Ulumul Qur’an dan Klasifikasinya

Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu yang terkait dengan al-Qur’an. Di antara karya-karya yang membahas Ulumul Qur’an dalam sejarah perkembangan kesarjanaan Islam, dapat disebutkan di sini seperti:
Muhammad b. ‘Alî al-Adfawî (w. 388) al-Istighnâ’ fî ulum al-ul-Qur’an;
Ibn al-jawzi (w. 597) Funûn al-Afnân fi ‘ajâ’ib ulum al-Qur’ân;
Badr al-Din Zarkâsyî (w. 794) al-Burhan fi Ulûm al-Qur’an;
Jalal al-Din al-Bulqini (w. 824) mawaqi’ al-‘ulum min mawâqi’ al-nuzûl;
Jalal al-Din al-Suyûtî (w. 911) al-Itqân fî ‘ulûm al-Qur’ân;
Tâhir al-Jazâ’irî, al-Tibyân fî ‘ ulûm al-Qur’ân;
Muhammad ‘Alî Salama Manhaj al-Furqân fî ‘ulûm al-Qur’ân;
‘Abd al-Azîm al-Zarqânî Manâhil al-‘Irfân fî ‘Ulûm al-Qur’an;
Ahmad Ahmad Ali Madzkara fi ulum al-Qur’an;
Subhi Salih Mabahis Fi Ulum al-Qur’an;
Manna Khalil Qattan, Mabahits fi ulum al-Qur’an;
Nasr Abu Zayd, Mafhum al-Nass dirasah fi Ulum al-Quran.
Lalu apa sajakah jenis-jenis disiplin keilmuan yang termasuk Ulumul Qur’an? berikut list yang terdapat dalamal-Itqan fi Ulum al-Qur’an menurut Jalaluddin al-Suyuti:

1 Ma’rifat al-Makkî wa al-Madanî
2 Ma’rifat al-Hadari wa al-Safarî
3 Ma’rifat al-Nahâri wa al-Layâlî
4 Ma’rifat al-Saifi wa al-Shita’î
5 Ma’rifat al-Firashi wa al-Nawmi
6 Ma’rifat al-Ardi wa al-Sama’i
7 Ma’rifat Awwalu ma nuzil
8 Ma’rifat Akhiru ma nuzil
9 Asbab al-nuzul
10 Ma nuzila ala lisan ba’d al-sahaba
11 Ma takarrara nuzuluhi
12 Ma ta’akhkhara hukmuhu ‘an nuzulihi wa ma ta’akhkhara nuzuluhu an hukmihi
13 Ma nuzila mufarraqan wa ma nuzila jama’a
14 Ma nuzila mushi’an wa ma nuzila mufradan
15 Ma anzala minhu alâ ba’d al-anbiya’ wa ma lam yanzal ala ahad qabl al-nabi
16 Kayfiyatu inzâlihi
17 Ma’rifat asma’ihi wa asma’i suwarihi
18 Jam‘ihi wa tartibihi
19 Adadi suwarihi wa ayatihi wa hurufihi
20 Fi ma’rifat huffazhihi wa ruwatihi
21 Ma’rifat al-‘ali wa al-nazil min asanidihi
22 Mutawatir
23 Mashhur
24 Ahad
25 Shadz
26 Mawdu’
27 Mudraj
28 Ma’rifat al-waqf wa al-ibtida’
29 Fi bayan mauwsul lafzhan wa mawsul ma’nan
30 Fi al-imalah wa al-fath wa mâ baynahuma
31 Fi ala-idgham, Izhhar, Ikhfa’, wa Iqlab
32 Fi al-madd wa al-qasr
33 Fi takhfif al-hamzi
34 Kayfiyati tahammulihi
35 Fi adabi tilawatihi wa talahu
36 Ma’rifat gharibihi
37 Fi ma waqa’a fihi bi ghayri lughat al-hijaz
38 Fima waqa’a fihi bighayri lughat al-‘Arab
39 Ma’rifat al-wujuh wa al-nazhair
40 Ma’rifat adawat allati yahtaju ilayhi al-mufassir
41 Ma’rifat I’râbihi
42 Fi qawa’id muhimma yahtaju al-mufassir ila ma’rifatiha
43 Fi al-muhkam wa al-mutashabih
44 Fi muqaddamihu wa mu’akhkharihu
45 Fi ‘amihi wa khasihi
46 Fi mujmalihi
47 Fi nasikhihi wa mansukhih
48 Mushkilihi wa mawhim al-ikhtilaf wa al-tanaqud
49 Mutlaqihi wa muqayyadihi
50 Fi mantuqihi wa mafhumihi
51 Fi jami’i mukhatabatihi
52 Fi haqiqatihi wa majazihi
53 Fi tashbihihi wa isti’aratihi
54 Fi kinayatihi wa ta’ridihi
55 Fi al-hasri wa al-ikhtisas
56 Fi al-ijaz wa al-itnab
57 Fi al-khabar wa al-insha’
58 Fi bada’i‘ al-Qur’an
59 Fi fawâsil al-Ay
60 Fi fawatih al-suwar
61 Fi khawatim al-suwar
62 Fi munasabat al-ay wa al-suwar
63 Fi al-ayat al-mushtabihat
64 Fi I’jaz al-Qur’an
65 Fi al-‘ulum al-mustanbata min al-Qur’an
66 Fi amthalihi
67 Fi aqsamihi
68 Fi jadalihi
69 Fi al-sama’ wa al-kuna wa al-alqab
70 Fi mubhamatihi
71 Fi asma’i man nasala fihim al-Qur’an
72 Fi fadail al-Qur’an
73 Fi fadl al-Qur’an wa fâdilihi
74 Fi mufradat al-Qur’an
75 Fi khawas al-Qur’an
76 Fi marsum al-khatt
77 Fi ma’rifat tafsirihi wa ta’wilihi
78 Fi ma’rifat syurut al-mufassir wa adabihi
79 Fi ghara’ib al-tafsir
80 Fi tabaqat al-mufassirin

13 Tanggapan to “Ulumul Qur’an dan Klasifikasinya”

  1. Anwar Syarifuddin Says:

    catatan:
    Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesia dari ke-80 istilah dalam al-Itqan yang menerangkan kategori (nau’) yang menandai cabang-cabang ilmu dalam disiplin ilmu-ilmu al-Qur’an (ulumul Qur’an) menurut Al-Suyuti dapat dilihat daftarnya dalam Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan al-Qur’an (terj. Machasin) Jakarta: INIS, 1997 hal. 11-13.

  2. Hoeda Says:

    assalamu’alaikum
    melanjutkan yang di kelas kemarin pak. dalam ushul fikh, penunjukan teks pada makna ada yang bersifat pasti dan ada yang bersifat zhanni. dilalah (versi syafi’iyyah) diklasifikasikan dalam dua bentuk mantuq dan mafhum. dilalah mantuq meniscayakan kepastian makna dalam sebuah teks (qat’iyyud dilalah). Hal ini berbeda dengan dilalah mafhum yang cenderung zhanni, tidak pasti, dan ada kemungkinan lain (zhanniyud dilalah).
    ketika bapak menggunakan argumen bahwa tidak ada yang pasti (benar), selain Al-Haqq (Allah), yang berkonsekuensi bahwa dilalah (penunjukan) suatu lafad pada makna tidak ada yang pasti, karena lafad itu bukan al-haqq itu sendiri, bagaimana kita bisa menjelaskan fungsi konsep mantuq dalam memahami teks? kalau toh kita memahami bahwa tiada yang pasti selain yang maha pasti itu sendiri? sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas jawabannya?

    • Anwar Syarifuddin Says:

      Konsep “mantuq” dan “mafhum” saya kira lebih baik dipahami dalam kaitan penunjukan makna antara yang “tersurat” dan “tersirat”, sementara qat’i dan zhanni itu muncul berkaitan dengan problem kualitas makna dari informasi/berita terkait dengan sistem transmisinya atau sederhananya adalah makna em>sam’iyah sehingga mungkin perlu dipilah agar menjadi lebih jelas.
      Di kelas, kita bicara tentang perbandingan antara al-Qur’an yang diriwayatkan secara mutawatir sehingga dianggap qat’i (tepatnya qat’i tsubut), dengan hadis ahad yang bersifat zhanni (tepatnya zhanni tsubut). Dilalah dari lafazh al-Qur’an bisa saja qat’i seperti makna yang tersurat (mantuq), bisa juga zhanni seperti ayat-ayat yang dita’wilkan. Makna yang diambil dari hadis ahad bisa berupa dilalah yang qat’i jika didukung oleh argumentasi lain (mafhum) dari ayat al-Qur’an yang bersifat qat’i, dan bisa juga hanya bersifat zhanni saja.

      Terkait dengan problem penafsiran, atau katakanlah pengambilan makna terhadap ayat al-Qur’an, seperti yang kita bicarakan di kelas, maka dapat saya tegaskan sekali lagi bahwa hierarki pengambilan makna yang paling valid (seperti dipahami oleh Ibn Taymiyyah yang diikuti Ibn Katsir) harus dimulai dengan (1) penjelasan dalam bahagian lain al-Qur’an; jika tidak ditemukan maka barulah (2) merujuk hadis Nabi (dengan mempertimbangkan kuantitas dan kualitas sanad/matan tentunya). Jika tidak ditemukan juga, maka barulah dicarikan melalui (3) upaya ijtihad. Dalama kategori ketiga inilah tafsir yang diambil dari qaul sahabi menempati posisi utama, baru kemudian tabiin, dst. Prinsip penafsiran seperti ini jelas mencerminkan corak penafsiran bil ma’tsur, di mana Ibn Taymiyah dan Ibn Katsir menjadi tokoh utama. Dari prinsip penafsiran di atas jelas bahwa makna yang qat’i cenderung dianggap lebih utama dibandingkan yang bersifat zhanni.

      Bila kemudian kita kaitkan lebih jauh dengan problem tentang perolehan kebenaran dalam tafsir, maka yang perlu ditegaskan lebih dulu di sini adalah “al-Qur’an itu benar” karena selain berasal dari Allah Yang Maha Benar, pesan al-Qur’an ditransimisikan secara mutawatir (qat’i tsubut), dan jika mengambil makna tersurat (mantuq) dari nash-nya, atau makna zhahir yang ditunjang dengan penjelasan ayat al-Qur’an dalam bahagian lainnya, maka makna itu dianggap sebagai makna yang paling utama (qat’i dalalah). Dalam kaitan ini, konsep tafsir (seperti dipahami dalam definisi ulama mutaakhirin) didefinisikan sebagai penetapan suatu makna bagi lafazh al-Qur’an sebagaimana dikehendaki oleh Allah dengan kalamnya. Persoalan muncul ketika tidak banyak ayat-ayat yang dijelaskan melalui makna tersurat dalam bahagian lain al-Qur’an, demikian pula hadis-hadis yang diungkapkan oleh Nabi berdasarkan mafhum al-Qur’an tidaklah menjelaskan keseluruhan ayat al-Qur’an. Jika al-Qur’an dianggap benar secara mutlak, begitu pula perkataan Nabi karena dibimbing oleh wahyu, maka penafsiran al-Qur’an yang dilakukan di luar itu harus dianggap sebagai upaya ijtihadi yang nilai kebenarannya bersifat relatif: bisa jadi benar, bisa juga salah. Persoalan inilah yang harus kita fahami. Kebenaran yang mutlak hanya milik Allah, sementara kebenaran yang berasal dari diri manusia hanyalah sebuah refleksi dari pancaran cahaya kebenaran yang seutuhnya milik Allah. Wallahu a’lam

  3. Huda Says:

    Assalamu’laikum,
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena bapak telah mengapresiasi pertanyaan saya.
    Kembali ke tema dilalah. Dari uraian bapak saya memahami, bahwa pada dasarnya, konsep qat’i-zhanni dan mantuq-mafhum berangkat dari titik tolak yang berbeda. Konsep qat’i-zhanni bermula dari problem transimi, sedangkan mafhum-mantuq bersumber dari penunjukkan yang jelas (tersurat) dan tidak jelas (tersirat) atau murni prolem teks. Kadang kala, kedua konsep ini dapat bertemu pada satu muara, yakni teks tertentu yang, ketepatan, selain memiliki dilalah nash (yang bercirikan jelas, tersurat, tidak perlu dipertanyakan lagi, dan tidak bisa dialihkan ke makna lain), juga memiliki dilalah qat’i (kualitas makna yang bersumber dari problem transimisi-sima’inya).
    Dalam hal ini, sepertinya kita hanya memahami konsep qat’i (dilalah) hanya bersumber dari problem transmisi saja. Mengesamping ‘kemampuan’ teks itu sendiri untuk menunjukkan maknanya. Padahal, jika kita perhatikan lebih lanjut, ‘kemampuan’ teks untuk menunjukkan satu makna (mengeyampingkan makna lain) ternyata bersumber dari diri teks itu sendiri. Seperti dilalah yang ada dalam kata ‘Tiga’. Tentu menegaskan satu makna tersurat (jelas dan tidak bisa dimaknai lain), dan menegasikan makna lain. Apakah ketika sebuah teks memiliki dilalah nash (mantuq), penunjukan (dilalah) itu tidak cukup dianggap qat’i (pasti, kuat, dan tidak dapat diganggu gugat). Terlepas dari ada-tidaknya problem dari sisi transimi? Apakah dengan demikian teks yang memiliki dilalah nash (mantuq) berarti tidak ada? Dan seluruh teks pada dasarnya memiliki penunjukan makna yang nisbi, zhanni, dan relatif?
    Lalu tentang sumber penguat (penentu) satu makna, apakah seluruhnya dikembalikan kepada teks-teks pula? Sperti yang dikutip dari Ibnu Taimiah dan Ibnu Katsir? Padahal seluruh teks memiliki penunjukan yang sama2 nisbi dan tidak valid? Jika demikian, saya malah lebih setuju jika dikatakan penguat (penentu) satu makna adalah kesepakatan sekelompok manusia itu sendiri. atau kalau dalam tradisi ushul lebih dikenal dengan nama ijma’. Mohon penjelasannya. Dan sebelumnya kula aturaken matur nuwun pak..

    • Anwar Syarifuddin Says:

      Jarak yang memisahkan antara teks dengan pembaca selalu memunculkan problem transmisi, dengan cara apa dan oleh siapa teks itu sampai ke tangan pembacanya di kemudian hari. Faktor inilah yang menentukan sebuah teks bisa dianggap terpercaya (reliable) atau dusta. Adanya kesepakatan tercermin dalam khabar yang mutawatir, ketika banyaknya perawi menandai kekuatan (qat’i) sebuah teks: mustahil mereka sepakat untuk berdusta. Jika anda meyakini adanya otonomi teks dalam penunjukan maknanya, seperti teori pemahaman dalam hermeneutika ontologis, misalnya; maka sikap para mufassir dengan membiarkan al-Qur’an berbicara atas nama dirinya sendiri sebenarnya mencerminkan adanya otonomi itu. Tetapi, ini berlaku sepanjang berada dalam koridor makna tersurat (mantuq), dengan merujuk makna tekstual (nash), ataupun juga makna zhahir yang memang disepakati oleh penutur suatu bahasa. Di luar itu, seperti penunjukan terhadap makna konseptual mafhum yang menyertakan peran rasio, derajatnya tidak lagi seratus persen diyakini, tetapi sudah menjadi zhanni.

      Walhasil, baik konsep qat’i ataupun dengan menyertakan dalalah mantuq dalam diskursus penafsiran al-Qur’an, hasil penafsiran yang dianggap pasti benar selalu merujuk kepada al-Qur’an itu sendiri yang selain bersifat mutlak karena berasal dari Allah, sistem transmisinya juga mutawatir sehingga menjadi qat’i. Dalam diskursus tentang bahasa manusia, jika secara ontologis dipercaya berasal dari hasil pengajaran Tuhan kepada Adam (QS 2:30), maka kebenaran itupun berasal dari Tuhan juga. Tuhan menjadi sumber kebenaran yang bersifat mutlak, dan jika ada kebenaran lain di luar itu, maka kebenaran itu relatif yang menjadi refleksi atau pantulan dari kebenaran Tuhan tadi. Di sini, jika baik secara ontologis atau epistemologis Tuhan disifati dengan Cahaya (an-Nur) yang juga menjadi pangkal ajaran Tauhid dalam Islam, maka penafsiran al-Ghazali terhadap QS 24:35 dalam kitab Misykatul Anwar meneguhkan hegemoni Tuhan dalam masalah ini.

  4. Huda Yo-i Says:

    Assalamu’alaikum
    Terima kasih bapak. Sepertinya menarik jika dikaitkan dengan hermenetik, sperti yang telah bapak uraikan.

    Lanjut pak! Apakah hermenetik ontologi itu sebuah aliran dalam kajian hermentik? Sebelumnya mohon maaf, saya belum banyak tahu tentang aliran2 dalam hermenetik.

    Namun salah seorang tokohnya, yang saya kenal dengan “supremasi teks”-nya adalah Gadamer. ‘Biarkan teks menunjukkan apa yang dikehendakinya.’ Jika demikian, maka akan tercium aroma literalis dalam penalaran.

    Dalam sejarah Islam, kecenderungan tekstual, atau pokoknya terserah apa yang dikehendaki teks, pernah muncuk kelompok yang sering disebut Zhahiriah. Yang menerapkan kuasa teks melebihi segalanya. Atau Hanbalian yang memiliki kecenderungan ini, namun agak lebih lunak. Namun sepertinya, ketika cara pandang ini diterapkan, akan banyak realitas di luar teks yang sulit diakomodir dalam proses penalaran. Jika demikian (karena mengabaikan kontek) maka bukankah pemahaman akan menjadi absurd, ahistoris, atau mengesampingkan peran realitas? Padahal, konsep asbabun nuzul dan makki-madani dalam kajian ulumul Quran, menunjukkan kepada kita tentang kaitan erat antara teks dan konteks. Padahal, pemahaman tentang konteks ayat umpanya (dengan asbabun nuzulnya), sangat membantu menjelaskan maksud ayat.

    Kalau boleh, buku apa yang dapat membantu saya dengan mudah dalam memahami tema ‘otoritas teks’ ini pak. Sbelumnya, saya mohon maaf, telah merepotkan.

  5. Anwar Syarifuddin Says:

    Sebenarnya, hermeneutika merupakan sebuah cabang ilmu yang memiliki banyak kecenderungan, meski dalam sebuah aliran tertentu, karena dispute dan perdebatan menjadi ciri dari hermenutika itu sendiri. Persoalan pemahaman ontologis dalam bahasa, misalnya tidak sesederhana diasosikan sebagai otonomi teks, karena ada perbedaan kecenderungan dalam aliran hermeneutika antara yang memihak pemahaman rekonstruktif dan konstruktif yang menempatkan pengarang dan pembaca dalam posisi berbeda. Sederhananya, apakah sebuah teks harus dipahami menurut pengarangnya secara obyektif melalui upaya rekonstruksi ataukah bisa saja dipahami menurut konstruk pemahaman pembacanya secara subyektif? Perdebatan ini mewarnaia perkembangan teori pemahaman modern yang tidak bisa dijelaskan secara sederhana dan singkat karena butuh perkuliahan tersendiri. Secara formal untuk mahasiswa TH akan diberikan mata kuliah hermenutika pada semester 6, jika masih ada dan dikehendaki, yang sebagiannya juga menjadi salah satu tema pembahasan dalam mata kuliah yang saya asuh, yaitu MPTH, sehingga literaturnya bisa dilihat di silabusnya.

    Persoalan utama dalam memahami pesan al-Qur’an, terkait dengan hierarkhi penafsiran, adalah kenyataan tentang tidak semua ayat didapatkan penjelasannya dalam bahagian lain al-Qur’an. Hanya sedikit saja persoalan yang mendapatkan penjelasan semacam itu. Sunnah diperlukan dalam posisi sebagai penjelas, sehingga posisi Nabi sebagai “syari'” menjadi penting. Sebagai contoh, perintah mendirikan salat sudah sangat jelas dalam al-Qur’an, tetapi bagaimana cara salat itu dilakukan hanya dapat ditemukan rinciannya dalam hadis. Persoalan mantuq-mafhum, qat’i-zhanni bukan dua hal yang berlawanan secara diametral, tetapi cenderung dipakai dalam kategorisasi usul-furu’, aqidah-ahkam, yang keduanya saling melengkapi sehingga tidak perlu dipertentangkan bahwa yang pertama lebih utama dari yang kedua yang memicu munculnya faham zhahiriyah. Pemahaman yang berpijak pada konteks juga menjadi penting, misalnya untuk melihat bahwa perintah mendirikan salat malam menjadi wajib hanya bagi Nabi, tetapi tidak untuk seluruh ummatnya, dll. Persoalan semacam inilah yang menegaskan perlunya sunnah sebagai elemen tafsir yang menjelaskan pesan al-Qur’an. Persoalannya kemudian tidak berhenti sampai di sini, ketika tidak semua penjelasan yang diinginkan dari pesan al-Qur’an ditemukan di dalam sunnah dan riwayat hadis. Kecenderungan tekstualis dipegangi oleh aliran fiqh Hanbali, sehingga mengutamakan hadis dha’if dalam hierarkhi istinbat. Tetapi kecenderungan moderat yang memadukan teks dan konteks memakai berbagai perangkat ijtihadi untuk menjawab persoalan yang belum ditemukan jawabannya baik di dalam al-Qur’an maupun sunnah yang sahih dari Rasul. Di sinilah aspek tafsir sebagai bagian dari upaya ijtihad berkembang dengan aneka ragam metodologi dan coraknya.

  6. musyafa' Says:

    assalamualaikum.
    mohon maaf sebelumnya, saya mau bertanya kepada bapak,
    mengapa allah menurunkan lafadz dalam al-qur’an yang maknanya tidak di ketahui oleh manusia (hanya allah yang tahu maknanya) seperti alif-lam mim, nun, alif-lam ro’, dsb, apakah hal tersebut tidak menggelisahkan dan membuat bingung orang yang berusaha mencari dari makna lafadz tersebut?, bg mana tanggapan bapak mengenai soal tersebut
    sebelumnya trimakasih
    wassalamualaikum…..

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      ayat-ayat mutasyabihat merupakan bagian dari rahasia Allah dalam al-Qur’an, sehingga maknanya hanya Allah yang tahu kebenarannya. kalaupun ada yang mengklaim mengetahui maknanya, maka pengetahuan orang itu dilimpahkan oleh Allah juga. allah membukakan hatinya untuk mencerap maknanya. Bagi kita yang awam, cukup percaya dan tidak usah dibuat bingung dengan itu. Allah memberikan daya serap yang berbeda-beda bagi manusia dalam memahami firmannya.

      • el_anwar Says:

        lalu, kalau hanya Allah saja yang tahu akan maknanya, mengapa di tuliskan di dalam al-Qur’an?
        apakah hal tersebut malah nantinya akan mengakibatkan kontradiksi sesama penafsir jikalau penafsirannya itu berbeda-beda?

      • M. Anwar Syarifuddin Says:

        al-Quran itu kalamullah, Allah adalah Sang Empunya kalam, jadi boleh suka-suka dong, tapi kita kan gak musti tahu semua maknanya, bukan? Mungkin ada yang diberikan pemahamaman tentang rahasia tersebut, tetapi bagi yang tetapp tidak bisa mencerapnya, makna ayat-ayat mutasyabihat tetap saja tersamarkan.

        Sebagai sebuah bentuk diskursus, tidak menutup kemungkinan lafaz al-Qur’an mengandung rahasia, bukan? Wong kalam kita manusia saja kadang mengandung rahasia, yang tidak mudah ditebak maknanya oleh orang lain.

      • el_anwar Says:

        trimakasih pak atas pencerahannya.
        semoga nantinya ilmu yang saya dapat dari blog ini bisa bermanfaat.
        amin

      • M. Anwar Syarifuddin Says:

        Sama2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: