Teori Nuzul dan Qadimnya al-Qur’an

Memang nampaknya tidak dibahas secara eksplisit dalam kebanyakan literatur ulumul Qur’an kaitan erat antara teori tentang nuzulul Qur’an dengan pandangan teologis tentang kekal (qadim) atau baru (hadis)-nya al-Qur’an. Kaitan ini hanya bisa diamati dengan cara memilah perbedaan prinsip di antara pandangan-pandangan sekte teologis yang ada dalam Islam seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, atau kaum Salaf dalam memahami konsep nuzul atau turunnya al-Qur’an.

Apa yang dipaparkan oleh Manna’ Qattan, misalnya, dalam Mabahis fi ulum al-Qur’an (hal 100-105) menegaskan pembagian teori nuzulul Qur’an ke dalam tiga pendapat:
Pertama, Al-Qur’an diturunkan sekaligus pada kali pertama ke baitul ‘izzah di langit dunia, sesudah itu diturun secara berangsur-angsur kepada nabi Muhammad selama kurun waktu 23 tahun. Pendapat ini disandarkan kepada riwayat Ibn Abbas yang menyitir penafsiran terhadap QS 25:33 dan QS 17:106.
Kedua, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur, dimulai sejak Nabi menerima wahyu pada malam qadar dan berlangsung seterusnya dalam kesempatan yang berbeda-beda selama 23 tahun. Pendapat ini menegaskan perbedaan al-Qur’an dengan kitab-kitab suci agama samawi lain yang diturunkan sekaligus; sebagaimana orang-orang kafir Quraisy juga menginginkan al-Qur’an diturunkan dengan cara yang sama (QS. 25:32). Pendapat ini dinisbatkan kepada Amir bin Syurahil as-Sya’bi (w.109 H), salah seorang tabi’i terkenal yang menjadi guru Imam Abu Hanifa.
Ketiga, Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia selama 23 malam lamanya. Peristiwa ini berlangsung di setiap malam qadar. Kadar wahyu yang turun di malam qadar di setiap tahunnya sama dengan wahyu yang diturunkan secara berangsur-angsur untuk sepanjang setahun penuh. Begitu seterusnya sampai 23 tahun lamanya, sehingga ada total 23 malam qadar. Pendapat ini adalah ijtihad sebagian mufassir tanpa disertai dalil yang jelas (Qattan:103).

Dari ketiga pendapat di atas, terdapat perbedaan signifikan antara kelompok yang menegaskan al-Qur’an turun sekaligus terlebih dahulu ke langit dunia, baru kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, dan kelompok yang menegaskan bahwa sejak awal al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Pemahaman berbeda yang didasarkan pada dua riwayat “tafsir” yang berbeda pula antara Ibn Abbas dan As-Sya’bi memicu terjadinya pertentangan pandangan teologis dalam perkembangan diskursus kalam pada masa-mamsa selanjutnya.

Perbedaan sandaran riwayat di atas mendasari perbedaan cara pandang teologis mengenai status kalam antara kelompok tradisional dan kelompok rasional. Riwayat Ibn Abbas menegaskan sebuah pandangan tradisional bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus dan menjadi dasar bagi argumen teologis kalangan Asy’ariyah di belakang hari yang menyatakan bahwa al-Qur’an yang merupakan kalamullah adalah bagian dari sifat Dzatiyah Tuhan. Di sini, mereka mendefinisikan sifat sebagai “sesuatu yang berbeda dengan Dzat, tetapi tidak bisa dipisahkan dari Dzat-nya”. Argumen inilah yang meneguhkan pandangan teologis kelompok ini bahwa al-Qur’an bersifat kekal (qadim), karena al-Qur’an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sifat dzat Allah yang kekal, yaitu sifat kalam. Kekekalan kalam Tuhan inilah yang mendorong terbentuknya formula tentang “gambaran wujud al-Qur’an yang sudah ada sejak awal, yaitu dalam wujud nash yang tertera di Lauh Mahfuzh, yang kemudian diturunkan sekaligus ke langit dunia. Dalam hal ini, proses “tanzil” terjadi dua macam “proses turun”, yaitu turun sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah, dan turunnya al-Qur’an secara berangsur dari langit dunia sesuai dengan tuntutan peristiwa dan faktor pendorong (asbab) yang menyebabkan turunnya (lihat Mafhumun Nass, 113).

Berbeda dengan kelompok tradisional, kalangan rasional mengklasifikasikan sifat kalam Tuhan sebagai bagian dari sifat perbuatan Tuhan (sifatul fi’li). Akibatnya, sebagai hasil pekerjaan, kalam dianggap sebagai bentuk ciptaan yang baru, terpisah dari Dzat Tuhan, dan tidak kekal. Pandangan ini sesuai dengan teori nuzulul Qur’an yang dipahami sebagai turun berangsur-angsur sejak awal. Dalam hal ini ilustrasi perbuatan Tuhan dalam berkalam yang menghasilkan al-Qur’an sama saja dengan keberlangsungan perbuatan Tuhan dalam mencipta yang menghasilkan kreasi ciptaan sesuai kehendak-Nya di sepanjang masa.

Walhasil, teori nuzul yang sedikitnya disandarkan pada dua riwayat tafsir yang berbeda di atas: Ibn Abbas dan Asy-Sya’bi, merupakan dua titik pangkal bagi formulasi pandangan teologis yang secara dikhotomis membagi diskursus kalam di masa kemudian yang mencirikan perbedaan diametral antara pandangan teologis kelompok tradisional yang menyatakan al-Qur’an qadim dan pandangan kelompok rasional yang menganggap al-Qur’an sebagai ciptaan. Begitu sengitnya perbedaan dua pandangan teologis ini sampai-sampai pertentangan ini membawa tragedi kelam dalam perkembangan sejarah intelektual Islam yang menyeret Imam Ahmad b. Hanbal ke dalam penjara khalifah al-Ma’mun lantaran ia tidak mau mengakui bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Imam Ahmad baru bisa dibebaskan setelah khalifah al-Mu’tasim yang menggantikan al-Ma’mun menganti faham resmi kekhalifahan Abbasiyah dari mengikuti aliran Mu’tazilah menjadi faham tradisional sunni. Dari kemenangan kelompok sunni inilah ortodoksi Islam dibangun pada akhir masa klasik hingga masa selanjutnya yang mengetengahkan kelompok kalam aliran Asy’ariyah sebagai pembela pandangan keabadian al-Qur’an. Wallahu a’lam

Satu Tanggapan to “Teori Nuzul dan Qadimnya al-Qur’an”

  1. Al-Qur’an: Qadim atau Hadis? « Ulum al-Qur'an Says:

    […] https://anwarsy.wordpress.com/2009/12/17/teori-nuzul-dan-qadimnya-al-quran/ Like this:SukaBe the first to like this post. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: