Contoh Proposal Penelitian MPTH

Contoh Proposal Penelitian MPTH

Judul
Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an

Latar Belakang
Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan diungkapkan oleh al-Suyutī dalam bukunya al-Itqān fī ulum al-Qur’ān, di mana ia menyatakan bahwa penjelasan yang dilakukan para Sufi terhadap al-Qur’an bukanlah suatu bentuk “tafsīr” (amma kalām al-sūfiyya fi al-Qur’ān fa laysa bi tafsīrin). Dalam bukunya, al-Suyuti juga membedakan antara tafsir dan ta’wīl sebagai dua metode penafsiran yang berbeda. Yang pertama dianggap sebagai metode penafsiran yang memiliki nilai formal, dianggap standar yang patut dilakukan dan terpuji, dan memiliki keunggulan karena menetapkan makna yang dikehendaki Tuhan sebagai penjelasan atas Kalam-Nya. Sementara metode ta’wīl dianggap sebagai aktivitas di luar prosedur formal, dinilai sebagai tindakan tercela, dan tidak bisa menetapkan satu makna. Signifikansi yang diambil dari sebuah ayat al-Qur’an melalui proses ta’wil tidak bersifat baku lantaran hal itu diambil dari makna “jauh” yang hanya bisa diterapkan karena ada konteks yang mendukungnya. Proses ta’wil inilah yang kebanyakan dilakukan oleh para sufi dalam memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Research Question
Apakah Sufi diperbolehkah, atau anggap saja memiliki otoritas, untuk menafsirkan al-Qur’ān?

Metodologi Penelitian
Pertanyaan tersebut akan diteliti melalui bentuk penelitian kepustakaan. Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kritik kontekstual dan hermeneutika sekaligus. Yang pertama dilakukan untuk menimbang latar belakang yang mendasari munculnya pernyataan yang diungkapkan oleh al-Suyuti dan dipadukan dengan timbangan terhadap validitas penafsiran yang dilakukan sufi. Di sini, penilaian kritik dilakukan untuk mengukur sejauh mana pernyataan al-Suyuti memiliki relevansi bagi problematika penafsiran al-Qur’an dalam corak yang bernilai sufistik sejak masa klasik Islam sampai abad pertengahan, dan guna menguji apakan thesis suyuti masih bisa dipertahankan pada saat sekarang ini. Berangkat dari kritik sejarah tadi, pengujian lebih lanjut terhadap teori-teori penafsiran al-Qur’an akan dilakukan para sufi memerlukan pendekatan filsafat hermenutika, baik sebagai sebuah kajian terhadap problematika umum pemahaman manusia, maupun dalam maknanya yang terbatas sebagai ilmu yang membahas teori penafsiran kitab suci.

Daftar Pustaka Sementara
Abū Zayd, N.H. Hakadhā Takallama Ibn Arabī, Kairo: al-Hai’ah al-misriyya al-amma li al-kitāb, 2002.
Abu Zayd, Mafhūm al-nash, Kairo: matba’ah al-hayāt al-mishriyya li ‘ammāt al-kitāb, 1993.
Afifī, A.A. Malāmatiyya wa al-shūfiyya wa ahl al-futuwwa, Kairo : Dār ihyā’ al-kutub, 1945.
Bruns, Gerard L. Hermeneutics Ancients and Modern, New Haven: Yale University Press, 1992, h.134
Dhahabī, Muhammad Husein al-. Al-Tafsir wa al-mufassirun, Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsiyya, tt, 2 vol.
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Kairo : Dār al-ma’ārif, tanpa tahun.
Ibn Shalāh, Taqiy al-Dīn. Fatāwā, Kairo: Idāra Thabā‘a al-Munīriyya, 1348 H.
Lane, E.W. An Arabic English Lexicon, Cambridge: 1984.
Robson, J. “Ibn Salāh” in The Encyclopaedia of Islam, Leiden: EJ Brill, CD ROM edition 2002, vol.iii, 927a.
Mahmūd, Abd al-Halīm. Manāhij al-Mufassirin, Kairo: Dār al-kitāb al-mishrī, 1978.
Subkī, Tabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā, Kairo: Musthafā al-bāb al-halabī, tt.
Sulamī, Abu Abd al-Rahmān al-. Haqā’iq al-Tafsīr, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyya, 2002, 2 vols.
Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqān fī Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār el-Fikr, 1979, 2 vol.
Syirbasi, Ahmad al-. Sejarah Tafsir al-Quran, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1985.
Taftazānī, Sa‘d al-Dīn al-. Sharh al-Aqā’id al-Nasafiyya, Damaskus: Wizārat al-Tsaqāfa wa irshād al-qawm, 1974.
Tustarī, Sahl b. Abd Allāh al-. Tafsir al-Qur’ān al-Azhīm, Kairo: Dār al-kutub al-‘aabiyya al-kubrā, 1911.

19 Tanggapan to “Contoh Proposal Penelitian MPTH”

  1. putri ajeng Says:

    assLmuaLaikum Bpk … Bpk saya mau coba mengajukan judul untuk tugas UTS . saya minta tolong pendapat bapak kira-kira judul yang mana yang harus saya jadikan tugas ya pak . antara ” Kriteria pemimpin menurut al-qur’an atau kepemimpinan menurut perspektif islam ” terimakasih wassLamualaiKum Wr.Wb

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Salam,
      Keduanya sama saja, menurut saya. Tetapi, masih terkesan luas, sehingga perlu disempitkan, misalnya dengan mengambil ayat-ayat tertentu saja. Atau mendasarkan pada pandangan ulama tertentu saja. Dengan membatasi persoalan yang ingin diteliti, maka proses pembahasan menjadi lebih mudah, dan jika kita ingin memberi kritik karena pendapat yang disampaikan memiliki kelemahan, maka pendapat kita sendiri dimungkinkan untuk masuk di dalamnya.

      Harap dipahami bahwa pembahasan ayat al-Qur’an tidak sama sekali membuat kita tidak boleh mengutip hadis-hadis, karena hadis-hadis itu kedudukannya menjelaskan ayat yang masih global sifatnya. Ini juga dikarenakan pemahaman terhadap ayat al-Qur’an merupakan aspek tafsir, di mana hadis menjadi salah satu elemen penafsiran.

      Coba kumpulkan ayat-ayat yang berbicara tentang kriteria pemimpin, lalu setelah terkumpul anda pilih mana yang akan anda bahas. Ayat-ayat itu memiliki penjelasan yang bisa anda temukan dalam buku tafsir, sehingga sebaiknya anda menggunakan pendapat mufassir tertentu dalam hal ini agar bisa lebih dipertanggungjawabkan.

      MAS

  2. IBAD Says:

    Assalamualaikum ustadz,
    Nama : M. Badsul Munir (IBAD)
    NIM : 107034001385

    Ingin mengajukan judul sekaligus mohon evaluasinya, meski pada dasarnya judul tersebut telah selesai saya bahas.

    Judul : ORANG BERIMAN DAN ORANG KAFIR DARI SISI PEMIMPIN DAN PENJAGANYA

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Salam,
      Sdr Badrul Munir,

      Mata kuliah kita berpusat pada penguatan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian dlam bidang kajan tafsir hadis. Untuk itu, mahasiswa diharapkan dapat/mampu mempersiapakan dan menjalankan penelitian, sekaligus penguatan bidang materi secara metodologis melalui pendekatan interdisipliner. Hanya saja, memang tidak dilarang untuk melakukan penelitian melalui paradigma metodologis yang bertumpu pada paradigma Tafsir atau hadis sendiri, sebagaimana anda sudah dapatkan selama mengikuti perkuliahan sampai semester 6 ini.

      Atas pertimbangan di atas, sebagai tugas UTS anda diminta membuat sebuah disain penelitian, sebagai bagian dari tahap persiapan penelitian, sementara UAS-nya dengan mengaplikasikan disain itu dalam praktek lapangan secara langsung.
      Tentang judul penelitian anda, terus terang formulasi judulnya kurang memberikan ruang untuk mempermasalahkan. sesuatu yang menjadi inti penelitian. Penelitian dilakukan jika ada masalah, jika tidak ada permasalahan? maka apanya yang mau diteliti? Coba anda memformulasikan judul anda seperti ini:
      “Bolehkah orang kafir menjadi pemimpin bagi orang mukmin?” atau “Bolehkah orang Islam menjadi penjaga untuk orang kafir?” Dua formulasi judul tadi mengindikasikan permasalahan yang mesti dicarikan jawabannya melalui tindakan penelitian.

      MAS

  3. IBAD Says:

    Assalamualaikum ustadz,
    Nama : M. Badsul Munir (IBAD)
    NIM : 107034001385

    maaf ustadz untuk UAS nanti kalau saya membahas tentang “Al Wala’ dan Al Bara’ Terhadap Orang Kafir ”

    mohon evaluasinya

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      UAS itu manifestasi/praktek dari disain yang anda bikin di UTS, jadi saya kira satu tema penelitian saja. UTS membuat disainnya, sementara UASnya melakukan penelitian dengan disain tersebut.

      Salam

  4. siti fatimah zahro Says:

    assalamuaikum wr.wb
    saya coba membuat judul untuk tugas bapak dan insyaAllah ingin bwt lanjuT untuk ke skripi pak,, judulnya ” Memperjuangkan Hak Perempuan kajian Atas pemikiran Fatimah Mirnissi”,,
    bagaimana yah pak ?? tlong tanggapannya pak,
    terima kasih

  5. NUR AZIZAH Says:

    pak sy ingin mengajukan judul tentang tema-tema hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, bagaimana menurut pendapat bpk??

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Sdri Azizah,
      Klasifikasi tema-tema hadis atau sebut saja tematisasi hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu pada dasarnya baik untuk dilakukan, dengan dua syarat: (1) deskripsikan tema-tema apa saja yang tercakup di dalam hadis-hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat, (2) berikan analisis anda sendiri terhadap hasil tematisasi itu. Di sini, hal yang terakhir bisa dilakukan dengan menguraikan porsi tema apa saja yang paling sering atau paling banyak diriwayatkan, bila perlu disebutkan pula prosentase-nya, serta alasan-alasan yang bisa anda temukan mengapa tema tertentu begitu dominan, dan tema-tema lainnya tidak. Idealnya sih sebagai bagian dari kajian hadis, riwayat-riwayat itu ditakhrij atau bisa dilakukan dengan mengutip pendapat ulama tertentu tentang nilai hadis-hadis yang diriwayatkan. Dengan begitu, ada kesimbangan antara deskripsi, interpretasi, ataupun analisis kritik yang bisa anda lakukan.

      Untuk mendapatkan hasil yang baik, jika anda melakukan hal ini untuk tugas MPTH, maka saran saya mulailah dari sahabat yang tidak terlalu banyak meriwayatkan hadis, dengan begitu “pekerjaan” ini bisa dilakukan dalam rentang waktu yang diberikan. Jika menilik musnad Ahmad, Imam Ali RA memiliki sedikitnya 824 riwayat, yang untuk mengklasifikasikannya akan membutuhkan waktu agak lama. Oleh karena itu, carilah figur perawi sahabat seperti: Abdurrahman b. Auf yang hanya meriwayatkan 34 hadis saja. Dari jumlah ini, klasifikasikan ke dalam tema-tema, lalu interpretasikan tema-tema yang diusung dengan sifat kepribadian Abdurrahman b Auf yang menonjol seperti dikisahkan dalam buku-buku sejarah. Anda analisis apa ada kaitan atau tidak? Jika waktunya memungkinkan, maka anda juga bisa melihat kitab-kitab takhrij untuk melihat penilaian terhadap hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beliau.

      Salam,

      MAS

  6. M. Badrul Munir Says:

    baik pak saya akan susun desain dengan secepatnya yang mungkin sekaligus kerangka penelitian untuk UAS nya mohon bimbinganya pak.

  7. zulfa Says:

    assalamualaikum………
    bapak,
    untuk tugas UTS nanti saya sangat berminat untuk membahas judul “GAY DAN LESBI MENURUT AL QUR’AN (Menyoal argumen MUsdah Mulia tentang Lesbi pada Jurnal Perempuan Edisi ke 68)”.
    menurut bapak bagaimana?
    mohon arahan dan pendapat dari bapak.
    terimakasih bapak..mudah2an menjadi motivasi untk saya

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Pada intinya bisa saja, namun yang menjadi pertanyaan saya, dengan tolok ukur apa anda akan menilai argumen Ibu Musdah? Di sini, apakah anda akan menggunakan pendapat orang lain atau anda akan menggunakan analisis kritik anda sendiri? Paling tidak, muaranya nanti akan bisa nampak apakah anda akan setuju atau tidak setuju dengan pendapat Ibu Musdah? Dengan demikian, tolok ukurnya menjadi jelas.

      Bisa juga anda melakukan analisis perbandingan, jika ditemukan pendapat-pendapat yang bisa dibandingkan.

  8. Mia Fitriatunnisa Says:

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    bapak, sy msh bingung utk menentukan judul penelitian, tapi sudah ada 2 konsep, di bidang tafsir n’ juga hadis.
    1. jika d bidang tafsir: sy tergerak dgn baliho-baliho yg da d rmh sakit yg memaparkan ttg pentingnya pemberian ASI utk bayi, n’ d alqur’an pun trdpt ayat yg menyatakan tuntutan seorang ibu utk menyapih anaknya itu selama 2 tahun. sy msh bingung apakah judul trsbut layak utk d jadikan bhn penelitian ataukah tdk, n’ jika bisa d jdkn pnlitian, sy minta saran dr bapak kira2 konsep selanjutnya dr judul tersebut sprti apa??jujur sy msh ngeblank wt langkah selanjutnya…

  9. Makhmudah Says:

    asslamualaikum,
    bapak saya mau ngajuin judul ” Tinjauan Al-Qur’an dan Kedokteran tentang Bayi Tabung”. gimana menurut bapak? minta kritk dan saran dari bapak

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Boleh saja sih. Fenomena bayi tabung kan terjadi di masa sekarang, yang zaman dulunya mungkin belum ada. yang harus dicermati adalah apakah al-Qur’an atau hadis memiliki konsep tentang itu? Jangan sampai ada kesan bahwa pendasaran dalil tentang boleh tidaknya proses bayi tabung ini diambil secara “dipaksakan” dari ayat-ayat al-Qur’an atau hadis. Penelitian TH umumnya berangkat dari tafsir terhadap nash al-Qur’an atau hadis, bukan berpijak dari pandangan fikih yang sudah jadi.

      Nanti coba kita diskusikan lagi bagaimana formulanya, ya…
      MAS

  10. Mia Fitriatunnisa Says:

    assalamu’alaikum,
    bapak, sy masih bingung ingin mengajukan judul apa utk penelitian nanti, tetapi sudah ada beberapa konsep yg sy punya; satu d bidang hadis, dan satu lagi d bidang tafsir.
    #d bidang tafsir; berangkat dr pengalaman sewaktu berkunjung k rumah sakit, sy melihat baliho yg memberitahukan akan pentingnya peranan ASI utk anak. dan secara kontekstual pun mmg jarang sx ibu2 saat ini yg memberlakukan hal trsbut. setahu sy pun dlm al-Qur’an ada ayat yang menyatakan ttg slh 1 kewajiban seorang ibu adalah menyapihnya selama 2 tahun. kira2 konsep tersebut bisa atau tidak d jadikan sebuah judul dr penelitian?jika bisa s minta saran judul yg cocok dg konsep d atas n’ langkah2 selanjutnya seperti apa..jujur sy msh ngeblank…
    trmksh pa.
    wassalam..

    • M. Anwar Syarifuddin Says:

      Sdri Mia,
      Gagasan anda saya kira sangat baik, apalagi jika anda bermaksud menghubungkan antara landasan normatif al-Qur’an tentang pentingnya pemberian ASI bagi anak plus manfaatnya menurut ilmu kesehatan (keduanya dapat dicapai dengan penelitian kepustakaan) dengan aplikasi dari konsep-konsep tersebut di lapangan. Di sini, anda bisa melakukan peneltian gabungan kepustakaan dan riset lapangan. Untuk judul, saran saya anda bisa memberi judul “Konsep al-Qur’an tentang pentingnya pemberian ASI bagi anak dan aplikasinya pada masyarakat di Kelurahan ….” Nanti, sampel penelitiannya cukup melibatkan 10 responden (kaum ibu) dengan teknik random atau cluster.

      Sebaiknya, sebelum melakukan peneltian, anda harus menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan, selain pertanyaan besar penelitiannya. Misalnya, jika pertanyaan besar penelitian anda adalah bagaimana konsep al-Qur’an tentang pemberian ASI bagi anak dan aplikasinya pada masyarakat di kelurahan A? Maka untuk ditanyakan kepada responden anda bisa menyiapkan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti: Apakah kaum ibu itu memberikan ASi untuk anaknya? jika ya, berapa lama? jika tidak, apa alasannya? Bagi yang menjawab ya, apakah tindakannya itu didasarkan pada pengetahuan mereka tentang kewajiban ibu seperti disebutkan di dalam al-Qur’an? Apakah ada juga dukungan dari pihak keluarga (suami, bapak/ibu, kerabat) untuk memberikan/tidak memberikan ASI bagi anak? atau adakah hambatan dari sisi karir sang ibu, sehingga tidak memberikan ASI? adakah juga alasan-alasan lain, seperti lebih memperhatikan faktor penampilan dan kecantikan dibandingkan dengan manfaat kesehatan dan menjalankan ajaran agama? dan masih banyak pertanyaan lain.

      Dengan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan itu sedetail mungkin, maka temuan-temuan dalam peneltian lapangan yang akan anda lakukan bisa dioptimalkan secara maksimal, sehingga dapat hasilnya nanti dapat menyajikan uraian yang menarik dan lengkap. Semakin kritis anda menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, semakin banyak data yang bisa digali dari responden yang akan anda wawancarai/survey.

      Segitu aja, kita bisa diskusi lagi.

      MAS

  11. TUGAS-TUGAS MPTH 2012 « Blog MENGAJAR Says:

    […] https://anwarsy.wordpress.com/2010/04/10/285/ […]

  12. Proposal/Disain Penelitian Mini (untuk nilai UTS) | Blog MENGAJAR Says:

    […] https://anwarsy.wordpress.com/2010/04/10/285/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: