Ilmu Munasabat

Jika asbab nuzul merepresentasikan sebuah kajian al-Qur’an dalam posisinya sebagai sebuah “diskursus” menandai kaitan yang erat antara teks dengan dimensi historis yang menyertai proses turunnya, ketika ayat-ayatnya diwahyukan secara oral dan asbab nuzul mengupas latar belakang dalam bentuk peristiwa atau pertanyaan yang muncul dan menyebabkan ayat-ayat itu turun, maka ilmu munasabat merepresentasikan sebuah pendekatan tekstual. Ilmu munasabat mengupas keterkaitan erat ayat-ayat al-Qur’an dalam tata urutan seperti yang tersusun dalam mushaf antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dari ayat pertama hingga ayat terakhir al-Qur’an, kesemuanya terjalin satu keterkaitan yang erat laksana sebuah kalimat yang padu. Keberadaan ilmu munasabat menegaskan kembali pandangan tentang tata urutan ayat dan surat al-Qur’an yang bersifat tauqifi, yang bila digali lebih dalam lagi menegaskan pandangan tentang ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang memiliki nilai i’jaz bahkan dalam susunan redaksi ayat per ayat yang ditampilkannya. 

Munasabat artinya “kemiripan” (muqaraba), keterikatan antara dua hal. Dalam hal ini munasabat diterapkan dalam 4 ketegori:

  • (1) ayat dengan ayat selanjutnya,
  • (2) kelompok ayat dengan kelompok ayat sesudahnya,
  • (3) surat dengan surat selanjutnya, dan
  • (4) akhir surat dengan awal surat sesudahnya. 

Ada beragam bentuk kemiripan atau keterkaitan dalam menimbang sebuah munasabah ayat/surat: (1) antara sebab dan akibat, (2) antara alasan (illat) dengan ma’lul-nya, (3) dua tamsil, (4) dua hal yang saling berlawanan. Dengan menganilisis adanya beragam bentuk kemiripan tersebut, maka susunan ayat-ayat al-Qur’an menjadi saling terkait antara satu dengan lainnya.

Beberapa contoh seperti digambarkan oleh Zarkasyi dalam al-Burhan fi ulum al-Qur’an (vol.1/38-50); Suyuti dalam al-Itqan fi ulum al-Qur’an (vol.2, 111-114). Sementara itu karya-karya ulama yang secara khusus membahas persoalan munasabat di antaraya adalah:  al-Burhan fi munasabat tartib suwar al-Qur’an karya Abu Ja’far b. al-Jubayr, guru Imam Abu Hayyan; Nazhm al-durar fi tanasub al-ay wa al-suwar karya Burhanuddin al-Biqa’i; dan Tanasuq al-durar wa tanasub al-suwar karya Suyuti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: