Pengantar Kajian Interdisipliner

Kajian interdisipliner yang dimaksudkan di sini adalah kajian yang tidak mengkhususkan diri pada sebuah pisau bedah analisis yang melulu bersandar pada paradigma keilmuan satu kelompok disiplin tertentu dalam lingkup kajian dalam bidang Tafsir dan Hadis. Kajian interdisipliner dalam melakukan analisisnya menyertakan bidang keilmuan lain dari obyek kajian yang tengah diteliti. Dalam hal ini, bidang kajian yang dipakai sebagai analisis tidak termasuk dalam lingkup bidang ilmu Tafsir Hadis dalam lingkup studi Islam, misalnya; atau bisa jadi juga bahkan dari bidang keilmuan lain yang berada di luar lingkup kajian studi Islam secara umum, seperti pendekatan ilmiah sekuler atau bidang kajian ilmu keagamaan Kristen, Yahudi, dan lain-lain.
Penelitian dalam bidang kajian Tafsir Hadis yang menyertakan pendekatan interdisipliner merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan kajian ini yang bersentuhan dengan aspek-aspek keilmuan lain dalam kajian agama Islam, tetapi kebutuhan akan pendekatan-pendekatan ilmiah yang berasal dari disiplin keilmuan non-agama juga diperlukan sejalan dengan perkembangan metodologi penelitian yang menerapkan kajian kritik, atau juga dalam membantu memecahkan persoalan agama yang bersentuhan dengan fenomena sejarah, sosial, budaya, bahasa, bahkan politik, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang lain.
Kaitan dan kebutuhan beragam pendekatan, khususnya menyangkut kajian interdisipliner, sudah berlangsung sejak lama, lebih tepatnya pasca masa klasik Islam, ketika kajian ilmu keislaman mengalami pertumbuhan yang pesat dengan bantuan kajian-kajian di luarnya. Lihat saja dalam perkembangan kajian tentang al-Qur’an, misalnya. Klasifikasi ulum al-Qur’an, misalnya, akan terus berkembang sejalan dengan munculnya pisau bedah penelaahan yang terkait dengan pendekatan-pendekatan yang diterapkan terhadap teks kitab suci pada umumnya. Dalam hal ini, pengaruh yang diberikan oleh kajian bibikal dalam agama Yahudi dan Kristen akan dapat ditemukan pula dalam banyak analisis yang dilakukan oleh sarjana muslim terhadap kajian yang dilakukannya. Sarjana muslim abad pertengahan menemukan kaitan yang erat antara aspek-aspek Islam dengan bidang-bidang ilmu yang muncul dari perkembangan upaya penerjemahan khazanah keilmuan klasik yang berasal dari peradaban Hellenistik.
Dalam mencermati adanya keterkaitan kajian dalam bidang Tafsir Hadis dengan kajian keagamaan Islam umumnya, kajian yang dapat digolongkan sebagai analisis interdisipliner adalah upaya penelaahan terhadap sebuah kelompok kajian tentang al-Qur’an, tafsir, metode penafsiran, dan hadis serta ulumul hadis, misalnya, —yang tentunya bersifat khusus dan memiliki paradigma yang khas pula— untuk didekati melalui pisau bedah analisis yang bersumber dari ilmu-ilmu keislaman yang lain seperti fiqh, usul fiqh, bahasa Arab dan sastranya, atau juga bahkan filsafat Islam, tasawwuf, dan teologi, retorika dan dialektika (jadal), serta ilmu-ilmu sekuler atau ilmu-ilmu keagamaan di luar Islam. Keterkaitan dengan pisau bedah yang berasal dari disiplin-disiplin cabang dalam studi Islam seperti disebutkan di muka sangat dimungkinkan karena al-Qur’an dan hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, yang konsekuensinya juga menjadi sumber bagi seluruh aspek-aspek kajian Islam pada umum. Oleh karena itu, bila kita melihat kategorisasi yang menjadi bahagian ulumul Qur’an, maka karakter kajian yang tercermin di dalamnya bukan saja bersifat multi-disiplin, di mana kajian tentang al-Qur’an bisa didekati dari ragam pendekatan yang sangat banyak dari sebuah kelompok kajian yang lebih besar, tetapi juga menampilkan ragam pendekatan dari disiplin yang berbeda dan sama sekali non-agama, seperti lingusitik, sejarah, budaya masyarakat Arab, bahkan filologi dan kritik teks.
Walhasil, kajian interdisipliner terhadap kajian al-Qur’an, tafsir, metode penafsiran, dan kajian hadis serta ilmu hadis akan terus dibutuhkan selama didapati kaitan antara sumber-sumber utama dalam kajian tafsir hadis —al-Qur’an, hadis, produk penafsiran, dan aneka ragam teori dan konsep yang merefleksikan ragam dimensi keilmuan yang menandai karakter ulum al-Qur’an— dengan diskursus keilmuan secara umum yang terus saja berkembang dan menemukan saling keterkaitan yang menyisakan persoalan dalam jalinan hubungan antara agama dengan kenyataan hidup manusia.
Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber pokok ajaran Islam sudah semestinya menjadi referensi utama bagi kelahiran segenap cabang-cabang ilmu keislaman. Untuk itu, mengisolasi bidang kajian Tafsir Hadis dari keterkaitannya dengan bidang-bidang kajian lain dalam studi ilmu keislaman menjadi sesuatu yang mustahil. Dalam hal ini, keterkaitan bidang kajian Tafsir Hadis dengan ilmu-ilmu Fiqh, Usul Fiqh, Teologi, Filsafat Islam, Tasawwuf, dan bahkan Bahasa dan Sastra Arab akan selalu terjadi. Kajian-kajian yang bersifat multi-disiplin dalam lingkup kategori ulumul Qur’an, misalnya, menjadi bukti yang menguatkan bahwa kelompok kajian yang menaruh perhatian utama pada al-Qur’an saja meniscayakan perlunya pendekatan yang interdisipliner. Begitu pula halnya dengan kelompok kajian hadis, yang memunculkan multi-disiplin dalam cakupan kategori yang beragam dalam apa yang disebut sebagai bagian-bagian ulumul hadis. Sementara itu, kelompok kajian tafsir dan metode penafsiran juga menunjukkan fakta tentang begitu banyaknya corak penafsiran melalui metode-metode penfasiran yang dilakukan terhadap teks al-Qur’an. Banyaknya corak-corak tafsir ini sebanding dengan banyaknya cabang-cabang ilmu keislaman sendiri. Oleh karena itu, penelitian terhadap bidang kajian Tafsir Hadis tidak akan terbatasi oleh ruang lingkup bidang kajian itu semata, tetapi juga memungkinkan diadakannya penelitian yang memiliki kaitan dengan bidang-bidang ilmu keislaman yang lain, ketika hampir semuanya menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai referensi utama.
Di samping itu, tuntutan kemajuan dalam bidang akademik secara umum telah membuka kemungkinan dilakukannya penelitian-penelitian yang menyertakan analisis kritik, dan beragam pendekatan modern dalam kajian al-Qur’an, tafsir, dan hadis, sejalan dengan maraknya minat terhadap bidang pengkajian Islam oleh kalangan-kalangan akademisi Barat, yang notabene non-muslim. Meskipun begitu, kita tidak serta-merta mengatakan bahwa pendekatan interdisipliner sendiri merupakan sebuah bidang kajian yang dilahirkan oleh Barat. Kajian kritis terhadap hadis, misalnya, sudah dicanangkan ulama muslim sejak lama. Bagaimana mereka memilah validitas hadis melalui analisis kritis terhadap sanad dan matannya sudah dilakukan bersamaan dengan upaya penulisan kitab-kitab hadis pada abad ke-3 hijrah. Lebih jauh lagi, bagaimana sejarah penulisan dan kodifikasi al-Qur’an yang hanya berselang beberapa tahun saja setelah Nabi Muhammad SAW wafat juga telah menunjukkan ketelitian (caution) yang sama. Pada saat itu, Zaid b Tsabit sebagai ketua komisi pengumpulan al-Qur’an yang dibentuk oleh Khalifah Abu Bakr begitu teliti sehingga ia tidak akan menerima bacaan al-Qur’an hanya dari aspek hafalan semata, tanpa disertai dengan bukti tertulisnya. Ketelitian yang pada dasarnya menjadi semangat dari kajian filologis, khususnya kritik teks, yang banyak dianut kaum akademisi Barat dalam upaya mengkaji literatur klasik.
Ringkasnya, kajian interdisipliner merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dalam atmosfer kajian keislaman kontemporer, tidak luput dalam hal ini adalah kajian Tafsir Hadis. Ada beberapa ragam pendekatan yang bisa dipakai dalam penelitian Tafsir Hadis melalui analisis kajian interdisipliner. Pendekatan-pendekatan ini diaplikasikan sejalan dengan berlangsungnya paduan antara karakter kajian Islam klasik dan trend baru yang berkembang dalam kajian Islam kontemporer.
Paduan antara kajian klasik dan kontemporer juga menjadi pengaruh yang tidak bisa dielakkan dengan tercapainya kemajuan dan perkembangan dalam kajian biblikal, yaitu kajian terhadap kitab-kitab perjanjian lama dan perjanjian baru. Sebagai kitab suci yang memiliki kesamaan sumber dengan tradisi keagamaan semitik, bidang kajian al-Qur’an, studi tafsirnya, dan kajian Hadis tidak bisa mengelak dari metodologi yang yang dikembangkan oleh para sarjana dewasa ini terhadap kajian-kajian kitab suci. Hal ini diakibatkan oleh bukan saja karena kajian Islam telah menarik minat para sarjana Barat untuk mengadakan penelitian terhadapnya, tetapi banyak di antara para sarjana muslim sendiri telah mempraktekkan kajian keislaman dengan pisau bedah analisis yang berasal dari metode penelitian Barat. Titik fokus perhatian dalam buku ini hanya akan menyoroti beberapa pendekatan yang dinilai penting untuk dikembangkan dalam kajian Tafsir Hadis, mulai dari kajian linguistik dengan mengedepankan analisis filologis dan kritik naskah yang menampilkan pendekatan tekstual baik yang berasal dari dimensi keilmuan klasik maupun bentuk-bentuk baru perkembangannya dalam dimensi keilmuan linguistik kontemporer. Pendekatan kritik juga akan menyertakan pendekatan kritik kontekstual yang mengedepankan analisis berdasarkan kajian yang bertumpu pada paradigma positivistik dalam ilmu-ilmu sosial, sejarah, dan ilmu budaya. Di samping itu juga akan diberikan ulasan yang mengetengahkan penelitian Tafsir Hadis melalui pendekatan hermeneutika, sebuah telaah filosofis; dan kajian tafsir hadis yang dilakukan melalui perspektif kesetaraan jender. Dua kajian terakhir mewakili pendekatan kontemporer yang marak dikembangkan dalam iklim kajian Islam dewasa ini, baik di barat maupun di seantero dunia Islam sendiri.

Ragam Pendekatan dalam Kajian Interdisipliner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: