Pendekatan Filsafat Hermeneutika

Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau bentuk nomina hermeneia yang berarti penafsiran. Dua kata ini dalam beragam bentuknya muncul beberapa kali dalam teks klasik seperti Organon dan Peri Hermenias karya filsuf besar Yunani Aristoteles. Dalam bentuk kata benda, kata hermeneia juga muncul dalam karya filsuf Yunani yang lain seperti Plato, Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan Longinus. Dengan menelusuri asal katanya, hermeneutika mengarah pada arti “membuat menjadi mengerti”, khususnya ketika proses ini mengikutsertakan bahasa, di mana bahasa merupakan satu-satunya medium dalam proses memahami. Proses ini dikaitkan dengan peran Hermes dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pembawa pesan, sekaligus penafsir bagi pesan-pesan para dewa. Ini sejalan dengan makna kata kerja hermeneuein yang meliputi 3 aktivitas: (1) mengekpresikan secara lantang dengan kata-kata, atau sebut saja “mengatakan”, (2) menerangkan, seperti dalam menerangkan situasi, dan (3) menerjemahkan, seperti dalam menerjemahkan pesan ke dalam bahasa asing. Ketiga aktivitas tersebut tercakup dalam makna kata “menafsirkan”. Oleh karena itu, sudah semestinya bila hermeneutika memiliki kaitan yang erat dengan upaya penafsiran, yang dalam hal ini akan diuraikan sebagai salah satu pendekatan dalam bidang kajian Tafsir Hadis.

Dalam sejarah perkembangannya, pemakaian yang paling umum dari istilah hermeneutika merujuk pada sebuah proses penafsiran kitab suci. Ini juga berlaku bagi apa yang disebut sebagai philosophical hermeneutics, yang secara khusus bisa disebut sebagai perkembangan dari penafsiran kitab suci yang menyajikan dukungan teoretis bagi beragam proyek interpretasi. Akan tetapi, perkembangan seputar terbentuknya disiplin ini dalam kancah pemikiran Barat modern nampaknya berlangsung dalam sebuah proses yang belum akan mencapai titik akhir, mengingat setiap tokoh yang mengusung definisi istilah ini selalu saja menampilkan aspek dan penekanan khusus yang berbeda dengan para pendahulunya. Oleh karena itu, setelah menjalani proses perkembangan historis yang cukup mengundang perdebatan, penentuan makna dan definisi yang tepat untuk istilah hermeneutika tidak bisa ditetapkan sesederhana dengan mengambil salah satu konsep dan membuang yang lain. Uraian yang akan diberikan di bawah ini merupakan sebuah ulasan pengantar agar kita bisa menempatkan pemakaian istilah yang menjadi pendekatan akademis ini dengan tepat dan tidak tumpang tindih, yaitu melalui penelusuran terhadap perkembangannya baik dalam masa klasik, maupun pembentukan teori-teori yang terjadi dalam perkembangan pemikiran Barat modern pasca era pencerahan. Tujuan yang diharapkan dari uraian yang bersifat pengantar ini adalah guna memberikan panduan bagi penelaahan dan pemahaman lebih lanjut yang lebih komprehensif, bila kemudian pendekatan yang lebih bernilai filosofis ini dapat diterapkan bagi pengembangan minat penelitian dalam kajian tafsir hadis dan studi Islam pada umumnya.

Pertanyaan tentang apa itu hermeneutika agaknya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dijawab, tetapi terlalu rumit untuk dijelaskan secara sederhana. Meskipun demikian, sebuah asumsi populer mungkin ada baiknya untuk diungkapkan terlebih dahulu, sebelum memasuki pembahasan tentang tahap-tahap perkembangan dan pembentukan hermeneutika sebagai disiplin akademik. Makna paling umum dari hermeneutika dalam dunia Barat dapat dirujuk sebagai ilmu umum mengenai penafsiran teks. Meskipun secara teknis akademis disiplin hermeneutika baru tercipta pada abad ke-17, tetapi apa yang menjadi inti kajian di dalamnya merujuk pada masa perkembangan yang sudah cukup lama dalam tradisi penafsiran perjanjian lama, atau bahkan dalam tradisi yang bersumber dari para pakar retorika Yunani kuno yang mengkaji aspek literatur yang memajukan Alexandria.
Beberapa hal yang bisa dicermati dalam perkembangan metode penafsiran teks yang menunjukkan kenyataan akan kesadaran hermeneutis dalam tradisi kristen abad pertengahan, misalnya, kita akan mendapati sebuah panduan penafsiran yang mengakar kepada 4 tingkatan yang menekankan perbedaan antara huruf dengan semangat teksnya: makna literal (sensus historicus) kitab suci memberi pengertian tentang apa yang diungkapkan dan disebutkan oleh teks secara langsung; makna allegorikal (sensus allegoricus) memberikan penjelasan dalam teks terkait dengan isi doktrin dan dogma agama, sehingga setiap elemen kalimat memiliki makna simbolik; makna tropologis yang memberikan aplikasi moral teks terhadap pembaca dan pendengar individual; dan makna anagogikal menggambarkan secara tidak langsung kandungan rahasia yang dimiliki teks mengenai pengetahuan metafisk dan eskatalogis yang disebut dengan istilah gnosis. Tradisi penafsiran semacam ini, termasuk juga kemiripan tradisi yang sama dalam penafsiran rabbinik Yahudi, merupakan sumber yang membentuk dan turut menentukan aspek-aspek kajian dalam membentuk aliran-aliran yang muncul dalam perkembangan pembentukan disiplin hermeneutika modern.

Tahap-tahap perkembangan dalam pembentukan hermeneutika dalam iklim akademik Barat pasca era pencerahan dapat dilihat dalam analisis Richard E. Palmer dalam bukunya Hermeneutics, Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Ia menjeaskan bahwa tahapan historis perkembangan definisi hermeneutika merujuk pada enam makna, yang masing-masing menampilkan aliran pemikiran dengan tokoh dan pendekaan yang berbeda-beda sebagaimana tercermin di dalam judul karyanya. Dalam kronologi yang berurutan, menurut Palmer, enam macam definisi itu adalah: (1) hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, (2) metodologi filologi secara umum, (3) ilmu tentang semua pemahaman lingusitik, (4) landasan metodologis bagi Geisteswissenschaften, (5) fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, (6) sistem penafsiran, baik yang bersifat rekolektif maupun ikonoklastik, yang dipakai manusia dalam memahami makna dibalik mitos dan simbol-simbols. Menurut Palmer, masing-masing definisi itu lebih dari sekedar perkembangan historis, karena masing-masing menunjuk sebuah “momentum” dan pendekatan penting terhadap problematika penafsiran. Secara sederhana, ke-enam makna tersebut dapat disebut biblikal, filologis, saintifik, geisteswissenschaftliche, eksistensial, dan penekanan kultural.

Hermeneutika sebagai penafsiran biblikal merupakan pemahaman yang tertua dan mungkin masih dikenal secara luas. Dalam masa yang paling awal, makna ini dipakai oleh J.C. Dannhauer untuk membedakan penafsiran (exegesis) dengan aturan, metode, dan teori yang mengaturnya (hermeneutics). Pemakaian makna tersebut masih menjadi pijakan bagi definisi hermeneutika baik dalam teologi, maupun literatur non-biblikal ketika pengertiannya diperluas pada masa belakangan. Meskipun begitu, sementara istilah “hermeneutika” sendiri lahir pada abad ke-17, operasi penafsiran tekstual dan teori-teori penafsiran dalam bidang agama, hukum, dan sastra sudah ada sejak masa klasik. Oleh sebab itu, ketika kata itu diterima sebagai nama istilah untuk teori penafsiran, bidang kajian yang dicakupnya secara retroaktif meluas dalam bidang penafsiran biblikal merujuk kepada masa perjanjian lama, ketika pada masa itu juga dikenal aturan-aturan guna dapat menafsirkan kitab Taurat secara tepat.
Dua hal yang patut dicatat dalam mencermati perkembangan hermeneutika yang diartikan sebagai teori penafsiran biblikal: pertama, karakter hermeneutika sebagaimana diindikasikan dalam contoh-contoh teori penafsiran kitab suci; yang dalam hal ini dapat disebutkan bahwa hermeneutika menyajikan “sistem” interpretasi yang dengan itu suatu ayat dalam kitab suci dapat ditafsirkan. Melalui sistem tersebut, seorang mufassir dapat menemukan makna yang tersembunyi dari sebuah teks. Hal tersebut didasari pada pertimbangan, bukan saja lantaran sebuah teks tidak bisa ditafsirkan dengan sendirinya, tetapi setelah masa pencerahan teks-teks kitab suci merupakan wahana yang memiliki banyak kebenaran moral, yang akan bisa ditemukan di dalamnya jika prinsip-prinsip penafsiran dibentuk untuk menemukannya.
Kedua, dengan memahami hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, maka akan didapatkan kejelasan tentang ruang lingkup hermeneutika, yang tidak saja mencakup teori-teori eksplisit tentang aturan-aturan dalam menafsirkan, tetapi juga teori-teori yang didapatkan secara tidak langsung dalam praktek penafsiran yang dilakukan. Jika Gerhard Ebeling, misalnya mengkaji “Hermeneutika Martin Luther”, maka ia tidak saja memusatkan kajiannya pada pernyataan-pernyataan Luther tentang teori penafsiran biblikal, tetapi juga terhadap praktek penafsiran yang dilakukannya seperti yang didapatkan dengan menganalisis khutbah-khutbah yang diberikan dan tulisan-tulisannya yang lain. Dari sini, lingkup kajian hermeneutika menjadi lebih luas —sebagai sebuah sistem penafsiran baik yang eksplisit maupun implisit— yang tidak saja diterapkan bagi teks kitab suci, tetapi juga terhadap literatur di luar kategori kitab suci itu sendiri.

Sebuah konsekuensi dari perluasan ruang lingkup Hermeneutika yang meliputi teks-teks non-biblikal, dimulailah kecenderungan untuk memperlakukan kitab suci sama dengan perlakuan terhadap buku-buku sekuler lainnya. Dalam sebuah panduan hermeneutika yang ditulis 1761, Ernesti menyatakan bahwa makna verbal kitab suci harus ditetapkan secara sama seperti yang dilakukan terhadap buku-buku lain. Hal senada diungkap oleh Spinoza, bahwa norma penafsiran biblikal hanya bisa menjadi penerang untuk akal yang sama. Dengan mencermati perkembangan semacam ini metode penafsiran biblikal menjadi sama saja dengan filologi klasik yang menjadi dasar teori penafsiran sekuler, sebuah bangunan yang menjadi landasan bagi definisi modern kedua bagi hermeneutika sebagai metode filologi.

Fase selanjutnya dalam sejarah perkembangan hermeneutika adalah mengkonsepsi hermeneutika sebagai “seni” atau “ilmu” memahami, sebagaimana dilontarkan oleh F. Schleiermacher. Patut dicatat di sini bahwa hermeneutika mengimplikasikan sebuah kritik radikal terhadap landasan utama filologi, yang mengharuskan hermeneutika untuk bergerak mencapai batas luar konsepsinya sebagai sekumpulan aturan-aturan, dan untuk membuatnya koheren secara sistematis, yaitu sebuah bidang ilmu yang menjelaskan kondisi bagi pemahaman dalam segala dialog. Hasilnya, bukan lagi sekedar hermeneutika filologis, tetapi hermeneutika yang bersifat umum yang prinsip-prinsipnya dapat menjadi pondasi bagi penafsiran segala macam teks. Perkembangan seterusnya di tangan Wilhelm Dilthey, seorang penulis biografi F. Schleiermacher, kemudian, hermeneutika menjadi disiplin induk yang menjadi pondasi bukan saja bagi penafsiran teks yang melandasi definisi ketiga, tetapi menjadi definisi baru yang meliputi segala disiplin yang memusatkan perhatian pada pemahaman seseorang terhadap seni, prilaku, dan tulisan-tulisan yang disebut dengan istilah geisteswissenschaften.

Definisi kelima merubah pandangan hermeneutika ke dalam kajian fenomenologis terhadap keberadaan manusia sehari-hari di dunia. Tokohnya adalah Martin Heidegger. Dalam pandangannya, hermeneutika bukan lagi ilmu ataupun aturan-aturan tentang interpretasi teks, bukan pula merujuk kepada metodologi geisteswissenschaften, tetapi hermeneutika merujuk kepada penjelasan fenomenologis tentang eksistensi manusia itu sendiri. Dalam analisis Heidegger, “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan bentuk dasar keberadaan manusia. Dengan karyanya Being and Time, Heidegger menandai perubahan dalam perkembangan hermeneutika, yang di satu sisi terkait dengan dimensi ontologis pemahaman, dan pada saat yang sama hermeneutika diidentifikasikan dengan konsepsinya tentang fenomenologi secara khusus.

Hans Georg Gadamer mengembangkan implikasi dari sumbangan pemikiran Heidegger menjadi sebuah karya sistematik tentang “hermeneutika filosofis”. Karyanya yang lain, Truth and Methode, merupakan upaya untuk menghubungkan hermeneutika kepada aspek-aspek estetika dan filosofis sejarah pemahaman. Dalam hal ini, hermeneutika dibawa selangkah lebih jauh tetapi masih dalam fase “linguistik” dengan pernyataan Gadamer bahwa keberadaan yang bisa dipahami adalah bahasa, sehingga hermeneutka adalah sebuah pertemuan dengan yang ada melalui bahasa.

Dalam fase akhir perkembangan hermeneutika, menurut Palmer, hermeneutika dipahami sebagai sistem penafsiran, yaitu antara mendapatkan kembali makna melawan pembongkaran tradisi (iconoclasm). Tokoh yang pertama mengadopsi konsep ini adalah Paul Ricoeur. Dalam bukunya de l’interpretation (1965), ia mengatakan, “kami mengartikan hermeneutika teori tentang aturan yang mengatur sebuah penafsiran, atau dapat dikatakan, interpretatsi teks khusus atau kelompok tanda yang bisa dianggap sebagai teks.” Pada tahap ini, hermeneutika menjadi proses penggalian makna yang dari sesuatu yang isi dan makna yang manifest menuju makna yang tersembunyi atau laten. Objek penafsirannya sendiri yang berupa teks, dalam bentuk yang sangat luas bisa terdiri dari lambang-lambang dalam mimpi, atau bahkan mimpi dan kejadian dalam mitos dan simbol-simbol masyarakat atau karya sastra. Dalam hal ini, Ricoeur membedakan antara simbol-simbol yang jelas merujuk kepada satu makna (univocal) dan simbol-simbol yang samar-samar dan mengandung beragam makna (equivocal). Yang terakhir inilah yang menjadi fokus perhatian hermeneutika. Menurutnya, hermeneutika berkaitan dengan teks-teks simbolik yang memiliki makna ganda. Makna ganda ini bisa jadi menyusun sebuah kesatuan semantik yang —seperti dalam mitos-mitos— memiliki makna zahir yang jelas dan pada saat yang sama juga sebuah signifikansi yang mendalam. Hermeneutika, menurut Ricouer, adalah sistem yang memunculkan signifikansi batin dari dalam substansinya yang tampak. Definisi hermeneutika semacan ini pada gilirannya membawa Ricoeur untuk membedakan dua sindrom hermeneutika yang sangat berbeda dalam era modern: pertama, berkenaan dengan simbol dalam sebuah upaya untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana diwakili oleh upaya “demitologisasi” Rudolf Bultmann; dan kedua upaya untuk membongkar simbol yang menjadi representasi realitas yang salah, seperti ditampilkan oleh Marx, Nietzsche, dan Freud yang membongkar kedok-kedok dan ilusi-ilusi melalui gerakan rasionalisasi yang tiada henti dalam upaya “demistifikasi”. Ketiga tokoh yang terakhir ini menafsirkan kenyataan lahiriah sebagai sebuah kesalahan dan mengajukan sistem pemikiran yang menghancurkan kenyataan tersebut. Ketiganya secara aktif berdiri berseberangan dengan agama, sementara cara berfikir yang benar bagi ketiganya adalah dengan mengajukan “rasa curiga” (suspicion) dan keragu-raguan.

Atas dasar dua pendekatan yang berbeda dalam penafsiran simbol dewasa ini, menurut Ricoeur, tidak akan pernah ada aturan-aturan prinsipal (canons) yang bersifat universal untuk menafsirkan, akan tetapi hanya berupa teori-teori yang terpisah dan saling berlawanan tentang aturan-aturan (rules) penafsiran. Pengikut aliran demythologizer (atau “demitologisasi”) memperlakukan simbol atau teks sebagai jendela menuju realitas sakral, sementara kaum demystifier memperlakukan simbol yang sama (sebut saja teks kitab suci) sebagai sebuah kenyataan salah yang harus dihancurkan.

Pendekatan Ricoeur sendiri dalam mengkaji pemikiran Freud merupakan sebuah upaya brilian dalam kerangka type penafsiran yang pertama. Ia berupaya menemukan kembali dan menafsirkan kembali signifikansi Freud dengan cara baru pada momen kesejarahan masa kini. Dalam hal ini, Ricoeur berusaha untuk menerobos rasionalitas keragu-raguan dan kepercayaan terhadap interpretasi rekolektif dalam sebuah filsafat rekleftif yang tidak kembali ke dalam abstraksi atau menjadi lebih buruk dengan pengajuan keragu-raguan secara sederhana. Sebuah filsafat yang menangani tantangan hermeneutika dalam mitos dan simbol, serta secara reflektif mentemakan realitas di belakang bahasa, simbol, dan mitos-mitos tadi. Fisafat telah menaruh perhatiannya pada bahasa, yang senyatanya sudah menjadi hermeneutika. Tantangan untuk membuatnya hermeneutikal secara kreatif.

Dari keenam makna yang menadai perkembangan hermeneutika dalam era modern, yang tidak menutup kemungkinan akan terus berlanjut dalam fase perkembangan yang lebih mutakhir dalam filsafat Barat modern, pendekatan hermeneutika yang bisa disajikan dalam penelitian bidang kajian tafsir hadis, selain bisa didekati dari pilihan-pilihan dalam enam definisi di atas, dapat pula ditujukan pada apa sebenarnya makna interpretasi yang menjadi manifest hermeneutika, khususnya dalam kajian sastra. Palmer mengajukan beberapa prinsip dalam kajian yang memakai pendekatan hermeneutika, seperti apa yang dirujuknya dari Heidegger tentang perlunya upaya untuk mendekati teks secara lebih mendalam untuk menemukan apa yang tidak, bahkan mungkin yang tidak mampu, dikatakan oleh teks. Menurutnya, menafsirkan sebuah karya adalah untuk melangkah ke dalam cakrawala pertanyaan ke arah mana teks bergerak. Akan tetapi, hal ini juga berarti bahwa sang penafsir bergerak ke dalam sebuah horozon di mana jawaban yang lain juga dimungkinkan. Dalam hal jawaban jawaban yang lain inilah —dalam konteks temporal sebuah karya dan juga dalam era kekinian— bahwa seseorang mesti memahami apa yang dikatakan oleh teks. Dengan kata lain, apa yang dikatakan dapat dipahami hanya melalui apa yang tidak dikatakan.

Prinsip lainnya dalam pendekatan hermeneutika adalah signifikansi penerapan terhadap masa sekarang. Dalam hal hermeneutika yuridis maupun teologis, misalnya diharuskan untuk melihat pemahaman tidak sesederhana upaya mengaitkan kajian klasik untuk memasuki dunia lain yang diinginkannya, tetapi sebagai sebuah upaya untuk menjembatani jarak yang ada antara teks dengan situasi saat ini. Interpretasi bukan melulu menjelaskan apa makna teks dalam dunianya sendiri, tetapi apa maknanya untuk kita. Sebuah teks ditafsirkan bukan atas dasar kesesuaiannya, tetapi karena substansi teks adalah sesuatu yang dimiliki bersama. Landasan kesamaan milik ini tidak selalu bersifat personal, tetapi bahasa. Seseorang berada di dalam dan diliputi bahasa; bahkan ketika seseorang harus menjembatani kesenjangan dalam dua bahasa yang berbeda, ia masih saja menafsirkan dalam dunia bahasa di mana wujud (being) menjadi pengganti di dalam bahasa.

Beberapa literatur lain yang bisa dipakai sebagai rujukan dan panduan dalam memahami teori-teori hermeneutika yang berkembang dalam publikasi yang lebih belakangan dapat dibaca dalam Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as method, philosophy, and critique karya Josef Bleicher (London: Routlege and Kegan Paul, 1980); atau dalam Three Faces of Hermeneutics, An Introduction to current theory of understanding (Berkeley: Unversity of California Press, 1982).

catatan: Rujukan yang dipakai untuk tulisan ini dapat dilihat dalam modul perkuliahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: