Memahami makna kewajiban haji sekali semasa hidup

Oleh: Moh. Anwar Syarifuddin, MA.
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا و من سيات اعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان سيدنا و نبينا محمدا عبده ورسوله. اللهم فصل علي سيدنا محمد و علي اله وصحبه وسلم. اما بعد. فيا ايها الناس اتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون قال تعالي في القران الكريم
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (97)

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah
Marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT, karena tidak ada bekal yang lebih baik untuk kita persiapkan selama hidup kita di dunia ini, kecuali bekal taqwa kepada Allah SWT, dengan menaati perintah-perintahNya, dan menjauhi larangan-larangannya, dilandasi dengan iman yang sempurna, dan dihiasi dengan amal salih yang mencerminkan prilaku akhlak yang mulia. Rasulullah dengan jelas menyatakan bahwa sesempurna-sempurna iman orang mu’min adalah orang yang paling baik akhlaknya. Akmalul mu’minina imānan aḥsanuhum khuluqan…
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Hari ini, Jumat 09 September 2016 bertepatan dengan tanggal 7 Dzulhijjah 1437 H. Dzulhijjah dalam bahasa Arab berarti bulan pemilik (waktu) haji. Pada bulan inilah setiap tahunnya waktu haji berlangsung di bulan Dzulhijjah.
Seperti kita ketahui bersama, rangkaian ibadah haji dimulai dengan ibadah wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa manasik lain di berbagai tempat di sekitar Makkah al-Mukarramah selama beberapa hari.
Kita tidak akan membahas apa-apa saja ritual manasik haji itu, karena mungkin sebagian dari kita sudah pernah mengalaminya. Tetapi, yang kita anggap perlu dibahas dalam kesempatan yang cukup singkat dalam khutbah kali ini adalah apa sajakah makna dan hikmah yang bisa ditarik dari manasik haji itu. Dari makna dan hikmah itu, kita kemudian dapat memahami, mengapa ibadah ini menjadi rukun Islam penyempurna, rukun Islam yang kelima dan terakhir, yang wajib-nya hanyalah sekali seumur hidup, bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke tanah suci Makkah. Mereka yang mampu membayar ongkos perjalanan ke tanah suci Makkah pulang pergi, dan menyediakan cukup bekal bagi keluarga yang ditinggalkan di tanah air. Artinya, ibadah haji adalah ibadah bagi kelompok mukmin yang mampu, mereka yang memiliki cukup harta, juga kondisi fisik yang sehat dan memungkinkan. Dengan kata lain, ibadah haji tidak diwajibkan bagi mereka yang miskin, atau masih memiliki tanggungan hutang yang melebihi aset yang dimilikinya. Seperti dijelaskan dalam QS Ali Imran ayat 97,
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (97)
“…mengerjakan haji aadalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya di seantero alam raya ini.”
Hadirin sidang jumat yang berbahagia.
Kewajiban si kaya yang mampu untuk berhaji cukup satu kali seumur hidup. Kewajiban haji sesuai dengan syariat Islam yang menjadi perwujudan rukun Islam yang kelima. Apa saja sih makna dan hikmah yang terkandung di dalam ibadah haji ini? Mari kita bahas satu persatu.
Pertama, Ibadah haji atau sering disebut sebagai “panggilan untuk melaksanakan haji”, karena panggilan untuk melaksanakan haji dikumandangkan dalam kalimat-kalimat talbiyah, labbaik allahumma labbaik… adalah ungkapan seseorang memenuhi panggilan Allah. Panggilan haji adalah panggilan Tuhan kepada seseorang untuk mengunjungi rumah Allah, atau baitullah, yaitu Ka’bah di Makkah. Menurut tafsir seorang sufi yang bernama Dzun Nun al-Misri, panggilan untuk berhaji adalah seperti panggilan Allah terhadap jiwa manusia untuk kembali ke hadirat-Nya. Dengan kata lain, panggilan untuk mengunjungi baitullah cukup sekali seumur hidup, karena kematian manusia ketika ia menghadap haribaan Allah juga terjadi hanya sekali saja.
Di sini, menurut Dzun Nun, hikmah perjalanan seseorang ke Makkah menuju Baitullah sama seperti perjalanan ruh manusia yang meninggalkan badannya menuju ke hadirat Allah SWT. Oleh karena itu, niat seseorang untuk berhaji diibaratkan seperti persiapan seseorang menghadapi kematiannya sendiri. Niat kuat seseorang yang sangat ingin berangkat haji haruslah seperti keyakinan yang kuat pada diri setiap manusia yang hidup bahwa kematian pasti akan datang menghampiri setiap jiwa yang bernyawa. Apa yang dibacakan dalam talbiyah yang diucapkan keras-keras oleh para hujjaj dalam perjalanan menuju Arafah adalah laksana rangkaian jawaban bahwa mereka tengah bersiap-siap menghadap Tuhan. Niat haji itu harus kuat, karena perjalanan menuju Tuhan itu pasti akan terjadi, seperti persiapan yang kita sama-sama lakukan hari ini yang sepenuhnya meyakini bahwa maut akan datang menghampiri kapan saja.
Kedua, Ihram dalam haji disyaratkan dengan pakaian putih, sama seperti kain kafan pembungkus jenazah juga berupa lembaran kain putih. Ketiga, Wukuf di Arafah diibaratkan diumpamakan seperti berkumpulnya manusia di padang Mahsyar, seketika setelah dibangkitkan dari dalam kubur. Manusia dikumpulkan untuk menunggu proses penghitungan atau hisab atas amal yang dilakukannya selama di dunia. Di fase ini, umat manusia menunggu ditemani oleh imamnya masing-masing. Di padang mahsyar inilah manusia menunggu nasib selanjutnya, apakah masing-masing akan mendapatkan syafaat dari imam yang diikutinya selama di dunia.
Selanjutnya, keempat dari Arafah para hujjaj melakukan perjalanan menuju Muzdalifah, yang diumpamakan seperti manusia dari padang Mahsyar melakukan perjalanan menuju jembatan siratal mustaqim, sementara jumrah diibaratkan sebagai penentuan nasib manusia: apakah ia akan diterima amalnya sehingga berhak atas surga ataukah ia akan ditolak sehingga harus masuk ke neraka dan mendapatkan siksa.
Kelima, Safa dan Marwa dalam sa’i diumpamakan seperti timbangan: safa seperti timbangan amal baik, dan marwa seperti timbangan amal buruk. Para hujjaj pergi mondar-mandir untuk menunaikan sa’i antara bukit safa dan marwa yang diibaratkan seperti nasib manusia yang terombang-ambing di atas kebaikan dan keburukan yang telag dilakukannya selama di dunia. Semua sudah tercatat, sehingga momentum sa’i adalah laksana manusia yang menunggu putusan akhir nasibnya di akhirat kelak. Ia akan masuk surga jika amal kebajikannya lebih banyak, sebaliknya ia akan disiksa di neraka jika keburukannya yang lebih banyak. Di antara bukit safa dan marwa terdapat sebuah tempat menyembelih, yang diibaratkan seperti tempat yang tinggi (al-a’raf), di antara surga dan neraka. Tempat menunggu bagi mereka yang amal baik dan amal buruknya seimbang, sehingga harus ditangguhkan.
Keenam, Masjidil haram, dalam tafsiran Dzun Nun al-Misri diibaratkan seperti surga, di mana siapa saja yang memasukinya akan merasa aman. Hanya orang-orang yang beriman saja yang bisa memasuki tanah haram Makkah, sebagaimana surga juga diperuntukkan hanya bagi mereka yang benar-benar beriman saja. Tidak akan ada orang kafir di surga sebagaimana tidak akan ada orang kafir dan non-Muslim di Makkah dan Masjid al-Haram. Sementara Ka’bah di tengah-tengah Masjidil Haram diibaratkan sebagai ‘arasy Allah, tahta kerajaan Allah, sehingga ibadah tawaf berkeliling ka’bah sama seperti berkelilingnya malaikat mengelilingi ‘arasy Allah.
Ketujuh, tahallul yang ditandai dengan bercukur seusai haji. tahallul diibaratkan sebagai tanda kemenangan amal baik, ketika orang-orang yang sukses melaksanakan haji diumpamakan seperti orang-orang yang sukses mendapatkan balasan amal kebaikan mereka di surga. Orang-orang yang beriman benar-benar memperhatikan amal perbuatan mereka, menyembunyikannya agar tidak dianggap riya’ yang bisa menghapus pahala, sama seperti menghilangkan rambut yang menjadi kebanggaan seseorang.
Oleh karena itu, jika perjalanan kematian seseorang hanya sekali, maka kewajiban menunaikan ibadah haji juga cukup dilakukan sekali saja. Makna-makna dan hikmah di balik amalan haji seperti yang diuraikan tadi menguatkan dengan jelas alasan syariat yang hanya mewajibkan haji sekali saja selama hidup seseorang. Dengan memahami esensi pelaksanaan haji ini yang wajib hanya sekali saja seumur hidup seseorang, maka persoalan yang dihadapi oleh umat Islam Indonesia dengan daftar tunggu antrian haji yang sangat lama mudah-mudahan dapat diatasi.
بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني و ايكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم و تقبل مني و منكم تلاوته انه هو السميع العليم اقول قولي هذا واستغفر الله لي و لكم و لسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انه هو الغفور الرحيم

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: