Manusia Lahir dalam Keadaan Bertauhid

Manusia Lahir dalam Keadaan Bertauhid

Oleh: Moh. Anwar Syarifuddin, S.Ag., MA.

Mungkin sebagian dari kita bertanya, darimanakah asal iman yang ada di dalam hati kita ini? Pada tahap yang paling hakiki, kita bisa saja bertanya apakah manusia terlahir dalam keadaan beriman kepada Allah, mengingat firman Allah SWT dalam QS al-A’raf 7:172;

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

Artinya, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu hendak mengeluarkan keturunan anak cucu Adam dari sulbi tulang belakang mereka, dan Allah mengambil kesaksian etrhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankan Aku Tuhanmu?” (alastu birabbikum?) Mereka menjawab, “Betul, (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian tidak berkata di hari kiamat nanti, “Sesungguhnya kami lupa terhadap hal ini.”

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa sebelum dilahirkan ke alam dunia, seluruh jiwa-jiwa calon manusia sudah bersaksi bahwa Allahlah Tuhan mereka. Dengan begitu, kesimpulannya semua bayi yang lahir ke dunia, tidak peduli dari rahim ibu yang mana ia dilahirkan, pada dasarnya sudah berada dalam kondisi beriman. Inilah yang disebut sebagai potensi fitrah. Fitrah sering diartikan suci, sebagaimana Idul Fitri dimaknai sebagai hari raya ketika umat Islam yang berpuasa selama Ramadan mengalami kelahiran kembali sebagai manusia suci. Dosa mereka dibakar semuanya saat berpuasa Ramadan.

Dalam taharah, kondisi suci sering dilawankan dengan kondisi berhadas ataupun hal lainnya seperti terkena najis. Dalam konsep kebersihan, kondisi suci dimaknai sebagai kondisi di mana keberadaan sesuatu tidak terkontaminasi oleh kekotoran sedikitpun. Begitulah kondisi kelahiran manusia. Mereka berada dalam fitrah, kondisi suci yang tidak tercemar sama sekali, dalam artian bahwa mereka sebenarnya sudah berada dalam keadaan beriman kepada Allah.

Itulah fitrah yang ditentukan oleh Allah bagi seluruh kelahiran umat manusia yang menandai awal penciptaan mereka. Seperti kata Rasulullah SAW, Kullu maulūdin yūladu alal-fitrah, fainna abawaihi yuhawwidānihi aw yunaṣṣirānihi aw yumajjisānih, seluruh bayi lahir dalam keadaan fitrah, dan kedua ibu bapaknyalah yang menjadikan seseorang menjadi  nasrani, yahudi, atau majusi.

Nikmat yang wajib disyukuri

Memaknai dan memahami hadis di atas, seraya membaca QS al-A’raf ayat 172 di atasnya, kita tentunya akan merasa sangat bersyukur bahwa Allah memelihara nikmat iman dan Islam yang kita miliki hingga saat ini dengan menempatkan kita terlahir dalam keluarga muslim. Sebagai penguat keiman dan Islaman kita, maka di dalam keluarga muslim setiap bayi yang baru saja lahir diperdengarkan suara adzan di telinganya. Tentunya kita tahu bahwa inti dari kalimat-kalimat dalam adzan adalah dua kalimat syahadat, syahadat tauhid dan syahadat rasul. Dengan diperdengarkanny kumandang adzan di telinga seorang bayi yang baru lahir, maka sejak mengawali keberadaan manusia di dunia, kita selalu diingatkan dengan kalimat tauhid yang pernah diikrarkan oleh jiwa-jiwa calon manusia di hadapan Rabbul Izzati sebelum kelahiran mereka ke dunia.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, panggilan adzan jugalah yang menuntun manusia yang beriman untuk berkumpul melakukan salat. Seperti kita ketahui, salat adalah sebuah ritual ibadah, ketika seseorang diminta menghadap Allah, minimal lima kali sehari. Dimulai dengan kumandang takbiratul ihram, maka seseorang yang melakukan salat memulai ritual ibadahnya dengan menghadapkan wajahnya kehadirat Allah SWT, menyambungkan hatinya dengan khidmat, dan diakhiri dengan salam, ketika sejenak berpisah dengan Tuhan saat ia kembali ke tengah-tengah manusia. Dengan demikian, takbiratul ihram menandai dimulainya ketersambungan hubungan manusia secara vertikal dengan Allah. Sedangkan tahiyyat merupakan episode penutup, di mana ucapan salam di akhir salat menandai episode baru kembalinya jiwa dan raganya secara horizontal ke tengah-tengah kumpulan umat manusia di dunia.

Lantunan adzan juga akan mengantarkan jenazah manusia yang beriman memasuki liang lahat, yang bisa dimaknai sebagai pengingat agar ruh yang hendak melakukan perjalanan pulang kembali ke pangkuan Tuhan dapat selamat menemukan tempatnya kembali di dalam ridha Allah. Di sinilah, kewajiban setiap jiwa yang terpelihara kondisi iman dan Islam dengan lahir di tengah keluarga muslim untuk mensyukurinya sebagai nikmat Allah yang tidak ada bandingan ketinggian nilainya.

Hidup sebagai Ujian Keimanan

Demikianlah, fitrah manusia terlahir dalam keadaan beriman. Sementara kehidupan dunia yang dijalaninya merupakan sebuah episode ujian. Dalam ujian hidup, jiwa-jiwa manusia yang terlahir dalam keluarga muslim ditantang untuk tetap dapat menjaga status iman-Islam mereka. Mereka ditantang agar dapat melampaui batas akhir kehidupan dengan predikat baik, husnul khatimah. Ujian ini bukan cobaan yang ringan, karena memelihara dan meningkatkan kualitas keimanan dan keislaman berhadap-hadapan dengan gempuran realitas kehidupan yang membius hawa nafsu. Bukan hal mudah membawa dan memelihara iman dan Islam kita hingga akhir hayat nanti, karena syetan dan teman-temannya yang terkutuk akan terus merongrong iman manusia. Mereka terus berupaya menyesatkan manusia dari jalan Allah yang lurus. Jangan heran, bila pahala amal kebajikan yang kita lakukan di dunia diberikan balasan yang besar oleh Allah di akhirat nanti. Semua itu lantaran perjuangan dalam medan ujian kehidupan adalah perjuangan yang sangat berat. Salah-salah sedikit dalam membawa diri, maka kita bisa saja terjerembab dalam kubangan kekafiran dan kemusyrikan yang akan mencelakakan nasib kita dalam tahap kehidupan abadi selanjutnya di akhirat kelak.

Begitu pula dengan jiwa-jiwa manusia yang terlahir dalam keluarga yang bukan muslim. Tantangan terbesar mereka adalah bagaimana mereka dapat menemukan kembali fitrah keimanan mereka kepada Allah, kesaksian yang pernah mereka ikrarkan sebelum terlahir ke dunia. Di sinilah, dunia sebagai medan perjuangan hidup akan selalu dipenuhi dengan hidayah dan inayah Allah. Siapa saja yang mau mengambil hidayah dan petunjuk Allah, maka ia akan ditunjuki-Nya. Meskipun begitu, banyak pula orang-orang yang merasa gengsi menerima kebenaran Islam, maka mata-hatinya akan tertutup dan hidup di dunia akan semakin menjauhkannya dari Islam.

Hidayah telah mengantarkan beribu bahkan berjuta umat berpindah keyakinan untuk memeluk Islam. Kalimat syahadat yang diikrarkan oleh seorang muallaf yang memeluk Islam adalah ikatan kontrak, akad perjanjian dengan Allah yang menggugurkan dosa-dosa yang mereka perbuat sebelumnya. Pada saat mengucapkan dua kalimat syahadat, para muallaf tersebut telah kembali pada kondisi fitrah, sesuai dengan potensi yang dimilikinya saat mereka terlahir ke dunia. Mereka kembali suci, dan memulai hidup dengan kembali kepada keyakinan aslinya sebagai jiwa yang beriman.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah,

Dunia merupakan medan ujian, karena kehidupan sebenarnya baru akan dimulai setelah proses penghitungan amal pada hari kiamat nanti. QS al-An’am ayat 22 menyebutkan,

وماالحيوة الدنيا الا لعب ولهو وللدار الاخرة خير للذين يتقون افلا تعقلون

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?”

Saatnya me-recharge syahadat

Semua kita yang berkumpul di sini saat ini, mengikuti jamaah shalat jumat saat ini, tidak perlu ragu dan sangsi bahwa kita adalah bagian dari orang-orang yang beriman. Bahwa kita sudah benar-benar sudah masuk Islam dan bersyahadat. Buktinya? Bukankan dalam setiap salat kita, dalam bacaan tahiyyat kita, baik tahiyyat awal maupun tahiyyat akhir, kalimat syahadat selalu kita selalu ulang-ulang membacanya. Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muhammadan rasūlullāh. Kalimat itu diucapkan seraya meluruskan jari telunjuk kanan kita, sebagai tanda bahwa kita bersaksi saat itu. Ini menandai bahwa salat merupakan salah satu wahana untuk me-recharge, mencas ulang dan memperbaharui syahadat kita.

Dengan pembaharuan syahadat yang terus menerus, maka kita tidak perlu ragu bahwa cahaya iman akan terus menyala dalam hati kita, sehingga kita layak berharap insya Allah kita akan tetap berada dalam hidayah-Nya hingga akhir hayat menjemput, dan meninggal dalam keadaan akhir yang baik, husnul khatimah. Dengan pembaruan syahadat itu, jikapun ada kata-kata atau sikap dan tindakan yang mengurangi kadar, atau bahkan menihilkan keimanan, maka pengulangan syahadat yang kita lakukan saat salat menjadi momen ketika kita terus menerus menyegarkan cahaya itu agar tetap menyala.

Akan sangat baik jika ibadah salat yang memiliki momen saat kita me-refresh syahadat kita, tidak dilakukan hanya saat salat fardu saja, tetapi juga ditambah dengan salat-salat sunnah, baik pagi, siang, maupun malam. Dengan demikian kondisi lemah iman, low-batt, ketika kelap kelip cahaya iman kita hampir padam tidak terjadi. Cahaya iman dari dalam hati akan terus hidup dan memancarkan sinarnya membimbing raga dan jiwa pelakunya mengerjakan amal kebajikan untuk niat ibadah lillahi ta’ala, insya Allah.

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني و ايكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم و تقبل مني و منكم تلاوته انه هو السميع العليم اقول قولي هذا واستغفر الله لي و لكم و لسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انه  هو الغفور الرحيم

*disampaikan dalam Khutbah Jumat 08 Januari 2016 di Masjid Miftahul Jannah Indocement Palimanan Cirebon

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: