Aturan Pokok Penulisan

Tulisan ini sekedar pengingat berdasarkan pengalaman membimbing skripsi mahasiswa yang saya lakukan selama ini. Banyak di antara mahasiswa yang belum bisa mempraktekkan aturan penulisan kata yang benar dalam bahasa Indonesia. Sebab utama yang mendasari, barangkali adalah kurangnya kontrol dari pihak-pihak pengawas bahasa dalam menerapkan aturan pokok penulisan, sehingga masih dijumpai adanya kesalahan, yang sebenarnya cukup memalukan karena sebaik apapun isi yang ditampilkan akan menjadi terkurangi nilainya dengan kesalahan penulisan yang dilakukan. Tidak hanya dalam penulisan skripsi yang mestinya menjadi tanggung jawab pembimbing/penguji untuk meluruskannya, ketidaktahuan terhadap aturan pokok (baku) penulisan kata dalam bahasa Indonesia juga kerap dilakukan para wartawan media massa elektronika, khususnya, di mana editorial penulisan seringkali kurang tanggap karena terburu-buru. Sekali lagi, persoalan ini seharusnya sudah semenjak dini dicamkan, sehingga mahasiswa menjadi terbiasa untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan kaidah yang benar. Kebiasaan para mahasiswa menulis makalah untuk bahan kuiah di kelas menjadi wahana yang efektif guna melatih keahlian ini, karena seperti yang sering dilontarkan oleh dosen saya ketika kuliah dulu, ihwal tata aturan penulisan kata ini menjadi the first law of scholarship alias aturan utama kesarjanaan.

  • di

Kesalahan umum yang sering dilakukan adalah kebingungan menuliskan perbedaan antara kata depan di dengan awalan di yang menjadi bentuk pasif. Di sini, yang perlu dicamkan adalah bahwa penulisan kata depan selalu dipisah, contoh:

di mana, di sekolah, di sini, di sana, di situ, di tengah, di samping, di pinggir, di atas, di bawah, dan seterusnya.

Sementara awalan di sebagai bentuk pasif menjadi satu kesatuan dengan kata kerja yang mengiringinya, sehingga penulisannya disambung, contoh:

disajikan, dipasarkan, dikerumuni, ditarik, disimpulkan, dimaksudkan, diamanatkan, dikeluarkan, dimakzulkan, dan seterusnya.

Untuk kasus yang terakhir ini anda bisa mengingatnya dengan pembanding kata kerja aktif di mana awalan me selalu disatukan penulisannya dengan kata kerja yang mengiringi, seperti menyapu, mengundang, memainkan, dan seterusnya.

  • judul buku dan artikel

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah kebingungan mahasiswa dalam menuliskan judul buku. Di sini, setiap judul buku harus dituliskan dengan cetak miring (italic), sehingga harus dituliskan Suyuti, al-Itqan fi ulum al-Qur’an; Zarkasyi, al-Burhan fi ulum al-Qur’an, dan sebagainya.

Sedangkan judul artikel harus dituliskan di antara dua tanda petik rangkap (“…”), sehingga harus dituliskan Massignon,  “Hallaj” dalam Encyclopaedia of Islam, … (yang dicetak miring dalam kasus ini adalah ensiklopedi atau jurnal yang memuat artikel tersebut, sementara artikelnya harus dituliskan di antara dua tanda petik ganda.

  • masih banyak lagi…

Demikian, semoga berguna.

2 Tanggapan to “Aturan Pokok Penulisan”

  1. Laila Syahidah Says:

    Assalamualaikum…
    Bapak… apa perbedaan antara proposal sekripsi dan proposaal tesis? Terima Kasih…

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Salam Nurlaila Syahidah,
      Proposal skripsi maupun thesis sama-sama proposal penelitian, di mana keduanya merupakan karya ilmiah yang ditujukan sebagai tugas akhir kuliah. Skripsi untuk S1 dan thesis untuk jenjang S2. Jenjang perkuliahan yang berbeda inilah yang seringkali menjadi “pembeda”, ketika penyusunan skirpsi tidak terlalu dituntut terlalu banyak dibanding dengan penelitian untuk thesis. Pada banyak kasus, skripsi seringkali menjadi “Karya ilmiah” pertama yang pernah dihasilkan seorang mahasiswa, sehingga sifatnya masih berupa perkenalan dengan bidang ilmu yang dibahas. Tidak mengherankan bila kemudian, banyak penelitian skripsi hanya bersifat uraian deskriptif saja. Thesis meningkat lebih tinggi, tidak saja harus menjelaskan pemikiran seseorang tokoh, penelitian thesis juga harus mengupas kerangka kajian metodologis yang dipakai tokoh yang dibahas. Di sini, penguasaan theori diperlukan, sehingga penulis thesis bisa mengklasifikasi pemikiran tokoh yang dibahas pada bidang ilmu dan kelompok theori tertentu, atau jika penulis ingin melakukan penelitian sendiri, maka ia pun bisa mengaplikasikan sebuah theori yang sudah dibuat orang lain. Dengan demikian, lebih dari sekedar mengenal theori, atau bahkan deskripsi, thesis diharapkan dapat mengaplikasikan sebuah teori dalam sebuah kerangka penelitian yang relatif sama dengan responden dan regio yang berbeda.
      Di atas dua bentuk penelitian itu, ada penelitian disertasi, yang bertujuan lebih tinggi lagi secara akademis, yaitu menciptakan teori sendiri sehingga penulisnya berhak mendapatkan gelar doktor.

      Begitu sekilas penjelasan saya.
      Salam
      MAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: