Memahami Konsep Wahyu

Apakah wahyu itu? Arti harfiah dari wahyu adalah isyarat yang cepat dan bersifat rahasia. Oleh karena itu, wahyu terkait dengan proses komunikasi, meskipun ada juga yang memahami wahyu sebagai pesan/obyek informasi yang dikomunikasikan.

Bagaimana konsep komunikasi ini bisa dipahami? Mungkinkah konsep komunikasi semacam wahyu tersebut? Mari kita bawa pikiran kita pada masa Nabi Muhammad 15 abad yang lalu. Apa yang bisa kita bayangkan tentang sebuah penerimaan informasi secara cepat dan rahasia? Jawabannya secara sosiologis ditemukan pada fenomena keberadaan dan peran tukang tenung dan para penyair. Tukang tenung dan penyair ulung mendapatkan informasi spektakuler tentang ramalan nasib manusia melalui berita yang dicuri dari langit melalui jin sebagai perantara. Begitu juga jin menjadi pemberi inspirasi kepada penyair dalam menggubah syair-syair yang bernilai sastra unggul. Para penyair sering dijuluki “majnun” yang berarti “gila”, atau “dipengaruhi jin”. Fenomena ini sudah dikenal secara merata di seluruh Arabia, di mana para penyair jahiliah terkenal dengan syair-syairnya yang bernilai tinggi, sementara para tukang tenung memiliki ramalan yang jitu tentang masa depan seseorang. Dengan perantara mahkluk halus seperti jin inilah proses komunikasi yang terjadi dari “alam atas” bisa diterima oleh manusia yang menjadi penghuni “alam bawah”. Kerangka berpikir yang sama juga bisa diterapkan dalam memahami konsep “wahyu” dalam Islam.

Bagaimana Islam membentuk konsep wahyu? Manusia/Nabi diyakini menerima informasi atau pesan Tuhan yang disampaikan melalui perantaraan “malaikat”, makhluk ruhaniah yang memiliki karakter sebagai para pesuruh Tuhan (rusul) yang tidak pernah membangkang, selalu patuh (QS. 66:6). Al-Qur’an membantah bila informan yang menjadi perantara Muhammad adalah jin (QS 62:2; 81:22). Oleh karena itulah berita yang dibawakan melalui wahyu yang diterima oleh Muhamamd bersifat terpercaya, sangat pasti kebenarannya, karena pembawanya adalah agen yang terpercaya (ruhul amin). Di sini, wahyu tidak mungkin mengandung kesalahan karena pesan itu benar-benar berasal dari Tuhan, sumber kebenaran, melalui perantara yang terpercaya, dan sampai kepada pribadi yang agung, Muhammad yang sebelum diangkat menjadi nabi juga dijuluki al-Amin, pribadi yang terpercaya. Konsep tentang malaikat dan karakter kenabian yang berdasar pada nilai keterpercayaan inilah yang menopang argumentasi kebenaran al-Qur’an.

Dari semua pertimbangan tersebut di atas, wahyu harus diterima sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran mutlak yang datang dari Tuhan. Intinya kemudian manusia diminta untuk percaya, meski bukan hanya percaya saja, tetapi juga mesti dibuktikan dengan bukti-bukti bahwa semua alat yang berperan menyempaikan wahyu juga harus dipercaya sebagai syarat kesahihannya. Di sinilah rukun iman memiliki nilai penting dalam Islam. Percaya kepada Allah, sumber wahyu. Kepada malaikat, perantara wahyu. Percaya kepada kitab, isi/pesan/informasi wahyu itu sendiri. Percaya kepada Rasul, penerima wahyu. Dan kiamat serta takdir sebagai hal pokok yang harus dipercaya sebagai informasi yang dibawa melalui wahyu yang akan terbukti kebenarannya di akhir zaman nanti.[]

522px-Cave_Hira

 

Satu Tanggapan to “Memahami Konsep Wahyu”

  1. Wahyu « Ulum al-Qur'an Says:

    […] https://anwarsy.wordpress.com/2009/11/02/memahami-konsep-wahyu-2/ Like this:SukaBe the first to like this post. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: