Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an

Pengertian
Makna Jam’
– Menghafalkan – jumma’ al-Qur’an = huffazh. Ada 7 huffazh yang terkenal:
• Abdullah b Mas’ud
• Salim b Ma’qal maula Abu Hudzaifa
• Mu’adz b Jabal
• Ubay b Ka’ab
• Zayd b Tsabit
• Abu Zayd b al-Sukun
• Abu Darda’
– Menuliskan – nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan al-Qur’an sesaat setelah turun wahyu.
• Beberapa sahabat yang terkenal sebagai penulis wahyu:
– Ali
– Mu’awiya
– Ubay b Ka’ab
– Zayd b Tsabit
• Beberapa media yang digunakan: potongan tulang, daun-daunan, kayu, kulit biatang, batu, dll.

Masa Abu Bakr
• Latar belakang:
– 70 huffazh gugur pada saat perang Yamama (12 H).
– Umar Khawatir al-Qur’an akan hilang dengan meninggalnya huffazh tersebut.
– Al-Qur’an sudah dituliskan pada masa NAbi SAW, tetapi masih terserak-serak.
– Perlu dilakukan upaya pengumpulan tulisan-tulisan itu secara formal dalam sebuah mushaf.
• Abu Bakr kemudian memerintahkan proyek pengumpulan al-Qur’an sehingga terkmpul dalam sbeuah mushaf.
• Sebenarnya masih ada sahabat yang memegang mushaf pribadi, tetapi bebrbeda dalam hal tata urutan ayat dan surat, penghapusan ayat-ayat mansukh, dan kesepatakan terhadap persoalan tersebut.
• Penamaan al-Qur’an sebagai “mushaf” bermula pada periode pengumpulan al-Qur’an masa Abu Bakr ini.

Masa Utsman
• Latar belakang:
– Penaklukan Islam meluas,
– Qurra’ tersebar di berbagai kota,
– Penduduk sebuah kota mengambil bacaan al-Qur’an dari sahabat yang ada di sana,
– Ada perbedaan cara membaca (qiraat)
– Jika terjadi perang, maka kaum muslimin berkumpul, dan mengagungkan bacaan masing-masing,
– Mereka menganggap bahwa kesemua bacaan tersebut bersumber dari Nabi SAW,
– Tapi ada keraguan terhadap klaim sandaran bacaan dari Nabi ini, yang berujung pada pertikaian.
• Pada saat perang penaklukan Arminia dan Azerbaijan, Hudzayfa b al-Yaman menyaksikan pertikaian tentang bacaan ini, antara ahlu Syam dengan ahlu Iraq yang bahkan saling mengkafirkan.
• Persoalan ini terdengar oleh Utsman, sehingga ia memerintahkan upaya kodifikasi al-Qur’an berdasarkan dialek bahasa Quraisy, karena Nabi seorang Quraisy.
• Komite yang dibentuk Utsman terdiri dari:
– Zayd b Tsabit
– Abdullah b Zubayr
– Sa’id b al-Ash
– Abdurrahman b Harits b Hisyam
• Ada berapa naskah yang dihasilkan saat itu:
– Ada 7 Makkah, Syam, Basra, Kufa, Yaman, Bahrain, Madina
– Ada 4 saja: Iraqi, Syami, Misri, dan Mushaf Imam. Atau kekempatnya adalah Kufi, Basri, Syami, Mushaf Imam.
– Ada 5, kata Suyuti, ini pandangan yang paling masyhur.

Sumber: Manna’ Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an.

2 Tanggapan to “Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an”

  1. cyntia Says:

    pak, bagaimana proses pengkodifikasian surat-surat dalam alquran?
    alquran diturunkan secara berangsur-angsur, namun kemudian bagaimana bisa al-quran sampai tersusun antara surat-surat dan ayat-ayat yang turun berceceran sesuai historis/kejadian alasan kenapa ayat itu diturunkan. mohon penjelasannya pak,?

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Jika anda percaya bahwa al-QUr’an itu qadim, kekal, maka susunan al-Qur’an pastinya sudah terbentuk sebelum turun ke dunia. Di sini, cetak biru al-Qurán tidak berubah, sudah sejak awalnya tertulis begitu di lauh mahfuzh. jika kemudian para ulama tradisional menganggap bahwa al-Qurán turun sekaligus pada awalnya ke langit dunia, lalu turun berangsur-berangsur sesudah itu selama kurun waktu 23 tahun, maka susunan surat dan ayat al-Qur’an sudah diketahui sebelum turunnya (lihat ). Jibril sebagai malaikat yang diperintahkan menurunkan wahyu merupakan salah satu pihak yang mengetahui susunan ayat dan surat ini. Di setiap kesempatan menurunkan wahyu, Jibril selalu memberitahu kepada Rasulullah, di mana wahyu tersebut harus diletakkan, sehingga Rasulullah sebagai pihak yang menerima wahyu sudah semestinya tahu di mana letak wahyu bagian wahyu yang turun itu. Jadi, susunan ayat dan surat dianggap sebagai bentuk tauqifi.

      Kalau kemudian kodifikasi al-Qur’an dibuat belakangan, sesudah Rasulullah wafat, maka hal tersebut hanyalah tentang penulisan dan pengmpulan agar tersatukan menjadi sebuah mushaf saja. Namun, bentuk urut-urut al-Qur’an sudah dikenal sejak masa turunnya wahyu ketika Rasulullah masih hidup.

      Beberapa kalangan yang menganggap turunnya al-Qurán berangsur-angsur sejak awal, umumnya mereka tidak memandang al-Qur’an sebagai sifat yang kekal, karena mereka menganggap al-Qurán sebagai ciptaan Allah yang baru, sama seperti Allah menciptakan alam semesta dari kata kreatif-Nya, kun! fayakun. Jadilah! Maka jadilah!!! di sini, sebagian mereka menganggap bahwa susunan surat bersifat ijtihadi, yaitu ijtihad Zaid bin Tsabit yang ditugasi menulis ulang dalam mushaf. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: