Archive for the ‘MPTH 2013-2014’ Category

UAS MPTH 2016

16/06/2016

Praktek Penelitian all

Selamat Datang di Mata Kuliah MPTH 2016

17/03/2016

Selamat Datang di Blog Mengajar dalam MK Metodologi Penelitian Tafsir Hadis tahun 2015/2016. MK ini diperuntukkan bagi mereka yang menjalani semester 6 di jurusan Tafsir Hadis FU-UIN Jakarta.

Beberapa artikel dan bahan kuliah yang ada di blog ini dapat dimanfaakan sebagai materi perkuliahan, baik itu presentasi tentang diskursus penelitian kajian tafsir dan hadis melalui pendekatan interdisipliner maupun juga bimbingan dan ketentuan pembuatan proposal penelitian dan penulisan makalahnya.

Berikut adalah bahan-bahan yang dimaksud:

Jika anda menemukan bahan-bahan lain yang sesuai dengan tema materi yang akan dibahas, maka anda dapat pula pakai bahan itu sebagai tambahan sumber rujukan bagi presentasi diskusi anda.

SELAMAT BERDISKUSI.

Slide15

Praktek Penelitian MPTH 2014

12/05/2014

Setelah menyerahkan proposal penelitian untuk nilai UTS, paling lambat 14 Mei 2014, maka proposal yang sudah disetujui dapat dilanjutkan ke tahap praktek penelitian.

Praktek Penelitian

Proposal Penelitian Mini MPTH 2016

13/04/2014

Dear Mahasiswa,

Judul/tema penelitian yang saya minta dipikirkan sejak awal perkuliahan sudah harus dirumuskan ke dalam proposal penelitian secara konkrit. Kesiapan anda mengajukan proposal ini akan berpengaruh terhadap praktek penelitian yang akan anda tempuh pada paruh akhir perkuliahan. Untuk itu, saya minta anda agar masing-masing sudah mengantongi judul/tema penelitian yang akan diusulkan, konsultasikan kepada saya mengenai kemungkinan bisa atau tidaknya, lalu rumuskan ke dalam sebuah proposal singkat 1-3 halaman saja yang berisi:

1. Judul Penelitian
2. Latar Belakang Permasalahan
3. Research Question (atau perumusan masalah)
4. Metodologi Penelitian, dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Proposal paling lambat diajukan pada 11 Mei 2016 pk. 23.59 WIB, sesuai kesepakatan dalam jadwal kuliah. Proposal dibuat dalam bentuk dokumen softcopy dikirim ke email saya: anwar.syarifuddin@uinjkt.ac.id

Segera setelah anda mengirimkan proposal, anda diminta memberitahukan melalui sms/WhatsApp/facebook/bbm untuk mendapatkan konfirmasi penerimaan. Pesan penerimaan dari saya penting untuk disimpan dan bisa ditunjukkan sebagai bukti komplain jika di kemudian hari nilai anda tidak muncul di AIS.

Pesan konfirmasi penerimaan juga perlu dicermati apakah proposal anda diterima sepenuhnya, sehingga anda bisa langsung melakukan penelitian, atau diterima dengan catatan, sehingga anda perlu melakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melaksanakan penelitian, atau bahkan ditolak dan diminta untuk membuat yang baru. Hal yang terakhir hanya akan terjadi bila terdapat unsur plagiasi.

Demikian harap diperhatikan. Pergunakan waktu anda dengan baik. Semakin cepat anda mengirimkan proposal dan mendapatkan konfirmasi penerimaan, semakin lebih banyak waktu yang anda dapat gunakan untuk melakukan praktek penelitiannya.

Selamat Bekerja.

Salam,

MAS

SAP MPTH 2013-2014

03/03/2014

Nama Matakuliah            : Metodologi Penelitian Tafsir Hadis

Kode Matakuliah              : QUR 7026

A. Deskripsi Matakuliah

Matakuliah Metodologi Penelitian Tafsir Hadis ditekankan pada pengembangan kemampuan mahasiswa dalam memahami sekaligus mempraktekkan penelitian bidang Tafsir Hadis. Untuk itu, fokus kajian mata kuliah ini dimulai dengan pemahaman tentang ruang lingkup bidang kajian Tafsir Hadis, penguasaan ragam metode pendekatan dalam penelitian Tafsir Hadis, termasuk ragam penedekatan interdisipliner yang mengaitkan pemakaian bidang kajian filologi, analisis sosio-historis, filsafat hermeneutika, dan kajian jender. Selain itu, mahasiswa juga diarahkan untuk mampu membuat sebuah disain penelitian dan mempraktekkan disain yang sudah dibuat dalam sebuah kegiatan penelitian mini.

B. Kompetensi Dasar     

  1. Kecakapan dan kemampuan menjelaskan definisi metodologi penelitian Tafsir Hadis dan menentukan ruang lingkup batasannya.
  2. Kecakapan dan kemampuan menunjukkan hubungan antara berbagai kelompok kajian dalam lingkup tafsir hadis dengan kekhususan paradigma yang berlaku di dalamnya, dan kemungkinan melakukan upaya pengkajian melalui kerangka konseptual yang berasal dari paradigma keilmuan di luar ruang lingkupnya.
  3. Kecakapan dan kemampuan menyebutkan dan menguraikan ragam pendekatan yang bisa dilakukan dalam penelitian bidang kajian Tafsir Hadis melalui skema penelitian interdisipliner, baik itu melalui kajian naskah secara tekstual melalui pendekatan filologis dan kritik sastra, kajian kritik kontekstual, hermeneutika, dan kajian jender.
  4. Kecakapan dan kemampuan membuat sebuah rancangan/disain penelitian dengan merumuskan tema penelitian, latar belakang pentingnya penelitian tersebut, pertanyaan penelitian, metodologi, serta bahan bacaan yang diperlukan.
  5. Kecakapan dan kemampuan melakukan praktek penelitian sesuai dengan judul yang sudah diajukan sebelumnya, dan menuliskan hasil penelitiannya dalam sebuah tulisan ilmiah yang tidak dipublikasikan.

 

C. Daftar Pustaka

Abu Zahw, Muhammad Muhammad. Al-Hadits wa al-Muhadditsûn. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1984.

Abu Zayd, Nasr Hâmid. Mafhûm al-Nass. Kairo: Al-Hayât al-Misriyyah li Ammat al-Kitâb, 1993.

Amal, Taufik Adnan.; dan Panggabean, Syamsu Rizal. Tafsir Kontekstual Al-Qur’an. Sebuah Kerangka Konseptual. Bandung: Mizan, 1990.

Arkoun, M. Berbagai Pembacaan al-Qur’an (terj. Machasin) Jakarta: INIS, 1997.

Azami, M.M. Metodologi Kritik Hadis (terj. A Yamin), Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992.

Bleicher, J. Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy and Critique. London: Routledge & Kegan Paul.

Bogdan, R.C.;  dan Knopp Biklen, Sari. Qualitative Research for Education, an Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, 1998.

Dzahabî, M.H. Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Kairo: Mustafâ al-Bâb al-Halabî, nd, 2 vols.

Dzahabî, M.H. Ittijahat al-Munharifa fi tafsir al-Quran, Kairo: Dâr al-I‘tisâm, nd.

Farmawi, Abd al-Hayy al-. al-Bidaya fi Tafsir al-Mawdu’i. Fajjala: Matba’a al-Hadara al-‘Arabiyya, 1977.

Gadamer, Hans Georg. Philosophical Hermenutics. (terj. David E. Linge). Berkeley: University of California Press, 1977.

Goldziher, I.  Madzâhib al-Tafsîr al-Islâmî. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1975.

Hasan, Rif‘at.; dan Mernisi, Fatima. Setara di Hadapan Allah Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam tradisi Islam. Yogyakarta: LSPAA, 1995.

Howard, R.J. Three Faces of Hermeneutics: An Introduction to Current theory of Understanding, Los Angeles: University of California Press, 1982.

Humphreys, R. Stephen. Islamic History, A Framework for Inquiry. Princeton: Princeton Univ. Press, 1991.

Ismail, M. Syuhudi. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Mc Auliffe, Jane Dammen. Quranic Christians an Analysis of Classical and Modern Exegesis, Cambridge: Cambridge Univ. Press, 1991.

Palmer, Richard. Hermeneutics, Evanston: Northwestern University Press, 1969.

Patte, Daniel. What is Structural Exegesis? Philadelphia: Fortress Press: 1976.

Qattan, Manna’ Khalîl. Mabâhits fî ‘ulûm al-Qur’ân. Beirut: Dâr al-I’tisâm.

Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung: al-Ma’arif.

Rippin, Andrew (ed). Approaches to the History of the Interpretation of the Qur’an. Oxford: Clarendon Press

Robson, Stuart. Principles of Indonesian Philology, Dordrecht: Foris Publication, 1988.

Salih, Subhi. Mabahits fi ulum al-Qur’ân. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1988.

Suyuti, Jamaluddin al-. al-Itqan. Kairo: Maktaba al-Masyhad al-Husayniyya, 1967.

Syarifuddin, M. Anwar. Metodologi Penelitian Tafsir Hadis, hasil penelitian buku ajar, 2006.

Watt, W. Montgomery. Bell’s Introduction to the Qur’an. Edinburg: Edinburg Univ. Press, 1970.

Zarkashi, Badruddin. Al-Burhan fi ulum al-Quran, Kairo: 1959, 4 vols.

Internet: Blog MENGAJAR di https://anwarsy.wordpress.com

Topik Bahasan
SAP MPTH SAP MPTH 2

Kesetaraan Jender

04/11/2013

Pendekatan baru yang masih digandrungi sebagai sebuah model penelitian dalam banyak aspek kajian, dan lebih khusus kajian keislaman dewasa ini terutama menyangkut masalah perempuan, adalah pendekatan kesetaraan gender. Kata jender atau gender didefinisikan sebagai semua hal baik yang dikonstrusksi secara sosial maupun kultural, yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu kelas ke kelas lainnya. Gender adalah pembedaan peran, status, pembagian kerja, yang dibuat oleh sebuah masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Hal ini menjadi bentukan manusia yang tidak baku, karena bisa berubah. Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Perbedaan gender ini tidak menjadi masalah krusial ketika tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities), akan tetapi pada kenyataannya perbedaan jender justru melahirkan struktur ketidakadilan, dalam berbagai bentuk: marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, beban kerja, yang secara ontologis merupakan modus utama kekerasan terhadap perempuan. Pada kondisi inilah kekuasaan laki-laki mendominasi perempuan, bukan saja melangengkan budaya kekerasan, tetapi juga melahirkan rasionalitas sistem patriarki. Ideologi patriarki adalah ideologi kelaki-lakian, di mana laki-laki dianggap memiliki kekuasaan superior dan priviledge ekonomi. Patriarki dianggap sebagai masalah yang mendahului segala bentuk penindasan. Hal inilah yang menjadi agenda kaum feminis ke depan, ketika pusat persoalan adalah tentang tuntutan kesetaraan, keadilan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dari sinilah persoalan mengenai jender seolah tidak bisa dilepaskan dengan masalah feminisme.

Apa itu feminisme? Dalam hal ini, ada 3 definisi yang memberi makna istilah ini:
(1) Feminisme adalah teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga Juliet Mitchell dan Ann Oakley dalam What is Feminism? (1986) mengatakan seorang daat dikategorikan sebagai feminis jika ia mempertanyakan hubungan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan, sekaligus secara sadar menyatakan dirinya sebagai seorang feminis.
(2) seorang dapat dikatakan feminis sepanjang pemikiran dan tindakannya dapat dimasukkan ke dalam aliran-aliran feminisme yang dikenal sekarang ini, seperti feminisme liberal, marxis, sosialis, dan radikal.
(3) Feminisme adalah sebuah gerakan yang didasarkan pada adanya kesadaran tentang penindasan perempuan yang kemudian ditindaklanjuti dengan aksi untuk mengatas penindasan tersebut. Di sini kesadaran dan aksi menjadi inti komponen yang harus ada kedua-duanya agar dikatakan sebagai feminis.

Kesimpulan yang bisa diambil dari 3 definisi di atas, feminisme tidak mendasarkan pada sebuah grand theory yang tunggal, tetapi lebih pada realitas kultural dan kenyataan sejarah yang konkrit, dan tingkatan-tingkatan kesadaran, persepsi, dan tindakan. Untuk itulah maka gerakan feminisme kerap diasosiasikan sebagai gerakan pembebasan, di mana kemudian ketika terjadi penyandaran argumentasi yang mengatasnamakan agama, atau opengambilan sumber-sumber ajaran yang berasal dari kitab suci, maka terjadilah apa yang disebut sebagai teologi feminisme, yang kemudian dikenal pula sebagai bagian dari teologi pembebasan.

Teologi Feminisme berasal dari teologi pembebasan (liberation theologi) yang dikembangkan oleh James Cone pada akhir tahun 1960-an, di mana perempuan dianggap sebagai kelas tertindas. Namun, tidak seperti paradigma marxisme murni, faham teologi feminis tetap menyertakan agama. Hanya saja, bukan agama yang melegitimasi penguasa, tetapi agama sebagai alat untuk membebaskan golongan yang tertindas, yaitu perempuan. Hal yang ingin dicapai dalam teologi feminisme adalah tercapainya perubahan struktur agar keadilan jender dan keadilan sosial dapat tercipta. Teologi feminisme berkembang dalam agama-agama semitik: Yahudi, kristen, Islam, di mana agama sering ditafsirkan dengan memakai ideologi patriarki yang menyudutkan wanita. Para teolog feminis dalam Islam adalah mereka yang mencari konteks dan latar belakang ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkenaan dengan perempuan. Seperti dikatakan Rif’at Hassan, seorang Feminis Pakistan, bahwa cara pandang dan sikap negatif terhadap perempuan yang banyak terjadi pada masyarakat muslim berakar pada teologi. Oleh karena itu, jika dasar-dasar teologi yang cenderung membenci perempuan (misoginis) dan androsentris tidak dibongkar dan dihancurkan, maka diskriminasi terhadap perempuan dalam Islam akan terus berlangsung.

Pengkajian terhadap agama yang mengetengahkan perspektif kesetaraan jender seringkali diidentikkan dengan pembahasan yang berpusat pada persoalan seputar perempuan. Persoalan ini selalu menjadi pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para feminis dan para pemerhati perempuan. Ini dikuatkan dengan kemunculan gerakan-gerakan feminisme (Liberal, Marxis, Sosialis, Radikal), yang kesemuanya bermaksud memperjuangkan kebebasan perempuan dari dominasi laki-laki, atau juga membebaskan teks dari dominasi penafsiran yang bias laki-laki dengan mengeliminasi aspek-aspek penafsiran yang bernada misoginis, membenci perempuan.

Latar belakang yang mendasari kemunculan gerakan kesetaraan gender ini dalam sisi pembaharuan pemikiran Islam adalah sebuah upaya untuk mengembangkan apa yang disebut oleh orang barat sebagai “teologi feminis” yang dalam konteks Islam yang memiliki tujuan untuk membebaskan kaum perempuan dan kaum muslimin pada umumnya dari struktur-struktur dan perundang-undangan yang tidak adil dan tidak memungkinkan terjadinya hubungan yang hidup antara laki-laki dan perempuan. Rifat menilai bahwa ada ketidaksesuaian yang mencolok antara cita-cita Islam dan praktek umatnya sejauh menyangkut perempuan. Dalam hal ini, beberapa kesalahan mendasar ditemukan dalam pandangan normatif Islam yang berakar pada penafsiran terhadap al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam beragam konteks, kesetaraan kedudukan semua manusia baik laki-laki maupun perempuan di hadapan Allah dipertentangkan dengan bias penafsiran yang menganggap kelebihan status laki-laki sebagai qawwamun (yang umunya diterjemahkan sebagai “penguasa” atau “pengatur”) perempuan, laki-laki memperoleh bagian waris dua kali lebih besar dibandingkan dengan bagian kaum perempuan, kesaksian laki-laki yang sama dengan kesaksian dua orang perempuan, maupun argumen-argumen yang berakar dari hadis ketidaksempurnaan perempuan daam salat, atau menyangkut kecerdasan akalnya sebagai konsekuensi dari kesaksiannya yang dihitung hanya setengah dar kesaksian laki-laki. Kesemua doktrin teologis tersebut di atas memerlukan telaah lebih dalam, mengingat pemahaman tersebut masih mengindikasikan bias gender, padahal dalam sudut pandangan Islam normatif laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, kendati ada perbedaan status biologis dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Penafsiran yang dianggap bias gender, dan bercorak misoginis, sehingga menempatkan status laki-laki dalam derajat yang lebih superior dibandingkan dengan perempuan juga dijumpai dalam tradisi agama-agama lain. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, akar pandangan yang bias gender didapati dalam 3 asumsi teologis: (1) Ciptaan Tuhan yang utama adalah laki-laki, dan bukan perempuan karena perempuan diyakini diciptakan dari tulang rusuk Adam. Konsekuensinya, secara intologis kedudukan perempuan bersifat derivatif dan sekunder; (2) Perempuan, dalam hal ini Hawa, menjadi penyebab kejatuhan manusia dari surga. Konsekuensinya, semua anak perempuan Hawa dipandang dengan rasa benci, curiga, dan jijik; (3) Perempuan tidak saja diciptakan dari laki-laki, tetapi juga untuk laki-laki. Konsekuensinya, keberadaan perempuan hanya bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar. Ketiga asumsi teologis yang memandang rendah kaum perempuan ini, sedikit banyak masih tergambar dalam pandangan masyarakat Arab yang melatarbelakangi setting historis dan sosiologis turunnya al-Qur’an.

Dalam hal ini, tidak pula dipungkiri bahwa Islam telah berupaya untuk sedikit demi sedikit mengangkat derajat kaum perempuan dari pandangan sosialdan teologis yang ada sebelumnya. Akan tetapi, struktur sosial yang patriarkhis dan dominasi peran laki-laki dalam kultur peradaban dan perkembangan pemikiran Islam masa klasik dan periode salanjutnya menjadikan cara berfikir yang bias gender masih saja berlangsung, atau setidaknya terekam dalam praktek-praktek penafsiran al-Qur’an, yang umumnya juga dilakukan oleh ulama lak-laki. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam banyak kasus, penafsiran yang tidak didasarkan pada asas kesetaraan gender ini masih terus berlangsung sampai pada saat tafsir-tafsir tersebut digagas pada periode perkembangan pemikiran Islam abad pertengahan sampai abad awal abad ke-20. Istilah feminisme Islam sendiri baru digagas sekitar tahun 1990-an, sebagai sebuah gerakan dalam mengimbangi perkembangan gerakan Islamism. Akar gerakan kesetaraan gender sendiri sudah ada sejak seabad yang lalu, sebagaimana diadvokasi oleh Qasim Amin dari Mesir dan Mumtaz Ali dari India. Beberapa tokoh ternama lainnya yang berkecimpung dalam gerakan feminisme Islam adalah Leila Ahmad, professor kajian wanita asal Mesir; Fatima Mernissi, seorang penulis asal Maroko; Amina Wadud, dan tokoh-tokoh lainnya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa perspektif kesetaraan gender dalam penelitian kajian al-Qur’an maupun hadis ditujukan untuk menganilisis ulang teks-teks yang beredaksi misoginis, dalam sebuah upaya kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang tidak saja mempertimbangkan konteks sosio-historis dalam memahaminya, tetapi juga dengan menarik signifikansinya bagi konteks sosiologis yang terjadi pada masa kini, sehingga tetap didapatkan makna pesan-pesan al-Qur’an yang teguh berpegang pada dimensi keadilan dan kesetaraan derajat antara sesama manusia.

Penekatan Hermeneutika

29/10/2013

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10

Pendekatan Kritik Kontekstual melalui Ilmu-ilmu Sosial

22/10/2013

Memahami Makna Konteks
Dalam pendekatan kontekstual, konteks yang dimaksud dari sebuah kejadian, kata, paradigma, perubahan, atau realitas sejenisnya adalah “situasi dan kondisi yang mengelilingi sesuatu.” Makna konteks dalam ilmu bahasa mengandung 2 macam arti: (1) sekeliling teks atau percakapan tentang sebuah kata, kalimat, peralihan atau turn (yang disebut pula co-text), dan (2) dimensi situasi komunikatif yang relevan guna memproduksi atau menyempurnakan sebuah diskursus. Dari dua macam makna tadi, maka beberapa arti khusus yang menandai definisi istilah ini secara terminologis dapat dijelaskan berdasarkan spesifikasi bidang ilmu yang memakainya. Makna konteks dalam ilmu komunikasi, linguistik, dan discourse analysis; misalnya, cenderung diartikan sebagai cara-cara para partisipan menentukan dimensi relevan situasi yang komunikatif dari sebuah teks, percakapan, atau pesan, seperti setting (waktu, tempat); aktivitas yang berlangsung (misalnya, makan malam keluarga, perkuliahan, debat parlemen, dll); atau fungsi partisipan dan peranannya (misalnya pembicara, teman, wartawan, dll); serta tujuan, rencana/niat, dan pengetahuan partisipan.
Konteks dapat pula dibedakan dari dua sudut pandangan yang berbeda menyangkut sebuah peristiwa. Dalam hal ini konteks pembicara di satu sisi, dan konteks peserta atau komunikan di sisi lain, keduanya dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Konteks yang berada di sekeliling pembicara atau penulis secara tipikal mengontrol bagaimana sebuah diskursus dapat disesuaikan dengan situasi sosialnya, yaitu dengan cara membedakan gaya penuturan: bagaimana sebuah kata diucapkan, misalnya. Sementara itu, konteks yang berada di sekeliling penerima mengontrol bagaimana partisipan mengerti sebuah perbincangan, seperti bagaimana fungsi, peranan, tujuan, dan pengetahuan, atau ketertarikan mereka terhadap perbincangan tersebut berpengaruh terhadap pemahaman yang mereka dapatkan.
Dalam rangka menarik relevansi penerapan pendekatan kontekstual dalam penelitian ilmiah yang kita minati, sebut saja dalam studi kitab suci misalnya, pendekatan konteks mengindikasikan terjalinnya hubungan harmoni antara ayat-ayat kitab suci atau potongan bagian teks yang tengah dikaji terhadap apa yang harus diikuti oleh makna skriptural dalam menentukan makna yang dipilih dalam menjelaskan hubungan yang erat antara makna itu dengan ayat yang ditafsirkan. Inilah yang disebut sebagai kaidah “teks dalam konteks”. Dalam hal ini bisa juga dipahami bahwa konteks kitab suci juga semestinya mengikuti maksud dan tujuan sebagaimana dipahami oleh penulis asli terhadap sebuah pandangan dalam menyampaikan kebenaran skriptural kepada pendengarnya.

Kronologi Historis dan Setting Sosial 
Dari sini, kita bisa menarik pembahasan lebih dalam lagi dalam menyelami studi al-Qur’an dan ilmu tafsir, di mana arti penting penerapan pendekatan kontekstual dalam bidang kajian Tafsir Hadis menempati posisi krusial. Asbab nuzul atau peristiwa yang menjadi latar belakang sejarah dan setting sosial sebuah ayat merupakan elemen penting dalam tafsir dalam menjelaskan fenomena hidup (the living phenomenon) dari sebuah diskursus dalam proses pewahyuan al-Qur’an. Oleh karenanya, selain secara tekstual tertuang dalam mushaf, atau apa yang dikonsepsikan M. Arkoun sebagai korpus resmi tertutup (Arkoun 1994:35-40), al-Qur’an memiliki fenomena hidup sebagai diskursus selama kurun masa pewahyuannya yang berlangsung sekitar 23 tahun lamanya. Al-Qur’an sebagai diskursus ini menandai periode awal Islam sebelum kemudian teks al-Qur’an disepakati secara resmi pada masa pemerintahan khalifah Usman RA, yaitu ketika al-Qur’an dibukukan ke dalam sebuah teks baku dan mushaf yang resmi yang mengakhiri pertentangan yang ada terhadap beragam persoalan tentang variasi bacaan ketika itu. Mushaf Usmani inilah yang menjadi mushaf standar dan dilestarikan hingga saat ini.
Membuka kembali al-Qur’an sebagai diskursus yang berlangsung pada saat pewahyuannya dianggap sebagai cara yang tepat dalam menilai arah yang tepat berkenaan dengan penetapan hukum dalam syariat, begitu pula dalam menilai hukum-hukum yang bersifat partikular, karena bisa jadi sebuah lafazh menunjuk sebuah karakter umum, sementara latar belakang turunnya ayat tertentu menjadi argumen yang mengkhususkannya. Tentang asbâb al-nuzûl, pentingnya ilmu ini untuk diketahui oleh siapa saja yang berniat menafsirkan al-Qur’an disebutkan dengan jelas dalam pernyataan al-Wahidi, bahwa tidaklah mungkin seseorang menafsirkan al-Qur’an jika ia tidak berpegang pada kisah dan penjelasan berkenaan dengan turunnnya. Tokoh lain seperti Ibn Taymiyya juga menjelaskan bahwa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat akan membantu dalam memahami ayat itu, karena dengan mengetahui suatu konteks (sabab) pada gilirannya akan menurunkan pengetahuan tentang teks (musabbab) (Suyuti 1979: i, 29).
Pentingnya asbab nuzul dalam memahami al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh para pakar tafsir di atas, adalah karena al-Qur’an turun dalam situasi kesejarahan yang konkret. Al-Qur’an merupakan respon Tuhan terhadap situasi Arabia pada zamannya. Respon itu terekan di sana sini, bahkan bukan saja dalam tradisi kenabian yang menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa berpengaruh terhadap turunnya malaikat dalam membawa pesan Allah sebagai jawaban bagi persoalan yang dihadapi. Gambaran mengenai konteks historis tentang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dapat dilihat dalam literatur asbâb al-nuzûl, seperti karya Wâhidî yang berjudul Asbâb al-Nuzûl, ataupun karya Suyuti Lubab al-Nuqûl fi Asbâb al-Nuzûl.

Konteks Susastra
Pertimbangan terhadap konteks juga memegang peranan penting dalam kajian al-Qur’an, terutama dalam menelaah redaksi al-Qur’an yang menunjukkan bagaimana teks al-Qur’an diturunkan dalam bentuk retorika dan dialektika dalam sebuah diskursus atau perbincangan yang tidak menampilkan suara yang monofonik, ketika Allah dianggap satu-satunya penutur (speaker). Sebagaimana tergambar dalam beberapa model redaksi yang bersifat dialogis, al-Qur’an menampilkan sebuah paduan suara yang cukup beragam. Dengan melihat diskursus yang menandai proses pewahyuannya, suara al-Qur’an tergolong polifonik. Begitu banyak sumber bunyi yang tergambar dari sebuah redaksi teks al-Qur’an, sehingga perkataan “Aku” atau “Kami” tidak selalu merujuk kepada Tuhan sebagai penutur. Bahkan suara Tuhan sendiri terkadang diwujudkan dalam bentuk orang ketiga, “Dia”, atau juga orang kedua “Engkau”. Identifikasi suara Tuhan dalam bentuk pembicara ketiga kadang-kadang didahului dengan ungkapan “Katakanlah!” yang tidak disebutkan siapa subyeknya. Model perbincangan semacam ini sangat banyak terjadi di dalam al-Qur’an, terutama yang menandai karakter ayat-ayat yang turun pada periode Mekkah.
Redaksi teks yang terekam dalam QS. Al-Ikhlâs, sebagaimana dicontohkan oleh Nasr Abu Zayd menunjukkan akan keikutsertaan 3 macam suara dalam proses pewahyuannya (Abu Zayd 2004:19). Secara literal, terjemahan dari surat itu dapat disebutkan sebagai berikut:
Katakanlah, Dia adalah Allah yang Esa.
Allah yang kekal selamanya.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Dan tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.

Dari redaksi surat al-Ikhlas di atas, sesuatu yang menandai keyakinan kaum muslimin menerangkan sebuah penjelasan bahwa subyek yang tidak teridentifikasi ini merupakan suara malaikat Jibril AS, mediator dan utusan Allah yang menyampaikan pesan Allah kepada Muhammad SAW. Sebagai utusan yang membawa pesan Allah, Jibril menjelaskan Kalamullah melalui suara dirinya yang bertindak atas nama Tuhan. Dari sini, suara Tuhan secara tidak langsung (implicit), yang terpancar jelas oleh Muhammad dalam wujud suara malaikat, pada gilirannya harus diumumkan pula kepada khalayak sebagai target akhir penerima pesan ilahi. Penyampaian ini tentu saja melalui suara Muhammad sendiri sebagai seorang manusia. Dengan keikutsertaan ketiga macam suara, maka model diskursus yang berlangsung dalam surat al-Ikhlas bersifat “informatif”.
Al-Qur’an tidak saja menampilkan model diskursus informatif, tetapi terdapat pula model “dialog implisit” dalam bentuk hymne atau ayat-ayat liturgis di mana penuturnya adalah suara manusia, sementara Tuhan digambarkan sebagai komunikan. Contoh terbaik untuk model dialog ini adalah QS. Al-Fâtihah, yang merupakan pembacaan yang sangat jelas (ekslpisit); sementara respon Tuhan bersifat implisit. Oleh karena itu, bagi setiap pembaca disarankan untuk membaca ayat-ayat ini secara pelan-pelan dengan cara berhenti sejenak di setiap akhir ayat guna dapat menerima jawabannya. Dengan kata lain, pembacaan surat ini meliputi proses yang meliputi baik vokalisasi maupun juga proses mendengarkan dengan seksama (sama’) karena pada saat yang sama ketika pembacaan surat al-Fatihah dilakukan di dalam salat, Allah memberikan jawaban bagi permohonan hambanya (Abu Zayd 2004:21). Dari beberapa susunan model diskursus al-Qur’an, seorang peneliti akan menemukan arti penting konteks dalam kajian kitab suci ini.
Sebuah bidang kajian yang mendapatkan perhatian cukup besar dalam upaya ijtihadi setiap penafsir al-Qur’an adalah ilmu munâsabât, yaitu keterkaitan antara bagian-bagian dalam al-Qur’an. Kajian ini juga menyangkut aspek konteks dalam arti keterikatan redaksional maupun makna ditinjau dari tata urutan ayat-ayat dan surat dalam mushaf. Dengan kata lain, jika konteks yang dibicarakan dalam asbâb al-Nuzûl adalah latar belakang sosio-historis yang menandai kronologis ayat berdasarkan turunnya, maka konteks yang diurai dalam ilmu munasabat adalah kronologi teks dalam mushaf (Abu Zayd 1993:179-197). Dalam hal ini keterkaitan redaksional maupun makna dapat dilihat baik antara satu ayat dengan ayat-ayat sesudahnya, kelompok besar ayat-ayat dengan kelompok besar ayat-ayat lainnya, sebuah surat dengan surat lain sesudahnya, atau bahkan bagian akhir sebuah surat dengan bagian pembuka surat sesudahnya. Keterkaitan antar bagian-bagian al-Qur’an dalam susunan redaksional dan maknanya menunjukkan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang mendukung konsepsi i’jaz al-Qur’ân yang benar-benar datang dari sisi Tuhan, dan tidak bida ditandingi oleh komposisi yang dibuat oleh manusia manapun.

Konteks dalam Hadis dan Fiqh
Arti penting konteks juga berlaku dalam penelitian hadis, di mana sebuah ungkapan, atau perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW biasanya lahir dari sebuah kejadian yang melatarbelakangi munculnya pernyataan dan amaliah tersebut. Untuk itu, pendekatan kontekstual baik dalam bentuk ulasan tentang setting historis, sosiologis, maupun budaya yang mendasari sebuah tradisi kenabian ataupun diktum agama pada masa pembentukannya di masa-masa sesudahnya menjadi sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan makna dan pemahaman yang bisa diambil darii hadis-hadis di luar susunan redaksionalnya. Konteks dalam hal ini juga menjadi pertimbangan dalam melakukan interpretasi terhadap hadis bagi kepentingan penetapan hukum dalam fiqh Islam.
Dalam proses dan aktivitas penelitian tentang diktum maupun doktrin agama baik yang berasal dari kitab suci maupun tradisi kenabian, penyertaan konteks memiliki peranan cukup penting dalam membentuk karakter dari diktum maupun doktrin tersebut. Lokasi turunnya wahyu, seperti yang membedakan antara kelompok ayat-ayat makkiyah yang turun di Mekkah dan kelompok ayat-ayat madaniah yang turun di Madinah sesudah hijrah, turut membentuk karakter redaksional maupun isi kandungan pesan yang disampaikan yang menandai ciri-ciri umum redaksi masing-masing periodisasi pewahyuan al-Qur’an tersebut. Dalam hal ini, perbedaan penggunaan kata panggilan (munada) dan substansi pesan yang disampaikan juga menandai perbedaan karakter antara dua kategorti historis tadi.
Pertimbangan konteks, atau lebih tepatnya kronologi historis juga berpengaruh terhadap penetapan dan pembatalan hukum dalam kasus nasikh mansukh. Dalam hal ini, bacaan atau hukum yang berlaku lebih awal dibatalkan oleh bacaan atau hukum yang datang belakangan. Konteks yang menjadi latar belakang peristiwa yang menjelaskan turunnya sebuah perintah yang dikandung dalam sebuah ayat al-Qur’an, jika dilihat melalui teksnya secara telanjang melalui tata urutan mushaf semata, maka aspek-aspek kronologis semacam pembatalan hukum sama sekali tidak bisa terdeteksi. Konteks kronologis menjadi kajian yang harus dicermati, sehingga pembacaan terhadap al-Qur’an dengan menyertakan konteks turunnya ayat tersebut dapat dijadikan patokan mana ayat yang turun lebih dulu —yang hukumnya dibatalkan, dan mana yang turun belakangan dan menggantikan hukum yang pertama.

Kesimpulan
Menelusuri konteks melalui pendekatan sejarah, sosiologi, maupun budaya seperti yang ditampilkan Nasr Abu Zayd dalam membedah konsep-konsep dalam karyanya Mafhum al-Nass dan karya-karya sarjana muslim lain merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan kajian agama dalam merespon perkembangan kajian sosiologis dan humaniora melalui pendekatan cultural studies (kajian budaya) yang mulai marak dikembangkan pada akhir abad ke-20. Pendekatan ini dilakukan dengan mengenalkan pemikiran aliran marxisme ke dalam sosiologi, dan sebagiannya melalui artikulasi sosiologi dan displin akademik lain, seperti kritik sastra, maupun disiplin agama. Gerakan ini bertujuan untuk memusatkan analisis terhadap subkultur-subkultur dalam masyarakat kapitalis. Mengikuti tradisi non-antropologi, kajian budaya biasanya memfokuskan kajian konsumsi barang (seperti pakaian, seni, dan literatur). Karena ada perbedaan antara kultur rendah dan kultur tinggi pada abad ke-18-19 yang tidak lagi pantas untuk diaplikasikan pada konsumsi barang yang diproduksi dan dipasarkan secara massal yang menjadi pokok analisis kajian kultur, maka sarjana merujuknya sebagai budaya populer.
Walhasil, apapun pisau bedah yang digunakan dalam meneliti fenomena keagamaan melalui pendekatan kontekstual, pendekatan akademis ini bermuara pada semakin banyaknya titik-titik persinggungan antara agama dan kenyataan dalam kehidupan manusia kontemporer yang membutuhkan metodologi pemecahan masalah yang harus tetap berlandaskan pada semangat universalitas al-Qur’an agar bisa menjadi rahmat bagi semesta alam.

Pendekatan Filologis

08/10/2013

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide12 Slide13

Daftar Nama Pemakalah

07/10/2013

DAFTAR PEMAKALAH DISKUSI MPTH

RAGAM PENDEKATAN DALAM KAJIAN TAFSIR HADITS

WAKTU/TEMA

KELAS

VII/TH/A

VII/TH/B

VII/TH/C

09-10

Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra

Hurin in

Ferra Dwi J

Muh. Khalimi

Andi Firman

Ernik Sulis Setiawati

Adi Sunarya

Maghfiroh

Hafiz

Yadi Mulyadi

M. Rasyidi

Gugun G.

Nurkholis S.

Suprihatini

Dani

Ima

Ai Nurfatwa

I. Haromain

Januri

23-10

Pendekatan Kritik Kontekstual melalui Ilmu-ilmu Sosial

Wahyu

Al-Ghifri M

Zaenuri

Ali Akbar

Maulana

Aceng Aum

Lailu R

Nurul H.

Ina Nur

Afwan

Leli

Denis

30-10

Pendekatan Hermeneutika

M. Dedi Sofyan

Habibullah

Maringo

Serpin

Gusti Rahmat

R. Usman

M. Hanif

Hani

Ai Popon

Ulul Azmi

Syarifatunnisa

Dede Rihana

Inggit

Anisa

06-11

Perspektif Kesetaraan Jender

Rida

Nisa

Rina

Putri

Ida

Sa’adah

Annalia

Alfionita

M. Ghozali

Alamuddin

Sartika

Maliya

Lukman

Ilmawan

Ruang Lingkup dan Perlunya Pendekatan Interdisipliner dalam Penelitian TH

30/09/2013

Slide1Slide2Slide3Slide4Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide16 Slide17 Slide18

Kuliah Pengantar 1: Apa itu MPTH?

23/09/2013

Slide1 Slide2 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide11Slide2

 

MPTH 2013-2014

09/09/2013

Selamat Datang di BLOG MENGAJAR, Bagi para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Metodologi Penelitian Tafsir Hadits (MPTH) semester ini di FU/TH/VII/a-b-c-d diberitahukan bahwa perkuliahan baru akan dimulai pada Rabu, 25 September 2013, karena seluruh mahasiswa semester 7 di UIN Jakarta masih melaksanakan KKN di lokasi penempatan masing-masing. Untuk itu, bagi mahasiswa yang bermaksud mengulang MK ini atau mereka yang berasal dari semester bawah dan mendaftar untuk mengambil MPTH tahun ini diharapkan dapat menyesuaikan jadwal perkuliahan. Berikut saya lampirkan jadwal perkuliahan untuk MPTH 2013-2014:

Jadwal Perkuliahan Metodologi Penelitian Tafsir Hadits 2013-2014

WAKTU

MATERI

PENYAJI

Pekan 1 Pendahuluan: Apa itu Metodologi Penelitian Tafsir Hadits Dosen
Pekan 2 Lingkup Kajian Tafsir Hadits

  1. Kelompok Kajian al-Qur’an dan Ulum al-Qur’an
  2. Kelompok Kajian Tafsir dan Metode Penafsiran
  3. Karya-karya dalam Rumpun Kajian Tafsir al-Qur’an
  4. Kelompok kajian Hadis dan Ulum al-Hadis
  5. Karya-karya dalam Rumpun Kajian Hadis
Dosen
Pekan 3 Penelitian Tafsir Hadis melalui Pendekatan Interdisipliner

  1. Latar Belakang Perlunya Pendekatan Interdisipliner dalam Kajian Tafsir Hadis
  2. Perkembangan Penelitian Tafsir Hadis dalam Iklim Kesarjanaan Muslim Kontemporer
  3. Perkembangan Penelitian Tafsir dan Hadis dalam Iklim Kesarjanaan Barat Modern
 
Pekan 4 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra

  1. Pendekatan Bahasa dalam Filologi Klasik
  2. Kritik Naskah dalam Filologi Modern
  3. Kritik Sastra, Kritik Bentuk, Kritik Redaksi
 
Pekan 5 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Kritik Kontekstual

  1. Arti Penting Konteks dalam Kajian al-Qur’an dan Hadis
  2. Beberapa Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial/humaniora sebagai alat/metodologi Kritik: Ilmu Sejarah, Politik, Sosiologi, dan Antropologi
 
Pekan 6 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Hermeneutika

  1. Memahami Perkembangan Makna Hermeneutika dalam Kajian Teks  Kitab Suci
  2. Penerapan Teori-teori Hermeneunika Modern dalam Kajian Tafsir Hadis
 
Pekan 7 Penelitian Interdisipliner melalui Perspektif Kesetaraan Jender.

  1. Mengenal Apa itu Perspektif Kesetaraan Jender
  2. Arti Penting Analisis Jender dalam Kajian Keislaman
 
Pekan 8 Menyusun Disain Penelitian Tugas Mandiri
Pekan 9
Pekan 10 Praktik Penelitian Tugas Mandiri

Catatan:

  1. Mahasiswa diharapkan sudah menetapkan tema/judul penelitian pada pekan ke-3 perkuliahan
  2. Tugas UTS menyerahkan Disain Penelitian max 20/11/2013
  3. Tugas UAS menyerahkan makalah/paper penelitian max 08/01/2014 (lebih cepat lebih baik).
  4. Tugas-tugas dikumpulkan via email: m.anwarsy@gmail.com
  5. Informasi & materi perkuliahan dapat dilihat dan diunduh di BLOG MENGAJAR https://anwarsy.wordpress.com

nilai mpth 2011-2012

26/06/2012

MAKALAH PENELITIAN dan form angket

21/06/2012

Dear Mahasiswa,

Terima kasih saya ucapkan bagi mahasiswa yang telah menyerahkan tugas UAS tepat waktu. Bagi mereka yang meminta koreksi berkas diharapkan untuk bersabar menunggu, karena prioritas pekan ini adalah memeriksa dan memberi nilai anda. Melalui email anda semua, juga telah saya kirimkam form evaluasi dosen, kiranya anda bersedia mengisi form tersebut, dapat mengembalikannya secepatnya.

MAS

Tugas UAS Ayoo kirim segera, jangan tunggu tanggal 19…

09/06/2012

Dear Mahasiswa,

Bagi mahasiswa yang sudah selesai melakukan penelitian, sudah bisa menyerahkan MAKALAH yang menjadi LAPORAN HASIL PENELITIAN MINI yang dilakukan sesuai dengan judul yang sudah diajukan sebelumnya. So, bagi mereka yang sudah selesai, tidak perlu menunggu TENGGAT WAKTU TERAKHIR, yaitu tanggal 19 Juni 2012.

Semakin cepat menyerahkan tugas, semakin baik, karena sepekan setelah waktu formal UAS, nilai anda sudah harus diterbitkan via ais.

Mohon diperhatikan!!!!!!!!!!!!!!

Salam

MAS

Belum Menyerahkan UTS

15/05/2012

Ini daftar mahasiswa yang belum serahkan tugas UTS berupa proposal penelitian mini.

Muhammad Muslih

Ahmad Junaedi

Muhammad Syaman

Dimas Yedia Satria Adiguna

Misbak (diminta revisi)

Ali Hamzah Al-Husaini, 20-05 “Jual Beli Ilegal dalam Perspektif Tafsir dan Hadis”

Izzul Muttaqin

Agung Syafiullah

Roro Estri Melati

Ahmad Jaenuddin

Harri Lukman

Untuk mahasiswa semester 8 ke atas yang mengulang mata kuliah MPTH diharapkan menyerahkan tugas-tugasnya sekaligus, sehingga bisa secepatnya diterbitkan nilainya.

Harap diperhatikan!!!!

Salam

MAS

Pengumpulan Tugas UTS

09/05/2012

Tugas UTS MPTH dilakukan dengan menyerahkan proposal penelitian. Bagi mahasiswa yang telah menyerahkannya tepat waktu saya ucapkan terima kasih atas kerja keras anda, tugas anda selanjutnya adalah melakukan penelitian dan menyiapkan makalah hasil penelitiannya sebaik-baiknya, dengan bentuk seperti diberikan dalam contoh.

Bagi mereka yang belum menyerahkan diharapkan untuk segera menyerahkan tugas UTS, karena semakin lama anda menunda menyerahkannya kepada saya, maka semakin sedikit waktu yang anda miliki untuk pelaksanaan penelitiannya.

Harap dicatat!!!

Salam,

MAS

Daftar Judul Penelitian MPTH 2012

05/05/2012

Alhamdulillah, sudah ada beberapa proposal/disain penelitian mini yang masuk untuk tugas UTS MPTH 2011-2012. Ketentuannya dapat dilihat dalam posting tulisan saya sebelum ini, atau juga dengan mengakses halaman berikut: https://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/ Dalam list di bawah ini saya cantumkan tanggal penyerahan, nama-nama mahasiswa, dan judul penelitian yang diajukannya. Bila memungkinkan, maka anda semua dapat mengakses teksnya sebagai contoh agar memiliki pedoman yang dapat menjadi bandingan, selain dari proposal saya sendiri yang saya cantumkan dalam katagori tulisan tugas UTS di blog ini.

04-23 — Azizatul Iffah “Reinterpretasi Ayat Mawaris dalam al-Qur’an Perspektif Jender”

05-02 — Makhmudah “Tinjauan al-Qur’an dan Kedokteran tentang Bayi Tabung”

05-06 —Nur Laila Syahidah “Studi Komparatif antara Metodologi Pemahaman Hadis Ibn Hajar al-Asqallani dengan Ulama Modern”

05-07 — Aan Nurjannah “Penafsiran QS an-Nisa 4:101 tentang Kebolehan Mengqashar Shalat Menurut Ibnu Katsir”

05-07 — Mahfudoh “Jihad dalam Pandangan Abu Bakar Baasyir”

05-07 — Mia Fitriatunnisa “Pemahaman dan Praktek Masyarakat terhadap Hadis-Hadis Imsakiyah (Studi Kasus Anggota Majlis Ta’lim di Kecamatan Gunung Putri Bogor”

05-07 — Susi Ernawati “Studi Kritik atas Hadis-hadis Tawassul dan Tabarruk dalam kitab Sahih Ibnu Hibban”

05-07 — Taufik Akbar “Praktek Poligami dalam Tinjauan Hadits”

05-08 — Naelatus Sa’adah “Tanaqud dalam al-Qur’an (Kajian atas Ayat-ayat yang diangga Kontroversial oleh Kalangan Orientalis”

05-08 — Ai Eli Latifah, ““Konsep Cinta dalam al-Qur’an: Kajian atas Makna Kata al-Hubb dalam Tafsir al-Azhar Karya HAMKA”

05-08 — Ahmad Heri, “Fitnah Wanita dalam Hadis (Kajian Kritik Sanad dan Matan Hadis)”

05-08 — Salina “Tafsir Tematik Surat An-Nisa’ tentang Hak dan Kewajiban Kaum Perempuan”

05-08 — Nasroh “KAJIAN KRITIK HADIS-HADIS TENTANG JUAL BELI”

05-08 —Agus Maulana Yusuf “Kajian Ma’ani Hadis-Hadis Tentang Terputusnya Salat Karena Melintasnya Anjing, Keledai dan Wanita”

05-08 — Nurhidayat Setiawan “Al-Qur’an dan Solusi Masalah Kejiwaan pada Diri Manusia”

05-08— Mahdi “Konsep al-Qur’an tentang Kebersihan dan Pelestarian Lingkungan Hidup”

05-08 — M. Zamzami “PERPECAHAN UMAT BERAGAMA DALAM AL-QURAN Kajian terhadap Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab

05-08 —Arrahmah “KAJIAN KRITIK HADIS TENTANG TAHLIL”

05-08 — M. Reza Fadil 

05-08 —Muhammadun KONSEP KEPRIBADIAN MUSLIM DALAM AL QUR”AN

05-08 — Zainal Mu’id “Pentingnya Hubungan Silaturrahmi Dengan Tetangga dalam Persepektif Hadis”

05-08 — Nurlaila “Penafsiran Larangan Berbuat Syirik dalam Q.S. Luqman ayat 13 Menurut M. Quraish Shihab”

05-08 — Ayu Siti Khaerunnisa “KB dalam Islam dan Perannya dalam Membangun Keluarga Sakinah”

05-08 — Lia Herliati “Kajian Kritik terhadap Hadis-Hadis Perawatan Jenazah”

05-08 — Ahmad Damanhury “Sains dalam pandangan al-Quran”

05-08— Mu’min maulana “Transfer Hadîts bil Lafdzi dan bil Ma’na (Studi Kasus Gharib al-Hadîts)”

05-08 —Ahmad Gunawan “Perbandingan Interpretasi Mu’tazilah dan Ahlussunah wal jama’ah terhadap Ayat-ayat Amsal (analisis tafsir al-kasyaf dan Ibnu Katsir pada Q.S. Al-Ahzab:72)”

05-08— Faridah “Pendekatan Jihad dalam al-Qur’an dan  Terorisme (Kajian Tafsir al-Azhar)

05-08 —Ma’mun “Konsep Masyarakat Ideal Perspektif al-Qur’an”

05-08 —Ummi Hannik “Hadis-hadis KKN: Studi Kasus atas Hadis tentang Larangan Menerima Hadiah bagi Pejabat  Pemerintah dalam Melaksanakan  Tugas-tugas Negara”

05-08 — Amirudin Natonis “Tafsir Tematik Hak-hak Asasi Manusia dalam al-Qur’an.

05-08 —Nidaul Husna “Konsep Kependidikan Ditinjau dari Al-Qur’an”

05-08 — Nurulwati “Studi Kritik Kualitas Sanad dan Matan Tentang Hadis-Hadis Ilmiah”

05-08 — M. Khaoirul Anam “Pembuktian Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Berbagai Aspek”

05-08 — Harisman, Hukum Berjabat Tangan dengan Lawan Jenis

05-09 — Fatkhul Mubin “Motivasi Kerja dalam al-Qur’an”

05-09 —Nurul Hasanah, “Studi Komprehensif atas Penafsiran Kalangan Mutakallimin tentang Perbuatan Manusia”

05-10 —Ari Nurhayati “MEMAHAMI NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19”

05-12 —Sahlan Sohri Badawi “Toleransi Beragama dalam al-Qur’an (Kajian atas Tafsir Surat al-Kafirun)

05-12 —Taufik Abdul Aziz “Konsep al-Qur’an tentang Jihad”

05-13 —Zulkifli Natonis “Persoalan tentang Hijab di dalam al-Qur’an”

Catatan:

bagi mahasiswa yang belum menyerahkan tugas UTS diharapkan untuk secepatnya menyerahkannya via email. Bagi yang diberikan peluang perbaikan diharapkan untuk secepatnya menyerahkan revisi proposal yang diajukan sesuai yang disarankan.

Terima kasih

Salam,

MAS

TUGAS-TUGAS MPTH 2012

24/04/2012

My Dear Students,

Waktu terus berjalan dan saatnya diskusi teoretis segera mencapai batas akhir. Anda diharapkan secepatnya mempersiapkan judul penelitian yang akan anda lakukan di sisa waktu yang tersedia. Tugas praktek pertama adalah MEMBUAT DISAIN/PROPOSAL PENELITIAN sebagai tugas pengganti Ujian Tengah Semester (UTS). Anda diharuskan menyetorkan sebuah disain peneilitian yang terdiri dari 1-3 halaman saja yang berisikan:

  1. Judul Penelitian
  2. Latar Belakang Permasalahan
  3. Research Question (atau perumusan masalah)
  4. Metodologi Penelitian,</strong> dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
  5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Sebagai gambaran, contoh tugas ini dapat anda lihat dalam link berikut:

https://anwarsy.wordpress.com/2010/04/10/285/

Tugas ini dapat anda kirimkan melalui email saya dengan alamat m.anwarsy@gmail.com atau ma_syarifuddin@yahoo.com selambat-lambatnya tanggal 8 Mei 2012. Demikian harap diperhatikan.
LEBIH CEPAT ANDA MENGAJUKAN DISAIN/PROPOSAL PENELITIAN INI, LEBIH BANYAK WAKTU YANG AKAN ANDA DAPATKAN UNTUK MELAKUKAN PRAKTEK PENELITIAN YANG MENJADI TUGAS UAS ANDA.

SELAMAT BEKERJA!!!

Kelengkapan Materi MPTH

13/03/2012

Dear Mahasiswa,
Bagi mereka yang membutuhkan materi kuliah MPTH dalam bentuk slide powerpoint maupun bentuk cetak pdf-nya dapat mengklik link dibawah ini:

untuk slide powerpoint: https://anwarsy.wordpress.com/?attachment_id=272

untuk slide PDF : https://anwarsy.files.wordpress.com/2010/03/mpth-slide.pdf
Semoga membantu!

MPTH 2012

06/03/2012

Dear Mahasiswa,
Selamat datang saya ucapkan untuk para mahasiswa yang mengambil mata kuliah METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR HADIS (MPTH) 2012, yang terdaftar di kelas FU-TH/VI-b/c. Di blog ini tersedia semua yang terkait dengan materi perkuliahan selama satu semester ke depan.

Berikut saya sajikan jadwal perkuliahan untuk semester ini:

HARI/TANGGAL MATERI PENYAJI
Selasa, 06-03-2012 Pengantar Perkuliahan: Apa itu Metodologi Penelitian Tafsir Hadis? Dosen
Selasa, 13-03-2012 Memahami Ruang Lingkup Kajian Tafsir (al-Qur’an, Ulum al-Qur’an, Tafsir, dan Metode Penafsiran.
Selasa, 20-03-2012 Memahami Ruang Lingkup Kajian Hadis dan Ulum al-Hadis.
Selasa, 27-03-2012 Urgensi Penelitian Tafsir Hadis melalui Pendekatan Interdisipliner. Dosen
Selasa, 03-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra.
Selasa, 10-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Kritik Kontekstual (Sejarah, Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora).
Selasa, 17-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Hermeneutika.
Selasa, 24-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Perspektif Kesetaraan Jender.
Selasa, 01-05-2012 UTS – Praktikum Penelitian: Menyusun disain penelitian. Kerja Mandiri
Selasa, 08-05-2012 UTS – Praktikum Penelitian: Menyusun disain penelitian. Kerja Mandiri
Selasa, 15-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 22-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 29-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 05-06-2012 Review Perkuliahan Semua
Selasa, 16-06-2012 Pekan Tekun –
Selasa, 19-06-2012 UAS: Mengumpulkan tugas Praktik Lapangan

Jakarta, 06 Maret 2012
Dosen pengampu

Moh. Anwar Syarifuddin, MA.
NIP : 19720518 199803 1 003

UAS MPTH 2013, Kerjakan mulai sekarang!!!

26/04/2010

Ujuan Akhir Semester untuk mata kuliah MPTH dilakukan dengan menyerahkan sebuah tulisan/artikel/paper/makalah yang merupakan hasil dari penelitian mini yang dilakukan berdasarkan design yang diusulkan sebelumnya.

Panjang tulisan adalah 3.000 kata (atau jika tidak menggunakan komputer; misalnya, jika ada yang ingin menyerahkannya dalam format ketikan mesin ketik, maka 3000 kata itu setara dengan tulisan 15 halaman kwarto spasi ganda).

Waktu untuk melakukan penelitian ini dan penulisan hasilnya secara formal diberikan dalam 7 pekan, maksimum. Bagi mereka yang telah menyerahkan disain penelitian lebih awal, maka dapat memulai pelaksanaan penelitian ini juga lebih awal. bagi mereka yang sudah dapat menyelesaikan paper/makalah penelitian juga diharapkan secepatnya menyerahkan, tanpa harus menunggu batas waktu akhir penyerahan.

Tulisan diharapkan dapat diserahkan dalam bentuk softcopy dalam sebuah attachment melalui email ke alamat  m.anwarsy@gmail.com paling lambat sudah diterima tanggal 08 Januari 2014. Pengirim diharapkan menuliskan nama dan nimnya di sudut kiri atas tulisan. Agar memudahkan klaim, setiap pengirim juga diharapkan memberi konfirmasi melalui sms, baik secara kolektif atau individu; dan bila sudah diterima, maka saya akan mengirimkan konfirmasi balik, baik melalui sms ataupun balasan email. Konfirmasi balik dari saya ini diperlukan sebagai bukti kalau anda benar-benar telah mengirimkan tugas UAS sesuai dengan format yang dikehendaki. Jika di kemudian hari terdapat komplain, seperti kasus nilai yang tidak keluar, padahal anda merasa sudah menyerahkan tugas melalui email, maka anda bisa mengajukan konfirmasi balik tersebut sebagai alat bukti penguat untuk dasar pengeluaran nilai susulan.

Bagi mereka yang menuliskannya dalam format ketikan mesin ketik dapat diserahkan draft asli ketikannya, bukan fotokopi, tanpa dijilid, cukup diklip atau distreples saja. Tulisan diserahkan langsung ke tangan saya langsung.

SELAMAT BEKERJA!!!

UTS MPTH

26/04/2010

Ujian Tengah Semester (UTS) dilakukan dengan menyetorkan sebuah disain peneilitian (dengan contoh terlampir) dan terdiri dari 1-3 halaman saja yang berisikan:

1. Judul Penelitian
2. Latar Belakang Permasalahan
3. Research Question (atau perumusan masalah)
4. Metodologi Penelitian,
dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Sehubungan dengan pemberitahuan yang dilakukan sejak masa awal perkuliahan tentang kewajiban setiap mahasiswa untuk mempersiapkan judul penelitian, serta kesiapan melakukan sebuah penelitian mini berdasarkan disain tersebut, maka besar harapan tugas UTS ini bisa diserahkan tepat waktu.

SELAMAT BEKERJA!!!

Contoh Makalah Penelitian Mini

24/04/2010

Contoh Makalah Penelitian Mini

Salah satu output yang dihasilkan dari perkuliahan MPTH adalah kemampuan mahasiswa dalam menjalankan penelitian, baik dalam menyusun disain penelitiannya, maupun juga menghasilkan artikel/makalah/tulisan/paper berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di akhir masa perkuliahan.

Untuk itu, di sini saya berikan salah satu contoh artikel yang memuat hasil penelitian saya sendiri, berdasarkan disain penelitian yang sudah saya berikan contohnya dalam tugas UTS. Artikel saya diberikan tajuk yang sama “Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an”. Versi cetak tulisan ini dapat dilihat dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat vol.1, no.2 Desember 2004, halaman 1 – 18. Jurnal ini dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Bias Jender dalam Bahasa Arab

24/04/2010

Diskusi

Salah satu kritik utama kelompok feminisme terhadap keberadaan bias jender dalam konsep-konsep ajaran Islam adalah lantaran Islam menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa rujukan utama. Bahasa ini memiliki bias jender, sehingga tidak pula mengherankan bila kemudian hal tersebut menularkan bias jender serupa terhadap konsep-konsep yang dilahirkan, apalagi didukung dengan proses kelahirannya yang juga berasal dari kultur Arabia yang seperti juga bahasanya mengenal bias jender.

Di sini, jelas ada keterkaitan erat antara bahasa dan bidaya sebuah masyarakat. Persoalannya, ketika Islam dilahirkan dalam konteks budaya dan bahasa Arab yang bias jender, maka sejauh mana peran peneliti muslim masa kini dalam menjelaskan persoalan ini agar didapatkan penjelasan dan penalaran serta kritik yang seimbang, terutama dalam melakukan penafsiran ulang atau sebut saja reinterpretasi terhadap konsep-konsep yang bias dalam pandangan kesetaraan jender, terlepas dari kuatnya kesan apologi dalam masalah ini.

Sebagai bahan bacaan tambahan, anda bisa membaca makalah saya yang berjudul “Bias Jender dalam bahasa Arab“. Di situ, tertuang beberapa persoalan yang memicu timbulnya kesan ketimpangan jender, baik dalam struktur bahasa Arab yang menjadi bahasa al-Qur’an, maupun juga beberapa konsep yang dilahirkannya.

Perspektif Kesetaraan Jender

24/04/2010

Pendekatan baru yang kini tengah digandrungi sebagai sebuah model penelitian dalam banyak aspek kajian, dan lebih khusus kajian keislaman dewasa ini terutama menyangkut masalah perempuan, adalah pendekatan kesetaraan gender. Sebelum memasuki diskusi lebih mendalam tentang persoalan ini, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dulu apa yang disebut dengan jender atau gender dalam bahasa Inggrisnya, sehingga ketika isu ini diintegrasikan ke dalam persoalan kesetaraan jender antara kaum laki-laki dan perempuan, maka pembahasan kemudian lebih banyak menyoroti persoalan feminism.

Kata jender atau gender didefinisikan sebagai semua hal baik yang dikonstrusksi secara sosial maupun kultural, yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu kelas ke kelas lainnya. Gender adalah pembedaan peran, status, pembagian kerja, yang dibuat oleh sebuah masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Hal ini menjadi bentukan manusia yang tidak baku, karena bisa berubah. Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Perbedaan gender ini tidak menjadi masalah krusial ketika tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities), akan tetapi pada kenyataannya perbedaan jender justru melahirkan struktur ketidakadilan, dalam berbagai bentuk: marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, beban kerja, yang secara ontologis merupakan modus utama kekerasan terhadap perempuan. Pada kondisi inilahm kekuasaan laki-laki mendominasi perempuan, bukan saja melangengkan budaya kekerasan, tetapi juga melahirkan rasionalitas sistem patriarki. Ideologi patriarki adalah ideologi kelaki-lakian, di mana laki-laki dianggap memiliki kekuasaan superior dan priviledge ekonomi. Patriarki dianggap sebagai masalah yang mendahului segala bentuk penindasan. Hal inilah yang menjadi agenda kaum feminis ke depan, ketika pusat persoalan adalah tentang tuntutan kesetaraan, keadilan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dari sinilah persoalan mengenai jender seolah tidak bisa dilepaskan dengan masalah feminisme.

Apa itu feminisme? Dalam hal ini, ada 3 definisi yang memberi makna istilah ini:
(1) Feminisme adalah teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga Juliet Mitchell dan Ann Oakley dalam What is Feminism? (1986) mengatakan seorang daat dikategorikan sebagai feminis jika ia mempertanyakan hubungan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan, sekaligus secara sadar menyatakan dirinya sebagai seorang feminis.
(2) seorang dapat dikatakan feminis sepanjang pemikiran dan tindakannya dapat dimasukkan ke dalam aliran-aliran feminisme yang dikenal sekarang ini, seperti feminisme liberal, marxis, sosialis, dan radikal.
(3) Feminisme adalah sebuah gerakan yang didasarkan pada adanya kesadaran tentang penindasan perempuan yang kemudian ditindaklanjuti dengan aksi untuk mengatas penindasan tersebut. Di sini kesadaran dan aksi menjadi inti komponen yang harus ada kedua-duanya agar dikatakan sebagai feminis.

Kesimpulan yang bisa diambil dari 3 definisi di atas, feminisme tidak mendasarkan pada sebuah grand theory yang tunggal, tetapi lebih pada realitas kultural dan kenyataan sejarah yang konkrit, dan tingkatan-tingkatan kesadaran, persepsi, dan tindakan. Untuk itulah maka gerakan feminisme kerap diasosiasikan sebagai gerakan pembebasan, di mana kemudian ketika terjadi penyandaran argumentasi yang mengatasnamakan agama, atau opengambilan sumber-sumber ajaran yang berasal dari kitab suci, maka terjadilah apa yang disebut sebagai teologi feminisme, yang kemudian dikenal pula sebagai bagian dari teologi pembebasan.

Teologi Feminisme berasal dari teologi pembebasan (liberation theologi) yang dikembangkan oleh James Cone pada akhir tahun 1960-an, di mana perempuan dianggap sebagai kelas tertindas. Namun, tidak seperti paradigma marxisme murni, faham teologi feminis tetap menyertakan agama. Hanya saja, bukan agama yang melegitimasi penguasa, tetapi agama sebagai alat untuk membebaskan golongan yang tertindas, yaitu perempuan. Hal yang ingin dicapai dalam teologi feminisme adalah tercapainya perubahan struktur agar keadilan jender dan keadilan sosial dapat tercipta. Teologi feminisme berkembang dalam agama-agama semitik: Yahudi, kristen, Islam, di mana agama sering ditafsirkan dengan memakai ideologi patriarki yang menyudutkan wanita. Para teolog feminis dalam Islam adalah mereka yang mencari konteks dan latar belakang ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkenaan dengan perempuan. Seperti dikatakan Rif’at Hassan, seorang Feminis Pakistan, bahwa cara pandang dan sikap negatif terhadap perempuan yang banyak terjadi pada masyarakat muslim berakar pada teologi. Oleh karena itu, jika dasar-dasar teologi yang cenderung membenci perempuan (misoginis) dan androsentris tidak dibongkar dan dihancurkan, maka diskriminasi terhadap perempuan dalam Islam akan terus berlangsung.

Pengkajian terhadap agama yang mengetengahkan perspektif kesetaraan jender seringkali diidentikkan dengan pembahasan yang berpusat pada persoalan seputar perempuan. Persoalan ini selalu menjadi pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para feminis dan para pemerhati perempuan. Ini dikuatkan dengan kemunculan gerakan-gerakan feminisme (Liberal, Marxis, Sosialis, Radikal), yang kesemuanya bermaksud memperjuangkan kebebasan perempuan dari dominasi laki-laki, atau juga membebaskan teks dari dominasi penafsiran yang bias laki-laki dengan mengeliminasi aspek-aspek penafsiran yang bernada misoginis, membenci perempuan.

Latar belakang yang mendasari kemunculan gerakan kesetaraan gender ini dalam sisi pembaharuan pemikiran Islam adalah sebuah upaya untuk mengembangkan apa yang disebut oleh orang barat sebagai “teologi feminis” yang dalam konteks Islam yang memiliki tujuan untuk membebaskan kaum perempuan dan kaum muslimin pada umumnya dari struktur-struktur dan perundang-undangan yang tidak adil dan tidak memungkinkan terjadinya hubungan yang hidup antara laki-laki dan perempuan. Rifat menilai bahwa ada ketidaksesuaian yang mencolok antara cita-cita Islam dan praktek umatnya sejauh menyangkut perempuan. Dalam hal ini, beberapa kesalahan mendasar ditemukan dalam pandangan normatif Islam yang berakar pada penafsiran terhadap al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam beragam konteks, kesetaraan kedudukan semua manusia baik laki-laki maupun perempuan di hadapan Allah dipertentangkan dengan bias penafsiran yang menganggap kelebihan status laki-laki sebagai qawwamun (yang umunya diterjemahkan sebagai “penguasa” atau “pengatur”) perempuan, laki-laki memperoleh bagian waris dua kali lebih besar dibandingkan dengan bagian kaum perempuan, kesaksian laki-laki yang sama dengan kesaksian dua orang perempuan, maupun argumen-argumen yang berakar dari hadis ketidaksempurnaan perempuan daam salat, atau menyangkut kecerdasan akalnya sebagai konsekuensi dari kesaksiannya yang dihitung hanya setengah dar kesaksian laki-laki. Kesemua doktrin teologis tersebut di atas memerlukan telaah lebih dalam, mengingat pemahaman tersebut masih mengindikasikan bias gender, padahal dalam sudut pandangan Islam normatif laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, kendati ada perbedaan status biologis dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Penafsiran yang dianggap bias gender, dan bercorak misoginis, sehingga menempatkan status laki-laki dalam derajat yang lebih superior dibandingkan dengan perempuan juga dijumpai dalam tradisi agama-agama lain. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, akar pandangan yang bias gender didapati dalam 3 asumsi teologis: (1) Ciptaan Tuhan yang utama adalah laki-laki, dan bukan perempuan karena perempuan diyakini diciptakan dari tulang rusuk Adam. Konsekuensinya, secara intologis kedudukan perempuan bersifat derivatif dan sekunder; (2) Perempuan, dalam hal ini Hawa, menjadi penyebab kejatuhan manusia dari surga. Konsekuensinya, semua anak perempuan Hawa dipandang dengan rasa benci, curiga, dan jijik; (3) Perempuan tidak saja diciptakan dari laki-laki, tetapi juga untuk laki-laki. Konsekuensinya, keberadaan perempuan hanya bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar. Ketiga asumsi teologis yang memandang rendah kaum perempuan ini, sedikit banyak masih tergambar dalam pandangan masyarakat Arab yang melatarbelakangi setting historis dan sosiologis turunnya al-Qur’an.

Dalam hal ini, tidak pula dipungkiri bahwa Islam telah berupaya untuk sedikit demi sedikit mengangkat derajat kaum perempuan dari pandangan sosialdan teologis yang ada sebelumnya. Akan tetapi, struktur sosial yang patriarkhis dan dominasi peran laki-laki dalam kultur peradaban dan perkembangan pemikiran Islam masa klasik dan periode salanjutnya menjadikan cara berfikir yang bias gender masih saja berlangsung, atau setidaknya terekam dalam praktek-praktek penafsiran al-Qur’an, yang umumnya juga dilakukan oleh ulama lak-laki. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam banyak kasus, penafsiran yang tidak didasarkan pada asas kesetaraan gender ini masih terus berlangsung sampai pada saat tafsir-tafsir tersebut digagas pada periode perkembangan pemikiran Islam abad pertengahan sampai abad awal abad ke-20. Istilah feminisme Islam sendiri baru digagas sekitar tahun 1990-an, sebagai sebuah gerakan dalam mengimbangi perkembangan gerakan Islamism. Akar gerakan kesetaraan gender sendiri sudah ada sejak seabad yang lalu, sebagaimana diadvokasi oleh Qasim Amin dari Mesir dan Mumtaz Ali dari India. Beberapa tokoh ternama lainnya yang berkecimpung dalam gerakan feminisme Islam adalah Leila Ahmad, professor kajian wanita asal Mesir; Fatima Mernissi, seorang penulis asal Maroko; Amina Wadud, dan tokoh-tokoh lainnya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa perspektif kesetaraan gender dalam penelitian kajian al-Qur’an maupun hadis ditujukan untuk menganilisis ulang teks-teks yang beredaksi misoginis, dalam sebuah upaya kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang tidak saja mempertimbangkan konteks sosio-historis dalam memahaminya, tetapi juga dengan menarik signifikansinya bagi konteks sosiologis yang terjadi pada masa kini, sehingga tetap didapatkan makna pesan-pesan al-Qur’an yang teguh berpegang pada dimensi keadilan dan kesetaraan derajat antara sesama manusia.

Pendekatan Filsafat Hermeneutika

18/04/2010

Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau bentuk nomina hermeneia yang berarti penafsiran. Dua kata ini dalam beragam bentuknya muncul beberapa kali dalam teks klasik seperti Organon dan Peri Hermenias karya filsuf besar Yunani Aristoteles. Dalam bentuk kata benda, kata hermeneia juga muncul dalam karya filsuf Yunani yang lain seperti Plato, Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan Longinus. Dengan menelusuri asal katanya, hermeneutika mengarah pada arti “membuat menjadi mengerti”, khususnya ketika proses ini mengikutsertakan bahasa, di mana bahasa merupakan satu-satunya medium dalam proses memahami. Proses ini dikaitkan dengan peran Hermes dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pembawa pesan, sekaligus penafsir bagi pesan-pesan para dewa. Ini sejalan dengan makna kata kerja hermeneuein yang meliputi 3 aktivitas: (1) mengekpresikan secara lantang dengan kata-kata, atau sebut saja “mengatakan”, (2) menerangkan, seperti dalam menerangkan situasi, dan (3) menerjemahkan, seperti dalam menerjemahkan pesan ke dalam bahasa asing. Ketiga aktivitas tersebut tercakup dalam makna kata “menafsirkan”. Oleh karena itu, sudah semestinya bila hermeneutika memiliki kaitan yang erat dengan upaya penafsiran, yang dalam hal ini akan diuraikan sebagai salah satu pendekatan dalam bidang kajian Tafsir Hadis.

Dalam sejarah perkembangannya, pemakaian yang paling umum dari istilah hermeneutika merujuk pada sebuah proses penafsiran kitab suci. Ini juga berlaku bagi apa yang disebut sebagai philosophical hermeneutics, yang secara khusus bisa disebut sebagai perkembangan dari penafsiran kitab suci yang menyajikan dukungan teoretis bagi beragam proyek interpretasi. Akan tetapi, perkembangan seputar terbentuknya disiplin ini dalam kancah pemikiran Barat modern nampaknya berlangsung dalam sebuah proses yang belum akan mencapai titik akhir, mengingat setiap tokoh yang mengusung definisi istilah ini selalu saja menampilkan aspek dan penekanan khusus yang berbeda dengan para pendahulunya. Oleh karena itu, setelah menjalani proses perkembangan historis yang cukup mengundang perdebatan, penentuan makna dan definisi yang tepat untuk istilah hermeneutika tidak bisa ditetapkan sesederhana dengan mengambil salah satu konsep dan membuang yang lain. Uraian yang akan diberikan di bawah ini merupakan sebuah ulasan pengantar agar kita bisa menempatkan pemakaian istilah yang menjadi pendekatan akademis ini dengan tepat dan tidak tumpang tindih, yaitu melalui penelusuran terhadap perkembangannya baik dalam masa klasik, maupun pembentukan teori-teori yang terjadi dalam perkembangan pemikiran Barat modern pasca era pencerahan. Tujuan yang diharapkan dari uraian yang bersifat pengantar ini adalah guna memberikan panduan bagi penelaahan dan pemahaman lebih lanjut yang lebih komprehensif, bila kemudian pendekatan yang lebih bernilai filosofis ini dapat diterapkan bagi pengembangan minat penelitian dalam kajian tafsir hadis dan studi Islam pada umumnya.

Pertanyaan tentang apa itu hermeneutika agaknya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dijawab, tetapi terlalu rumit untuk dijelaskan secara sederhana. Meskipun demikian, sebuah asumsi populer mungkin ada baiknya untuk diungkapkan terlebih dahulu, sebelum memasuki pembahasan tentang tahap-tahap perkembangan dan pembentukan hermeneutika sebagai disiplin akademik. Makna paling umum dari hermeneutika dalam dunia Barat dapat dirujuk sebagai ilmu umum mengenai penafsiran teks. Meskipun secara teknis akademis disiplin hermeneutika baru tercipta pada abad ke-17, tetapi apa yang menjadi inti kajian di dalamnya merujuk pada masa perkembangan yang sudah cukup lama dalam tradisi penafsiran perjanjian lama, atau bahkan dalam tradisi yang bersumber dari para pakar retorika Yunani kuno yang mengkaji aspek literatur yang memajukan Alexandria.
Beberapa hal yang bisa dicermati dalam perkembangan metode penafsiran teks yang menunjukkan kenyataan akan kesadaran hermeneutis dalam tradisi kristen abad pertengahan, misalnya, kita akan mendapati sebuah panduan penafsiran yang mengakar kepada 4 tingkatan yang menekankan perbedaan antara huruf dengan semangat teksnya: makna literal (sensus historicus) kitab suci memberi pengertian tentang apa yang diungkapkan dan disebutkan oleh teks secara langsung; makna allegorikal (sensus allegoricus) memberikan penjelasan dalam teks terkait dengan isi doktrin dan dogma agama, sehingga setiap elemen kalimat memiliki makna simbolik; makna tropologis yang memberikan aplikasi moral teks terhadap pembaca dan pendengar individual; dan makna anagogikal menggambarkan secara tidak langsung kandungan rahasia yang dimiliki teks mengenai pengetahuan metafisk dan eskatalogis yang disebut dengan istilah gnosis. Tradisi penafsiran semacam ini, termasuk juga kemiripan tradisi yang sama dalam penafsiran rabbinik Yahudi, merupakan sumber yang membentuk dan turut menentukan aspek-aspek kajian dalam membentuk aliran-aliran yang muncul dalam perkembangan pembentukan disiplin hermeneutika modern.

Tahap-tahap perkembangan dalam pembentukan hermeneutika dalam iklim akademik Barat pasca era pencerahan dapat dilihat dalam analisis Richard E. Palmer dalam bukunya Hermeneutics, Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Ia menjeaskan bahwa tahapan historis perkembangan definisi hermeneutika merujuk pada enam makna, yang masing-masing menampilkan aliran pemikiran dengan tokoh dan pendekaan yang berbeda-beda sebagaimana tercermin di dalam judul karyanya. Dalam kronologi yang berurutan, menurut Palmer, enam macam definisi itu adalah: (1) hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, (2) metodologi filologi secara umum, (3) ilmu tentang semua pemahaman lingusitik, (4) landasan metodologis bagi Geisteswissenschaften, (5) fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, (6) sistem penafsiran, baik yang bersifat rekolektif maupun ikonoklastik, yang dipakai manusia dalam memahami makna dibalik mitos dan simbol-simbols. Menurut Palmer, masing-masing definisi itu lebih dari sekedar perkembangan historis, karena masing-masing menunjuk sebuah “momentum” dan pendekatan penting terhadap problematika penafsiran. Secara sederhana, ke-enam makna tersebut dapat disebut biblikal, filologis, saintifik, geisteswissenschaftliche, eksistensial, dan penekanan kultural.

Hermeneutika sebagai penafsiran biblikal merupakan pemahaman yang tertua dan mungkin masih dikenal secara luas. Dalam masa yang paling awal, makna ini dipakai oleh J.C. Dannhauer untuk membedakan penafsiran (exegesis) dengan aturan, metode, dan teori yang mengaturnya (hermeneutics). Pemakaian makna tersebut masih menjadi pijakan bagi definisi hermeneutika baik dalam teologi, maupun literatur non-biblikal ketika pengertiannya diperluas pada masa belakangan. Meskipun begitu, sementara istilah “hermeneutika” sendiri lahir pada abad ke-17, operasi penafsiran tekstual dan teori-teori penafsiran dalam bidang agama, hukum, dan sastra sudah ada sejak masa klasik. Oleh sebab itu, ketika kata itu diterima sebagai nama istilah untuk teori penafsiran, bidang kajian yang dicakupnya secara retroaktif meluas dalam bidang penafsiran biblikal merujuk kepada masa perjanjian lama, ketika pada masa itu juga dikenal aturan-aturan guna dapat menafsirkan kitab Taurat secara tepat.
Dua hal yang patut dicatat dalam mencermati perkembangan hermeneutika yang diartikan sebagai teori penafsiran biblikal: pertama, karakter hermeneutika sebagaimana diindikasikan dalam contoh-contoh teori penafsiran kitab suci; yang dalam hal ini dapat disebutkan bahwa hermeneutika menyajikan “sistem” interpretasi yang dengan itu suatu ayat dalam kitab suci dapat ditafsirkan. Melalui sistem tersebut, seorang mufassir dapat menemukan makna yang tersembunyi dari sebuah teks. Hal tersebut didasari pada pertimbangan, bukan saja lantaran sebuah teks tidak bisa ditafsirkan dengan sendirinya, tetapi setelah masa pencerahan teks-teks kitab suci merupakan wahana yang memiliki banyak kebenaran moral, yang akan bisa ditemukan di dalamnya jika prinsip-prinsip penafsiran dibentuk untuk menemukannya.
Kedua, dengan memahami hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, maka akan didapatkan kejelasan tentang ruang lingkup hermeneutika, yang tidak saja mencakup teori-teori eksplisit tentang aturan-aturan dalam menafsirkan, tetapi juga teori-teori yang didapatkan secara tidak langsung dalam praktek penafsiran yang dilakukan. Jika Gerhard Ebeling, misalnya mengkaji “Hermeneutika Martin Luther”, maka ia tidak saja memusatkan kajiannya pada pernyataan-pernyataan Luther tentang teori penafsiran biblikal, tetapi juga terhadap praktek penafsiran yang dilakukannya seperti yang didapatkan dengan menganalisis khutbah-khutbah yang diberikan dan tulisan-tulisannya yang lain. Dari sini, lingkup kajian hermeneutika menjadi lebih luas —sebagai sebuah sistem penafsiran baik yang eksplisit maupun implisit— yang tidak saja diterapkan bagi teks kitab suci, tetapi juga terhadap literatur di luar kategori kitab suci itu sendiri.

Sebuah konsekuensi dari perluasan ruang lingkup Hermeneutika yang meliputi teks-teks non-biblikal, dimulailah kecenderungan untuk memperlakukan kitab suci sama dengan perlakuan terhadap buku-buku sekuler lainnya. Dalam sebuah panduan hermeneutika yang ditulis 1761, Ernesti menyatakan bahwa makna verbal kitab suci harus ditetapkan secara sama seperti yang dilakukan terhadap buku-buku lain. Hal senada diungkap oleh Spinoza, bahwa norma penafsiran biblikal hanya bisa menjadi penerang untuk akal yang sama. Dengan mencermati perkembangan semacam ini metode penafsiran biblikal menjadi sama saja dengan filologi klasik yang menjadi dasar teori penafsiran sekuler, sebuah bangunan yang menjadi landasan bagi definisi modern kedua bagi hermeneutika sebagai metode filologi.

Fase selanjutnya dalam sejarah perkembangan hermeneutika adalah mengkonsepsi hermeneutika sebagai “seni” atau “ilmu” memahami, sebagaimana dilontarkan oleh F. Schleiermacher. Patut dicatat di sini bahwa hermeneutika mengimplikasikan sebuah kritik radikal terhadap landasan utama filologi, yang mengharuskan hermeneutika untuk bergerak mencapai batas luar konsepsinya sebagai sekumpulan aturan-aturan, dan untuk membuatnya koheren secara sistematis, yaitu sebuah bidang ilmu yang menjelaskan kondisi bagi pemahaman dalam segala dialog. Hasilnya, bukan lagi sekedar hermeneutika filologis, tetapi hermeneutika yang bersifat umum yang prinsip-prinsipnya dapat menjadi pondasi bagi penafsiran segala macam teks. Perkembangan seterusnya di tangan Wilhelm Dilthey, seorang penulis biografi F. Schleiermacher, kemudian, hermeneutika menjadi disiplin induk yang menjadi pondasi bukan saja bagi penafsiran teks yang melandasi definisi ketiga, tetapi menjadi definisi baru yang meliputi segala disiplin yang memusatkan perhatian pada pemahaman seseorang terhadap seni, prilaku, dan tulisan-tulisan yang disebut dengan istilah geisteswissenschaften.

Definisi kelima merubah pandangan hermeneutika ke dalam kajian fenomenologis terhadap keberadaan manusia sehari-hari di dunia. Tokohnya adalah Martin Heidegger. Dalam pandangannya, hermeneutika bukan lagi ilmu ataupun aturan-aturan tentang interpretasi teks, bukan pula merujuk kepada metodologi geisteswissenschaften, tetapi hermeneutika merujuk kepada penjelasan fenomenologis tentang eksistensi manusia itu sendiri. Dalam analisis Heidegger, “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan bentuk dasar keberadaan manusia. Dengan karyanya Being and Time, Heidegger menandai perubahan dalam perkembangan hermeneutika, yang di satu sisi terkait dengan dimensi ontologis pemahaman, dan pada saat yang sama hermeneutika diidentifikasikan dengan konsepsinya tentang fenomenologi secara khusus.

Hans Georg Gadamer mengembangkan implikasi dari sumbangan pemikiran Heidegger menjadi sebuah karya sistematik tentang “hermeneutika filosofis”. Karyanya yang lain, Truth and Methode, merupakan upaya untuk menghubungkan hermeneutika kepada aspek-aspek estetika dan filosofis sejarah pemahaman. Dalam hal ini, hermeneutika dibawa selangkah lebih jauh tetapi masih dalam fase “linguistik” dengan pernyataan Gadamer bahwa keberadaan yang bisa dipahami adalah bahasa, sehingga hermeneutka adalah sebuah pertemuan dengan yang ada melalui bahasa.

Dalam fase akhir perkembangan hermeneutika, menurut Palmer, hermeneutika dipahami sebagai sistem penafsiran, yaitu antara mendapatkan kembali makna melawan pembongkaran tradisi (iconoclasm). Tokoh yang pertama mengadopsi konsep ini adalah Paul Ricoeur. Dalam bukunya de l’interpretation (1965), ia mengatakan, “kami mengartikan hermeneutika teori tentang aturan yang mengatur sebuah penafsiran, atau dapat dikatakan, interpretatsi teks khusus atau kelompok tanda yang bisa dianggap sebagai teks.” Pada tahap ini, hermeneutika menjadi proses penggalian makna yang dari sesuatu yang isi dan makna yang manifest menuju makna yang tersembunyi atau laten. Objek penafsirannya sendiri yang berupa teks, dalam bentuk yang sangat luas bisa terdiri dari lambang-lambang dalam mimpi, atau bahkan mimpi dan kejadian dalam mitos dan simbol-simbol masyarakat atau karya sastra. Dalam hal ini, Ricoeur membedakan antara simbol-simbol yang jelas merujuk kepada satu makna (univocal) dan simbol-simbol yang samar-samar dan mengandung beragam makna (equivocal). Yang terakhir inilah yang menjadi fokus perhatian hermeneutika. Menurutnya, hermeneutika berkaitan dengan teks-teks simbolik yang memiliki makna ganda. Makna ganda ini bisa jadi menyusun sebuah kesatuan semantik yang —seperti dalam mitos-mitos— memiliki makna zahir yang jelas dan pada saat yang sama juga sebuah signifikansi yang mendalam. Hermeneutika, menurut Ricouer, adalah sistem yang memunculkan signifikansi batin dari dalam substansinya yang tampak. Definisi hermeneutika semacan ini pada gilirannya membawa Ricoeur untuk membedakan dua sindrom hermeneutika yang sangat berbeda dalam era modern: pertama, berkenaan dengan simbol dalam sebuah upaya untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana diwakili oleh upaya “demitologisasi” Rudolf Bultmann; dan kedua upaya untuk membongkar simbol yang menjadi representasi realitas yang salah, seperti ditampilkan oleh Marx, Nietzsche, dan Freud yang membongkar kedok-kedok dan ilusi-ilusi melalui gerakan rasionalisasi yang tiada henti dalam upaya “demistifikasi”. Ketiga tokoh yang terakhir ini menafsirkan kenyataan lahiriah sebagai sebuah kesalahan dan mengajukan sistem pemikiran yang menghancurkan kenyataan tersebut. Ketiganya secara aktif berdiri berseberangan dengan agama, sementara cara berfikir yang benar bagi ketiganya adalah dengan mengajukan “rasa curiga” (suspicion) dan keragu-raguan.

Atas dasar dua pendekatan yang berbeda dalam penafsiran simbol dewasa ini, menurut Ricoeur, tidak akan pernah ada aturan-aturan prinsipal (canons) yang bersifat universal untuk menafsirkan, akan tetapi hanya berupa teori-teori yang terpisah dan saling berlawanan tentang aturan-aturan (rules) penafsiran. Pengikut aliran demythologizer (atau “demitologisasi”) memperlakukan simbol atau teks sebagai jendela menuju realitas sakral, sementara kaum demystifier memperlakukan simbol yang sama (sebut saja teks kitab suci) sebagai sebuah kenyataan salah yang harus dihancurkan.

Pendekatan Ricoeur sendiri dalam mengkaji pemikiran Freud merupakan sebuah upaya brilian dalam kerangka type penafsiran yang pertama. Ia berupaya menemukan kembali dan menafsirkan kembali signifikansi Freud dengan cara baru pada momen kesejarahan masa kini. Dalam hal ini, Ricoeur berusaha untuk menerobos rasionalitas keragu-raguan dan kepercayaan terhadap interpretasi rekolektif dalam sebuah filsafat rekleftif yang tidak kembali ke dalam abstraksi atau menjadi lebih buruk dengan pengajuan keragu-raguan secara sederhana. Sebuah filsafat yang menangani tantangan hermeneutika dalam mitos dan simbol, serta secara reflektif mentemakan realitas di belakang bahasa, simbol, dan mitos-mitos tadi. Fisafat telah menaruh perhatiannya pada bahasa, yang senyatanya sudah menjadi hermeneutika. Tantangan untuk membuatnya hermeneutikal secara kreatif.

Dari keenam makna yang menadai perkembangan hermeneutika dalam era modern, yang tidak menutup kemungkinan akan terus berlanjut dalam fase perkembangan yang lebih mutakhir dalam filsafat Barat modern, pendekatan hermeneutika yang bisa disajikan dalam penelitian bidang kajian tafsir hadis, selain bisa didekati dari pilihan-pilihan dalam enam definisi di atas, dapat pula ditujukan pada apa sebenarnya makna interpretasi yang menjadi manifest hermeneutika, khususnya dalam kajian sastra. Palmer mengajukan beberapa prinsip dalam kajian yang memakai pendekatan hermeneutika, seperti apa yang dirujuknya dari Heidegger tentang perlunya upaya untuk mendekati teks secara lebih mendalam untuk menemukan apa yang tidak, bahkan mungkin yang tidak mampu, dikatakan oleh teks. Menurutnya, menafsirkan sebuah karya adalah untuk melangkah ke dalam cakrawala pertanyaan ke arah mana teks bergerak. Akan tetapi, hal ini juga berarti bahwa sang penafsir bergerak ke dalam sebuah horozon di mana jawaban yang lain juga dimungkinkan. Dalam hal jawaban jawaban yang lain inilah —dalam konteks temporal sebuah karya dan juga dalam era kekinian— bahwa seseorang mesti memahami apa yang dikatakan oleh teks. Dengan kata lain, apa yang dikatakan dapat dipahami hanya melalui apa yang tidak dikatakan.

Prinsip lainnya dalam pendekatan hermeneutika adalah signifikansi penerapan terhadap masa sekarang. Dalam hal hermeneutika yuridis maupun teologis, misalnya diharuskan untuk melihat pemahaman tidak sesederhana upaya mengaitkan kajian klasik untuk memasuki dunia lain yang diinginkannya, tetapi sebagai sebuah upaya untuk menjembatani jarak yang ada antara teks dengan situasi saat ini. Interpretasi bukan melulu menjelaskan apa makna teks dalam dunianya sendiri, tetapi apa maknanya untuk kita. Sebuah teks ditafsirkan bukan atas dasar kesesuaiannya, tetapi karena substansi teks adalah sesuatu yang dimiliki bersama. Landasan kesamaan milik ini tidak selalu bersifat personal, tetapi bahasa. Seseorang berada di dalam dan diliputi bahasa; bahkan ketika seseorang harus menjembatani kesenjangan dalam dua bahasa yang berbeda, ia masih saja menafsirkan dalam dunia bahasa di mana wujud (being) menjadi pengganti di dalam bahasa.

Beberapa literatur lain yang bisa dipakai sebagai rujukan dan panduan dalam memahami teori-teori hermeneutika yang berkembang dalam publikasi yang lebih belakangan dapat dibaca dalam Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as method, philosophy, and critique karya Josef Bleicher (London: Routlege and Kegan Paul, 1980); atau dalam Three Faces of Hermeneutics, An Introduction to current theory of understanding (Berkeley: Unversity of California Press, 1982).

catatan: Rujukan yang dipakai untuk tulisan ini dapat dilihat dalam modul perkuliahan.

Contoh Proposal Penelitian MPTH

10/04/2010

Contoh Proposal Penelitian MPTH

Judul
Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an

Latar Belakang
Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan diungkapkan oleh al-Suyutī dalam bukunya al-Itqān fī ulum al-Qur’ān, di mana ia menyatakan bahwa penjelasan yang dilakukan para Sufi terhadap al-Qur’an bukanlah suatu bentuk “tafsīr” (amma kalām al-sūfiyya fi al-Qur’ān fa laysa bi tafsīrin). Dalam bukunya, al-Suyuti juga membedakan antara tafsir dan ta’wīl sebagai dua metode penafsiran yang berbeda. Yang pertama dianggap sebagai metode penafsiran yang memiliki nilai formal, dianggap standar yang patut dilakukan dan terpuji, dan memiliki keunggulan karena menetapkan makna yang dikehendaki Tuhan sebagai penjelasan atas Kalam-Nya. Sementara metode ta’wīl dianggap sebagai aktivitas di luar prosedur formal, dinilai sebagai tindakan tercela, dan tidak bisa menetapkan satu makna. Signifikansi yang diambil dari sebuah ayat al-Qur’an melalui proses ta’wil tidak bersifat baku lantaran hal itu diambil dari makna “jauh” yang hanya bisa diterapkan karena ada konteks yang mendukungnya. Proses ta’wil inilah yang kebanyakan dilakukan oleh para sufi dalam memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Research Question
Apakah Sufi diperbolehkah, atau anggap saja memiliki otoritas, untuk menafsirkan al-Qur’ān?

Metodologi Penelitian
Pertanyaan tersebut akan diteliti melalui bentuk penelitian kepustakaan. Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kritik kontekstual dan hermeneutika sekaligus. Yang pertama dilakukan untuk menimbang latar belakang yang mendasari munculnya pernyataan yang diungkapkan oleh al-Suyuti dan dipadukan dengan timbangan terhadap validitas penafsiran yang dilakukan sufi. Di sini, penilaian kritik dilakukan untuk mengukur sejauh mana pernyataan al-Suyuti memiliki relevansi bagi problematika penafsiran al-Qur’an dalam corak yang bernilai sufistik sejak masa klasik Islam sampai abad pertengahan, dan guna menguji apakan thesis suyuti masih bisa dipertahankan pada saat sekarang ini. Berangkat dari kritik sejarah tadi, pengujian lebih lanjut terhadap teori-teori penafsiran al-Qur’an akan dilakukan para sufi memerlukan pendekatan filsafat hermenutika, baik sebagai sebuah kajian terhadap problematika umum pemahaman manusia, maupun dalam maknanya yang terbatas sebagai ilmu yang membahas teori penafsiran kitab suci.

Daftar Pustaka Sementara
Abū Zayd, N.H. Hakadhā Takallama Ibn Arabī, Kairo: al-Hai’ah al-misriyya al-amma li al-kitāb, 2002.
Abu Zayd, Mafhūm al-nash, Kairo: matba’ah al-hayāt al-mishriyya li ‘ammāt al-kitāb, 1993.
Afifī, A.A. Malāmatiyya wa al-shūfiyya wa ahl al-futuwwa, Kairo : Dār ihyā’ al-kutub, 1945.
Bruns, Gerard L. Hermeneutics Ancients and Modern, New Haven: Yale University Press, 1992, h.134
Dhahabī, Muhammad Husein al-. Al-Tafsir wa al-mufassirun, Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsiyya, tt, 2 vol.
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Kairo : Dār al-ma’ārif, tanpa tahun.
Ibn Shalāh, Taqiy al-Dīn. Fatāwā, Kairo: Idāra Thabā‘a al-Munīriyya, 1348 H.
Lane, E.W. An Arabic English Lexicon, Cambridge: 1984.
Robson, J. “Ibn Salāh” in The Encyclopaedia of Islam, Leiden: EJ Brill, CD ROM edition 2002, vol.iii, 927a.
Mahmūd, Abd al-Halīm. Manāhij al-Mufassirin, Kairo: Dār al-kitāb al-mishrī, 1978.
Subkī, Tabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā, Kairo: Musthafā al-bāb al-halabī, tt.
Sulamī, Abu Abd al-Rahmān al-. Haqā’iq al-Tafsīr, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyya, 2002, 2 vols.
Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqān fī Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār el-Fikr, 1979, 2 vol.
Syirbasi, Ahmad al-. Sejarah Tafsir al-Quran, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1985.
Taftazānī, Sa‘d al-Dīn al-. Sharh al-Aqā’id al-Nasafiyya, Damaskus: Wizārat al-Tsaqāfa wa irshād al-qawm, 1974.
Tustarī, Sahl b. Abd Allāh al-. Tafsir al-Qur’ān al-Azhīm, Kairo: Dār al-kutub al-‘aabiyya al-kubrā, 1911.

Pendekatan Kritik Kontekstual

09/04/2010

Memahami Makna Konteks
Dalam pendekatan kontekstual, konteks yang dimaksud dari sebuah kejadian, kata, paradigma, perubahan, atau realitas sejenisnya adalah “situasi dan kondisi yang mengelilingi sesuatu.” Makna konteks dalam ilmu bahasa mengandung 2 macam arti: (1) sekeliling teks atau percakapan tentang sebuah kata, kalimat, peralihan atau turn (yang disebut pula co-text), dan (2) dimensi situasi komunikatif yang relevan guna memproduksi atau menyempurnakan sebuah diskursus. Dari dua macam makna tadi, maka beberapa arti khusus yang menandai definisi istilah ini secara terminologis dapat dijelaskan berdasarkan spesifikasi bidang ilmu yang memakainya. Makna konteks dalam ilmu komunikasi, linguistik, dan discourse analysis; misalnya, cenderung diartikan sebagai cara-cara para partisipan menentukan dimensi relevan situasi yang komunikatif dari sebuah teks, percakapan, atau pesan, seperti setting (waktu, tempat); aktivitas yang berlangsung (misalnya, makan malam keluarga, perkuliahan, debat parlemen, dll); atau fungsi partisipan dan peranannya (misalnya pembicara, teman, wartawan, dll); serta tujuan, rencana/niat, dan pengetahuan partisipan.
Konteks dapat pula dibedakan dari dua sudut pandangan yang berbeda menyangkut sebuah peristiwa. Dalam hal ini konteks pembicara di satu sisi, dan konteks peserta atau komunikan di sisi lain, keduanya dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Konteks yang berada di sekeliling pembicara atau penulis secara tipikal mengontrol bagaimana sebuah diskursus dapat disesuaikan dengan situasi sosialnya, yaitu dengan cara membedakan gaya penuturan: bagaimana sebuah kata diucapkan, misalnya. Sementara itu, konteks yang berada di sekeliling penerima mengontrol bagaimana partisipan mengerti sebuah perbincangan, seperti bagaimana fungsi, peranan, tujuan, dan pengetahuan, atau ketertarikan mereka terhadap perbincangan tersebut berpengaruh terhadap pemahaman yang mereka dapatkan.
Dalam rangka menarik relevansi penerapan pendekatan kontekstual dalam penelitian ilmiah yang kita minati, sebut saja dalam studi kitab suci misalnya, pendekatan konteks mengindikasikan terjalinnya hubungan harmoni antara ayat-ayat kitab suci atau potongan bagian teks yang tengah dikaji terhadap apa yang harus diikuti oleh makna skriptural dalam menentukan makna yang dipilih dalam menjelaskan hubungan yang erat antara makna itu dengan ayat yang ditafsirkan. Inilah yang disebut sebagai kaidah “teks dalam konteks”. Dalam hal ini bisa juga dipahami bahwa konteks kitab suci juga semestinya mengikuti maksud dan tujuan sebagaimana dipahami oleh penulis asli terhadap sebuah pandangan dalam menyampaikan kebenaran skriptural kepada pendengarnya.

Kronologi Historis dan Setting Sosial
Dari sini, kita bisa menarik pembahasan lebih dalam lagi dalam menyelami studi al-Qur’an dan ilmu tafsir, di mana arti penting penerapan pendekatan kontekstual dalam bidang kajian Tafsir Hadis menempati posisi krusial. Asbab nuzul atau peristiwa yang menjadi latar belakang sejarah dan setting sosial sebuah ayat merupakan elemen penting dalam tafsir dalam menjelaskan fenomena hidup (the living phenomenon) dari sebuah diskursus dalam proses pewahyuan al-Qur’an. Oleh karenanya, selain secara tekstual tertuang dalam mushaf, atau apa yang dikonsepsikan M. Arkoun sebagai korpus resmi tertutup (Arkoun 1994:35-40), al-Qur’an memiliki fenomena hidup sebagai diskursus selama kurun masa pewahyuannya yang berlangsung sekitar 23 tahun lamanya. Al-Qur’an sebagai diskursus ini menandai periode awal Islam sebelum kemudian teks al-Qur’an disepakati secara resmi pada masa pemerintahan khalifah Usman RA, yaitu ketika al-Qur’an dibukukan ke dalam sebuah teks baku dan mushaf yang resmi yang mengakhiri pertentangan yang ada terhadap beragam persoalan tentang variasi bacaan ketika itu. Mushaf Usmani inilah yang menjadi mushaf standar dan dilestarikan hingga saat ini.
Membuka kembali al-Qur’an sebagai diskursus yang berlangsung pada saat pewahyuannya dianggap sebagai cara yang tepat dalam menilai arah yang tepat berkenaan dengan penetapan hukum dalam syariat, begitu pula dalam menilai hukum-hukum yang bersifat partikular, karena bisa jadi sebuah lafazh menunjuk sebuah karakter umum, sementara latar belakang turunnya ayat tertentu menjadi argumen yang mengkhususkannya. Tentang asbâb al-nuzûl, pentingnya ilmu ini untuk diketahui oleh siapa saja yang berniat menafsirkan al-Qur’an disebutkan dengan jelas dalam pernyataan al-Wahidi, bahwa tidaklah mungkin seseorang menafsirkan al-Qur’an jika ia tidak berpegang pada kisah dan penjelasan berkenaan dengan turunnnya. Tokoh lain seperti Ibn Taymiyya juga menjelaskan bahwa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat akan membantu dalam memahami ayat itu, karena dengan mengetahui suatu konteks (sabab) pada gilirannya akan menurunkan pengetahuan tentang teks (musabbab) (Suyuti 1979: i, 29).
Pentingnya asbab nuzul dalam memahami al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh para pakar tafsir di atas, adalah karena al-Qur’an turun dalam situasi kesejarahan yang konkret. Al-Qur’an merupakan respon Tuhan terhadap situasi Arabia pada zamannya. Respon itu terekan di sana sini, bahkan bukan saja dalam tradisi kenabian yang menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa berpengaruh terhadap turunnya malaikat dalam membawa pesan Allah sebagai jawaban bagi persoalan yang dihadapi. Gambaran mengenai konteks historis tentang turunnya ayat-ayat al-Qur’an dapat dilihat dalam literatur asbâb al-nuzûl, seperti karya Wâhidî yang berjudul Asbâb al-Nuzûl, ataupun karya Suyuti Lubab al-Nuqûl fi Asbâb al-Nuzûl.

Konteks Susastra
Pertimbangan terhadap konteks juga memegang peranan penting dalam kajian al-Qur’an, terutama dalam menelaah redaksi al-Qur’an yang menunjukkan bagaimana teks al-Qur’an diturunkan dalam bentuk retorika dan dialektika dalam sebuah diskursus atau perbincangan yang tidak menampilkan suara yang monofonik, ketika Allah dianggap satu-satunya penutur (speaker). Sebagaimana tergambar dalam beberapa model redaksi yang bersifat dialogis, al-Qur’an menampilkan sebuah paduan suara yang cukup beragam. Dengan melihat diskursus yang menandai proses pewahyuannya, suara al-Qur’an tergolong polifonik. Begitu banyak sumber bunyi yang tergambar dari sebuah redaksi teks al-Qur’an, sehingga perkataan “Aku” atau “Kami” tidak selalu merujuk kepada Tuhan sebagai penutur. Bahkan suara Tuhan sendiri terkadang diwujudkan dalam bentuk orang ketiga, “Dia”, atau juga orang kedua “Engkau”. Identifikasi suara Tuhan dalam bentuk pembicara ketiga kadang-kadang didahului dengan ungkapan “Katakanlah!” yang tidak disebutkan siapa subyeknya. Model perbincangan semacam ini sangat banyak terjadi di dalam al-Qur’an, terutama yang menandai karakter ayat-ayat yang turun pada periode Mekkah.
Redaksi teks yang terekam dalam QS. Al-Ikhlâs, sebagaimana dicontohkan oleh Nasr Abu Zayd menunjukkan akan keikutsertaan 3 macam suara dalam proses pewahyuannya (Abu Zayd 2004:19). Secara literal, terjemahan dari surat itu dapat disebutkan sebagai berikut:
Katakanlah, Dia adalah Allah yang Esa.
Allah yang kekal selamanya.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Dan tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.

Dari redaksi surat al-Ikhlas di atas, sesuatu yang menandai keyakinan kaum muslimin menerangkan sebuah penjelasan bahwa subyek yang tidak teridentifikasi ini merupakan suara malaikat Jibril AS, mediator dan utusan Allah yang menyampaikan pesan Allah kepada Muhammad SAW. Sebagai utusan yang membawa pesan Allah, Jibril menjelaskan Kalamullah melalui suara dirinya yang bertindak atas nama Tuhan. Dari sini, suara Tuhan secara tidak langsung (implicit), yang terpancar jelas oleh Muhammad dalam wujud suara malaikat, pada gilirannya harus diumumkan pula kepada khalayak sebagai target akhir penerima pesan ilahi. Penyampaian ini tentu saja melalui suara Muhammad sendiri sebagai seorang manusia. Dengan keikutsertaan ketiga macam suara, maka model diskursus yang berlangsung dalam surat al-Ikhlas bersifat “informatif”.
Al-Qur’an tidak saja menampilkan model diskursus informatif, tetapi terdapat pula model “dialog implisit” dalam bentuk hymne atau ayat-ayat liturgis di mana penuturnya adalah suara manusia, sementara Tuhan digambarkan sebagai komunikan. Contoh terbaik untuk model dialog ini adalah QS. Al-Fâtihah, yang merupakan pembacaan yang sangat jelas (ekslpisit); sementara respon Tuhan bersifat implisit. Oleh karena itu, bagi setiap pembaca disarankan untuk membaca ayat-ayat ini secara pelan-pelan dengan cara berhenti sejenak di setiap akhir ayat guna dapat menerima jawabannya. Dengan kata lain, pembacaan surat ini meliputi proses yang meliputi baik vokalisasi maupun juga proses mendengarkan dengan seksama (sama’) karena pada saat yang sama ketika pembacaan surat al-Fatihah dilakukan di dalam salat, Allah memberikan jawaban bagi permohonan hambanya (Abu Zayd 2004:21). Dari beberapa susunan model diskursus al-Qur’an, seorang peneliti akan menemukan arti penting konteks dalam kajian kitab suci ini.
Sebuah bidang kajian yang mendapatkan perhatian cukup besar dalam upaya ijtihadi setiap penafsir al-Qur’an adalah ilmu munâsabât, yaitu keterkaitan antara bagian-bagian dalam al-Qur’an. Kajian ini juga menyangkut aspek konteks dalam arti keterikatan redaksional maupun makna ditinjau dari tata urutan ayat-ayat dan surat dalam mushaf. Dengan kata lain, jika konteks yang dibicarakan dalam asbâb al-Nuzûl adalah latar belakang sosio-historis yang menandai kronologis ayat berdasarkan turunnya, maka konteks yang diurai dalam ilmu munasabat adalah kronologi teks dalam mushaf (Abu Zayd 1993:179-197). Dalam hal ini keterkaitan redaksional maupun makna dapat dilihat baik antara satu ayat dengan ayat-ayat sesudahnya, kelompok besar ayat-ayat dengan kelompok besar ayat-ayat lainnya, sebuah surat dengan surat lain sesudahnya, atau bahkan bagian akhir sebuah surat dengan bagian pembuka surat sesudahnya. Keterkaitan antar bagian-bagian al-Qur’an dalam susunan redaksional dan maknanya menunjukkan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang mendukung konsepsi i’jaz al-Qur’ân yang benar-benar datang dari sisi Tuhan, dan tidak bida ditandingi oleh komposisi yang dibuat oleh manusia manapun.

Konteks dalam Hadis dan Fiqh
Arti penting konteks juga berlaku dalam penelitian hadis, di mana sebuah ungkapan, atau perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW biasanya lahir dari sebuah kejadian yang melatarbelakangi munculnya pernyataan dan amaliah tersebut. Untuk itu, pendekatan kontekstual baik dalam bentuk ulasan tentang setting historis, sosiologis, maupun budaya yang mendasari sebuah tradisi kenabian ataupun diktum agama pada masa pembentukannya di masa-masa sesudahnya menjadi sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan makna dan pemahaman yang bisa diambil darii hadis-hadis di luar susunan redaksionalnya. Konteks dalam hal ini juga menjadi pertimbangan dalam melakukan interpretasi terhadap hadis bagi kepentingan penetapan hukum dalam fiqh Islam.
Dalam proses dan aktivitas penelitian tentang diktum maupun doktrin agama baik yang berasal dari kitab suci maupun tradisi kenabian, penyertaan konteks memiliki peranan cukup penting dalam membentuk karakter dari diktum maupun doktrin tersebut. Lokasi turunnya wahyu, seperti yang membedakan antara kelompok ayat-ayat makkiyah yang turun di Mekkah dan kelompok ayat-ayat madaniah yang turun di Madinah sesudah hijrah, turut membentuk karakter redaksional maupun isi kandungan pesan yang disampaikan yang menandai ciri-ciri umum redaksi masing-masing periodisasi pewahyuan al-Qur’an tersebut. Dalam hal ini, perbedaan penggunaan kata panggilan (munada) dan substansi pesan yang disampaikan juga menandai perbedaan karakter antara dua kategorti historis tadi.
Pertimbangan konteks, atau lebih tepatnya kronologi historis juga berpengaruh terhadap penetapan dan pembatalan hukum dalam kasus nasikh mansukh. Dalam hal ini, bacaan atau hukum yang berlaku lebih awal dibatalkan oleh bacaan atau hukum yang datang belakangan. Konteks yang menjadi latar belakang peristiwa yang menjelaskan turunnya sebuah perintah yang dikandung dalam sebuah ayat al-Qur’an, jika dilihat melalui teksnya secara telanjang melalui tata urutan mushaf semata, maka aspek-aspek kronologis semacam pembatalan hukum sama sekali tidak bisa terdeteksi. Konteks kronologis menjadi kajian yang harus dicermati, sehingga pembacaan terhadap al-Qur’an dengan menyertakan konteks turunnya ayat tersebut dapat dijadikan patokan mana ayat yang turun lebih dulu —yang hukumnya dibatalkan, dan mana yang turun belakangan dan menggantikan hukum yang pertama.

Kesimpulan
Menelusuri konteks melalui pendekatan sejarah, sosiologi, maupun budaya seperti yang ditampilkan Nasr Abu Zayd dalam membedah konsep-konsep dalam karyanya Mafhum al-Nass dan karya-karya sarjana muslim lain merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan kajian agama dalam merespon perkembangan kajian sosiologis dan humaniora melalui pendekatan cultural studies (kajian budaya) yang mulai marak dikembangkan pada akhir abad ke-20. Pendekatan ini dilakukan dengan mengenalkan pemikiran aliran marxisme ke dalam sosiologi, dan sebagiannya melalui artikulasi sosiologi dan displin akademik lain, seperti kritik sastra, maupun disiplin agama. Gerakan ini bertujuan untuk memusatkan analisis terhadap subkultur-subkultur dalam masyarakat kapitalis. Mengikuti tradisi non-antropologi, kajian budaya biasanya memfokuskan kajian konsumsi barang (seperti pakaian, seni, dan literatur). Karena ada perbedaan antara kultur rendah dan kultur tinggi pada abad ke-18-19 yang tidak lagi pantas untuk diaplikasikan pada konsumsi barang yang diproduksi dan dipasarkan secara massal yang menjadi pokok analisis kajian kultur, maka sarjana merujuknya sebagai budaya populer.
Walhasil, apapun pisau bedah yang digunakan dalam meneliti fenomena keagamaan melalui pendekatan kontekstual, pendekatan akademis ini bermuara pada semakin banyaknya titik-titik persinggungan antara agama dan kenyataan dalam kehidupan manusia kontemporer yang membutuhkan metodologi pemecahan masalah yang harus tetap berlandaskan pada semangat universalitas al-Qur’an agar bisa menjadi rahmat bagi semesta alam.