Makki dan Madani: Pengantar

Makki dan Madani adalah kajian terhadap al-Qur’an yang mengupas aspek nuzul, kronologi turunnya ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan kategori induk Makkah dan Madinah.  Dua tempat ini menempati posisi penting dalam kajian Islam, bukan saja lantaran keduanya merupakan dua kota suci umat Islam, tetapi karena keduanya menandai dua sentra dakwah Islam yang dilakoni oleh Nabi SAW yang memiliki karakter berbeda dalam sejarah Islam.  Oleh karena itu, asumsi yang berkembang seputar konsep Makki dan Madani, atau ayat-ayat dan surat-surat Makkiah dan Madaniah tidak selalu merujuk pada lokasi atau tempat turunnya wahyu, tetapi juga dimaknai dalam beberapa perspektif lain. Ada tiga perspektif dalam memandang konsep Makki dan Madani dalam kajian al-Qur’an: (1) perspektif lokasi (makan) turunnya wahyu yang mengasosiakan Makki dengan wilayah kota Makkah dan Madani sebagai wilayah kota Madinah, (2) perspektif komunikan (mukhatab) atau kepada siapa pesan al-Qur’an disampaikan: Makki adalah pesan untuk penduduk Makkah dan Madani sebagai pesan untuk penduduk Madinah; serta (3) perspektif waktu (zaman) turunnya al-Qur’an: Makkah untuk periode semasa Nabi di Mekkah sebelum Hijrah, dan Madani untuk periode setelah berhijrah ke Madinah.

Penjelasan tentang konsep-konsep di atas tidaklah sesederhana yang dibayangkan karena terus saja muncul problematika yang menandai ketidaksempurnaan masing-masing kategori. Untuk itu diperlukan analisis yang mencakup keseluruhan perspektif tanpa harus membedakan satu dengan lainnya sebagai bentuk klasifikasi yang secara kaku berbeda dengan yang lain.

Sebagai penjelasan dapat diungkapkan di sini bahwa perspektif tempat mewakili suatu sudut panjang berdasarkan kenyataan dominan, mengingat Makkah dan Madinah menjadi lokasi bagi kebanyakan turunnya al-Qur’an, meskipun harus diakui bahwa dalam kadar tertentu, yang paling mungkin hanya sedikit saja, ada ayat-ayat yang turun di luar wilayah dua kota suci tersebut. Dari sudut tinjauan komunikan, konsep Makki dicirikan dengan bentuk panggilan umum/universal yang merujuk seluruh manusia (yā ayyuhā al-nās, wahai sekalian manusia —tidak membedakan suku, ras, dan agama). Sebutan universal ini cocok dengan karakter pesan al-Qur’an yang diturunkan pada periode Makkah atau secara umum sebut saja periode masa Nabi SAW sebelum berhijrah ke Madinah, mengikuti perspektif yang ketiga, yaitu pesan-pesan yang utamanya berkenaan dengan masalah ajakan kepada tauhid dan moral yang baik. Dalam hal ini, Makkah menjadi lokasi yang cocok untuk menurunkan ajakan kembali kepada tauhid dan seruan kepada moral yang baik karena kedua persoalan inilah merupakan problem utama teologi dan kultural yang dialami penduduk Makkah ketika itu. Kenyataan bahwa penduduk Makkah mengakui kekuasaan Allah sebagai Tuhan yang Maha Tinggi tidak diragukan lagi, tetapi ajaran monoteisme yang sudah diperkenalkah dahulu pada masa Ibrahim dan Ismail, sebagai nenek moyang bangsa Semit yang membangun wilayah ini pada awalnya sudah bercampur dengan praktek berhalaisme yang mempertuhankan pula kekuatan-kekuatan yang lebih rendah sebagai “perantara”. Misi utama Islam, sebagaimana juga misi kedatangan rasul-rasul Allah pada umat yang lain adalah ditujukan untuk meluruskan aspek tauhid yang dianggap sudah melenceng dari relnya yang sebenarnya. Aspek tauhid adalah sebuah bukti kesamaan (kalimatun sawa’) yang tidak hanya menjadi prinsip utama teologi Islam, tetapi aspek prinsipil ini juga dimiliki oleh agama-agama lain. Oleh karena itu, ajaran tauhid dalam Islam bersifat inklusif, begitu juga dengan nilai-nilai moralitas yang baik di mana umat manusia memiliki common sense yang sama. Keduanya adalah bukti universalitas Islam dan inklusivitas Islam yang menjadi bagian dari rahmat semesta alam dalam kelompok besar agama-agama monoteisme yang sudah lahir sejak masa Ibrahim. Turunnya ajakan ke arah tauhid yang murni mendapatkan konteks historis dan sosial yang tepat mengingat Makkah adalah kota yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bapak manusia yang pertama kali menganjurkan monotheisme. Begitu juga seruan kepada moral yang baik mendapatkan momentum yang pas karena kegelapan yang menaungi peradaban jahiliah bangsa Arab, dengan Makkah sebagai pusatnya pada masa sekitar kelahiran Muhammad, menjadi salah satu faktor yang juga hendak didekonstruksi oleh datangnya Islam, sebagai sebuah agama yang menjunjung nilai-nilai moral yang tinggi. Dengan kata lain, kedua aspek: tauhid dan moral baik adalah “daya tarik” Islam yang ditawarkan kepada “dunia luar”, yang nyata-nyata menegaskan universalitas dan inklusivitas ajarannya. Di sini pulalah “peringatan” (indzār) yang diserukan Islam untuk kembali kepada tauhid dan ajakan kepada moral yang baik menjadi bagian dari upaya mengembalikan bangsa Arab kepada asalnya dulu sebagai masyarakat dengan ciri universal yang inklusif, bukan masyarakat yang bersifat lokal dengan moral dan kepercayaan rendah yang bernilai sempit. Ciri universalitas dan inklusivitas ini dilekatkan dalam konsep Makki, yang cocok tidak saja untuk lokalitas Makkah dalam arti setting sosial pada masanya, tetapi juga bagian dari jalan sejarah Makkah sekaligus sebagai situs kota tua di atas bumi.

Di sisi lain, Madani mencirikan sebuah nilai pembaruan, sebuah konsep nuzul yang dicirikan oleh sifat yang lebih khusus dan ekslusive, bukan lagi dekonstrukif dengan mengganyang kepercayaan lama dan moral rendah, tetapi bersifat konstruktif yang bernilai signifikan bagi pembangunnan masyarakat baru. Di sinilah nilai-nilai eksklusif Islam diturunkan dalam proses intensifikasi dakwah, pelembagaan syariat yang baru, dan penentuan strategi bagi pembangunan masyarakat muslim yang kuat. Bila kemudian Madani diasosiasikan sebagai lokasi kota Madinah, maka bagi Muhammad Madinah adalah sebuah sasaran antara untuk membangun kekuatan Islam, di mana kaum muslimin yang berkumpul di sana —baik dari kalangan muhajirin, maupun anshar yang telah membaiat beliau dan bersatu padu— diharapkan dapat mengumpulkan kekuatan melawan Makkah dan mendapatkan kemenangan sebagai kunci menuju penyebaran Islam ke dunia yang lebih luas. Dari sisi tinjauan strategi dakwah, kondisi ini cocok bagi proses penanaman nilai-nilai agama yang bersifat pendalaman. Sebutan yang kerap dipakai untuk pesan-pesan yang turun di sini, yā ayyuhalladzīna āmanū (wahai orang-orang yang beriman), misalnya merujuk sebuah seruan yang bersifat internal dan eksklusif. Aspek-aspek ajaran agama yang ditanamkan selama periode ini juga kebanyakan terkait dengan masalah hukum-hukum yang relatif memiliki keberlakuan terbatas untuk kalangan yang sudah beriman saja, yang dalam taraf tertentu bisa juga mengikat kelompok masyarakat agama lain yang bersekutu.[1] Dalam hal ini, aspek hukum menjadi fondasi bagi canangan dakwah periode Madinah yang lebih berorientasi pada pembangunan masyarakat muslim yang kuat baik secara spiritual, sosial, politik, dan ekonomi. Di sinilah kecaman pedas terhadap kelompok munafik yang kerap menjadi suara dominan pesan al-Qur’an yang turun pada periode ini mencerminkan pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai inti upaya konsolidasi yang diharapkan berhasil secara internal, sehingga keberadaan kelompok yang mengatasnamakan kaum beriman tetapi tidak loyal secara politik menjadi ancaman serius bagi bangunan sosial yang tengah dibangun dalam membentuk kekuatan kaum muslimin. Bersamaan dengan ini, juga kecaman pedas terhadap loyalitas kelompok-kelompok Yahudi yang mulai diragukan juga, padahal mereka tercatat sebagai bagian dari kaum minooritas non-muslim yang mendapat perlindungan atau dzimmi menjadi ancaman serius pula secara sosial dan politik yang bisa berakibat pada kekalahan kampanye perang melawan Makkah. Karakter utama pesan al-Qur’an yang turun pada periode Madinah inilah yang membedakan konsep Madani yang lebih terkesan bersifat khusus dan inklusif, dibandingkan dengan pesan-pesan al-Qur’an yang turun pada periode Makkah yang universal dan inklusif.

Melalui wacana di atas, kiranya kita dapat mencermati secara lebih bijak hasil-hasil penelitian ulama sejak masa klasik dahulu hingga kini tentang konsep Makki dan Madani sebagaimana tertuang dalam literatur kajian ilmu-ilmu al-Qur’an.[]

 


[1] Sebagai catatan. hukum yang memiliki keberlakuan terbatas untuk kalangan orang yang beriman saja berkisar pada ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan individu muslim secara personal (private) seperti kewajiban-kewajiban dalam beragama, beserta larangan-larangannya. Di sini, masih ada aturan-aturan hukum yang mengikat secara sosial dalam komunitas dzimmi di luar kaum muslimin, yaitu hukum publik yang terkait penegakan sanksi pelanggaran moral terkait masalah pidana (jinayat), hukum niaga (mu’āmala), serta aturan sosial yang terkait ketertiban umum seperti kewajiban berperang, dan lain-lain. Ketentuan-ketentuan ini mengikat ke luar dalam kaitan kesamaan kedudukan semua golongan di Madinah sebagai warga negara, bukan sebagai penganut agama tertentu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: