Latar belakang yang mendasari kemunculan gerakan kesetaraan gender ini dalam sisi pembaharuan pemikiran Islam adalah sebuah upaya untuk mengembangkan apa yang disebut oleh orang barat sebagai “teologi feminis” yang dalam konteks Islam yang memiliki tujuan untuk membebaskan kaum perempuan dan kaum muslimin pada umumnya dari struktur-struktur dan perundang-undangan yang tidak adil dan tidak memungkinkan terjadinya hubungan yang hidup antara laki-laki dan perempuan. Rifat menilai bahwa ada ketidaksesuaian yang mencolok antara cita-cita Islam dan praktek umatnya sejauh menyangkut perempuan. Dalam hal ini, beberapa kesalahan mendasar ditemukan dalam pandangan normatif Islam yang berakar pada penafsiran terhadap al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam beragam konteks, kesetaraan kedudukan semua manusia baik laki-laki maupun perempuan di hadapan Allah dipertentangkan dengan bias penafsiran yang menganggap kelebihan status laki-laki sebagai qawwamun (yang umunya diterjemahkan sebagai “penguasa” atau “pengatur”) perempuan, laki-laki memperoleh bagian waris dua kali lebih besar dibandingkan dengan bagian kaum perempuan, kesaksian laki-laki yang sama dengan kesaksian dua orang perempuan, maupun argumen-argumen yang berakar dari hadis ketidaksempurnaan perempuan daam salat, atau menyangkut kecerdasan akalnya sebagai konsekuensi dari kesaksiannya yang dihitung hanya setengah dar kesaksian laki-laki. Kesemua doktrin teologis tersebut di atas memerlukan telaah lebih dalam, mengingat pemahaman tersebut masih mengindikasikan bias gender, padahal dalam sudut pandangan Islam normatif laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, kendati ada perbedaan status biologis dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Penafsiran yang dianggap bias gender, dan bercorak misoginis, sehingga menempatkan status laki-laki dalam derajat yang lebih superior dibandingkan dengan perempuan juga dijumpai dalam tradisi agama-agama lain. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, akar pandangan yang bias gender didapati dalam 3 asumsi teologis: (1) Ciptaan Tuhan yang utama adalah laki-laki, dan bukan perempuan karena perempuan diyakini diciptakan dari tulang rusuk Adam. Konsekuensinya, secara intologis kedudukan perempuan bersifat derivatif dan sekunder; (2) Perempuan, dalam hal ini Hawa, menjadi penyebab kejatuhan manusia dari surga. Konsekuensinya, semua anak perempuan Hawa dipandang dengan rasa benci, curiga, dan jijik; (3) Perempuan tidak saja diciptakan dari laki-laki, tetapi juga untuk laki-laki. Konsekuensinya, keberadaan perempuan hanya bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar. Ketiga asumsi teologis yang memandang rendah kaum perempuan ini, sedikit banyak masih tergambar dalam pandangan masyarakat Arab yang melatarbelakangi setting historis dan sosiologis turunnya al-Qur’an.

Dalam hal ini, tidak pula dipungkiri bahwa Islam telah berupaya untuk sedikit demi sedikit mengangkat derajat kaum perempuan dari pandangan sosialdan teologis yang ada sebelumnya. Akan tetapi, struktur sosial yang patriarkhis dan dominasi peran laki-laki dalam kultur peradaban dan perkembangan pemikiran Islam masa klasik dan periode salanjutnya menjadikan cara berfikir yang bias gender masih saja berlangsung, atau setidaknya terekam dalam praktek-praktek penafsiran al-Qur’an, yang umumnya juga dilakukan oleh ulama lak-laki. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam banyak kasus, penafsiran yang tidak didasarkan pada asas kesetaraan gender ini masih terus berlangsung sampai pada saat tafsir-tafsir tersebut digagas pada periode perkembangan pemikiran Islam abad pertengahan sampai abad awal abad ke-20. Istilah feminisme Islam sendiri baru digagas sekitar tahun 1990-an, sebagai sebuah gerakan dalam mengimbangi perkembangan gerakan Islamism. Akar gerakan kesetaraan gender sendiri sudah ada sejak seabad yang lalu, sebagaimana diadvokasi oleh Qasim Amin dari Mesir dan Mumtaz Ali dari India. Beberapa tokoh ternama lainnya yang berkecimpung dalam gerakan feminisme Islam adalah Leila Ahmad, professor kajian wanita asal Mesir; Fatima Mernissi, seorang penulis asal Maroko; Amina Wadud, dan tokoh-tokoh lainnya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa perspektif kesetaraan gender dalam penelitian kajian al-Qur’an maupun hadis ditujukan untuk menganilisis ulang teks-teks yang beredaksi misoginis, dalam sebuah upaya kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang tidak saja mempertimbangkan konteks sosio-historis dalam memahaminya, tetapi juga dengan menarik signifikansinya bagi konteks sosiologis yang terjadi pada masa kini, sehingga tetap didapatkan makna pesan-pesan al-Qur’an yang teguh berpegang pada dimensi keadilan dan kesetaraan derajat antara sesama manusia.

Pendekatan Filsafat Hermeneutika

18/04/2010

Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau bentuk nomina hermeneia yang berarti penafsiran. Dua kata ini dalam beragam bentuknya muncul beberapa kali dalam teks klasik seperti Organon dan Peri Hermenias karya filsuf besar Yunani Aristoteles. Dalam bentuk kata benda, kata hermeneia juga muncul dalam karya filsuf Yunani yang lain seperti Plato, Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan Longinus. Dengan menelusuri asal katanya, hermeneutika mengarah pada arti “membuat menjadi mengerti”, khususnya ketika proses ini mengikutsertakan bahasa, di mana bahasa merupakan satu-satunya medium dalam proses memahami. Proses ini dikaitkan dengan peran Hermes dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pembawa pesan, sekaligus penafsir bagi pesan-pesan para dewa. Ini sejalan dengan makna kata kerja hermeneuein yang meliputi 3 aktivitas: (1) mengekpresikan secara lantang dengan kata-kata, atau sebut saja “mengatakan”, (2) menerangkan, seperti dalam menerangkan situasi, dan (3) menerjemahkan, seperti dalam menerjemahkan pesan ke dalam bahasa asing. Ketiga aktivitas tersebut tercakup dalam makna kata “menafsirkan”. Oleh karena itu, sudah semestinya bila hermeneutika memiliki kaitan yang erat dengan upaya penafsiran, yang dalam hal ini akan diuraikan sebagai salah satu pendekatan dalam bidang kajian Tafsir Hadis.

Dalam sejarah perkembangannya, pemakaian yang paling umum dari istilah hermeneutika merujuk pada sebuah proses penafsiran kitab suci. Ini juga berlaku bagi apa yang disebut sebagai philosophical hermeneutics, yang secara khusus bisa disebut sebagai perkembangan dari penafsiran kitab suci yang menyajikan dukungan teoretis bagi beragam proyek interpretasi. Akan tetapi, perkembangan seputar terbentuknya disiplin ini dalam kancah pemikiran Barat modern nampaknya berlangsung dalam sebuah proses yang belum akan mencapai titik akhir, mengingat setiap tokoh yang mengusung definisi istilah ini selalu saja menampilkan aspek dan penekanan khusus yang berbeda dengan para pendahulunya. Oleh karena itu, setelah menjalani proses perkembangan historis yang cukup mengundang perdebatan, penentuan makna dan definisi yang tepat untuk istilah hermeneutika tidak bisa ditetapkan sesederhana dengan mengambil salah satu konsep dan membuang yang lain. Uraian yang akan diberikan di bawah ini merupakan sebuah ulasan pengantar agar kita bisa menempatkan pemakaian istilah yang menjadi pendekatan akademis ini dengan tepat dan tidak tumpang tindih, yaitu melalui penelusuran terhadap perkembangannya baik dalam masa klasik, maupun pembentukan teori-teori yang terjadi dalam perkembangan pemikiran Barat modern pasca era pencerahan. Tujuan yang diharapkan dari uraian yang bersifat pengantar ini adalah guna memberikan panduan bagi penelaahan dan pemahaman lebih lanjut yang lebih komprehensif, bila kemudian pendekatan yang lebih bernilai filosofis ini dapat diterapkan bagi pengembangan minat penelitian dalam kajian tafsir hadis dan studi Islam pada umumnya.

Pertanyaan tentang apa itu hermeneutika agaknya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dijawab, tetapi terlalu rumit untuk dijelaskan secara sederhana. Meskipun demikian, sebuah asumsi populer mungkin ada baiknya untuk diungkapkan terlebih dahulu, sebelum memasuki pembahasan tentang tahap-tahap perkembangan dan pembentukan hermeneutika sebagai disiplin akademik. Makna paling umum dari hermeneutika dalam dunia Barat dapat dirujuk sebagai ilmu umum mengenai penafsiran teks. Meskipun secara teknis akademis disiplin hermeneutika baru tercipta pada abad ke-17, tetapi apa yang menjadi inti kajian di dalamnya merujuk pada masa perkembangan yang sudah cukup lama dalam tradisi penafsiran perjanjian lama, atau bahkan dalam tradisi yang bersumber dari para pakar retorika Yunani kuno yang mengkaji aspek literatur yang memajukan Alexandria.
Beberapa hal yang bisa dicermati dalam perkembangan metode penafsiran teks yang menunjukkan kenyataan akan kesadaran hermeneutis dalam tradisi kristen abad pertengahan, misalnya, kita akan mendapati sebuah panduan penafsiran yang mengakar kepada 4 tingkatan yang menekankan perbedaan antara huruf dengan semangat teksnya: makna literal (sensus historicus) kitab suci memberi pengertian tentang apa yang diungkapkan dan disebutkan oleh teks secara langsung; makna allegorikal (sensus allegoricus) memberikan penjelasan dalam teks terkait dengan isi doktrin dan dogma agama, sehingga setiap elemen kalimat memiliki makna simbolik; makna tropologis yang memberikan aplikasi moral teks terhadap pembaca dan pendengar individual; dan makna anagogikal menggambarkan secara tidak langsung kandungan rahasia yang dimiliki teks mengenai pengetahuan metafisk dan eskatalogis yang disebut dengan istilah gnosis. Tradisi penafsiran semacam ini, termasuk juga kemiripan tradisi yang sama dalam penafsiran rabbinik Yahudi, merupakan sumber yang membentuk dan turut menentukan aspek-aspek kajian dalam membentuk aliran-aliran yang muncul dalam perkembangan pembentukan disiplin hermeneutika modern.

Tahap-tahap perkembangan dalam pembentukan hermeneutika dalam iklim akademik Barat pasca era pencerahan dapat dilihat dalam analisis Richard E. Palmer dalam bukunya Hermeneutics, Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Ia menjeaskan bahwa tahapan historis perkembangan definisi hermeneutika merujuk pada enam makna, yang masing-masing menampilkan aliran pemikiran dengan tokoh dan pendekaan yang berbeda-beda sebagaimana tercermin di dalam judul karyanya. Dalam kronologi yang berurutan, menurut Palmer, enam macam definisi itu adalah: (1) hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, (2) metodologi filologi secara umum, (3) ilmu tentang semua pemahaman lingusitik, (4) landasan metodologis bagi Geisteswissenschaften, (5) fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, (6) sistem penafsiran, baik yang bersifat rekolektif maupun ikonoklastik, yang dipakai manusia dalam memahami makna dibalik mitos dan simbol-simbols. Menurut Palmer, masing-masing definisi itu lebih dari sekedar perkembangan historis, karena masing-masing menunjuk sebuah “momentum” dan pendekatan penting terhadap problematika penafsiran. Secara sederhana, ke-enam makna tersebut dapat disebut biblikal, filologis, saintifik, geisteswissenschaftliche, eksistensial, dan penekanan kultural.

Hermeneutika sebagai penafsiran biblikal merupakan pemahaman yang tertua dan mungkin masih dikenal secara luas. Dalam masa yang paling awal, makna ini dipakai oleh J.C. Dannhauer untuk membedakan penafsiran (exegesis) dengan aturan, metode, dan teori yang mengaturnya (hermeneutics). Pemakaian makna tersebut masih menjadi pijakan bagi definisi hermeneutika baik dalam teologi, maupun literatur non-biblikal ketika pengertiannya diperluas pada masa belakangan. Meskipun begitu, sementara istilah “hermeneutika” sendiri lahir pada abad ke-17, operasi penafsiran tekstual dan teori-teori penafsiran dalam bidang agama, hukum, dan sastra sudah ada sejak masa klasik. Oleh sebab itu, ketika kata itu diterima sebagai nama istilah untuk teori penafsiran, bidang kajian yang dicakupnya secara retroaktif meluas dalam bidang penafsiran biblikal merujuk kepada masa perjanjian lama, ketika pada masa itu juga dikenal aturan-aturan guna dapat menafsirkan kitab Taurat secara tepat.
Dua hal yang patut dicatat dalam mencermati perkembangan hermeneutika yang diartikan sebagai teori penafsiran biblikal: pertama, karakter hermeneutika sebagaimana diindikasikan dalam contoh-contoh teori penafsiran kitab suci; yang dalam hal ini dapat disebutkan bahwa hermeneutika menyajikan “sistem” interpretasi yang dengan itu suatu ayat dalam kitab suci dapat ditafsirkan. Melalui sistem tersebut, seorang mufassir dapat menemukan makna yang tersembunyi dari sebuah teks. Hal tersebut didasari pada pertimbangan, bukan saja lantaran sebuah teks tidak bisa ditafsirkan dengan sendirinya, tetapi setelah masa pencerahan teks-teks kitab suci merupakan wahana yang memiliki banyak kebenaran moral, yang akan bisa ditemukan di dalamnya jika prinsip-prinsip penafsiran dibentuk untuk menemukannya.
Kedua, dengan memahami hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, maka akan didapatkan kejelasan tentang ruang lingkup hermeneutika, yang tidak saja mencakup teori-teori eksplisit tentang aturan-aturan dalam menafsirkan, tetapi juga teori-teori yang didapatkan secara tidak langsung dalam praktek penafsiran yang dilakukan. Jika Gerhard Ebeling, misalnya mengkaji “Hermeneutika Martin Luther”, maka ia tidak saja memusatkan kajiannya pada pernyataan-pernyataan Luther tentang teori penafsiran biblikal, tetapi juga terhadap praktek penafsiran yang dilakukannya seperti yang didapatkan dengan menganalisis khutbah-khutbah yang diberikan dan tulisan-tulisannya yang lain. Dari sini, lingkup kajian hermeneutika menjadi lebih luas —sebagai sebuah sistem penafsiran baik yang eksplisit maupun implisit— yang tidak saja diterapkan bagi teks kitab suci, tetapi juga terhadap literatur di luar kategori kitab suci itu sendiri.

Sebuah konsekuensi dari perluasan ruang lingkup Hermeneutika yang meliputi teks-teks non-biblikal, dimulailah kecenderungan untuk memperlakukan kitab suci sama dengan perlakuan terhadap buku-buku sekuler lainnya. Dalam sebuah panduan hermeneutika yang ditulis 1761, Ernesti menyatakan bahwa makna verbal kitab suci harus ditetapkan secara sama seperti yang dilakukan terhadap buku-buku lain. Hal senada diungkap oleh Spinoza, bahwa norma penafsiran biblikal hanya bisa menjadi penerang untuk akal yang sama. Dengan mencermati perkembangan semacam ini metode penafsiran biblikal menjadi sama saja dengan filologi klasik yang menjadi dasar teori penafsiran sekuler, sebuah bangunan yang menjadi landasan bagi definisi modern kedua bagi hermeneutika sebagai metode filologi.

Fase selanjutnya dalam sejarah perkembangan hermeneutika adalah mengkonsepsi hermeneutika sebagai “seni” atau “ilmu” memahami, sebagaimana dilontarkan oleh F. Schleiermacher. Patut dicatat di sini bahwa hermeneutika mengimplikasikan sebuah kritik radikal terhadap landasan utama filologi, yang mengharuskan hermeneutika untuk bergerak mencapai batas luar konsepsinya sebagai sekumpulan aturan-aturan, dan untuk membuatnya koheren secara sistematis, yaitu sebuah bidang ilmu yang menjelaskan kondisi bagi pemahaman dalam segala dialog. Hasilnya, bukan lagi sekedar hermeneutika filologis, tetapi hermeneutika yang bersifat umum yang prinsip-prinsipnya dapat menjadi pondasi bagi penafsiran segala macam teks. Perkembangan seterusnya di tangan Wilhelm Dilthey, seorang penulis biografi F. Schleiermacher, kemudian, hermeneutika menjadi disiplin induk yang menjadi pondasi bukan saja bagi penafsiran teks yang melandasi definisi ketiga, tetapi menjadi definisi baru yang meliputi segala disiplin yang memusatkan perhatian pada pemahaman seseorang terhadap seni, prilaku, dan tulisan-tulisan yang disebut dengan istilah geisteswissenschaften.

Definisi kelima merubah pandangan hermeneutika ke dalam kajian fenomenologis terhadap keberadaan manusia sehari-hari di dunia. Tokohnya adalah Martin Heidegger. Dalam pandangannya, hermeneutika bukan lagi ilmu ataupun aturan-aturan tentang interpretasi teks, bukan pula merujuk kepada metodologi geisteswissenschaften, tetapi hermeneutika merujuk kepada penjelasan fenomenologis tentang eksistensi manusia itu sendiri. Dalam analisis Heidegger, “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan bentuk dasar keberadaan manusia. Dengan karyanya Being and Time, Heidegger menandai perubahan dalam perkembangan hermeneutika, yang di satu sisi terkait dengan dimensi ontologis pemahaman, dan pada saat yang sama hermeneutika diidentifikasikan dengan konsepsinya tentang fenomenologi secara khusus.

Hans Georg Gadamer mengembangkan implikasi dari sumbangan pemikiran Heidegger menjadi sebuah karya sistematik tentang “hermeneutika filosofis”. Karyanya yang lain, Truth and Methode, merupakan upaya untuk menghubungkan hermeneutika kepada aspek-aspek estetika dan filosofis sejarah pemahaman. Dalam hal ini, hermeneutika dibawa selangkah lebih jauh tetapi masih dalam fase “linguistik” dengan pernyataan Gadamer bahwa keberadaan yang bisa dipahami adalah bahasa, sehingga hermeneutka adalah sebuah pertemuan dengan yang ada melalui bahasa.

Dalam fase akhir perkembangan hermeneutika, menurut Palmer, hermeneutika dipahami sebagai sistem penafsiran, yaitu antara mendapatkan kembali makna melawan pembongkaran tradisi (iconoclasm). Tokoh yang pertama mengadopsi konsep ini adalah Paul Ricoeur. Dalam bukunya de l’interpretation (1965), ia mengatakan, “kami mengartikan hermeneutika teori tentang aturan yang mengatur sebuah penafsiran, atau dapat dikatakan, interpretatsi teks khusus atau kelompok tanda yang bisa dianggap sebagai teks.” Pada tahap ini, hermeneutika menjadi proses penggalian makna yang dari sesuatu yang isi dan makna yang manifest menuju makna yang tersembunyi atau laten. Objek penafsirannya sendiri yang berupa teks, dalam bentuk yang sangat luas bisa terdiri dari lambang-lambang dalam mimpi, atau bahkan mimpi dan kejadian dalam mitos dan simbol-simbol masyarakat atau karya sastra. Dalam hal ini, Ricoeur membedakan antara simbol-simbol yang jelas merujuk kepada satu makna (univocal) dan simbol-simbol yang samar-samar dan mengandung beragam makna (equivocal). Yang terakhir inilah yang menjadi fokus perhatian hermeneutika. Menurutnya, hermeneutika berkaitan dengan teks-teks simbolik yang memiliki makna ganda. Makna ganda ini bisa jadi menyusun sebuah kesatuan semantik yang —seperti dalam mitos-mitos— memiliki makna zahir yang jelas dan pada saat yang sama juga sebuah signifikansi yang mendalam. Hermeneutika, menurut Ricouer, adalah sistem yang memunculkan signifikansi batin dari dalam substansinya yang tampak. Definisi hermeneutika semacan ini pada gilirannya membawa Ricoeur untuk membedakan dua sindrom hermeneutika yang sangat berbeda dalam era modern: pertama, berkenaan dengan simbol dalam sebuah upaya untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana diwakili oleh upaya “demitologisasi” Rudolf Bultmann; dan kedua upaya untuk membongkar simbol yang menjadi representasi realitas yang salah, seperti ditampilkan oleh Marx, Nietzsche, dan Freud yang membongkar kedok-kedok dan ilusi-ilusi melalui gerakan rasionalisasi yang tiada henti dalam upaya “demistifikasi”. Ketiga tokoh yang terakhir ini menafsirkan kenyataan lahiriah sebagai sebuah kesalahan dan mengajukan sistem pemikiran yang menghancurkan kenyataan tersebut. Ketiganya secara aktif berdiri berseberangan dengan agama, sementara cara berfikir yang benar bagi ketiganya adalah dengan mengajukan “rasa curiga” (suspicion) dan keragu-raguan.

Atas dasar dua pendekatan yang berbeda dalam penafsiran simbol dewasa ini, menurut Ricoeur, tidak akan pernah ada aturan-aturan prinsipal (canons) yang bersifat universal untuk menafsirkan, akan tetapi hanya berupa teori-teori yang terpisah dan saling berlawanan tentang aturan-aturan (rules) penafsiran. Pengikut aliran demythologizer (atau “demitologisasi”) memperlakukan simbol atau teks sebagai jendela menuju realitas sakral, sementara kaum demystifier memperlakukan simbol yang sama (sebut saja teks kitab suci) sebagai sebuah kenyataan salah yang harus dihancurkan.

Pendekatan Ricoeur sendiri dalam mengkaji pemikiran Freud merupakan sebuah upaya brilian dalam kerangka type penafsiran yang pertama. Ia berupaya menemukan kembali dan menafsirkan kembali signifikansi Freud dengan cara baru pada momen kesejarahan masa kini. Dalam hal ini, Ricoeur berusaha untuk menerobos rasionalitas keragu-raguan dan kepercayaan terhadap interpretasi rekolektif dalam sebuah filsafat rekleftif yang tidak kembali ke dalam abstraksi atau menjadi lebih buruk dengan pengajuan keragu-raguan secara sederhana. Sebuah filsafat yang menangani tantangan hermeneutika dalam mitos dan simbol, serta secara reflektif mentemakan realitas di belakang bahasa, simbol, dan mitos-mitos tadi. Fisafat telah menaruh perhatiannya pada bahasa, yang senyatanya sudah menjadi hermeneutika. Tantangan untuk membuatnya hermeneutikal secara kreatif.

Dari keenam makna yang menadai perkembangan hermeneutika dalam era modern, yang tidak menutup kemungkinan akan terus berlanjut dalam fase perkembangan yang lebih mutakhir dalam filsafat Barat modern, pendekatan hermeneutika yang bisa disajikan dalam penelitian bidang kajian tafsir hadis, selain bisa didekati dari pilihan-pilihan dalam enam definisi di atas, dapat pula ditujukan pada apa sebenarnya makna interpretasi yang menjadi manifest hermeneutika, khususnya dalam kajian sastra. Palmer mengajukan beberapa prinsip dalam kajian yang memakai pendekatan hermeneutika, seperti apa yang dirujuknya dari Heidegger tentang perlunya upaya untuk mendekati teks secara lebih mendalam untuk menemukan apa yang tidak, bahkan mungkin yang tidak mampu, dikatakan oleh teks. Menurutnya, menafsirkan sebuah karya adalah untuk melangkah ke dalam cakrawala pertanyaan ke arah mana teks bergerak. Akan tetapi, hal ini juga berarti bahwa sang penafsir bergerak ke dalam sebuah horozon di mana jawaban yang lain juga dimungkinkan. Dalam hal jawaban jawaban yang lain inilah —dalam konteks temporal sebuah karya dan juga dalam era kekinian— bahwa seseorang mesti memahami apa yang dikatakan oleh teks. Dengan kata lain, apa yang dikatakan dapat dipahami hanya melalui apa yang tidak dikatakan.

Prinsip lainnya dalam pendekatan hermeneutika adalah signifikansi penerapan terhadap masa sekarang. Dalam hal hermeneutika yuridis maupun teologis, misalnya diharuskan untuk melihat pemahaman tidak sesederhana upaya mengaitkan kajian klasik untuk memasuki dunia lain yang diinginkannya, tetapi sebagai sebuah upaya untuk menjembatani jarak yang ada antara teks dengan situasi saat ini. Interpretasi bukan melulu menjelaskan apa makna teks dalam dunianya sendiri, tetapi apa maknanya untuk kita. Sebuah teks ditafsirkan bukan atas dasar kesesuaiannya, tetapi karena substansi teks adalah sesuatu yang dimiliki bersama. Landasan kesamaan milik ini tidak selalu bersifat personal, tetapi bahasa. Seseorang berada di dalam dan diliputi bahasa; bahkan ketika seseorang harus menjembatani kesenjangan dalam dua bahasa yang berbeda, ia masih saja menafsirkan dalam dunia bahasa di mana wujud (being) menjadi pengganti di dalam bahasa.

Beberapa literatur lain yang bisa dipakai sebagai rujukan dan panduan dalam memahami teori-teori hermeneutika yang berkembang dalam publikasi yang lebih belakangan dapat dibaca dalam Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as method, philosophy, and critique karya Josef Bleicher (London: Routlege and Kegan Paul, 1980); atau dalam Three Faces of Hermeneutics, An Introduction to current theory of understanding (Berkeley: Unversity of California Press, 1982).

catatan: Rujukan yang dipakai untuk tulisan ini dapat dilihat dalam modul perkuliahan.

Contoh Disain Penelitian Mini

10/04/2010

Contoh Disain Penelitian

Judul
Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an

Latar Belakang
Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan diungkapkan oleh al-Suyutī dalam bukunya al-Itqān fī ulum al-Qur’ān, di mana ia menyatakan bahwa penjelasan yang dilakukan para Sufi terhadap al-Qur’an bukanlah suatu bentuk “tafsīr” (amma kalām al-sūfiyya fi al-Qur’ān fa laysa bi tafsīrin). Dalam bukunya, al-Suyuti juga membedakan antara tafsir dan ta’wīl sebagai dua metode penafsiran yang berbeda. Yang pertama dianggap sebagai metode penafsiran yang memiliki nilai formal, dianggap standar yang patut dilakukan dan terpuji, dan memiliki keunggulan karena menetapkan makna yang dikehendaki Tuhan sebagai penjelasan atas Kalam-Nya. Sementara metode ta’wīl dianggap sebagai aktivitas di luar prosedur formal, dinilai sebagai tindakan tercela, dan tidak bisa menetapkan satu makna. Signifikansi yang diambil dari sebuah ayat al-Qur’an melalui proses ta’wil tidak bersifat baku lantaran hal itu diambil dari makna “jauh” yang hanya bisa diterapkan karena ada konteks yang mendukungnya. Proses ta’wil inilah yang kebanyakan dilakukan oleh para sufi dalam memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Research Question
Apakah Sufi diperbolehkah, atau anggap saja memiliki otoritas, untuk menafsirkan al-Qur’ān?

Metodologi Penelitian
Pertanyaan tersebut akan diteliti melalui bentuk penelitian kepustakaan. Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kritik kontekstual dan hermeneutika sekaligus. Yang pertama dilakukan untuk menimbang latar belakang yang mendasari munculnya pernyataan yang diungkapkan oleh al-Suyuti dan dipadukan dengan timbangan terhadap validitas penafsiran yang dilakukan sufi. Di sini, penilaian kritik dilakukan untuk mengukur sejauh mana pernyataan al-Suyuti memiliki relevansi bagi problematika penafsiran al-Qur’an dalam corak yang bernilai sufistik sejak masa klasik Islam sampai abad pertengahan, dan guna menguji apakan thesis suyuti masih bisa dipertahankan pada saat sekarang ini. Berangkat dari kritik sejarah tadi, pengujian lebih lanjut terhadap teori-teori penafsiran al-Qur’an akan dilakukan para sufi memerlukan pendekatan filsafat hermenutika, baik sebagai sebuah kajian terhadap problematika umum pemahaman manusia, maupun dalam maknanya yang terbatas sebagai ilmu yang membahas teori penafsiran kitab suci.

Daftar Pustaka Sementara
Abū Zayd, N.H. Hakadhā Takallama Ibn Arabī, Kairo: al-Hai’ah al-misriyya al-amma li al-kitāb, 2002.
Abu Zayd, Mafhūm al-nash, Kairo: matba’ah al-hayāt al-mishriyya li ‘ammāt al-kitāb, 1993.
Afifī, A.A. Malāmatiyya wa al-shūfiyya wa ahl al-futuwwa, Kairo : Dār ihyā’ al-kutub, 1945.
Bruns, Gerard L. Hermeneutics Ancients and Modern, New Haven: Yale University Press, 1992, h.134
Dhahabī, Muhammad Husein al-. Al-Tafsir wa al-mufassirun, Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsiyya, tt, 2 vol.
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Kairo : Dār al-ma’ārif, tanpa tahun.
Ibn Shalāh, Taqiy al-Dīn. Fatāwā, Kairo: Idāra Thabā‘a al-Munīriyya, 1348 H.
Lane, E.W. An Arabic English Lexicon, Cambridge: 1984.
Robson, J. “Ibn Salāh” in The Encyclopaedia of Islam, Leiden: EJ Brill, CD ROM edition 2002, vol.iii, 927a.
Mahmūd, Abd al-Halīm. Manāhij al-Mufassirin, Kairo: Dār al-kitāb al-mishrī, 1978.
Subkī, Tabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā, Kairo: Musthafā al-bāb al-halabī, tt.
Sulamī, Abu Abd al-Rahmān al-. Haqā’iq al-Tafsīr, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyya, 2002, 2 vols.
Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqān fī Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār el-Fikr, 1979, 2 vol.
Syirbasi, Ahmad al-. Sejarah Tafsir al-Quran, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1985.
Taftazānī, Sa‘d al-Dīn al-. Sharh al-Aqā’id al-Nasafiyya, Damaskus: Wizārat al-Tsaqāfa wa irshād al-qawm, 1974.
Tustarī, Sahl b. Abd Allāh al-. Tafsir al-Qur’ān al-Azhīm, Kairo: Dār al-kutub al-‘aabiyya al-kubrā, 1911

 

Beberapa contoh lain yang dibuat oleh mahasiswa TH kelas 2012 dapat dilihat di link berikut:

http://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/mahdi/

http://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/nurul-wati/

 

Pendekatan Kritik Kontekstual

09/04/2010

Memahami Makna Konteks
Dalam pendekatan kontekstual, konteks yang dimaksud dari sebuah kejadian, kata, paradigma, perubahan, atau realitas sejenisnya adalah “situasi dan kondisi yang mengelilingi sesuatu.” Makna konteks dalam ilmu bahasa mengandung 2 macam arti: (1) sekeliling teks atau percakapan tentang sebuah kata, kalimat, peralihan atau turn (yang disebut pula co-text), dan (2) dimensi situasi komunikatif yang relevan guna memproduksi atau menyempurnakan sebuah diskursus. Dari dua macam makna tadi, maka beberapa arti khusus yang menandai definisi istilah ini secara terminologis dapat dijelaskan berdasarkan spesifikasi bidang ilmu yang memakainya. Makna konteks dalam ilmu komunikasi, linguistik, dan discourse analysis; misalnya, cenderung diartikan sebagai cara-cara para partisipan menentukan dimensi relevan situasi yang komunikatif dari sebuah teks, percakapan, atau pesan, seperti setting (waktu, tempat); aktivitas yang berlangsung (misalnya, makan malam keluarga, perkuliahan, debat parlemen, dll); atau fungsi partisipan dan peranannya (misalnya pembicara, teman, wartawan, dll); serta tujuan, rencana/niat, dan pengetahuan partisipan.
Konteks dapat pula dibedakan dari dua sudut pandangan yang berbeda menyangkut sebuah peristiwa. Dalam hal ini konteks pembicara di satu sisi, dan konteks peserta atau komunikan di sisi lain, keduanya dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Konteks yang berada di sekeliling pembicara atau penulis secara tipikal mengontrol bagaimana sebuah diskursus dapat disesuaikan dengan situasi sosialnya, yaitu dengan cara membedakan gaya penuturan: bagaimana sebuah kata diucapkan, misalnya. Sementara itu, konteks yang berada di sekeliling penerima mengontrol bagaimana partisipan mengerti sebuah perbincangan, seperti bagaimana fungsi, peranan, tujuan, dan pengetahuan, atau ketertarikan mereka terhadap perbincangan tersebut berpengaruh terhadap pemahaman yang mereka dapatkan.
Dalam rangka menarik relevansi penerapan pendekatan kontekstual dalam penelitian ilmiah yang kita minati, sebut saja dalam studi kitab suci misalnya, pendekatan konteks mengindikasikan terjalinnya hubungan harmoni antara ayat-ayat kitab suci atau potongan bagian teks yang tengah dikaji terhadap apa yang harus diikuti oleh makna skriptural dalam menentukan makna yang dipilih dalam menjelaskan hubungan yang erat antara makna itu dengan ayat yang ditafsirkan. Inilah yang disebut sebagai kaidah “teks dalam konteks”. Dalam hal ini bisa juga dipahami bahwa konteks kitab suci juga semestinya mengikuti maksud dan tujuan sebagaimana dipahami oleh penulis asli terhadap sebuah pandangan dalam menyampaikan kebenaran skriptural kepada pendengarnya.

Kronologi Historis dan Setting Sosial
Dari sini, kita bisa menarik pembahasan lebih dalam lagi dalam menyelami studi al-Qur’an dan ilmu tafsir, di mana arti penting penerapan pendekatan kontekstual dalam bidang kajian Tafsir Hadis menempati posisi krusial. Asbab nuzul atau peristiwa yang menjadi latar belakang sejarah dan setting sosial sebuah ayat merupakan elemen penting dalam tafsir dalam menjelaskan fenomena hidup (the living phenomenon) dari sebuah diskursus dalam proses pewahyuan al-Qur’an. Oleh karenanya, selain secara tekstual tertuang dalam mushaf, atau apa yang dikonsepsikan M. Arkoun sebagai korpus resmi tertutup (Arkoun 1994:35-40), al-Qur’an memiliki fenomena hidup sebagai diskursus selama kurun masa pewahyuannya yang berlangsung sekitar 23 tahun lamanya. Al-Qur’an sebagai diskursus ini menandai periode awal Islam sebelum kemudian teks al-Qur’an disepakati secara resmi pada masa pemerintahan khalifah Usman RA, yaitu ketika al-Qur’an dibukukan ke dalam sebuah teks baku dan mushaf yang resmi yang mengakhiri pertentangan yang ada terhadap beragam persoalan tentang variasi bacaan ketika itu. Mushaf Usmani inilah yang menjadi mushaf standar dan dilestarikan hingga saat ini.
Membuka kembali al-Qur’an sebagai diskursus yang berlangsung pada saat pewahyuannya dianggap sebagai cara yang tepat dalam menilai arah yang tepat berkenaan dengan penetapan hukum dalam syariat, begitu pula dalam menilai hukum-hukum yang bersifat partikular, karena bisa jadi sebuah lafazh menunjuk sebuah karakter umum, sementara latar belakang turunnya ayat tertentu menjadi argumen yang mengkhususkannya. Tentang asbâb al-nuzûl, pentingnya ilmu ini untuk diketahui oleh siapa saja yang berniat menafsirkan al-Qur’an disebutkan dengan jelas dalam pernyataan al-Wahidi, bahwa tidaklah mungkin seseorang menafsirkan al-Qur’an jika ia tidak berpegang pada kisah dan penjelasan berkenaan dengan turunnnya. Tokoh lain seperti Ibn Taymiyya juga menjelaskan bahwa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat akan membantu dalam memahami ayat itu, karena dengan mengetahui suatu konteks (sabab) pada gilirannya akan menurunkan pengetahuan tentang teks (musabbab) (Suyuti 1979: i, 29).
Pentingnya asbab nuzul dalam memahami al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh para pakar tafsir di atas, adalah karena al-Qur’an turun dalam situasi kesejarahan yang konkret. Al-Qur’an merupakan respon Tuhan terhadap situasi Arabia pada zamannya. Respon itu terekan di sana sini, bahkan bukan saja dalam tradisi kenabian yang menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa berpengaruh terhadap turunnya malaikat dalam membawa pesan Allah sebagai jawaban bagi persoalan yang dihadapi. Gambaran mengenai konteks historis tentang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dapat dilihat dalam literatur asbâb al-nuzûl, seperti karya Wâhidî yang berjudul Asbâb al-Nuzûl, ataupun karya Suyuti Lubab al-Nuqûl fi Asbâb al-Nuzûl.

Konteks Susastra
Pertimbangan terhadap konteks juga memegang peranan penting dalam kajian al-Qur’an, terutama dalam menelaah redaksi al-Qur’an yang menunjukkan bagaimana teks al-Qur’an diturunkan dalam bentuk retorika dan dialektika dalam sebuah diskursus atau perbincangan yang tidak menampilkan suara yang monofonik, ketika Allah dianggap satu-satunya penutur (speaker). Sebagaimana tergambar dalam beberapa model redaksi yang bersifat dialogis, al-Qur’an menampilkan sebuah paduan suara yang cukup beragam. Dengan melihat diskursus yang menandai proses pewahyuannya, suara al-Qur’an tergolong polifonik. Begitu banyak sumber bunyi yang tergambar dari sebuah redaksi teks al-Qur’an, sehingga perkataan “Aku” atau “Kami” tidak selalu merujuk kepada Tuhan sebagai penutur. Bahkan suara Tuhan sendiri terkadang diwujudkan dalam bentuk orang ketiga, “Dia”, atau juga orang kedua “Engkau”. Identifikasi suara Tuhan dalam bentuk pembicara ketiga kadang-kadang didahului dengan ungkapan “Katakanlah!” yang tidak disebutkan siapa subyeknya. Model perbincangan semacam ini sangat banyak terjadi di dalam al-Qur’an, terutama yang menandai karakter ayat-ayat yang turun pada periode Mekkah.
Redaksi teks yang terekam dalam QS. Al-Ikhlâs, sebagaimana dicontohkan oleh Nasr Abu Zayd menunjukkan akan keikutsertaan 3 macam suara dalam proses pewahyuannya (Abu Zayd 2004:19). Secara literal, terjemahan dari surat itu dapat disebutkan sebagai berikut:
Katakanlah, Dia adalah Allah yang Esa.
Allah yang kekal selamanya.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Dan tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.

Dari redaksi surat al-Ikhlas di atas, sesuatu yang menandai keyakinan kaum muslimin menerangkan sebuah penjelasan bahwa subyek yang tidak teridentifikasi ini merupakan suara malaikat Jibril AS, mediator dan utusan Allah yang menyampaikan pesan Allah kepada Muhammad SAW. Sebagai utusan yang membawa pesan Allah, Jibril menjelaskan Kalamullah melalui suara dirinya yang bertindak atas nama Tuhan. Dari sini, suara Tuhan secara tidak langsung (implicit), yang terpancar jelas oleh Muhammad dalam wujud suara malaikat, pada gilirannya harus diumumkan pula kepada khalayak sebagai target akhir penerima pesan ilahi. Penyampaian ini tentu saja melalui suara Muhammad sendiri sebagai seorang manusia. Dengan keikutsertaan ketiga macam suara, maka model diskursus yang berlangsung dalam surat al-Ikhlas bersifat “informatif”.
Al-Qur’an tidak saja menampilkan model diskursus informatif, tetapi terdapat pula model “dialog implisit” dalam bentuk hymne atau ayat-ayat liturgis di mana penuturnya adalah suara manusia, sementara Tuhan digambarkan sebagai komunikan. Contoh terbaik untuk model dialog ini adalah QS. Al-Fâtihah, yang merupakan pembacaan yang sangat jelas (ekslpisit); sementara respon Tuhan bersifat implisit. Oleh karena itu, bagi setiap pembaca disarankan untuk membaca ayat-ayat ini secara pelan-pelan dengan cara berhenti sejenak di setiap akhir ayat guna dapat menerima jawabannya. Dengan kata lain, pembacaan surat ini meliputi proses yang meliputi baik vokalisasi maupun juga proses mendengarkan dengan seksama (sama’) karena pada saat yang sama ketika pembacaan surat al-Fatihah dilakukan di dalam salat, Allah memberikan jawaban bagi permohonan hambanya (Abu Zayd 2004:21). Dari beberapa susunan model diskursus al-Qur’an, seorang peneliti akan menemukan arti penting konteks dalam kajian kitab suci ini.
Sebuah bidang kajian yang mendapatkan perhatian cukup besar dalam upaya ijtihadi setiap penafsir al-Qur’an adalah ilmu munâsabât, yaitu keterkaitan antara bagian-bagian dalam al-Qur’an. Kajian ini juga menyangkut aspek konteks dalam arti keterikatan redaksional maupun makna ditinjau dari tata urutan ayat-ayat dan surat dalam mushaf. Dengan kata lain, jika konteks yang dibicarakan dalam asbâb al-Nuzûl adalah latar belakang sosio-historis yang menandai kronologis ayat berdasarkan turunnya, maka konteks yang diurai dalam ilmu munasabat adalah kronologi teks dalam mushaf (Abu Zayd 1993:179-197). Dalam hal ini keterkaitan redaksional maupun makna dapat dilihat baik antara satu ayat dengan ayat-ayat sesudahnya, kelompok besar ayat-ayat dengan kelompok besar ayat-ayat lainnya, sebuah surat dengan surat lain sesudahnya, atau bahkan bagian akhir sebuah surat dengan bagian pembuka surat sesudahnya. Keterkaitan antar bagian-bagian al-Qur’an dalam susunan redaksional dan maknanya menunjukkan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang mendukung konsepsi i’jaz al-Qur’ân yang benar-benar datang dari sisi Tuhan, dan tidak bida ditandingi oleh komposisi yang dibuat oleh manusia manapun.

Konteks dalam Hadis dan Fiqh
Arti penting konteks juga berlaku dalam penelitian hadis, di mana sebuah ungkapan, atau perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW biasanya lahir dari sebuah kejadian yang melatarbelakangi munculnya pernyataan dan amaliah tersebut. Untuk itu, pendekatan kontekstual baik dalam bentuk ulasan tentang setting historis, sosiologis, maupun budaya yang mendasari sebuah tradisi kenabian ataupun diktum agama pada masa pembentukannya di masa-masa sesudahnya menjadi sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan makna dan pemahaman yang bisa diambil darii hadis-hadis di luar susunan redaksionalnya. Konteks dalam hal ini juga menjadi pertimbangan dalam melakukan interpretasi terhadap hadis bagi kepentingan penetapan hukum dalam fiqh Islam.
Dalam proses dan aktivitas penelitian tentang diktum maupun doktrin agama baik yang berasal dari kitab suci maupun tradisi kenabian, penyertaan konteks memiliki peranan cukup penting dalam membentuk karakter dari diktum maupun doktrin tersebut. Lokasi turunnya wahyu, seperti yang membedakan antara kelompok ayat-ayat makkiyah yang turun di Mekkah dan kelompok ayat-ayat madaniah yang turun di Madinah sesudah hijrah, turut membentuk karakter redaksional maupun isi kandungan pesan yang disampaikan yang menandai ciri-ciri umum redaksi masing-masing periodisasi pewahyuan al-Qur’an tersebut. Dalam hal ini, perbedaan penggunaan kata panggilan (munada) dan substansi pesan yang disampaikan juga menandai perbedaan karakter antara dua kategorti historis tadi.
Pertimbangan konteks, atau lebih tepatnya kronologi historis juga berpengaruh terhadap penetapan dan pembatalan hukum dalam kasus nasikh mansukh. Dalam hal ini, bacaan atau hukum yang berlaku lebih awal dibatalkan oleh bacaan atau hukum yang datang belakangan. Konteks yang menjadi latar belakang peristiwa yang menjelaskan turunnya sebuah perintah yang dikandung dalam sebuah ayat al-Qur’an, jika dilihat melalui teksnya secara telanjang melalui tata urutan mushaf semata, maka aspek-aspek kronologis semacam pembatalan hukum sama sekali tidak bisa terdeteksi. Konteks kronologis menjadi kajian yang harus dicermati, sehingga pembacaan terhadap al-Qur’an dengan menyertakan konteks turunnya ayat tersebut dapat dijadikan patokan mana ayat yang turun lebih dulu —yang hukumnya dibatalkan, dan mana yang turun belakangan dan menggantikan hukum yang pertama.

Kesimpulan
Menelusuri konteks melalui pendekatan sejarah, sosiologi, maupun budaya seperti yang ditampilkan Nasr Abu Zayd dalam membedah konsep-konsep dalam karyanya Mafhum al-Nass dan karya-karya sarjana muslim lain merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan kajian agama dalam merespon perkembangan kajian sosiologis dan humaniora melalui pendekatan cultural studies (kajian budaya) yang mulai marak dikembangkan pada akhir abad ke-20. Pendekatan ini dilakukan dengan mengenalkan pemikiran aliran marxisme ke dalam sosiologi, dan sebagiannya melalui artikulasi sosiologi dan displin akademik lain, seperti kritik sastra, maupun disiplin agama. Gerakan ini bertujuan untuk memusatkan analisis terhadap subkultur-subkultur dalam masyarakat kapitalis. Mengikuti tradisi non-antropologi, kajian budaya biasanya memfokuskan kajian konsumsi barang (seperti pakaian, seni, dan literatur). Karena ada perbedaan antara kultur rendah dan kultur tinggi pada abad ke-18-19 yang tidak lagi pantas untuk diaplikasikan pada konsumsi barang yang diproduksi dan dipasarkan secara massal yang menjadi pokok analisis kajian kultur, maka sarjana merujuknya sebagai budaya populer.
Walhasil, apapun pisau bedah yang digunakan dalam meneliti fenomena keagamaan melalui pendekatan kontekstual, pendekatan akademis ini bermuara pada semakin banyaknya titik-titik persinggungan antara agama dan kenyataan dalam kehidupan manusia kontemporer yang membutuhkan metodologi pemecahan masalah yang harus tetap berlandaskan pada semangat universalitas al-Qur’an agar bisa menjadi rahmat bagi semesta alam.

Kajian Naskah dan Pendekatan Kritik Sastra

20/03/2010

Pendekatan yang akan diuraikan di bawah ini mengambil bentuk pendekatan kritik yang berbasis pada teks, yaitu ungkapan tertulis yang telah disepakati sebagai korpus kitab suci. Atas pertimbangan pendasaran pada teks inilah maka kemudian pendekatan ini dipisahkan dari filologi yang dalam sejarah perkembangannya memiliki cakupan kajian yang lebih luas dari hanya sekedar rekonstruksi teks, atau kritik teks semata. Disebut dengan pendekatan kritik karena karakter yang ditampilkan di dalamnya lebih banyak bertumpu pada upaya dekonstruksi dengan mengasumsikan adanya kesalahan yang telah dibuat pada saat proses penetapan naskahnya. Ada beberapa poin pendekatan kritik yang bisa diuraikan dalam hal ini, yaitu kajian kritik naskah (textual criticism) sebagai salah satu disiplin cabang dari filologi atau bibligrafi yang lebih dikenal dengan istilah lower criticism, ditambah dengan pendekatan kritik sastra dalam kajian Islam yang dapat dilihat dalam kritik bentuk (form cirticism) dan kritik redaksi (redaction criticism). Kesemua pendekatan kritik ini dipinjam dari kajian biblikal terhadap perjanjian baru khususnya, di mana signifikansinya secara terpisah mungkin bisa diterapkan dalam penelitian bidang kajian tafsir hadis.

Kritik Naskah
Filologi sebagai sebuah disiplin induk yang memiliki banyak disiplin cabang sebagaimana ditunjukkan dalam apa yang disebut dengan istilah Textual Reconstruction yang menunjukkan bagaimana pendekatan ini mengarah pada sebuah analisis yang bermuara pada kajian kritik teks. Sebuah kajian yang diberi nama dengan istilah Textual Criticism atau Kritik Teks yang masih dianggap sebagai cabang filologi dan bibliografi memusatkan perhatiannya dengan mengidentifikasi dan membuang kesalahan dari sebuah teks. Produk yang dihasilkan dari kajian kritik teks adalah sebuah naskah yang telah diedit yang diyakini oleh editornya memiliki kemiripan sedekat mungkin dengan teks asli yang hilang (disebut Archetype), atau beberapa versi lain naskah yang ada, ataupun naskah yang pernah ada pada masa lalu. Berbeda dengan Text Reconstruction yang disebut sebagai higher criticism, kritik teks disebut sebagai lower criticism yang upayanya tidak dimaksudkan untuk menentukan ihwal kepengarangan, penanggalan, ataupun tempat disusunnya sebuah teks, akan tetapi hanya mengidentifikasi kesalahan dan membuangnya.
Dalam perkembangannya, kritik teks telah dipraktekkan sejak dua ribu tahun yang lalu. Pedekatan ini diterapkan terhadap Bible, dan karya-karya klasik Yunani. Di Inggris, kritik teks juga dilakukan terhadap karya-karya Shakespeare, bukan saja karena naskah karya Shakespeare yang beredar mengandung beberapa kesalahan, tetapi juga karena upaya untuk menghasilkan naskah editan yang kuat terhadap karya sastra tersebut secara luas dipandang sebagai upaya yang sangat bernilai.
Secara teoretis kerangka kerja dari pendekatan ini tidak jauh berbeda dengan pendekatan disiplin induknya yaitu filologi. Jika melihat beberapa dokumen yang berbeda, atau sebut saja “bukti-bukti” dari sebuah teks, maka tidak selalu akan tampak jelas mana yang naskah yang asli dan mana naskah salinan yang mengandung kesalahan. Tugas seorang pelaku kritik teks adalah menyortir naskah-naskah tersebut, untuk kemudian membentuk sebuah edisi yang paling mewakili naskah aslinya dengan menjelaskan semua bukti-bukti yang ada. Dalam melakukan pekerjaan ini, seorang pelaku kritik teks dituntut untuk mempertimbangkan baik aspek-aspek eksternal (usia manuskrip, keaslian, dan hubungan antara butki yang satu dengan yang lain) maupun aspek internal (apa yang sepertinya telah dilakukan oleh pengarang, penyalin ataupun pencetaknya). Dengan begitu didapatkan sebuah naskah edisi yang kuat yang memiliki kemiripan sedekat mungkin dengan naskah aslinya.
Salah satu alasan yang menganggap pentingnya dilakukan sebuah kritik teks, ataupun kajian filologis secara umum sebagaimana dijelaskan pada uraian sebelumnya, adalah karena sebelum mesin cetak ditemukan karya-karya literatur umumnya disalin dengan tangan. Setiap kali sebuah manuskrip disalin kesalahan mungkin saja dilakukan oleh juru tulisnya. Kesalahan yang sama juga bisa saja terjadi pada naskah cetakan akibat kecerobohan seorang compositor atau pihak percetakan. Oleh karena masing-masing penyalin atau percetakan melakukan kesalahan yang berbeda-beda, maka sebuah upaya rekonstruksi terhadap suatu manuskrip asli yang hilang memerlukan beberapa bahan bacaan selektif yang diambilkan dari berbagai sumber. Sebuah naskah edisi yang diambil dari beragam sumber disebut eclectic. Pendekatan eklektik merupakan salah satu pendekatan yang lazim dilakukan dalam sebuah upaya kritik teks. Selain itu masih ada dua pendekatan fundamental lain yang biasa dilakukan dalam kritik teks yaitu, stemmatik dan edisi naskah-salinan (copy-text editing).
Eclecticism adalah praktek dalam menguji sejumlah besar bukti-bukti dan menyeleksi varian-varian yang dipandang terbaik. Dalam pendekatan eklektik murni, tidak ada satu bukti naskah pun yang lebih disukai secara teoretis, sehingga semua teks diperlakukan secara sama. Sebaliknya, seorang pelaku kritik akan membentuk opini tentang bukti-bukti secara individual, dengan cara bergantung kepada ciri-ciri internal dan eksternalnya.
Stemmatik adalah pendekatan akurat terhadap tekt kritik yang dikembangkan oleh Karl Lachman (1793-1851). Nama pendekatan ini diambil dari kata stemma yang berarti pohon keluarga yang menunjukkan hubungan-hubungan antara bukti-bukti naskah yang ada. Prinsip kerja yang dimiliki oleh pendekatan ini adalah banyaknya kesalahan mengimplikasikan keaslian semuanya. Oleh karena itu, jika dua buah manuskrip memiliki kesalahan secara rata-rata, maka dapat dikatakan bahwa keduanya dihasilkan dari sebuah sumber intermediate yang umum, disebut dengan istilah hyparchetype. Hubungan di antara intermediate-intermediate yang hilang ditentukan melalui proses serupa, yaitu dengan menempatkan manuskrip-manuskrip yang ada dalam sebuah pohon keluarga yang disebut dengan stemma codicum, dengan merujuk kepada sebuah archetype tunggal. Proses dalam menentukan stemma disebut dengan resensi.
Setelah menentukan stemma, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan seleksi, di mana teks yang dijadikan sebagai archetype ditentukan melalui pengujian terhadap varian-varian yang ada dari beberapa hyparchetype atau intermediate yang terdekat dengan archetype dengan menyeleksi salah satu yang terbaik. Jika sebuah bacaan lebih sering muncul dibandingkan dengan bacaan lain dalam tingkatan yang sama, maka pembacaan yang dominan kemudian dipilih. Jika ada dua bacaan yang saling berkompetisi secara sama-sama seringnya, maka editor memutuskan archetype melalui pertimbangannya sendiri, bacaan mana yang ia anggap paling mendekati kebenaran.
Setelah melakukan pilihan, naskah bisa jadi masih memiliki kesalahan-kesalaha, ketika dalam beberapa kalompok kalimat tidak ditemukan sumber yang menyajikan bacaan yang benar. Untuk itu dilakukan langkah selanjutnya, yaitu tahap pengujian untuk menemukan korupsi. Ketika editor mengatakan bahwa naskah telah terkorupsi, maka kemudian hal itu dikoreksi dengan cara emendasi atau dengan menghilangkan bagian yang salah tersebut. Proses emendasi yang tidak didukung oleh sumber-sumber yang dikenal terkadang disebut dengan istilah emendasi konjektural.
Proses seleksi yang dilakukan dalam pendekatan stemmatik menyerupai pendekatan eklektik dalam kritik teks. Akan tetapi proses seleksi ini dilakukan terhadap sekumpulan dugaan hyparchetype secara terbatas. Sementara tahap pengujian dan emendasi menyerupai pendekatan copy-text editing. Dalam hal ini, teknik-teknik khusus yang menandai tahap-tahap pendekatan stemmatik merupakan kasus spesifik. Meskipun begitu, sebuah pohon keluarga yang akurat dari naskah tidak bisa ditentukan kecuali melalui perkiraan semata-mata. Jika sebuah manuskrip sejauh yang bisa dinilai merupakan naskah terbaik, maka yang paling tepat dilakukan adalah metode copy text editing, sementara jika sekumpulan manuskrip sama-sama menunjukkan unsur-unsur terbaik, maka eklektisisme merupakan pendekatan yang paling pas.
Copy-text editing adalah upaya kritik teks yang dilakukan terhadap sebuah naskah dasar (base text) dari sebuah manuskrip yang dianggap terpercaya (reliable). Naskah dasar ini sering dipilih dari manuskrip yang tertua. Akan tetapi dalam tahap-tahap awal pencetakan, proses penyalinan naskah ini menggunakan manuskrip yang ada di tangan ketika itu. Dengan metode copy text, seseorang melakukan pengujian terhadap naskah dasar dan membuat beberapa koreksi (dengan cara emendation) pada tempat-tempat di mana naskah dasar tadi nampak menunjukkan kesalahan menurut pandangannya. Ini dilakukan dengan cara mencari tempat-tempat di naskah dasar yang tidak bisa dipahami, atau dengan melihat naskah pada manuskrip yang lain untuk mencapai sebuah bacaan yang kuat.
Literatur-literatur yang berisi panduan teknis tentang langkah-langkah yang dilakukan dalam pendekatan kritik teks dapat ditemukan dalam beberapa karya metodologis seperti karya Pieter von Reenen dan Margot van Mulken, eds. (1996). Studies in Stemmatology. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company; dan Philip Gaskell (1978), From Writer to Reader: Studies in Editorial Method. Oxford: Oxford University Press. Di samping buku manual, beberapa panduan praktis juga dapat ditemukan dalam bentuk artikel-artikel menjadi bagian dari sebuah buku kompilasi yang lebih besar, maupun artikel-artikel yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah.[1]
Dalam perkembangannya aplikasi metode kritik teks dalam pendekatan textual criticism telah dterapkan terhadap manuskrip-manuskrip biblikal yang berbahasa Ibrani dan Injil dalam sekian banyak ragam manuskripnya dalam berbagai bahasa. [2] Bila pendekatan ilmiah ini akan diterapkan sebagai salah satu pendekatan dalam sebuah penelitian Tafsir Hadis, maka penerapan pendekatan kritik teks dapat dilakukan, musalnya, terhadap naskah-naskah kitab hadis, atau karya-karya dalam literatur tafsir al-Qur’an, baik yang masih berbentuk manuskrip maupun yang sudah berbentuk edisi cetak, mengingat tidak mustahil dalam manuskrip-manuskrip karya yang ada, ataupun edisi cetak diterbitkan oleh penerbit yang berbeda-beda ditemukan beberapa varian mencolok antara satu naskah dengan naskah yang lainnya. Dalam hal ini, penyusunan sebuah edisi kritik merupakan aktivitas yang paling diminati.

Kritik Bentuk
Kritik bentuk (form criticism) merupakan sebuah metode kritik yang telah diterapkan terhadap kajian biblikal. Metode ini diadopsi sebagai sebuah instrumen untuk menganalisis gambaran tipikal sebuah teks, terutama bentuk dan struktur konvensionalnya agar bisa dikaitkan dengan konteks sosiologisnya. Salah satu alasan yang mendasari pentingnya pendekatan ini adalah karena teks-teks biblikal berasal dari tradisi oral, yang mana proses penyusunannya telah menghasilkan munculnya beberapa buah lapisan (layers), yang masing-masing lapisan tersebut memiliki arti khusus. Elemen yang paling utama dari lapisan-lapisan ini adalah bahan-bahan historis asli, yaitu ungkapan atau peristiwa yang tidak disangsikan lagi terjadi melalui beberapa cara dan disaksikan. Dalam penuturan tentang peristiwa dan kejadian tersebut, serta penuturan ulang yang dilakukan dari waktu ke waktu, beberapa penjelasan yang bersifat rincian atau detail kejadian terkadang ditambahkan ke dalam teks. Tambahan-tambahan penjelasan yang nampaknya tidak bisa dielakkan tersebut merefleksikan tujuan dari para penyusun; di mana material yang asli digunakan untuk menguatkan sebuah pesan khusus. Tentunya, setiap penuturan ulang bisa saja membawa proses gradual di mana sesuatu yang baru ditambahkan yang bisa jadi menambah besar atau mengubah bentuk teks, jika beberapa makna tambahan tadi kemudian dilekatkan dengan teks. Pada akhirnya, tradisi semacam itu kemudian terkumpul menjadi penjelasan yang tertulis. Akan tetapi, pengarangnya tetap saja memiliki agenda tersendiri, ketika penyusunan materi-materi tradisional tadi akan senantiasa dihantarkan menjadi sebuah narasi yang dipandang perlu untuk diberikan penekanan terhadap aspek-aspek khusus dalam pandangan teologis tertentu.
Sebagaimana dikembangkan oleh Rudolf Bultmann dan sarjana lainnya, kritik bentuk bisa dilihat sebagai sebentuk dekonstruksi sastra dalam upaya menemukan kembali intisari dari makna aslinya. Proses ini dijelaskan sebagai proses demitologisasi, meskipun istilah ini harus digunakan secara hati-hati. Mitos dalam ungkapan ini tidak dimaksudkan sebagai istilah yang menunjuk kepada makna “tidak benar”, tetapi merupakan signifikansi dari sebuah peristiwa dalam agenda penyusunnya. [3] Dalam Injil, dekonstruksi atau proses demitologisasi dimaksudkan untuk mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan. Apa yang dikatakan oleh perjanjian baru tentang karakter dan signifikansi Isa AS dan pengajarannya, misalnya. Kritik bentuk dalam upaya ini merupakan usaha untuk merekonstruksi opini teologis dari gereja-gereje primitif dan ajaran judaisme sebelum masa pembentukan hukum-hukum yahudi yang tertuang dalam Talmud.
Kritisisme bentuk dimulai dengan mengidentifikasi genre sebuah teks atau bentuk konvensional sastra, seperti tamsil, proverb, epistle, puisi percintaan, dan bentuk-bentuk lainnya. Hal ini kemudian diteruskan dengan mencari konteks sosiologis dari masing-masing genre tersebut, atau katakanlah “situasi hidup”. Contohnya, setting sosiologis dari sebuah diktum hukum adalah pengadilan, sementara setting sosiologis dari sebuah lagu pujian atau hymne adalah konteks peribadatan atau pemujaan itu sendiri, sedangkan proverb bisa jadi seperti nasehat seorang Bapak kepada anaknya. Setelah selesai mengidentifikasi dan menganalisis genre sebuah teks, kritisisme bentuk selanjutnya mengajukan sebuah pertanyaan, bagaimana bisa genre yang lebih kecil ini memberi kontribusi bagi tujuan teks secara keseluruhan.
Dalam perkembangannya, kritisisme bentuk dikembangkan untuk penelitian terhadap kajian-kajian Perjanjian Lama seperti yang dilakukan oleh Hermann Gunkel. Pada masa belakangan kemudian diaplikasikan untuk penelitian terhadap Injil diantaranya oleh Karl Ludwig Schmidt, Martin Dibelius, dan Rudolf Bultmann.
Penerapan kritik bentuk dalam kajian Islam dapat diterapkan, terutama terhadap bahan-bahan dalam kajian Tafsir Hadis, di mana substansi pernyataan pengarangnya telah tercampur bersama tafsir yang ditambahkan oleh murid-murid dan pengikutnya atau penutur riwayatnya pada masa belakangan. Batasan-batasan yang telah ada dan secara jelas dan tegas dalam penetapan tentang mana saja lafaz-lafaz al-Qur’an, dan elemen-elemen mana saja yang termasuk ke dalam kategori tafsir mungkin menjadikan pendekatan ini tidak lagi terlalu relevan diterapkan dalam kajian al-Qur’an. Akan tetapi, pendekatan kritik bentuk mungkin bisa dipakai dalam menganalisis hadis-hadis yang memiliki kelemahan mendasar dalam matan yang dimuatnya, di mana substansi pernyataan orisinal Nabi SAW sangat diragukan otentisitasnya. Fenomena keberadaan hadis semacam ini umumnya ditemukan dalam kitab-kitab yang berisi nasehat targhib wa tarhib, di mana hadis-hadis yang lemah biasa dipakai sebagai argumen atau dalil amaliah-amaliah utama (fadâ’il al-a‘mâl). Arti penting pendekatan kritik bentuk dalam analisis hadis-hadis semacam itu adalah untuk memberi batas-batas yang jelas tentang mana substansi pernyataan yang berasal dari Nabi SAW, dan mana yang merupakan mitos dan merupakan lapisan tambahan yang dilakukan oleh pengikutnya pada masa belakangan, atau bahkan palsu semata dan sama sekali tidak berasal dari Nabi SAW.
Fokus perhatian yang diusung oleh pendekatan ini menitikberatkan penelitian substansi pernyataan atau matan. Dalam hal ini, pendekatan ini bisa digabungkan dengan analisis kritik matan. [4] Bila kaidah-kaidah pendekatan kritik hadis dalam kajian ilmu hadis selama ini cenderung hanya mendasarkan diri pada analisis sanad, atau persesuaiannya dengan argumentasi yang tertuang dalam hadis lain yang disepakati kesahihannya, bahkan bisa juga melalui pertimbangan rasional dan pendekatan konpromis (jam’) terhadap makna-makna yang ditunjukkan oleh sebuah matan hadis, maka analisis ini mungkin bisa diperkaya melalui penelitian kritis terhadap bentuk-bentuk ungkapan yang menjadi kategori dasarnya dalam pendekatan kritik bentuk.
Secara sederhana, kritik bentuk berupaya untuk mengeliminir setiap elemen tambahan yang menjadi bentuk-bentuk mitos dari sebuah teks. Dengan menganalisis dan mengidentifikasi bentuk dasar atau genre sebuah teks, proses demitologisasi yang umumnya menjadi tujuan dari gerakan purifikasi ajaran agama, diharapkan akan dicapai dengan mengetahui bagian-bagian mana yang merupakan bahan-bahan historis yang asli dari sebuah teks, dan bagian mana yang hanya merupakan lapisan tambahan yang dilekatkan ke dalam teks oleh para perawinya. Intinya, bila hadis yang menjadi dasar argumentasi bagi amalan yang bersumber dari Rasul SAW merupakan sunnah, maka penelitian melalui pendekatan kritik bentuk diharapkan dapat memebri kontribusi tambahan dalam memperkaya analisis kritis matan dalam kajian kritik hadis. Walhasil, upaya purifikasi yang menjadi tujuan mulia gerakan pembaharuan pemikiran Islam mampu menghasilkan sebuah sebuah pisau bedah ilmiah yang akan dapat memisahkan sunnah dari bid’ah dan mitos-mitos yang melingkupi keberadaan hadis-hadis Nabi SAW.

Kritik Redaksi
Kritik Redaksi merupakan salah satu metode penelitian kritik terhadap Bibel, terutama Injil dan kitab-kitab lain yang isinya saling tumpang tindih. Kritik redaksi merupakan sebuah disiplin sejarah yang bertujuan untuk menemukan maksud yang dikehendaki oleh pengarang atau editor terakhir sebuah buku. Tidak seperti kritik bentuk yang menjadi disiplin asalnya, disiplin cabang ini tidak melihat ragam bentuk narasi untuk menemukan bentuk aslinya, tetapi dengan memusatkan pada bagaimana pengarang atau editornya membentuk dan membuat material dalam sumber-sumbernya untuk mengekpresikan tujuan susastra bagi karyanya, yaitu untuk alasan apa ia menulis karyanya tersebut. Kritik redaksi juga melihat pengarang atau editor bukan sekali-kali sebagai kolektor yang melakukan tindakan “cut and paste” sebuah cerita, tetapi sebagai seorang teolog yang berupaya untuk mempertemukan agenda teologisnya dengan cara membentuk sumber yang ia gunakan.
Ada beberapa metode yang bisa dilakukan dalam pendekatan kritik redaksi dalam upaya mendeteksi aktivitas pengeditan:
1. Pengulangan motif-motif dan tema-tema umum.
2. Perbandingan di antara dua buah pernyataan. Di sini, kritik redaksi menguji apakah pernyataan yang terakhir menambahkan, menghilangkan, atau menjaga beberapa bagian dari pernyataan terdahulu mengenai peristiwa yang sama?
3. Kata-kata yang digunakan dan gaya seorang penulis. Apakah teks mencerminkan kata-kata yang sering digunakan oleh seorang editor, atau adakah kata-kata yang jarang digunakan atau juga upaya untuk menghindari penggunaan sebuah kata, misalnya. Jika pemilihan kata-kata mencerminkan bahasa seorang editor, maka hal itu menunjuk ke arah pengerjaan ulang editorial sebuah teks, sementara jika hal itu mencerminkan bahasa yang tidak digunakan atau dihindari untuk digunakan, maka hal ini kemudian mengarah pada bagian dari sumber yang terdahulu.
Ketiga langkah metodis yang dilakukan dalam kritik redaksi seperti yang diungkapkan di atas adalah langkah-langkah yang biasa dilakukan dalam mengkritisi redaksi naskah biblikal, khususnya terhadap redaksi dalam kitab Injil. Relevansi dalam bentuk aplikasi pendekatan kritik redaksi dalam kajian keislaman secara umum dapat diterapkan dalam kajian kritik terhadap redaksi matan hadis. Penerapan metode kritik redaksi sebenarnya sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu, khususnya dalam kajian hadis untuk menilai redaksi matan hadis apakah memiliki kecacatan (‘illat) berupa tambahan penjelasan (idrâj) yang diberikan oleh perawinya. Kritik redaksi juga dilakukan untuk menentukan bahwa sebuah riwayat dianggap sebagai riwayat yang janggal (syâdz) dan berbeda dengan riwayat lain yang kebanyakan (disebut riwayat mahfuzh). Kritik redaksi dalam kajian hadis adalah langkah utama untuk mendeteksi apakah sebuah hadis memiliki kualifikasi yang dianggap menjatuhkan sehingga dikelompokkan sebagai bagian dari hadis yang lemah dan tidak dapat diterima (da’if), seperti hadis maqlûb, hadis mudtarib, hadis muharraf, hadis musahhaf, hadis mubham, hadis majhûl, dan lain sebagainya.
Keunggulan ilmu hadis pada umumnya adalah menyangkut tingkat ketelitian yang sangat tinggi terhadap isnâd, di mana kualifikasi para perawi akan sangat menentukan diterima atau tidaknya sebuah tradisi kenabian. Bahkan nilai sebuah matan juga ditimbang dari kesahihan isnâd yang membawanya. Penerapan pendekatan kritik redaksi yang dipinjam dari studi biblikal diharapkan dapat meningkatkan aspek metodologis terhadap penelitian terhadap redaksi matan hadis, sehingga diketahui mana substansi yang benar-benar berasal dari tradisi kenabian, dan mana elemen tambahan yang hanya merupakan penjelasan, atau pesan khusus yang dibuat oleh para perawinya. Penerapan metode kritik redaksi terhadap matan hadis ini penting mengingat kemunculan hadis palsu banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor non-religius seperti faksi politik yang tidak jarang menampakkan biasnya dalam bingkai agama yang sengaja dilakukan oleh para perawi hadis di kalangan para pengikut generasi awal yang dihormati.

catatan akhir:
[1] Lihat Bowers, Fredson (1964). “Some Principles for Scholarly Editions of Nineteenth-Century American Authors”. Studies in Bibliography 17: 223–228; Bowers, Fredson (1972). “Multiple Authority: New Problems and Concepts of Copy-Text”. Library, Fifth Series XXVII (2): 81–115; Davis, Tom (1977). “The CEAA and Modern Textual Editing”. Library, Fifth Series XXXII (32): 61–74; Greg, W. W. (1950). “The Rationale of Copy-Text”. Studies in Bibliography 3: 19–36; Love, Harold (1993). “section III”, Scribal Publication in Seventeenth-Century England. Oxford: Clarendon Press; Shillingsburg, Peter (1989). “An Inquiry into the Social Status of Texts and Modes of Textual Criticism”. Studies in Bibliography 42: 55–78; Tanselle, G. Thomas (1972). “Some Principles for Editorial Apparatus”. Studies in Bibliography 25: 41–88; Zeller, Hans (1975). “A New Approach to the Critical Constitution of Literary Texts”. Studies in Bibliography 28: 231–264.

[2] Injil tertulis dalam 5.300 manuskrip berbahasa Yunani, 10.000 manuskrip berbahasa Latin, dan 9.300 manuskrip dalam bahasa kuno lainnya seperti Syriac, bahasa Slav, Etiopia, dan Armenia. Dalam hal ini, kritik teks terhadap Injil telah dilakukan secara eklektik dengan menyortir naskah-naskah yang ada dan mengelompokkannya menjadi tiga kelompok besar: Type Teks Alexandria, Type Teks Western, dan Type Teks Byzantium. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Textual_criticism.

[3] Untuk telaah lebih lanjut lihat Rudolf Bultman, Myth and Christianity: An Inquiry into the possibility of Religion without Myth, terjemahan 1958 oleh Noonday Press, Promotheus Book tahun 2005. Karya ini merupakan dialog Bultman dengan filsuf Karl Jaspers. Jaspers memulai dengan sebuah kasus bahwa agama Kristen tidak dapat dimengerti secara terpisah dengan kerangka mythical-nya, ketika mitos diakui sebagai bentuk penting dalam komunikasi melalui simbol. Bultmann memberi tanggapan bahwa analisis ilmiah modern terhadap teks mempersyaratkan pemisahan antara yang asli dan anggapan-anggapan kemukjizatan, sehingga dapat diungkapkan pesan yang sebenarnya.

[4] Lihat M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1992, hal. 121-158.

Pendekatan Filologis

26/01/2010

Secara etimologis filologi berarti cinta kata-kata. Dalam lingkup kajian linguistik filologi sering dirujuk sebagai ilmu untuk memahami teks dan bahasa kuno. Atas dasar anggapan lingusitik itulah dalam tradisi akademik istilah filologi dijelaskan sebagai kajian terhadap sebuah bahasa tertentu bersamaan dengan aspek kesusasteraan dan konteks historis, serta aspek kulturalnya. Kesemua aspek kajian filologis tersebut memang mutlak diperlukan, umumnya dalam memahami sebuah karya sastra dan teks-teks lain yang memiliki signifikansi secara kultural. Dalam hal ini dapat pula dijelaskan di sini bahwa lingkup kajian filologis meliputi kajian tentang tata bahasa, gaya bahasa, sejarah, dan penafsiran tentang pengarang, serta tradisi kritikal yang dikaitkan dengan bahasa yang disampaikan. Oleh karena itu, jika filologi digunakan untuk memahami suatu bahasa, maka pendekatan yang memakai disiplin ilmu ini dimaksudkan untuk mencari pemahaman terhadap asal usul bahasa tersebut.
Meskipun begitu, terdapat upaya-upaya untuk mempersempit ruang lingkup filologi dalam membentuk filologi menjadi sebuah kajian modern. Di sini, pengaruh Ferdinand de Saussure dengan karyanya The Course in General Linguistics memberikan kontribusi penting dengan menetapkan lingkup pengertian disiplin filologis dalam arti yang lebih terbatas lagi. Di sini, filologi bukan lagi menjadi induk segala macam cabang ilmu, tetapi filologi modern dalam pandangan F. de Saussure menjadi pendekatan saintifik pertama terhadap bahasa-bahasa manusia pada abad ke-19 yang menjadi tonggak perkembangan bagi sebuah disiplin ilmu linguistik modern pada awal abad ke-20. Dengan begitu, istilah pendekatan filologis yang dipakai dalam buku ini mencakup pengertian-pegertian akademik istilah ini baik sebagai disiplin kajian bahasa secara umum yang disebut sebagai filologi klasik, maupun perkembangan mutakhirnya yang mengalami penyempitan sebagai bagian dari ilmu linguistik modern.

a. Filologi Klasik
Lepas dari sentuhan mutakhir dalam perkembangan ilmu filologi, pendekatan ilmiah yang memakai filologi sebagai pisau bedah analisis dalam sejarah perkembangan kajian al-Qur’an dan ulumul al-Qur’an, atau katakanlah dalam kajian Islam secara umum, sudah dilakukan sejak lama lantaran materi al-Qur’an dan Hadis tertuang dalam bahasa Arab. Jika kita menilik perkembangan bahasa Arab sekarang, dan membandingkannya dengan bahasa Arab yang tertuang dalam al-Qur’an dan naskah-naskah hadis, misalnya; maka kita bisa menilai bahwa bahasa Arab memiliki keunikan yang tidak hanya dianggap bagian dari bahasa kuno, tetapi kekunoan itu terus terpelihara hingga kini. Alasan inilah yang menegaskan pentingnya pendekatan filologis terhadap al-Qur’an.
Penelitian filologis dilakukan oleh sarjana muslim abad pertengahan menemukan beberapa temuan yang mengejutkan. Berpegang pada makna istilah filologis dalam pengertian klasiknya sebagai disiplin ilmu yang menjelaskan pengaruh keberadaan bahasa-bahasa asing terhadap pemakaian sebuah bahasa ditemukan sebuah fakta menarik bahwa pada bahasa Arab yang digunakan oleh al-Qur’an pada masa turunnya sekitar abad ke-7 masehi, juga bahasa Arab yang dipakai dalam teks-teks hadis dalam tradisi kenabian memiliki beberapa elemen asing yang berasal dari bahasa-bahasa di sekitar Arabia. Observasi yang dilakukan dengan memakai pendekatan filologi komparatif (Comparative Philology) terhadap teks al-Qur’an dan hadis menemukan adanya pengaruh beberapa bahasa asing non-Arab dalam rumpun bahasa semitik yang berkembang saat itu, maupun juga pengaruh dialek-dialek lokal selain Quraisy, dalam kandungan teks al-Qur’an dan teks hadis. Temuan-temuan tersebut pada gilirannya dapat memberi ruang lapang tidak saja bagi kalangan apologi Islam yang menegaskan tesis mereka tentang ketinggian bahasa al-Qur’an yang memiliki nilai i’jâz yang tidak lekang ditelan waktu, tetapi juga memberi ruang bagi para kritikus Barat yang begitu konsern dengan kajian al-Qur’an seputar anggapan mereka bahwa ada keterkaitan antara sajian teks al-Qur’an atau hadis dengan sumber-sumber Yahudi dan Kristen pra-Islam. Kedua anggapan yang berangkat dari sebuah premis akademik tersebut menjadi semakin terbuka untuk dikaji guna dapat menemukan bukti-bukti yang menguatkan melalui penelitian dengan menggunakan pendekatan filologi klasik.
Beberapa temuan hasil penelitian terhadap al-Qur’an yang memakai pendekatan filologi komparatif dapat dilihat dalam dua buah artikel Jalaluddin al-Suyuti di dalam al-Itqân yang mengupas tentang adanya kata-kata di dalam al-Qur’an yang bukan berasal dari dialek Hijaz, dan bahkan istilah-istilah serapan (mu‘arrab) yang berasal dari bahasa-bahasa asing non-Arab. Ternyata, temuan ini merupakan kontribusi penting yang lahir dari hasil investigasi yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dalam artikel pertama tentang kata-kata asing dalam al-Qur’an yang diserap dari dialek-dialek lokal Arab non-Quraisy (al-Itqan, i, hal. 134-136), Suyuti menyebut beberapa pengaruh dialek Arab pinggiran seperti Yaman dalam beberapa istilah al-Qur’an. Ia mencontohkan, misalnya, bahwa kata lahw yang dipakai al-Qur’an untuk menunjuk arti “permainan” atau “kesenangan” dalam dialek Quraisy sebenarnya berasal dari dialek Yaman yang berarti “perempuan”; atau kata marjân yang juga berasal dari dialek Yaman yang merujuk pada arti permata (lu’lu’) yang lebih kecil ukurannya.
Sementara dalam uraian tentang lafazh-lafazh yang mua‘arrab, artikel Suyuti dalam al-Itqân (vol. 1, hal. 136-142) merupakan ringkasan dari salah satu karyanya sendiri berjudul al-Muhadzdzab fî mâ waqa‘a fi al-Qur’ân min al-mu‘arrab. Karya ini diakuinya sebagai satu-satunya literatur yang memberikan penjelasan terhadap persoalan serupa setelah para ulama sebelumnya seperti Tâjuddin Subkî (w.769/1368) dan Ibn Hajar al-Asqallânî (w. 852/1449) hanya menyebutkan lafazh-lafazh mu’arrab itu dalam bait-bait syair yang mereka gubah. Peran besar Suyuti dalam hal ini adalah dengan memberikan sajian penjelasan yang lebih bersifat analitis-ilmiah melalui telaah filologis klasik terhadap problematika bahasa al-Qur’an tersebut.
Signifikansi dari penelitian melalui pendekatan filologi komparatif dalam kajian al-Qur’an dan Hadis, serta kajian tafsir pada umumnya, seperti yang dilakukan Suyuti di atas, pada titik tertentu akan dapat menjadi pijakan bagi tesis tentang ketinggian bahasa al-Qur’an yang memupus anggapan jika al-Qur’an melulu menyajikan materi dalam bahasa Arab yang terisolasi dari perkembangan peradaban lain di sekitar Arabia kala itu. Temuan-temuan filologi komparatif seperti disebutkan di muka merupakan landasan yang kuat bagi ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang menguatkan fenomena i’jâz dalam dimensi kritik sastra. Pada saat yang sama, temuan-temuan filologi komparatif semacam itu juga bisa menjadi pijakan bagi dilakukannya kritik yang lebih berdimensi teologis terhadap pencarian sumber di belakang kitab suci, sebagaimana dilakukan para kritikus Barat dalam menjelaskan kaitan antara kitab suci umat Islam ini dengan kitab-kitab Allah yang lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum Muhammad SAW. Terlepas dari tujuan awal kajian orientalisme Barat yang terkesan bermata ganda, ketika generasi awal kesarjaan Barat menaruh minat pada kajian keislaman untuk mengkritik kenabian Muhammad, penelitian al-Qur’an dari aspek bahasa dalam dimensi pendekatan filologi klasik agaknya tidak akan sampai merubah tesis tentang keaslian al-Qur’an itu sendiri, seperti yang kemudian gencar dilakukan dalam lingkup akademik filologi modern.

b. Filologi Modern
Penelitian terhadap bidang kajian tafsir hadis melalui pendekatan filologi dalam lingkup kademiknya secara modern dalam disiplin ilmu linguistik modern menemukan arti pentingnya dalam mengkaji relasi transkripsi sebuah teks dengan sumber-sumber aslinya. Hal penting yang bahkan dianggap paling signifikan dalam penelitian Tafsir Hadis melalui pendekatan filologi modern dapat dilihat dalam cabang disiplin ilmu filologi yang dinamai dengan ‘rekonstruksi teks” (text reconstruction). Dalam hal ini, elemen kritik teks dalam kajian filologis yang disebut dengan istilah higher criticism menekankan upaya rekonstruksi sebuah naskah asli hasil karya seorang pengarang berdasarkan varian salinan manuskripnya. Unsur-unsur utama yang dicari dalam kritisisme teks ini mencakup status kepengarangan (authorship), penanggalan, dan keaslian naskah.
Jika kemudian para sarjana orientalis Barat banyak menekankan penelitian mereka untuk merekonstruksi teks al-Qur’an, kajian semacam ini mungkin tidak menarik sarjana muslim yang umumnya telah menerima hasil kesepakatan (ijma’) bahwa penyusunan codex al-Qur’an telah selesai pada masa Utsman dengan terbitnya mushhaf Utsmani. Dalam sejarah perkembangan penulisan al-Qur’an, naskah lengkap al-Qur’an sendiri yang sudah dikodifikasikan dalam jangka waktu beberapa dekade saja jaraknya dari wafatnya Nabi SAW menunjukkan pula prinsip-prinsip rekonstruksi sebuah teks ala Islam, yang mungkin tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip filologi yang dipegangi dewasa ini.
Begitu pula dengan fenomena kodifikasi hadis-hadis Nabi SAW, setelah selesainya kodifikasi al-Qur’an. Kodifikasi hadis menandai perkembangan baru kajian keislaman, di mana tidak saja menaruh minat pada pembukuan hadis yang keberadaanya terserak-serak saat itu, penyeleksian hadis-hadis dan klasfikasinya ke dalam beberapa kategori yang menandai validitasnya, sampai pada pada lingkup penyusunan model-model kitab hadis, serta upaya-upaya lanjutan yang menaruh perhatian pada aspek tafsir untuk memberikan penjelasan (syarh) terhadap hadis-hadis tersebut. Pada saat yang bersamaan, relevansi pendekatan ini juga erat kaitannya dengan kajian tafsir al-Qur’an, sebagai cikal bakal berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Di sini, arti penting pendekatan filologis dalam lingkup kajian rekonstruksi teks adalah guna memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap karya-karya yang tidak mencantumkan nama pengarang dalam tulisan manuskripnya, ataupun penisbatan sebuah karya yang masih bersifat meragukan, seperti dalam kasus sebuah karya tafsir sufi yang secara meragukan dinisbatkan kepada Ibnu ‘Arabi —hanya lantaran isinya yang banyak mengungkapkan konsep wahdat al-wujûd. Di sini, pendekatan rekonstruksi teks menjadi jawaban bagi persoalan yang lekat dengan upaya penerbitan sebuah teks hasil kajian tafsir hadis dari salinan-salinan manuskripnya yang ada.

Walhasil, sebagai sebuah kajian yang menekankan penelitian bahasa-bahasa kuno, ataupun naskah-naskah yang tergolong literatur klasik, maka peran seorang filolog dalam kajian filologi dapat dikatakan sebagai pelaku peran penghubung yang bisa menjembatani kesenjangan komunikasi yang ada di antara pengarang yang menggubah karya sebuah karya pada masa lalu dengan para pembaca karya tersebut di era sekarang. Oleh karena itu, tugas utama seorang filolog dapat disimpulkan dalam sebuah frase, “membuat sebuah teks agar dapat dibaca dan dimengerti.” Dalam hal ini, ada dua upaya yang bisa dilakukan seseorang dalam membuat akses bagi sebuah teks, yaitu dengan memberikan penyajian (presentation) dan penafsiran (interpretation). Presentasi dimaksudkan sebagai menyajikan naskah dalam bentuk edisi kritik, yang dalam prosesnya tidak bisa dilepaskan dari aspek interpretasi dalam menentukan pilihan-pilihan bacaan dari varian yang ada termasuk interpretasi tentang siapa yang menjadi penulis naskah tersebut. Di sini, kaitan antara kedua upaya tersebut saling terkait antara satu dengan yang lain, di mana aspek penyajian tidak bisa dipisahkan sama sekali dengan penafsiran.
Begitu juga dalam perkembangan ilmu tafsir, sejak periode klasik sudah banyak kitab-kitab tafsir yang dihasilkan oleh para ulama, dan sudah pula dituliskan yang menandai kekayaan literatur dalam kajian Tafsir dan Hadis. Persoalan yang tersisa bagi kita, para pemerhati kajian Tafsir dan Hadis yang hidup di masa belakangan yang terpaut jarak waktu yang sangat lama dengan masa dilahirkannya karya-karya literatur itu adalah bagaimana kita bisa membaca dan memahami naskah-naskah tersebut dengan jaminan bahwa tidak ada kesalahan baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja yang telah dilakukan oleh para penyalin yang menuliskan ulang karya-karya itu dari masa ke masa hingga saat ini, ketika bahkan naskah asli yang ditulis oleh penulisnya sendiri telah hilang dan rusak ditelan waktu? Penelitian melalui pendekatan rekonstruksi teks yang merupakan disiplin filologi menjadi alternatif kajian interdisipliner yang bukan saja mampu menjawab tantangan semacam itu, tetapi juga menjadi langkah besar yang paling utama dilakukan mengingat masih banyak naskah-naskah literatur yang dihasilkan pada masa klasik Islam dan masa-masa abad pertengahan yang belum terpublikasikan dalam bentuk edisi cetak sehingga karya-karya itu bisa dibaca secara luas.
Literatur yang bersifat manual metodologis yang berfungsi memandu secara teknis pola-pola yang harus dilakukan dalam penelitian yang memakai pendekatan filologis dalam lingkup kajian terhadap literatur yang lebih menekankan aspek keindonesiaan dapat dilihat pada karya Stuart Robson Principles of Indonesian Philology yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Prinsip-prinsip Filologi Indonesia terbitan Universitas Leiden tahun 1994. Karya ini merupakan buku panduan yang cukup penting mengingat masih banyak literatur bidang tafsir dan literatur-literatur tentang kajian Islam pada umumnya yang ditulis oleh ulama Indonesia yang hingga kini masih tertulis dalam bentuk salinan manuskrip dan belum memiliki edisi cetak yang bisa dibaca secara luas.

Pengantar Kajian Interdisipliner

26/01/2010

Kajian interdisipliner yang dimaksudkan di sini adalah kajian yang tidak mengkhususkan diri pada sebuah pisau bedah analisis yang melulu bersandar pada paradigma keilmuan satu kelompok disiplin tertentu dalam lingkup kajian dalam bidang Tafsir dan Hadis. Kajian interdisipliner dalam melakukan analisisnya menyertakan bidang keilmuan lain dari obyek kajian yang tengah diteliti. Dalam hal ini, bidang kajian yang dipakai sebagai analisis tidak termasuk dalam lingkup bidang ilmu Tafsir Hadis dalam lingkup studi Islam, misalnya; atau bisa jadi juga bahkan dari bidang keilmuan lain yang berada di luar lingkup kajian studi Islam secara umum, seperti pendekatan ilmiah sekuler atau bidang kajian ilmu keagamaan Kristen, Yahudi, dan lain-lain.
Penelitian dalam bidang kajian Tafsir Hadis yang menyertakan pendekatan interdisipliner merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan kajian ini yang bersentuhan dengan aspek-aspek keilmuan lain dalam kajian agama Islam, tetapi kebutuhan akan pendekatan-pendekatan ilmiah yang berasal dari disiplin keilmuan non-agama juga diperlukan sejalan dengan perkembangan metodologi penelitian yang menerapkan kajian kritik, atau juga dalam membantu memecahkan persoalan agama yang bersentuhan dengan fenomena sejarah, sosial, budaya, bahasa, bahkan politik, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang lain.
Kaitan dan kebutuhan beragam pendekatan, khususnya menyangkut kajian interdisipliner, sudah berlangsung sejak lama, lebih tepatnya pasca masa klasik Islam, ketika kajian ilmu keislaman mengalami pertumbuhan yang pesat dengan bantuan kajian-kajian di luarnya. Lihat saja dalam perkembangan kajian tentang al-Qur’an, misalnya. Klasifikasi ulum al-Qur’an, misalnya, akan terus berkembang sejalan dengan munculnya pisau bedah penelaahan yang terkait dengan pendekatan-pendekatan yang diterapkan terhadap teks kitab suci pada umumnya. Dalam hal ini, pengaruh yang diberikan oleh kajian bibikal dalam agama Yahudi dan Kristen akan dapat ditemukan pula dalam banyak analisis yang dilakukan oleh sarjana muslim terhadap kajian yang dilakukannya. Sarjana muslim abad pertengahan menemukan kaitan yang erat antara aspek-aspek Islam dengan bidang-bidang ilmu yang muncul dari perkembangan upaya penerjemahan khazanah keilmuan klasik yang berasal dari peradaban Hellenistik.
Dalam mencermati adanya keterkaitan kajian dalam bidang Tafsir Hadis dengan kajian keagamaan Islam umumnya, kajian yang dapat digolongkan sebagai analisis interdisipliner adalah upaya penelaahan terhadap sebuah kelompok kajian tentang al-Qur’an, tafsir, metode penafsiran, dan hadis serta ulumul hadis, misalnya, —yang tentunya bersifat khusus dan memiliki paradigma yang khas pula— untuk didekati melalui pisau bedah analisis yang bersumber dari ilmu-ilmu keislaman yang lain seperti fiqh, usul fiqh, bahasa Arab dan sastranya, atau juga bahkan filsafat Islam, tasawwuf, dan teologi, retorika dan dialektika (jadal), serta ilmu-ilmu sekuler atau ilmu-ilmu keagamaan di luar Islam. Keterkaitan dengan pisau bedah yang berasal dari disiplin-disiplin cabang dalam studi Islam seperti disebutkan di muka sangat dimungkinkan karena al-Qur’an dan hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, yang konsekuensinya juga menjadi sumber bagi seluruh aspek-aspek kajian Islam pada umum. Oleh karena itu, bila kita melihat kategorisasi yang menjadi bahagian ulumul Qur’an, maka karakter kajian yang tercermin di dalamnya bukan saja bersifat multi-disiplin, di mana kajian tentang al-Qur’an bisa didekati dari ragam pendekatan yang sangat banyak dari sebuah kelompok kajian yang lebih besar, tetapi juga menampilkan ragam pendekatan dari disiplin yang berbeda dan sama sekali non-agama, seperti lingusitik, sejarah, budaya masyarakat Arab, bahkan filologi dan kritik teks.
Walhasil, kajian interdisipliner terhadap kajian al-Qur’an, tafsir, metode penafsiran, dan kajian hadis serta ilmu hadis akan terus dibutuhkan selama didapati kaitan antara sumber-sumber utama dalam kajian tafsir hadis —al-Qur’an, hadis, produk penafsiran, dan aneka ragam teori dan konsep yang merefleksikan ragam dimensi keilmuan yang menandai karakter ulum al-Qur’an— dengan diskursus keilmuan secara umum yang terus saja berkembang dan menemukan saling keterkaitan yang menyisakan persoalan dalam jalinan hubungan antara agama dengan kenyataan hidup manusia.
Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber pokok ajaran Islam sudah semestinya menjadi referensi utama bagi kelahiran segenap cabang-cabang ilmu keislaman. Untuk itu, mengisolasi bidang kajian Tafsir Hadis dari keterkaitannya dengan bidang-bidang kajian lain dalam studi ilmu keislaman menjadi sesuatu yang mustahil. Dalam hal ini, keterkaitan bidang kajian Tafsir Hadis dengan ilmu-ilmu Fiqh, Usul Fiqh, Teologi, Filsafat Islam, Tasawwuf, dan bahkan Bahasa dan Sastra Arab akan selalu terjadi. Kajian-kajian yang bersifat multi-disiplin dalam lingkup kategori ulumul Qur’an, misalnya, menjadi bukti yang menguatkan bahwa kelompok kajian yang menaruh perhatian utama pada al-Qur’an saja meniscayakan perlunya pendekatan yang interdisipliner. Begitu pula halnya dengan kelompok kajian hadis, yang memunculkan multi-disiplin dalam cakupan kategori yang beragam dalam apa yang disebut sebagai bagian-bagian ulumul hadis. Sementara itu, kelompok kajian tafsir dan metode penafsiran juga menunjukkan fakta tentang begitu banyaknya corak penafsiran melalui metode-metode penfasiran yang dilakukan terhadap teks al-Qur’an. Banyaknya corak-corak tafsir ini sebanding dengan banyaknya cabang-cabang ilmu keislaman sendiri. Oleh karena itu, penelitian terhadap bidang kajian Tafsir Hadis tidak akan terbatasi oleh ruang lingkup bidang kajian itu semata, tetapi juga memungkinkan diadakannya penelitian yang memiliki kaitan dengan bidang-bidang ilmu keislaman yang lain, ketika hampir semuanya menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai referensi utama.
Di samping itu, tuntutan kemajuan dalam bidang akademik secara umum telah membuka kemungkinan dilakukannya penelitian-penelitian yang menyertakan analisis kritik, dan beragam pendekatan modern dalam kajian al-Qur’an, tafsir, dan hadis, sejalan dengan maraknya minat terhadap bidang pengkajian Islam oleh kalangan-kalangan akademisi Barat, yang notabene non-muslim. Meskipun begitu, kita tidak serta-merta mengatakan bahwa pendekatan interdisipliner sendiri merupakan sebuah bidang kajian yang dilahirkan oleh Barat. Kajian kritis terhadap hadis, misalnya, sudah dicanangkan ulama muslim sejak lama. Bagaimana mereka memilah validitas hadis melalui analisis kritis terhadap sanad dan matannya sudah dilakukan bersamaan dengan upaya penulisan kitab-kitab hadis pada abad ke-3 hijrah. Lebih jauh lagi, bagaimana sejarah penulisan dan kodifikasi al-Qur’an yang hanya berselang beberapa tahun saja setelah Nabi Muhammad SAW wafat juga telah menunjukkan ketelitian (caution) yang sama. Pada saat itu, Zaid b Tsabit sebagai ketua komisi pengumpulan al-Qur’an yang dibentuk oleh Khalifah Abu Bakr begitu teliti sehingga ia tidak akan menerima bacaan al-Qur’an hanya dari aspek hafalan semata, tanpa disertai dengan bukti tertulisnya. Ketelitian yang pada dasarnya menjadi semangat dari kajian filologis, khususnya kritik teks, yang banyak dianut kaum akademisi Barat dalam upaya mengkaji literatur klasik.
Ringkasnya, kajian interdisipliner merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dalam atmosfer kajian keislaman kontemporer, tidak luput dalam hal ini adalah kajian Tafsir Hadis. Ada beberapa ragam pendekatan yang bisa dipakai dalam penelitian Tafsir Hadis melalui analisis kajian interdisipliner. Pendekatan-pendekatan ini diaplikasikan sejalan dengan berlangsungnya paduan antara karakter kajian Islam klasik dan trend baru yang berkembang dalam kajian Islam kontemporer.
Paduan antara kajian klasik dan kontemporer juga menjadi pengaruh yang tidak bisa dielakkan dengan tercapainya kemajuan dan perkembangan dalam kajian biblikal, yaitu kajian terhadap kitab-kitab perjanjian lama dan perjanjian baru. Sebagai kitab suci yang memiliki kesamaan sumber dengan tradisi keagamaan semitik, bidang kajian al-Qur’an, studi tafsirnya, dan kajian Hadis tidak bisa mengelak dari metodologi yang yang dikembangkan oleh para sarjana dewasa ini terhadap kajian-kajian kitab suci. Hal ini diakibatkan oleh bukan saja karena kajian Islam telah menarik minat para sarjana Barat untuk mengadakan penelitian terhadapnya, tetapi banyak di antara para sarjana muslim sendiri telah mempraktekkan kajian keislaman dengan pisau bedah analisis yang berasal dari metode penelitian Barat. Titik fokus perhatian dalam buku ini hanya akan menyoroti beberapa pendekatan yang dinilai penting untuk dikembangkan dalam kajian Tafsir Hadis, mulai dari kajian linguistik dengan mengedepankan analisis filologis dan kritik naskah yang menampilkan pendekatan tekstual baik yang berasal dari dimensi keilmuan klasik maupun bentuk-bentuk baru perkembangannya dalam dimensi keilmuan linguistik kontemporer. Pendekatan kritik juga akan menyertakan pendekatan kritik kontekstual yang mengedepankan analisis berdasarkan kajian yang bertumpu pada paradigma positivistik dalam ilmu-ilmu sosial, sejarah, dan ilmu budaya. Di samping itu juga akan diberikan ulasan yang mengetengahkan penelitian Tafsir Hadis melalui pendekatan hermeneutika, sebuah telaah filosofis; dan kajian tafsir hadis yang dilakukan melalui perspektif kesetaraan jender. Dua kajian terakhir mewakili pendekatan kontemporer yang marak dikembangkan dalam iklim kajian Islam dewasa ini, baik di barat maupun di seantero dunia Islam sendiri.

Ragam Pendekatan dalam Kajian Interdisipliner

Klasifikasi Bidang Kajian Tafsir Hadis

20/01/2010

Ruang lingkup bidang kajian Tafsir Hadis memberi keleluasaan mengenai pilihan-pilihan konsentrasi kajian yang secara spesifik menjadi disiplin keilmuan yang mandiri dengan kerangka paradigmatik masing-masing bidang ilmu yang juga telah sama-sama mapan. Dalam hal penelitian yang bisa dilakukan dalam bidang kajian Tafsir Hadis ini, paling tidak ada 4 kelompok besar yang bisa dibedakan:
(1) Kelompok kajian al-Qur’an dan Ulumul Qur’an,
(2) Kelompok kajian Tafsir dan Metode Penafsiran,
(3) Kelompok kajian Hadis dan ilmu Hadis,
(4) Kelompok kajian interdisipliner.

Dari keempat kelompok kajian yang termasuk dalam lingkup akademik penelitian bidang kajian Tafsir Hadis, masing-masing kelompok telah memiliki kerangka paradigmatik yang khas, meskipun tidak menutup dimungkinkannya penelitian yang menggunakan pendekatan multi-disipliner, yaitu dengan mengkombinasikan paradigma-paradigma keilmuan yang khas dan mandiri tadi yang digunakan secara bersama-sama dalam sebuah penelitian. Sebagai contoh, penelitian terhadap subyek kajian ‘tafsir bil ma’tsur’ mengharuskan penguasaan tentang paradigma keilmuan tafsir, kajian al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang terkait di dalamnya, serta parameter penilaian yang secara standar berlaku dalam bidang ilmu hadis. Di sinilah urgensi penelitian multi-disipliner yang mengkombinasikan beragam paradigma keilmuan khas yang bernaung di dalam lingkup kajian Tafsir Hadis diperlukan.

Di samping itu, sejalan dengan kemajuan kajian Islam secara umum, maka penelitian bidang kajian Tafsir Hadis juga meniscayakan perlunya aneka ragam pendekatan yang berasal dari kerangka paradigma keilmuan non-Tafsir Hadis. Di sini, apa yang disebut dengan penelitian bidang kajian Tafsir Hadis melalui pendekatan interdisipliner diperlukan, seperti penelitian bidang kajian Tafsir Hadis yang menyertakan perangkat analisis ilmu filsafat, ilmu-ilmu sosial, kajian linguistik, ataupun beragam perspektif modern dan pasca-modern seperti teologi pembebasan, feminisme, dan lain-lain. Tujuan yang ingin dicapai dengan penyertaan kajian interdisipliner ini adalah untuk memberi ruang keterbukaan bagi kajian tentang al-Qur’an, tafsir, serta hadis dari beragam pendekatan dan konsep keilmuan modern, sehingga hasil-hasil kajian yang didapat bukan hanya temuan yang bersifat ‘apologi’ semata, tetapi merupakan kajian ilmiah yang memenuhi standar-standar intelektual modern.

Bagan berikut memberi gambaran tentang lingkup kajian Tafsir Hadis dan ragam pendekatan yang bisa dilakukan, baik melalui kajian yang bersifat multi-disiplin, atapun inter-disipliner.

Ruang Lingkup dan Ragam Pendekatan

Memahami Ruang Lingkup Kajian Tafsir Hadis

18/01/2010

Hal utama yang harus diketahui oleh pemerhati kajian Tafsir Hadis adalah upaya untuk memahami lingkup akademik yang dicakup oleh istilah “Tafsir Hadis”. Dengan bekal pemahaman yang baik tentang makna “Tafsir” dan “Hadis”, maka seorang peneliti akan dengan mudah mampu menentukan garis margin genre “tafsir” dan “hadis” dalam hubungannya dengan cakupan kajian Islam secara umum. Dengan memahami ruang lingkup akademik seorang peneliti juga akan mampu merumuskan tema permasalahan yang menjadi perhatian utamanya untuk dibahas. Dalam memenuhi tujuan tersebut, pembahasan ini dimulai dengan ulasan seputar definisi kata “tafsir” dan “hadis”. Melalui dasar analisis harfiah dan terminologis makna “tafsir” dan “hadis”, pembahasan akan diteruskan dengan membagi substansi materi kajian tafsir hadis ini ke dalam beberapa kelompok besar kajian spesifik yang menjadi konsentrasinya.

Terkait dengan dua kata kunci yang membentuk nama Tafsir Hadis, maka pengertian kedua kata itu akan diurai terlebih dahulu satu per satu secara terpisah, baru kemudian dilanjutkan dengan analisis, atau paling tidak asumsi, yang mendasari penyebutannya sebagai dua karakter menandai paralelisme maupun juktaposisinya yang sepadan. Kata tafsir secara umum dirujuk sebagai upaya interpretasi, tidak melulu tentang al-Qur’an, tetapi lebih merupakan padanan kata “syarh” dalam bahasa Arab, yang berarti penjelasan. Meskipun akar kemunculan kata ini dalam tradisi penafsiran al-Qur’an tidak terlalu jelas, akan tetapi secara generik dapat dipahami bahwa Tafsir al-Qur’an adalah sebutan untuk karya yang menyajikan interpretasi ayat-ayat al-Qur’an dari teks bahasa Arabnya (A. Rippin, “Tafsir” dalam The Encyclopaedia of Islam, vol. X, 84a).

Penelusuran terhadap makna kata “tafsir” melalui analisis harfiah maupun terminologis seperti yang diberikan oleh beberapa sarjana Islam menyajikan kompleksitas tersendiri yang semakin melebarkan maknanya menjadi istilah bagi kajian al-Qur’an secara umum yang tidak terbatas pada aspek interpretasi saja. Secara bahasa, makna kata tafsir dapat ditelusuri dari susunan morfologisnya, di mana akar kata ini bisa dirujuk baik melalui bentuk dasar f-s-r maupun bentuk sungsang s-f-r, yang sama-sama merujuk pada makna “penyingkapan” sesuatu dari ketertutupannya (Ibn al-Manzhur, Lisan al-‘Arab, v, 3412-13; E.W. Lane, The Arabic English Lexicon, 1, 1370). Gagasan primer yang mengusung pengertian harfiah kata ini nampaknya mengacu kepada tradisi hermetik pada peradaban Yunani yang mencakup aktivitas yang menandai fungsi Hermes baik dalam perannya sebagai pembawa wahyu dari Tuhan kepada manusia, maupun juga dalam memberikan penjelasan tentang makna wahyu tadi (Abu Zayd, Mafhum al-Nass, hal. 253). Kaitan konsep ini dalam tradisi keilmuan Islam, menurut Abu Zayd, dapat dilihat pada sebutan malaikat pembawa wahyu sebagai safara yang memiliki karakter mulia dan berbakti (al-kiram al-barara) (QS. 80:15-16).

Dengan semakin mapannya kajian keislaman, kata tafsir menemukan kompleksitasnya sebagai sebuah istilah akademik yang tidak hanya mencakup makna dalam lingkup aspek penjelasan terhadap al-Qur’an, tetapi lebih merupakan istilah bagi disiplin keilmuan yang terkait dengan kajian al-Qur’an secara umum. Kesan akan kompleksitas makna tafsir secara terminologis dapat dilihat dalam definisi yang Abu Hayyan, yang memaknai tafsir sebagai “ilmu yang membahas tentang tatacara melafalkan ayat-ayat al-Qur’an, makna dan hukum-hukumnya baik yang berdiri sendiri (ifrad) maupun yang terbentuk dalam sebuah struktur kalimat (tarkibiyyah), juga makna-makna yang ditunjukkan oleh sebab bentukan sintaksis tadi serta segala kelengkapan yang terkait dengan itu.” (Suyuti, Itqân, ii, 174)  Oleh karenanya, bila kita berpijak pada definisi makna “tafsir” yang begitu kompleks, maka secara generik kita dapat mengatakan bahwa kata “tafsir” sudah bisa mewakili kajian multi-disiplin terhadap al-Qur’an seutuhnya, yang sebagai konsekuensinya lingkup kajian ini tidak melulu dibatasi pada upaya untuk memberikan penjelasan terhadap makna-makna yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur’an, tetapi juga termasuk tata cara melafalkannya dan aspek-aspek akademik lain yang berkenaan dengan al-Qur’an atau populer disebut dengan istilah ‘ulûm al-Qur’ân (lihat Subhi al-Salih, Mabahis, 121).

Sementara itu, kata hadîst dipahami sebagai istilah yang merujuk pada segenap tradisi yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. Kata lain untuk istilah ini adalah sunnah, meskipun ada beberapa perbedaan pemahaman tantang makna istilah yang terakhir dalam pandangan para ulama muslim, seperti kata sunnah yang dipahami ahli fiqh sebagai karakter perbuatan yang derajatnya berada diantara wajib dan mubah; sementara ahli hadis memaknainya sebagai tradisi yang terkait dengan Nabi Muhammad, baik ucapan, perbuatan, ataupun ikrar dan sifat-sifatnya, sementara ulama wa’d wa al-irsyad memahami sunnah sebagai lawan dari bid’ah (lihat Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-hadis wa al-Muhadditsun, 10). Secara literal hadis berarti sesuatu yang baru, lawan dari kata qadîm (kekal). Kata hadis diberikan kepada setiap percakapan manusia yang dihasilkan baik melalui proses mendengarkan maupun pewahyuan, dalam keadaan terjaga ataupun bermimpi. Bersadarkan makna harfiah tersebut, Allah menantang kaum Quraisy untuk mendatangkan “hadis” yang sebanding dengan al-Qur’an (QS. 52:34). Makna ini juga mencakup percakapan-percakapan tentang apa yang terjadi dalam mimpi (QS. 12:101), di mana Yusuf menjadi seorang ahli yang mampu menguaraikan maknanya.

Lepas dari ragam makna yang diberikan secara istilahi terhadap kata sunnah, istilah hadîts lebih sepi dari kontradiksi. Menurut para muhadditsûn hadis didefinisikan sebagai ucapan, perbuatan, ikrar, maupun sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bila kemudian ditilik bahwa semua pernyataan Nabi Muhammad SAW tidak keluar dari wahyu, maka hadis juga diyakini berasal dari wahyu Allah SWT. Secara kategoris, hadis merupakan wahyu yang diterima oleh Nabi SAW di luar lingkup generik yang disebut dengan nama al-Qur’an. Wahyu yang dimanifestasikan dalam bentuk hadis diyakini maknanya berasal dari Allah, tetapi redaksinya merupakan perkataan Nabi Muhammad sendiri. Begitupun ijtihad yang diambil oleh Nabi SAW sebagai hasil pemahamannya atas al-Qur’an, diyakini pula sebagai sebuah proses yang menyertakan wahyu sebagai sumbernya (Lihat Qattan, Mabahis, hal. 27). Atas dasar makna terakhir inilah hadis memiliki keterkaitan erat dengan tafsir sebagai penjelasan atas al-Qur’an. Dalam hal ini, kajian tentang hadis selain terkait dengan substansi pernyataan (matn) baik dalam bentuk ungkapan, perbuatan, ikrar atau sifat yang disandarkan kepada Nabi SAW, hadis juga terkait dengan aspek periwayatan (sanad), otoritas pribadi yang menyebutkan siapa-siapa saja yang berpartisipasi menyampaikan berita tersebut sampai kepada perawi terakhir yang menuliskannya di dalam kitab-kitab hadis. Untuk itu, kajian hadis selalu saja terkait dengan dimensi keilmuan yang cukup beragam. Termasuk dalam ragam ilmu hadis ini adalah kajian tafsir al-Qur’an pada awal perkembangannya, di mana penjelasan Nabi SAW tentang ayat-ayat al-Qur’an yang tertuang baik dalam bentuk pernyataan lisan maupun perbuatan termasuk ke dalam kategori hadis, sehingga penafsiran al-Qur’an jenis ini —termasuk di dalamnya tafsir yang dinilai sebagai hasil-hasil ijtihad Nabi SAW terhadap persoalan yang tidak ditemukan jawabannya di dalam al-Qur’an— banyak dituangkan dalam kitab-kitab hadis. Sebagai contoh, lihat misalnya Bukhari dalam Sahih-nya memberi judul kitab pembahasan no.45 dengan tajuk “kitab tafsir al-Qur’an” yang memuat 394 bab. Dalam tiap babnya ia menyertakan satu atau lebih hadis yang terkait dengan sebuah tema khusus. Muslim juga memasukkan pembahasan tentang tafsir dalam kitab Sahih yang disusunnya pada kitab terakhir (no. 56), meski dengan jumlah hadis yang lebih sedikit, yaitu 33 buah hadis saja. Tata urutan yang lebih sistematis diberikan oleh Tirmidzi dalam kitab Sahih-nya. Pada urutan pembahasan (kitab) no. 44, ia memberi judul “Tafsir al-Qur’an” yang memuat 93 bab. Bab-bab ini diurutkan berdasarkan tata urutan surat-surat al-Qur’an (kecuali beberapa surat pendek di juz terakhir), dengan jumlah hadis yang bervariasi: surat-surat panjang dibagi dalam sub-pembahasan yang cukup banyak, sementara surat pendek menampilkan minimal satu sub-pembahasan. Selain Tafsir, Tirmidzi dalam sahih-nya juga memuat kitab khusus tentang Qira’at dan Keutamaan al-Qur’an (kitab no. 42 dan 43). Sementara itu, pembahasan khusus tentang tafsir al-Qur’an tidak ditemukan dalam kitab-kitab sunan seperti karya Abu Dawud, al-Nasa’i, dan Ibnu Majah, maupun kitab Musnad Ahmad, dan Muwatta‘ Malik.

Di samping itu, masih pula didapati kenyataan bahwa dalam perkembangan penulisan kitab tafsir al-Qur’an, kemunculan kitab tafsir al-Qur’an ditandai dengan munculnya corak interpretasi dalam bentuk riwayat-riwayat hadis —dikenal dengan corak penafsiran bil ma’tsûr— yang tidak saja disandarkan kepada Nabi SAW, tetapi juga riwayat yang berasal dari Sahabat dan Tabi’in. Di sini, posisi hadis tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari keberadaan dan perkembangan tafsir. Oleh karena itu, nama “Tafsir Hadis” sebagai sebutan untuk program kajian yang utamanya memusatkan kajian ilmiah terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah yang merupakan sumber utama ajaran Islam digolongkan sebagai kajian pokok (usûl) dalam pemikiran keislaman. Untuk alasan inilah posisi program studi Tafsir Hadis pada fakultas Ushuluddin merupakan sebuah keniscayaan bukan saja lantaran kajian tentang tafsir dan hadis menjadi kajian terhadap sumber-sumber pokok ajaran Islam, tetapi kajian ini sudah semestinya pula merupakan kajian yang mandiri secara akademik. Meskipun begitu, tidak juga dipungkiri bila kajian Tafsir Hadis juga banyak diwarnai dengan kajian yang berdimensi fiqih, ketika makna yang didapatkan dari ayat-ayat al-Qur’an lebih bersinggungan dengan aspek hukum, sebagaimana kesan yang dapat diambil melalui pengertian tafsîr yang diberikan oleh Badruddîn Zarkâsyî sebagai “ilmu guna memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk penjelasan makna-maknanya, dan istikhraj hukum-hukum serta hikmah yang dikandungnya.”

Hal yang sama juga terjadi dalam kajian hadis, di mana penulisan kitab-kitab hadis, utamanya kitab-kitab sunan, mendasarkan pola penulisan dan penyusunan bab-bab dan pembahasannya berdasarkan bab-bab dalam pembahasan fiqh. Oleh karena itu, bukanlah sebuah kebetulan bila jurusan Tafsir Hadis pada awal kemunculannya justru ditemukan sebagai salah satu jurusan pada Fakultas Syari’ah. Namun demikian, ketika dewasa ini penempatan jurusan Tafsir Hadis diberikan kepada fakultas Ushuluddin penelitian dalam bidang Tafsir dan Hadis diharapkan dapat memberikan kontribusinya secara essensial dalam mengembangkan bukan saja kajian al-Qur’an dan hadis secara umum, tetapi juga kajian khusus tentang tafsir dan metode penafsiran al-Qur’an, dan kajian interdisipliner (non  Tafsir Hadis) sebagai konsekuensi keterbukaan kajian al-Qur’an dan hadis terhadap paradigma-paradigma yang bersumber dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora, bahkan filsafat, yang sudah barang tentu sangat lekat dengan disiplin ilmu keushuluddinan.

Dari uraian di atas, bentuk-bentuk pola hubungan dalam ruang lingkup disiplin kajian Tafsir Hadis dapat disederhanakan, seperti dalam bagan berikut:

Apa itu Metodologi Penelitian Tafsir Hadis

16/01/2010

Mata kuliah ini dimaksudkan sebagai sebuah rancangan metodologis yang memberi dasar bagi upaya penelitian dalam bidang kajian Tafsir dan Hadis. Dalam hal ini, ada beberapa istilah yang perlu diklarifikasi terlebih dulu agar tidak menimbulkan kebingungan sebelum memasuki pembahasan dalam memahami ruang lingkup kajian tafsir hadis dan pengenalan terhadap metodologi apa saja yang bisa dipakai dalam melakukan kajian terhadapnya. Istilah “metodologi”, misalnya, perlu dibedakan dengan istilah “metode”. Kedua kata ini sering sering dianggap sebagai dua kata yang sepadan, padahal ada perbedaan makna di antara keduanya. Metodologi secara umum didefinisikan sebagai sebuah istilah yang lebih generik merujuk kepada logika umum dan perspektif teoretis bagi sebuah proyek penelitian, sedangkan istilah metode mengacu kepada teknik-teknik tertentu yang digunakan dalam sebuah penelitian, seperti survey, wawancara, observasi, dan lain-lain (lihat RC. Bogdan dan S.Knopp-Biklen, 1998: 31). Dengan demikian, metodologi menyoroti kerangka kerja (framework) utama yang bersifat umum dalam penelitian, sementara metode hanya menyangkut aspek-aspek tertentu yang bersifat teknis saja. Materi yang disajikan dalam mata kuliah ini merupakan panduan metodologis yang memberikan beberapa acuan tentang perspektif-perspektif teoretis yang terkait dengan penelitian bidang kajian Tafsir Hadis. Sementara itu, kajian yang menyangkut aspek-aspek teknis yang dipakai dalam penelitian bidang kajian Tafsir Hadis ini dapat dilihat dalam buku-buku panduan penelitian kualitatif secara umum.
Ada dua arah yang bisa dibidik dengan istilah metodologi penelitian Tafsir Hadis yang menjadi judul buku ini: pertama, memberikan kerangka teoretis untuk melakukan penelitian terhadap al-Qur’an dan Hadis secara langsung, sehingga hasil penelitiannya merupakan kontribusi tersendiri bagi terciptanya karya literatur bidang ilmu Tafsir Hadis itu sendiri; kedua, memberikan kerangka struktural yang mendukung terlaksananya sebuah upaya penelitian terhadap literatur-literatur Tafsir Hadis yang dihasilkan baik oleh para ulama muslim klasik, maupun karya-karya sarjana muslim kontemporer. Kedua tujuan penelitian tersebut menandai arah perkembangan yang dituju dalam iklim akademik yang menjadi misi program studi Tafsir Hadis di Universitas Islam Negeri (UIN) maupun Institut dan Sekolah Tinggi Agama Islam (IAIN dan STAIN) di mana pun di Indonesia.
Karakter kajian Tafsir Hadis yang memiliki ciri khusus membutuhkan perangkat-perangkat kerja operasional dalam bentuk metodologi penelitian, sehingga bisa mengarahkan terciptanya pemahaman yang tepat mengenai ruang lingkup yang menjadi batasan generik bidang ilmu ini, dan kemudian menentukan pendekatan apa saja yang bisa diaplikasikan dalam melakukan penelitian dalam lingkup kajian skriptural dalam kajian Islam ini. Meskipun begitu, buku ini bukan satu-satunya literatur yang mampu membawa seseorang pada sebuah kondisi obyektif bagi sebuah penelitian yang komprehensif, mengingat luasnya bidang kajian Tafsir Hadis ini dan sifat multi-disiplin kelompok-kelompok kajian yang tercakup di dalamnya, khususnya menyangkut keterkaitan dengan aneka ragam disiplin dalam ilmu keislaman secara umum. Oleh karena itu, buku ini sebagai panduan penelitian tidak bisa dilepaskan dari literatur lain yang menyajikan framework penelitian terhadap kajian Islam secara umum, atau juga aspek-aspek teoretis yang membahas unit-unit pendekatan ilmiah dalam bidang keilmuan yang lain, ketika pendekatan interdisipliner menjadi tuntutan dalam perkembangan kajian Islam kontemporer.
Pertimbangan pokok yang melatarbelakangi diperlukannnya mata kuliah ini adalah bahwa penelitian merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan akademik di sebuah institusi pendidikan, khususnya pendidikan tinggi setingkat universitas yang berbasis ilmu agama khususnya agama Islam, seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan tentu saja Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi Agama Islam lainnya, di mana Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mengemban tugas cukup penting dalam mengantarkan civitas akademikanya agar dapat memiliki kemampuan penguasaan riset yang memadai dalam bidang ilmu-ilmu dasar keislaman dan kaitannya dengan perkembangan ilmu-ilmu sosial yang berdimensi etis, keindonesiaan, dan kemanusiaan yang menjadi visi dan misinya. Atas dasar visi dan misi itu pulalah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mencanangkan untuk terus “memelihara tradisi keilmuan dan intelektual yang sudah baik dan sekaligus mendorong penemuan teori-teori baru.” Misi ini hanya akan bisa dicapai dengan menggalakkan usaha penelitian di kalangan civitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa.
Khusus mengenai program studi Tafsir Hadis yang melingkupi bidang kajian dasar-dasar ilmu keislaman seputar sumber-sumber Islam yang tertuang di dalam al-Qur’an dan al-Hadis, maka penelitian di bidang kajian ini menjadi upaya penting untuk dikembangkan atas dasar dua tujuan pokok: pertama, untuk menggalakkan penelitian baik terhadap khazanah keilmuan yang sudah sedemikian banyak diwariskan oleh generasi terdahulu; kedua, untuk bisa menemukan teori-teori baru yang belum didapatkan oleh penelitian ulama klasik dan abad pertengahan, termasuk di dalamnya untuk memberikan sentuhan perkembangan modern terhadap hasil-hasil kajian klasik dan abad pertengahan tersebut dengan berbagai pendekatan yang berkembang dalam kajian Islam kontemporer.
Kebutuhan akan adanya sentuhan modern dalam aspek metodologi penelitian ilmiah sejalan dengan perkembangan kajian Islam secara umum dewasa ini selalu saja meniscayakan hubungan yang erat dengan perkembangan ilmu-ilmu sosial dan humaniora umumnya, termasuk filsafat yang diakui sebagai induk semua semua cabang ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan keagamaan selalu saja mengetengahkan persinggungan yang terus terjadi antara nilai-nilai yang dikembangkan melalui kelahiran doktrin-doktrin agama dengan perkembangan sosio-kultural masyarakat muslim yang terus saja berubah dari waktu ke waktu, belum lagi dalam menghadapi tantangan modernitas dan fenomena post-modern yang ditawarkan oleh Barat, sebagai pihak yang juga banyak menaruh perhatian terhadap kajian keislaman. Oleh karena itu, kebutuhan akan sebuah model metodologi penelitian yang up to date dalam penelitian terhadap lingkup kajian tafsir dan hadis menjadi keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan.
Dalam hal ini, tidaklah dipungkiri bahwa khazanah keilmuan dalam bidang tafsir dan hadis telah menghasilkan tidak saja hasil penelitian dalam porsi yang begitu besar dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga sajian aneka ragam metode penelitian yang telah mapan dan dikembangkan dari waktu ke waktu. Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi oleh para pemerhati kajian tafsir hadis di Indonesia, baik dosen maupun mahasiswa, adalah kurangnya literatur yang menyajikan panduan bagi penelitian dalam bidang keilmuan yang menjadi sumber pokok ajaran Islam ini, terutama penelitian yang dapat merefleksikan harmoni antara hasil kajian dan metode penelitian tradisional dengan perkembangan modern dalam kajian Islam kontemporer dan perkembangan mutakhir ilmu sosial dan humaniora. Buku ini menjadi penting karena diharapkan memberikan sodoran alternatif bagi kebutuhan terhadap kajian teoretis yang menyajikan kerangka metodologis bagi dilakukannya penelitian yang tidak saja tetap mengedepankan pentingnya nilai warisan tradisional dalam kajian tafsir dan hadis, tetapi juga memberikan kerangka pendekatan ilmiah yang memungkinkan untuk dilakukan dalam kajian Islam kontemporer yang sejalan dengan perkembangan kajian ilmiah dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Metode Tafsir

18/12/2009

Setelah mengenal definisi tentang konsep Tafsir dan Ta’wil, berikut adalah penjelasan tentang metode tafsir, atau teknik (manhaj) dengan apa sebuah penafsiran dihasilkan. Dalam bagian pengantar bukunya tentang metode tafsir maudu’i, al-Bidayah fi Tafsir al-Mawdu’i, dirasah manhajiyya mawdû‘iyya, Abd al-Hayy al-Farmawi menjelaskan ada 4 kategori dasar tentang karya Tafsir berdasarkan metode penafsiran yang dipakainya: 1. Tafsir Tahlili, 2. Tafsir Ijmali, 3. Tafsir Muqarin, dan 4. Tafsir Maudu’i. Metode Tafsir Tahlili merupakan kecenderungan mayoritas dari karya-karya yang disusun sejak masa klasik sampai masa abad kini. Metode ini juga ditandai dengan corak kitab-kitab tafsir yang sangat beragam, sehingga memerlukan penjelasan tersendiri.

Metode Tafsir Ijmali dimaksudkan sebagai metode tafsir di mana mufassirnya menerangkan makna ayat yang ditafsirkannya secara ringkas dan global saja, biasanya dengan menyebut penjelasan tentang i’rab atau padanan kata (muradif) dari kata-kata dalam ayat al-Qur’an. Contoh karya yang menerapkan metode penafsiran semacam ini adalah Tafsir Jalalayn karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jamaluddin al-Suyuti; dan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Muhammad Farid Wajdi.

Sementara itu, Metode Tafsir Muqarin dimaksudkan sebagai sebuah metode penafsiran di mana mufassirnya melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan mengetengahkan pandangan sejumlah mufassir lain. Dalam hal ini, seorang penyusun tafsir muqarin akan mengetengahkan sejumlah ayat-ayat al-Qur’an, kemudian ia menampilkan pandangan ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu. Analisis utama yang digunakan adalah analisis perbandingan di mana satu pendapat akan ditimbang dengan pendapat yang lain. Begitu seterusnya dalam setiap tema maupun ayat yang disodorkannya. Adakalanya, metode tafsir muqarin juga dimaksudkan sebagai bentuk penafsiran al-Qur’an dalam arti yang lebih luas, yaitu penafsiran yang membandingkan antara nass al-Qur’an yang satu dengan ayat yang terdapat dalam bahagian lain al-Qur’an menyangkut sebuah pokok persoalan, atau bisa juga perbandingan antara teks al-Qur’an dengan teks hadis yang makna lahiriahnya menampilkan sebuah kontradiksi.

Metode Tafsir Mawdu’i adalah metode penafsiran yang menampilkan pembahasan dengan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesatuan tema kemudian diurutkan berdasarkan periode turunnya, latar belakang konteks sosio-historis yang menyebabkan turunnya ayat-ayat itu, serta penjelasannya, keterkaitan satu dengan yang lain, dan begitu juga tentang istinbat hukum yang bisa diambil, dan elemen-elemen penjelasan yang lain. Kajian teoretis dan contoh praktis metode penafsiran tematik ini dapat dilihat dalam Abd al-Hayy Farmawi, al-Bidayah fi Tafsir al-Mawdu’i, dirasah manhajiyya mawdû‘iyya.

Metode tafsir Tahlili didefinisikan sebagai penjelasan atas ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segenap aspek yang terkait dengannya. Hal ini dilakukan seorang mufassir dengan memberikan penjelasan terhadap al-Quran menurut tata urutannya, seperti yang termaktub di dalam mushaf, seayat demi seayat, dan surat demi surat secara berurutan, dengan mengetengahkan makna kalimat-kalimatnya satu persatu, begitu juga dengan mengungkapkan maksud ayat secara keseluruhan, dan apa yang bisa diungkapkan melalui susunan kalimatnya, memberikan kaitan dengan ayat-ayat dan surat sebelum dan sesudahnya, juga menjelaskan inti yang menjadi pengikat di antara maksud-maksudnya, mencoba menghubungkan dengan tujuan yang dimaksudkan, juga argumentasi yang mendukungnya, asbab nuzul, serta penjelasan yang telah dinukilkan oleh Rasulullah, para sahabat, juga tabiin, berikut penjelasan masalah kebahasaan yang berkaitan dengan teksnya. Sebagai metode tafsir yang palng banyak dipakai oleh mufassir al-Qur’an sejak masa klasik hingga saat ini, metode penafsiran ini memuat banyak corak penafsiran yang menjadi kecenderungan khusus masing-masing penafsir. Uraian tentang hal ini, berikut contoh-contoh hasil penafsiran pada masing-masing corak penafsiran, akan diuraikan dalam tulisan tersendiri (lihat Corak Penafsiran)

Corak Penafsiran

18/12/2009

Ada banyak corak tafsir yang termasuk di dalam metode tafsir Tahlili ini, yang berdasarkan klasifikasi kecenderungan utama pemikiran dan karakter pendekatan ilmiahnya dapat dibagi ke dalam 7 corak penafsiran: Tafsir bi al-Ma’tsur, Tafsir bi al-Ra’yi, Tafsir Sufi, Tafsir Fiqhî, Tafsir Falsafi, Tafsir Ilmi, dan Tafsîr Adabî ijtima‘î.

Tafsîr bil ma’tsûr
Tafsir bil ma’tsur pada dasarnya menampilkan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang diambil dari sumber-sumber tradisional Islam yang secara hierarkhis diurutkan mulai dari al-Qur’an, hadis Nabi SAW, atsar sahabat, dan qawl tabiin. Oleh karena itu, dalam tafsir bil ma’tsur, penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an utamanya didasarkan kepada penjelasan yang diberikan oleh bahagian lain al-Qur’an sendiri. Bila tidak didapati penjelasan di bagian lain al-Qur’an, maka penjelasan diambilkan dari hadis-hadis yang dinukilkan dari Rasulullah SAW yang memberikan penjelasan kepada para sahabatnya tentang masalah yang mereka hadapi. Bila ini tidak bisa dicapai, maka yang menjadi sandaran adalah penjelasan yang dinukilkan dari para sahabat yang dengan ijtihadnya mereka mengungkapkan penjelasan atas ayat-ayat al-Quran. Jika tidak didapati atsar sahabat, maka penafsiran diambilkan melalui penjelasan kaum Tabiin mengenai ayat-ayat al-Quran yang merefleksikan ijtihad yang mereka lakukan (Dzahabi, TM, i/52). Menurut Husein Dzahabi, ada dua cara yang ditempuh oleh para ulama dalam memberikan tafsir bi al-ma’tsūr ini: Pertama, marhala syafahiyya (penuturan lisan) yang disebut dengan marhala riwā’iyya, di mana seorang sahabat meriwayatkannya dari Rasulullah, atau dari sesama sahabat, atau seorang tabi’i meriwayatkan melalui jalan seorang sahabat, dengan cara penukilan yang terpercaya, mendetail, dan terjaga melalui isnad, sampai pada tahap selanjutnya. Kedua, marhala tadwīn, dengan cara menuliskan riwayat yang ditunjukkan seperti di dalam marhala yang pertama. Hal ini seperti juga ditunjukkan dalam kitab-kitab hadis sejak masa awal hingga berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu yang terpisah.
Contoh Tafsir yang menampilkan corak penafsiran bil ma’tsur dengan rangkaian sanad yang lengkap adalah karya Ibnu Jarir at-Tabarī (w. 310 H), Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an. Di dalam kitab ini Tabari selain menyebutkan pendapat, juga memberikan arahan, menimbang validitas riwayat antara satu dengan yang lain, juga memberikan penjelasan tentang i’rab jika dibutuhkan, serta memberikan istinbat hukum yang dimungkinkan untuk diambil dari ayat-ayat Quran tersebut (Dzahabi, TM, i/142). Dalam perkembangan sesudahnya, para ulama menyusun kitab tafsir bil ma’tsur tanpa menyertakan isnadnya, dan kebanyakan menyertakan pendapat di dalam kitab tafsir mereka tanpa memilah mana yang sahih dan mana yang tidak, oleh sebab dimungkinkannya pula menyertakan pandangan yang mawdū‘ dan dibuat-buat. Diantara kitab-kitab tafsir bil ma’tsur sesudah Tabari adalah Ma‘ālim al-Tanzīl karya al-Baghāwī (w. 512 H); Tafsir al-Quran al-‘Azhîm karya Ibn Katsir (w. 774 H), dan Al-Durr al-Mantsūr fī tafsīr al-Ma’tsūr karya al-Suyūtī (w. 911 H).

Tafsir bi al-Ra’yi
Tafsir bi al-Ra’yi adalah sebutan untuk tafsir al-Quran yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan ijtihad. Prasayarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir dalam penafsiran ini adalah pengetahuan yang baik tentang kalimat bahasa Arab dan aspek-aspeknya. Selain itu, ada juga yang mensyaratkan bahwa seorang mufassir juga harus memiliki pengetahuan tentang syair-syair jahiliah, serta mengetahui asbab al-nuzul, memiliki pengetahuan yang cukup dalam hal nasikh mansukh ayat al-Quran, dan ilmu lainnya yang menjadi perangkat yang harus dipenuhi seorang mufassir (Dzahabi, TM, 1/152).
Sebab-sebab yang mengakibatkan munculnya corak penafsiran bil ra’yi ini adalah ketika ilmu-ilmu keislaman berkembang dengan aneka ragam corak yang bermunculan, pada saat yang sama para ulama mengalami puncak kejayaan mereka bersanmaan dengan kemunculan beragam karya yang memuat ilmu-ilmu keislaman. Ilmu-ilmu keislaman sendiri berkembang lantaran kegigihan para sarjana muslim dalam menelaah kitab suci al-Qur’an yang diyakini menjadi sumber bagi segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ketika tafsir sudah mulai berkembang banyak dan ilmu-ilmu keislaman juga sudah muncul dengan aneka ragam disiplin, maka setiap mufassir berusaha mengembangkan corak penafsiran yang berbeda dengan corak penafsiran yang dibuat oleh mufassir lainnya.
Kecenderungan untuk membuat tafsir yang berbeda dengan tafsir yang dibuat oleh ulama lain, misalnya menjadi alasan mengapa Zamakhsyari menyusun kitab tafsirnya al-Kasysyaf sebagai tafsir yang mencirikan analisis atas ketinggian balaghah al-Qur’an. Begitu juga ketika seorang alim disamping terkenal dalam ilmu tafsir, ia juga seorang faqih, atau ahli bahasa, atau bahkan seorang failasuf dan ahli ilmu astronomi serta teologi. Maka muncullah pandangan-pandangan ijtihadi yang menjadi ciri khas corak keilmuan yang dikuasai dalam tafsir yang disusunnya. Sehingga, jika sebuah ayat al-Quran memiliki kaitan dengan ilmu yang dimilikinya, maka keluarlah pengetahuannya tentang masalah tersebut (A.K Mahdī, Āyat al-Qasam fī al-Quran al-Karīm, h. 4).
Diantara karya-karya tafsir bi al-ra’yi yang menonjolkan pandangan ijtihadi para mufassirnya berdasarkan kepasitas ilmiah yang mereka kuasai adalah: Mafātih al-Ghayb karya Fakhr al-Din al-Rāzī (w.606 H); Anwār al-Tanzīl wa asrār al-ta’wīl karya al-Baghāwī (w.691 H); Madārik al-Tanzīl wa haqā’iq al-ta’wīl karya al-Nasafī (w.701 H); Lubāb al-ta’wīl fī ma‘ānī al-tanzīl karya Imam al-Khāzin (w.741 H); dan Irshād al-‘aql al-Salīm ilā mazāya al-Kitāb al-karīm karya Abū Sa‘ūd (w.982 H).

Tafsir Sūfī
Perkembangan pemikiran Islam, khususnya dalam dimensi penafsiran esoteris terhadap ayat-ayat al-Qur’an memunculkan corak penafsiran sufi. Corak penafsiran ini didasarkan pada argumen bahwa setiap ayat al-Qur’an secara potensial mengandung 4 tingkatan makna: zhahir, batin, hadd, dan matla’. Keempat tingkatan makna ini diyakini telah diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila corak penafsiran semacam ini memang bukan hal yang baru, bahkan telah dikenal sejak awal turunnya al-Qur’ān kepada Rasulullah SAW, sehingga dasar yang dipakai dalam penafsiran ini umumnya juga mengacu pada penafsiran al-Qur’an melalui hierarkhi sumber-sumber Islam tradisional yang disandarkan kepada Nabi, para sahabat, dan pendapat kalangan Tabiin.
Di samping itu, selain penafsiran yang didasarkan melalui jalan periwayatan secara tradisional, ada sebuah doktrin yang cukup kuat dipegangi kalangan sufi, yaitu bahwa para wali merupakan pewaris kenabian. Mereka mengaku memiliki tugas yang serupa, meski berbeda secara substansial. Jika para rasul mengemban tugas untuk menyampaikan risalah ilahiyah kepada ummat manusia dalam bentuk ajaran-ajaran agama, maka para sufi memikul tugas guna menyebarkan risalah akhlaqiyyah, ajaran-ajaran moral yang mengacu pada keluhuran budi pekerti (Tawfiq b. Amir, Dirasah fi al-Zuhd wa al-Tasawwuf, hal. 15-17). Klaim sebagai pengemban risala akhlaqiyya memberi peluang bagi kemungkinan bahwa para sufi mampu menerima pengetahuan Tuhan berkat kebersihan hati mereka ketika mencapai tahapan ma’rifat dalam tahap-tahap muraqabah kepada Allah. Sebuah konsep mistik yang oleh Ibn ‘Arabi dikategorikan sebagai kemampuan para sufi dalam mencapai kedudukan yang disebutnya sebagai al-nubuwwat al-amma al-muktasabah (predikat kenabian umum yang dapat diusahakan). Berbeda dengan predikat para rasul dan nabi yang menerima nubuwwat al-ikhtisas (kenabian khusus) ketika mereka dipilih oleh Allah sebagai utusannya, kenabian umum bisa dicapai oleh siapa saja, bahkan setelah pintu kenabian tertutup sampai akhir zaman nanti (Abu Zayd, Hakadza Takallama Ibn Arabi, p.54).
Walhasil, dalam penafsiran sufi mufassirnya tidak menyajikan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an melalui jalan i’tibari dengan menelaah makna harfiah ayat secara zhahir, tetapi lebih pada menyuarakan signifikansi moral yang tersirat melalui penafsiran secara simbolik, atau dikenal dengan penafsiran isyari. Yaitu, bukan dengan mengungkapkan makna lahiriahnya seperti dipahami oleh penutur bahasa Arab kebanyakan, tetapi dengan mengungkapkan isyarat-isyarat yang tersembunyi guna mencapai makna batin yang dipahami oleh kalangan sufi.
Contoh karya yang menampilkan corak tafsir sufi adalah Tafsir al-Qur’ān al-Azhim, karya Sahl al-Tustarī (w.283 H); Haqā’iq al-Tafsīr karya Abu Abd al-Rahman al-Sulamī (w.412 H); Lata’if al-Isyarat karya al-Qusyairi, dan ‘Arā’is al-Bayān fī Haqā’iq al-Qur’ān karya al-Syirazī (w.606).

Tafsir Fiqhī
Bersamaan dengan lahirnya corak tafsir bil ma’tsūr, corak tafsir fiqhī juga muncul pada saat yang bersamaan, melalui penukilan riwayat yang sama tanpa ada pembedaan di antara keduanya. Ini terjadi lantaran kebanyakan masalah yang muncul dan menjadi bahan pertanyaan para sahabat sejak masa awal Islam, sampai pada generasi selanjutnya adalah masalah yang berkaitan dengan aspek hukum. Di sini, keputusan hukum yang bersumber dari al-Qur’an bisa muncul dengan cara melakukan penafsiran terhadapnya. Pada awal Islam, ketika menemukan sebuah masalah, maka yang selalu dilakukan oleh para sahabat adalah mengembalikan permasalahannya kepada Nabi SAW. Dengan begitu, Nabi SAW kemudian memberikan jawaban. Jawaban-jawaban Nabi SAW ini digambarkan sebagai bentuk penafsiran bi al-ma’tsūr, yang dengan muatan penjelasan tentang hukum Islam dapat pula disebut dengan tafsir fiqhī. Oleh karena itu, boleh dikatakan pula bahwa tafsir fiqhi muncul dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya ijtihad, yang hasilnya tentu saja sudah sangat banyak, dan diteruskan dari generasi ke generasi secara tulus sejak awal turunnya al-Qur’ān sampai masa penyusunan aliran-aliran hukum Islam menurut madzhab tertentu.
Pada masa pembentukan madzhab, beragam peristiwa yang menimpa kaum muslimin mengantarkan pada pembentukan hukum-hukum yang sebelumnya mungkin tidak pernah ada. Maka masing-masing Imam madzhab melakukan analisis terhadap kejadian-kejadian ini berdasarkan sandaran al-Qur’ān dan al-Sunnah, serta sumber-sumber ijtihad lainnya. Dengan itu, para imam memberikan keputusan hukum yang telah melalui pertimbangan pemikiran di dalam hatinya, dan meyakini bahwa hal yang dihasilkan itu merupakan sesuatu yang benar, yang didasarkan pada dalil-dalil dan argumentasi (Dzahabi, al-Tafsir Wal Mufassirun, iii, 99).
Faktor yang cukup mencolok berkaitan dengan kemunculan corak tafsir fiqhi adalah karya-karya yang menampilkan pandangan fiqih yang cukup sektarian, ketika kita menemukan tafsir fiqhi sebagai bagian dari perkembangan kitab-kitab fiqh yang disusun oleh para pendiri madzhab. Meskipun begitu, ada pula sebagian yang memberikan analisis dengan membandingkan perbedaan pandangan madzhab yang mereka anut.
Di antara kitab-kitab yang tergolong tafsir fiqhī adalah Ahkām al-Quran karya al-Jassās (w. 370 H); Ahkām al-Quran karya Ibn al-‘Arabi (w. 543 H); dan Al-Jāmi‘ li ahkām al-Quran karya al-Qurtubī (w. 671 H).

Tafsir Falsafī
Latar belakang yang menyebabkan munculnya corak penafsiran falsafi terhadap al-Qur’an adalah karena berkembang pesatnya gerakan penerjemahan yang dilakukan pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Gerakan penerjemahan ini telah membuka khazanah berbagai ilmu pengetahuan, termasuk pemikiran-pemikiran filsafat yang berasal dari tradisi Yunani. Ada dua reaksi atas perkembangan semacam ini:
Pertama, sebagian kelompok menolaknya, karena mereka mendapati ilmu itu bertentangan dengan agama, maka dikerahkanlah seluruh hidupnya untuk menolak dan menjauhkan orang-orang dari filsafat. Di antara para tokohnnya yang terkenal adalah Imam Ghazali, dan Fakhr al-Din al-Rāzī yang memaparkan dalam tafsirnya teori-teori filsafat yang jelas-jelas berada dalam pandangan yang bertentangan dengan agama, dan dengan al-Quran secara khusus. Maka mereka menolak sesuai dengan kadar yang bisa mencukupkan argumentasi dan mengkritik metodenya.
Kedua, kelompok yang sangat mengagumi filsafat dan menerima teori-teroi yang sebenarnya bertentangan dengan nass syariat, yang dipercaya bersifat pasti. Kelompok ini mengupayakan adanya keserasian antara falsafah dengan agama, dan menghilangkan pertentangan di antara keduanya. Akan tetapi, kelompok ini tidak sampai pada tahap penyesuaian yang benar-benar sempurna. Sebagaimana terlihat dalam penjelasan mereka terhadap ayat-ayat al-Quran yang berupa penjelasan yang disokong oleh teori-teori filsafat yang tidak mungkin dimiliki oleh nash al-Quran dalam kondisi apapun (Dzahabi, al-Tafsir Wal Mufassirun, iii, 83-90)
Kitab tafsir yang tergolong ke dalam corak penafsiran falsafi yang mewakili kelompok yang menolak filsafat adalah Mafātih al-Ghayb karya Fakhr al-Razī (w. 606 H), sedangkan dari kelompok yang kedua, menurut Husein al-Dzahabi, tidak ada karya yang bisa dikelompokkan sebagai sebuah karya tafsir selain dari penafsiran terhadap penggalan-penggalan ayat al-Qur’an yang terserak di antara kitab-kitab filsafat yang mereka susun.

Tafsir Ilmi
Alasan yang melahirkan penafsiran ilmiah adalah karena seruan al-Quran pada dasarnya adalah sebuah seruan ilmiah. Yaitu seruan yang didasarkan pada kebebasan akal dari keragu-raguan dan prasangka buruk, bahkan al-Quran mengajak untuk merenungkan fenomena alam semesta, atau seperti juga banyak kita jumpai ayat-ayat al-Quran ditutup dengan ungkapan-ungkapan, “Telah kami terangkan ayat-ayat ini bagi mereka yang miliki ilmu”, atau dengan ungkapan, “bagi kaum yang memiliki pemahaman”, atau dengan ungkpan, “bagi kaum yang berfikir.”
Apa yang dicakup oleh ayat-ayat kauniyah dengan makna-makna yang mendalam akan menunjukkan pada sebuah pandangan bagi pemerhati kajian dan pemikiran khususnya, bahwa merekalah yang dimaksudkan dalam perintah untuk mengungkap tabir pengetahuannya melalui perangkat ilmiah yang berkenaan dengan itu. Walhasil, ketika sebagian ulama menangkap hakikat bahwa al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir dan menguasai ilmu pengetahuan, mereka menyusun tafsir ayat-ayat kauniyah, menurut kaidah bahasa dan kelazimannya, menurut ukuran yang mereka bisa terangkan sebagai bagian ilmu yang bersumber dari agama mereka berdasarkan kesimpulan analisis yang mereka dapatkan dari kenyataan pula.
Karya yang bisa digolongkan dalam kelompok tafsir ilmi adalah Tafsir al-Kabīr karya Imam Fakh al-Razî dan Tafsir al-Jawahir karya Tantawi Jauhari. Sebagian ulama ada juga yang memasukkan beberapa karya seperti Ihyā’ ‘ulūm al-dīn, dan Jawāhir al-Quran karya Imam al-Ghazāli; serta al-Itqan karya al-Suyūtī sebagai karya yang mencerminkan corak tafsir ilmi ini, akan tetapi bila tafsir dipahami sebagai genre untuk karya yang menampilkan penafsiran al-Qur’an berdasarkan tata urutan ayatnya sesuai dengan mushaf, sebagaimana corak ini tergolong kepada metode tafsir tahlili, maka ketiga karya yang disebut terakhir tidak bisa di masukkan ke dalamnya.

Tafsir Adabi Ijtima’i
Corak Adabi Ijtima’i adalah corak penafsiran yang menekankan penjelasan tentang aspek-aspek yang terkait dengan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an (balaghah) yang menjadi dasar kemukjizatannya. Atas dasar itu mufassir menerangkan makna-makna ayat-ayat al-Qur’an, menampilkan sunnatullah yang tertuang di alam raya dan sistem-sistem sosial, sehingga ia dapat memberikan jalan keluar bagi persoalan kaum muslimin secara khusus, dan persoalan ummat manusia secara universal sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh al-Qur’an. Karya-karya tafsir yang dapat dimasukkan dalam kategori ini adalah Tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Rida (w. 1935), Tafsir al-Maraghi karya Mustafa al-Maraghi (w. 1945), dan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Syaltut.

Teori Nuzul dan Qadimnya al-Qur’an

17/12/2009

Memang nampaknya tidak dibahas secara eksplisit dalam kebanyakan literatur ulumul Qur’an kaitan erat antara teori tentang nuzulul Qur’an dengan pandangan teologis tentang kekal (qadim) atau baru (hadis)-nya al-Qur’an. Kaitan ini hanya bisa diamati dengan cara memilah perbedaan prinsip di antara pandangan-pandangan sekte teologis yang ada dalam Islam seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, atau kaum Salaf dalam memahami konsep nuzul atau turunnya al-Qur’an.

Apa yang dipaparkan oleh Manna’ Qattan, misalnya, dalam Mabahis fi ulum al-Qur’an (hal 100-105) menegaskan pembagian teori nuzulul Qur’an ke dalam tiga pendapat:
Pertama, Al-Qur’an diturunkan sekaligus pada kali pertama ke baitul ‘izzah di langit dunia, sesudah itu diturun secara berangsur-angsur kepada nabi Muhammad selama kurun waktu 23 tahun. Pendapat ini disandarkan kepada riwayat Ibn Abbas yang menyitir penafsiran terhadap QS 25:33 dan QS 17:106.
Kedua, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur, dimulai sejak Nabi menerima wahyu pada malam qadar dan berlangsung seterusnya dalam kesempatan yang berbeda-beda selama 23 tahun. Pendapat ini menegaskan perbedaan al-Qur’an dengan kitab-kitab suci agama samawi lain yang diturunkan sekaligus; sebagaimana orang-orang kafir Quraisy juga menginginkan al-Qur’an diturunkan dengan cara yang sama (QS. 25:32). Pendapat ini dinisbatkan kepada Amir bin Syurahil as-Sya’bi (w.109 H), salah seorang tabi’i terkenal yang menjadi guru Imam Abu Hanifa.
Ketiga, Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia selama 23 malam lamanya. Peristiwa ini berlangsung di setiap malam qadar. Kadar wahyu yang turun di malam qadar di setiap tahunnya sama dengan wahyu yang diturunkan secara berangsur-angsur untuk sepanjang setahun penuh. Begitu seterusnya sampai 23 tahun lamanya, sehingga ada total 23 malam qadar. Pendapat ini adalah ijtihad sebagian mufassir tanpa disertai dalil yang jelas (Qattan:103).

Dari ketiga pendapat di atas, terdapat perbedaan signifikan antara kelompok yang menegaskan al-Qur’an turun sekaligus terlebih dahulu ke langit dunia, baru kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, dan kelompok yang menegaskan bahwa sejak awal al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Pemahaman berbeda yang didasarkan pada dua riwayat “tafsir” yang berbeda pula antara Ibn Abbas dan As-Sya’bi memicu terjadinya pertentangan pandangan teologis dalam perkembangan diskursus kalam pada masa-mamsa selanjutnya.

Perbedaan sandaran riwayat di atas mendasari perbedaan cara pandang teologis mengenai status kalam antara kelompok tradisional dan kelompok rasional. Riwayat Ibn Abbas menegaskan sebuah pandangan tradisional bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus dan menjadi dasar bagi argumen teologis kalangan Asy’ariyah di belakang hari yang menyatakan bahwa al-Qur’an yang merupakan kalamullah adalah bagian dari sifat Dzatiyah Tuhan. Di sini, mereka mendefinisikan sifat sebagai “sesuatu yang berbeda dengan Dzat, tetapi tidak bisa dipisahkan dari Dzat-nya”. Argumen inilah yang meneguhkan pandangan teologis kelompok ini bahwa al-Qur’an bersifat kekal (qadim), karena al-Qur’an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sifat dzat Allah yang kekal, yaitu sifat kalam. Kekekalan kalam Tuhan inilah yang mendorong terbentuknya formula tentang “gambaran wujud al-Qur’an yang sudah ada sejak awal, yaitu dalam wujud nash yang tertera di Lauh Mahfuzh, yang kemudian diturunkan sekaligus ke langit dunia. Dalam hal ini, proses “tanzil” terjadi dua macam “proses turun”, yaitu turun sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah, dan turunnya al-Qur’an secara berangsur dari langit dunia sesuai dengan tuntutan peristiwa dan faktor pendorong (asbab) yang menyebabkan turunnya (lihat Mafhumun Nass, 113).

Berbeda dengan kelompok tradisional, kalangan rasional mengklasifikasikan sifat kalam Tuhan sebagai bagian dari sifat perbuatan Tuhan (sifatul fi’li). Akibatnya, sebagai hasil pekerjaan, kalam dianggap sebagai bentuk ciptaan yang baru, terpisah dari Dzat Tuhan, dan tidak kekal. Pandangan ini sesuai dengan teori nuzulul Qur’an yang dipahami sebagai turun berangsur-angsur sejak awal. Dalam hal ini ilustrasi perbuatan Tuhan dalam berkalam yang menghasilkan al-Qur’an sama saja dengan keberlangsungan perbuatan Tuhan dalam mencipta yang menghasilkan kreasi ciptaan sesuai kehendak-Nya di sepanjang masa.

Walhasil, teori nuzul yang sedikitnya disandarkan pada dua riwayat tafsir yang berbeda di atas: Ibn Abbas dan Asy-Sya’bi, merupakan dua titik pangkal bagi formulasi pandangan teologis yang secara dikhotomis membagi diskursus kalam di masa kemudian yang mencirikan perbedaan diametral antara pandangan teologis kelompok tradisional yang menyatakan al-Qur’an qadim dan pandangan kelompok rasional yang menganggap al-Qur’an sebagai ciptaan. Begitu sengitnya perbedaan dua pandangan teologis ini sampai-sampai pertentangan ini membawa tragedi kelam dalam perkembangan sejarah intelektual Islam yang menyeret Imam Ahmad b. Hanbal ke dalam penjara khalifah al-Ma’mun lantaran ia tidak mau mengakui bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Imam Ahmad baru bisa dibebaskan setelah khalifah al-Mu’tasim yang menggantikan al-Ma’mun menganti faham resmi kekhalifahan Abbasiyah dari mengikuti aliran Mu’tazilah menjadi faham tradisional sunni. Dari kemenangan kelompok sunni inilah ortodoksi Islam dibangun pada akhir masa klasik hingga masa selanjutnya yang mengetengahkan kelompok kalam aliran Asy’ariyah sebagai pembela pandangan keabadian al-Qur’an. Wallahu a’lam


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.