Archive for the ‘Tugas Mengajar’ Category

Kajian Orientalis: Daftar Nama Pemakalah

26/11/2012
A.J. Arberry Mahmudah
Pemikiran W. Muir tentang al-Qur’an Salina dan Nurlaela
Pandangan SnouckHurgronje terhadap al-Qur’an dan hadis Munajat Adisaputra & Ristya Fitra
Alfons Mingana “Dalam Kecemburuan Bible terhadap al-Qur’an Amirudin Natonis & Tomi Sutrisno
Hujatan Martin Luther terhadap al-Qur’an Nidaul Husna & Roro Estri Melati
W. Muir Neneng R & Ade Irawan
Pandangan Robert Morrey terhadap al-Qur’an Faridah
Kronologi al-Qur’an: Perspektif Regis Blachere Baharuddin
Muhammad dan al-Qur’an dalam pandangan HAR Gibb M. Reza fadil
Kritik Snouck Hurgronje terhadap keberagamaan Masyarakat Aceh M. Zamzami & Ma’mun
Metode dan Pendekatan Studi Islam dalam Pemikiran Charles J. Adams Masrukhin & Nurul Zibad
Arthur Jeffery M. Khairul Anam & M Fadli bin Rosli
Christoph Luxenberg: Kritik  terhadap Filologi al-Qur’an Tirtha Ranji & Fasjud Syukroni
Asal Bahasa al-Qur’an Menurut Christoph Luxenberg Mia F & Nurul Hasanah
Ignaz Goldziher dan madzhab Tafsir al-Qur’an Helrahmi Yusman & Zakiah M. Bandjar
Pandangan Hans Jansen terhadap Tafsir Muhammad Abduh Fathul Mubin & Nurhidayat Septiawan
Maurice Bucaille Harisman
Toshihiko Izutsu dan Etika Beragama dalam al-Qur’an Khodijatus Sholihah
Al-Qur’an dalam perspektif Toshihiko Izutsu Mabrur & Izzul Muttaqin
Pandangan W. Montgomery Watt terhadap Ayat-ayat Setan Farihah Jadwa Izzaty
Relasi Ontologi Tuhan dan Manusia dalam Pandangan Toshihiko Izutsu Yatimurrahmi & Rizki Nurhidayati
Metodologi Penafsiran Kitab Suci: John Wansbrough Naylatus Sa’adah & Nurlaila Syahidah
Fenomena Wahyu menurut W. Montgomery Watt Ahmad Fauzan Yakub & Fikri Abdurrahman
Kritik Terhadap Metode Common Link Juynboll Ahmad Zaki Yusran & Sholahuddin al-Ayyubi
Joseph Schacht Zulkifli Natonis & Ali Hamzah al-Husaini
Joseph Schacht: Pembukuan Hadis dan Dominasi Kepentingan Fiqh Ahmad Baiquni
Nabia Abbott M. Mora Ganti Aritonang
Kritik atas Skeptisisme Ignaz Godlziher terhadap Hadis M. Nabiel
Fuat Sezgin A. Amirudin Mukhlas & Badrul Qomar
J. Brown dan Kanonikasi Hadis Nabi M. Khairul Huda
Kritik Adnin Armas terhadap Orientalisme: Arthur Jeffery Dwi Haryanto

MEREKA YANG BELUM PRESENTASI ADALAH SBB:

M. Iqbal  108…07
Ahmad Ahad Syabani 109…04
Ahmad Fuad 109..12
Ahmad Mujamiludin 109…33
Reza Wahyudi 109…27
Yusuf Hamdani 109…39
Agung Syafiullah 109…45
Daud Catur Wicaksono 107…853

UQ PA/IA 2012

23/10/2012

Hari ini UTS, take home assignments. Soal diberikan di kelas.

Kajian Orientalis 23/10/2012

23/10/2012

23-10-2012

Kelas A

Farihah, W.M. Watt Ayat-ayat setan

Masrukin, A.J. Wensinck

Munajat A, Alexander Ross

Yatimurrahmi, T. Izutsu

Khodijatus Sholihah, T. Izutsu

Dwi Haryanto, T. Izutsu

 

Kelas B

Fatkhul Mubin & Nurhidayat S, J.J.G. Jansen

Zulkifli & Ali Hamzah, Henry F. Amendros

Zamzami & Ma’mun, Snouck H.

UQ 2012 PA/1/A 16-10-2012

16/10/2012

Kuliah hari ini membahas tentang Asbab Nuzul dan Munasabat

Kajian Orientalis: 16/10/2012

16/10/2012

Hari ini tema-tema yang akan dipresentasikan adalah:

Kelas A

M. Mora Ganti, Nabia Abbott

Khairul Huda, J. Brown

Neneng R dan Ira, W. Muir

Tirta R/Fasjud S, A. Jeffery/J. Schacht.

 

Kelas B

Nida’ul Husna/Roro E, Martin Luther

Mahmudah A.J. Arberry

Salina & Nurlaela, W. Muir

Mabrur & Izzul M, T Izutsu,

Faridah, R Morrey?

 

UQ PA 02/10/2012

02/10/2012
Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu yang terkait dengan al-Qur’an.
Di antara karya-karya yang membahas Ulumul Qur’an dalam sejarah perkembangan kesarjanaan Islam, dapat disebutkan di sini seperti:
  • Muhammad b. ‘Alî al-Adfawî (w. 388) al-Istighnâ’ fî ulum al-ul-Qur’an;
  • Ibn al-jawzi (w. 597) Funûn al-Afnân fi ‘ajâ’ib ulum al-Qur’ân;
  • Badr al-Din Zarkâsyî (w. 794) al-Burhan fi Ulûm al-Qur’an;
  • Jalal al-Din al-Bulqini (w. 824) mawaqi’ al-‘ulum min mawâqi’ al-nuzûl;
  • Jalal al-Din al-Suyûtî (w. 911) al-Itqân fî ‘ulûm al-Qur’ân;
  • Tâhir al-Jazâ’irî, al-Tibyân fî ‘ ulûm al-Qur’ân;
  • Muhammad ‘Alî Salama Manhaj al-Furqân fî ‘ulûm al-Qur’ân;
  • ‘Abd al-Azîm al-Zarqânî Manâhil al-‘Irfân fî ‘Ulûm al-Qur’an;
  • Ahmad Ahmad Ali Madzkara fi ulum al-Qur’an;
  • Subhi Salih Mabahis Fi Ulum al-Qur’an;
  • Manna Khalil Qattan, Mabahits fi ulum al-Qur’an;
  • Nasr Abu Zayd, Mafhum al-Nass dirasah fi Ulum al-Quran.

Kajian Orientalis 02/10/2012

02/10/2012

Selasa, 2 oktober 2012

Kelas A:

  1. Ahmad Baiquni, juynboll/schacht
  2. Helrahmi Y & Zakiah MB, Ignaz Goldziher
  3. Tirta R & Fasjud Syukroni, A. jeffrey/schacht
  4. M. Reza Fadhil, HAR Gibb
  5. Baharuddin, R. Blachere

Kelas B

  1. Mia & Nurul , luxenberg
  2. Nurlaela Syahidah & naelatus S, John Wansbrough
  3. Mabrur,
  4. Makhmudah, Aj. Arberry
  5. Salina & Nurlaela, W. Muir

Kajian Orientalis: Pemakalah Pertama 18-09-2012

18/09/2012

Hari ini Selasa, 18 September 2011, mata kuliah Kajian Orientalis/Barat terhadap al-Qur’an dan hadis akan diisi dengan presentasi tentang pemikiran beberapa tokoh orientalis, di antaranya:

Kelas 7/TH/A

Ahmad Fauzan dan Fiqri A: Gagasan W. Montgomery Watt tentang Fenomena Wahyu

Ahmad Baiquni: G.H.A. Juynboll: Paradigma Fiqih dalam kitab hadis.

M. Nabiel: Ignaz Goldziher?

Kelas 7/TH/B

Harisman: J. Jomier?

Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an UQ/PA/1/2012

18/09/2012

Pengertian
Makna Jam’
– Menghafalkan – jumma’ al-Qur’an = huffazh. Ada 7 huffazh yang terkenal:
• Abdullah b Mas’ud
• Salim b Ma’qal maula Abu Hudzaifa
• Mu’adz b Jabal
• Ubay b Ka’ab
• Zayd b Tsabit
• Abu Zayd b al-Sukun
• Abu Darda’
– Menuliskan – nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan al-Qur’an sesaat setelah turun wahyu.
• Beberapa sahabat yang terkenal sebagai penulis wahyu:
– Ali
– Mu’awiya
– Ubay b Ka’ab
– Zayd b Tsabit
• Beberapa media yang digunakan: potongan tulang, daun-daunan, kayu, kulit biatang, batu, dll.

Masa Abu Bakr
• Latar belakang:
– 70 huffazh gugur pada saat perang Yamama (12 H).
– Umar Khawatir al-Qur’an akan hilang dengan meninggalnya huffazh tersebut.
– Al-Qur’an sudah dituliskan pada masa NAbi SAW, tetapi masih terserak-serak.
– Perlu dilakukan upaya pengumpulan tulisan-tulisan itu secara formal dalam sebuah mushaf.
• Abu Bakr kemudian memerintahkan proyek pengumpulan al-Qur’an sehingga terkmpul dalam sbeuah mushaf.
• Sebenarnya masih ada sahabat yang memegang mushaf pribadi, tetapi bebrbeda dalam hal tata urutan ayat dan surat, penghapusan ayat-ayat mansukh, dan kesepatakan terhadap persoalan tersebut.
• Penamaan al-Qur’an sebagai “mushaf” bermula pada periode pengumpulan al-Qur’an masa Abu Bakr ini.

Masa Utsman
• Latar belakang:
– Penaklukan Islam meluas,
– Qurra’ tersebar di berbagai kota,
– Penduduk sebuah kota mengambil bacaan al-Qur’an dari sahabat yang ada di sana,
– Ada perbedaan cara membaca (qiraat)
– Jika terjadi perang, maka kaum muslimin berkumpul, dan mengagungkan bacaan masing-masing,
– Mereka menganggap bahwa kesemua bacaan tersebut bersumber dari Nabi SAW,
– Tapi ada keraguan terhadap klaim sandaran bacaan dari Nabi ini, yang berujung pada pertikaian.
• Pada saat perang penaklukan Arminia dan Azerbaijan, Hudzayfa b al-Yaman menyaksikan pertikaian tentang bacaan ini, antara ahlu Syam dengan ahlu Iraq yang bahkan saling mengkafirkan.
• Persoalan ini terdengar oleh Utsman, sehingga ia memerintahkan upaya kodifikasi al-Qur’an berdasarkan dialek bahasa Quraisy, karena Nabi seorang Quraisy.
• Komite yang dibentuk Utsman terdiri dari:
– Zayd b Tsabit
– Abdullah b Zubayr
– Sa’id b al-Ash
– Abdurrahman b Harits b Hisyam
• Ada berapa naskah yang dihasilkan saat itu:
– Ada 7 Makkah, Syam, Basra, Kufa, Yaman, Bahrain, Madina
– Ada 4 saja: Iraqi, Syami, Misri, dan Mushaf Imam. Atau kekempatnya adalah Kufi, Basri, Syami, Mushaf Imam.
– Ada 5, kata Suyuti, ini pandangan yang paling masyhur.

Sumber: Manna’ Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an.

Wahyu dan al-Qur’an UQ PA/I/A/2012

11/09/2012

WAHYU

Secara bahasa wahyu berarti: (1) ilham yang diterima manusia (QS 28:7), (2) insting makhluk hidup (QS 16:68), (3) isyarat yang cepat melalui tanda-tanda (QS 19:11), (4) bisikan persekongkolan jahat oleh syetan kepada manusia (QS 6:112, 121 ), (5) perintah Allah kepada para malaikat (QS 8:12), atau para nabi (QS 53:6) wahyu = الموحى.

Secara istilahi, wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada hamba yang dipilihNya, dengan maksud memberi petunjuk (hidayah) secara cepat dan rahasia.

Definisi M. Abduh, wahyu adalah “irfan” yang ditemukan seseorang dalam jiwanya, seraya meyakini bahwa itu datang dari Allah, dengan atau tanpa perantara/suara. Wahyu ini berbeda dengan ilham karena ketika menerima ilham/instink, manusia tidak tahu dari mana datangnya.

AL-QUR’AN

“كلام الله، المنزل على محمد -صلى الله عليه وسلم- المتعبد بتلاوته”

Nama-nama lain al-Qur’an, apa bedanya?

  1. Al-Qur’an
  2. Al-Kitab
  3. Al-Furqan
  4. Adz-Dzikr

(Mannā’ Qaṭṭān, Mabāḥits fī ulum al-Qur’an, 1-15)

Pertanyaan:

  1. Lihat QS Asy-Syura 42: 51, wahyu itu pesan atau cara/proses menyampaikan pesan Tuhan?
  2. Jika dikaitkan dengan al-Qur’an, wahyu itu kalam/Qur’annya atau proses komunikasi Tuhan-manusia?
  3. Apa beda proses pewahyuan al-Qur’an dengan kitab-kitab sebelumnya?
  4. Bagaimana memahami proses pewahyuan dulu dan kini, sehingga manusia bisa menerima?
  5. Jika ada yang menolak, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi?
  6. Apa kaitan wahyu dan keimanan?

DAFTAR TOKOH ORIENTALIS

10/09/2012

Dalam iklim kajian al-Qur’an dan hadis di Barat, ada beberapa nama tokoh orientalis yang belum dibahas pada tahun lalu dan bisa menjadi materi bahasan semester ini. Tentu saja anda dapat memilih tokoh-tokoh lain yang sesuai dengan ketertarikan anda di luar nama-nama tersebut. Namun, sebagai panduan saja dapat saya sampaikan beberapa nama berikut ini:

Nama Orientalis

Karya/Pemikiran

Kajian

Alfred Guillaume The Legacy of Islam (1931) with T. Arnold; Tradition of Islam  Alfred Guillaume (1888-1965), differs from his predecessors with his claim that the different ways in which the hadiths were fabricated reflect the political and religious tendencies of competing groups. He also argues that only a few of the hadiths can belong to the authorities to whom they were attributed, based on mistakes made during the narration process. His work on the hadith literature entitled The Traditions of Islam makes it necessary to mention his name in this context. Hadis
Alloys Sprenger Das Leben und die Lehre des Mohammad, tiga jilid, published between 1861 and 1865. Ia mengatakan bahwa literature tentang hadith mengandung isi kandungan yang lebih authentic dari sekedar peristiwa yang dibuat-buat.

Alloys Sprenger dalam bukuu yang sama juga menulis  uraian tentang perbedaan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniah sepanjang 36 halaman di volume ke-3 karya biografinya Das Leben und die Lehre des Mohammad (Berlin 1861).

Qur’an

Hadis

Angelika Neuwirth Angelika Neuwirth adalah professor of Sastra Arab di the Freie Universitat Berlin and directur proyek Corpus Coranicum  di Berlin-Brandenburg Academy of the Sciences. Dia juga mengajar di Ayn Shams University (Cairo) and the University of Jordan (Amman). Sejak tahun 1994 to 1999 menjadi directur pada Oriental Institute of the German Oriental Society (DMG) di Beirut and Istanbul. Pusat kajian penelitiannya meliputi kajian al-Qurʾan dan Tafsirnya, dan sastra Arab modern, terutama puisi-puisi bangsa Palestina dan sastra Levantine. Salah satu buah karyanya adalah Studien zur Komposition der mekkanischen Suren (second edition 2007). Qur’an
Arthur J. Arberry The Holy Koran, an Introduction with Selections (London 1953), yang dilanjutkan dengan terjemah secara komplet dalam The Koran Interpreted (2 vol, London 1955). Qur’an
C. Snouck Hurgronje C. Snouck Hurgronje (1857-1936), a contemporary of Goldziher’s, claimed, just like the latter, that the hadith literature was a product of dominant groups in the first three centuries of Islam, and thus it reflected their views. Both orientalists agree on the idea that different groups made up many hadiths and used them as a means to gain their objectives. Hadis
Carl Brockelmann Geschichte des Arabischen Literature (1989-1902). Manuskrip Arab
Christoph Luxenberg The Syro-Aramaic Reading of the Qur’an (2000). Qur’an
Claude Gilliot Claude Gilliot adalah professor bahasa Arab dan kajian keislaman pada University of Provence, Aix-en-Provence (France). Salah satu karyanya adalah Exégèse, langue, et théologie en Islam. (Paris: Vrin, 1990) and “Le Coran, fruit d’un travail collectif?” dalam D. De Smet, G. de Callatay and J.M.F. Van Reeth (eds), Al-Kitab. La sacralité du texte dans le monde de l’Islam, Acta Orientalia Belgica, 2004, 185–223. Qur’an
D.S. Margoliouth David Samuel Margoliouth (1858-1940). Highly influenced by Goldziher and Muir, Margoliouth claims that the development of the hadith literature, as explicated in Goldziher’s studies, should lead the researcher to be skeptical and to constantly ask the question, “what is the possible reason for the fabrication of this particular hadith?” In addition to being influenced by his predecessors, Margoliouth also had a considerable impact on subsequent orientalists, particularly Joseph Schaht, and through him, the entire orientalist tradition. In this context, his most effective assertion is the idea that the concept of the “sunnah” was originally used to refer to pre-Islamic customs/traditions that had not been abolished by the Quran. For him, the attribution of the term “sunnah” to the Prophet’s sayings and deeds was a result of a slow and gradual process. One of the reasons behind this transformation, he argues, was the desire to prevent a potential anarchical situation that might be caused by the prevalence of the traditions and life styles of the different groups that were integrated into the Muslim world as a result of the expansion of Islam. Hadis
Fred M. Donner Fred M. Donner professor bidang kajian sejarah Timur Dekat di Institut Studi Ketimuran Department of Near Eastern Languages & Civilizations at the University of Chicago (USA). Salah satu karyanya adalah Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing (Princeton: Darwin Press, 1997) dan “From believers to Muslims: Communal self-identity in the early Islamic community,” Al-Abhath 50–1 (2002–3), 9–53. Qur’an
Fuat Sezgin Geschichte des Arabischen Schrifttums (vol. I, 1967) Manuskrip Arab
Gabriel Said Reynolds Gabriel Said Reynolds adalah asisten professsor kajian Islam dan teologi pada University of Notre Dame (USA). Beberapa karyanya adalah A Muslim Theologian in the Sectarian Milieu: ʿAbd al-Jabbār and the Critique of Christian Origins (Leiden 2004), dan The Qurʾān in Its Historical Context (London, 2008). Qur’an
Gerhard Bowering Gerhard Bowering adalah seorang professor kajian keislaman di Yale University (USA). Salah satu publikasinya adalah Mystical Vision of Existence in Classical Islam (Berlin: de Gruyter, 1980) and Sulami’s Minor Qur’an Commentary (Beirut: Dar al-Mashriq, 1995; 1997). Qur’an
Gregor Schoeler Gregor Schoeler memangku jabatan sebagai ketua bidang kajian Islam di Universitas Basel (Switzerland). Fokus kajian penelitiannya selain bahasa Arab, juga sastra Persia, sejarah Islam awal, seperti biografi Nabi Muhammad, warisan lama dan transmisi ilmu pengetahuan dalam Islam. Salah satu karyanya adalah sebagai editor untuk The Oral and the Written in Early Islam, London and New York 2006; Die ältesten Berichte über das Leben Muhammads (bersama  A. Gorke), Princeton 2008; The Genesis of Literature in Islam. From the Aural to the Written, Edinburgh 2009. Qur’an
Gustav Flugel Corani Textus Arabicus (1834), Concordantiae Corani Arabicae (1842; repr 1898). Ia membuat edisi al-Qur’an yang memasukkan 7 qiraat sab’ah. Quran

 

Gustav Weil Gustav Weil dengan karyanya tentang sejarah hidup Muhammad (1843), menyinggung sebuah kajian terhadap al-Qur’an sehingga memunculkan karya-karya gabungan seperti Historische-kritische Einleitung in den Koran (Bielefeld, 1844; edisi keduanya pada 1878). DalamGeschichte der Chaliphenia mengatakan bahwa hadis-hadis Bukhari harus ditolak. Selain itu ia juga meragukan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menegaskan Nabi sebagai makhluk fana, serta ayat-ayat yang bercerita tentang Isra. Qur’an &Hadis

 

H.A.R. Gibb Mohammedanism(1946). Karya ini adalah sebuah pernyataan ulang (restatement) terhadap usaha terdahulu oleh D.S. Margoliouth yang menulis volume asli tentang Mohammedanism pada tahun 1911. Ia beralasan bahwa setelah 35 tahun berlalu, maka perlu diadakan “pernyataan ulang” atau “penulisan ulang” dan bukan sekedar mengedit kembali edisi aslinya.MenurutGibb, Muhammad bukan saja seorang rasul, satu di antara rasul-rasul lain, tetapi bahwa dalam diri Muhammad, titik kulminasi kerasulan berakhir, dan melalui al-Qur’an yang diwahyukan melalui lisannya bentuk final wahyu Tuhan terbentuk dan menasakh semua catatan wahyu yang diturunkan sebelumnya (Gibb, 1946: 11-12). Islam
Harald Motzki Harald Motzki menjadi suara penentang yang paling lantang, seperti disuarakan dalam karyanya yang berjudul Analysing Muslim Traditions: Studies in legal, Exegetical, and Maghazi Hadith, (Leiden: E.J. Brill, 2010). Hadis
Helmut Gatje The Qur’an and Its Exegesis (1976) Quran
Henri Lammens Henri Lammens (1862-1937). According to him, since the Muslim ulema (scholarly class) largely confined their efforts to the critique of narrative chains (isnad) and paid insufficient attention to the internal/textual critique of the hadiths, they failed to notice logical and historical impossibilities and anachronisms in the narrations. Hadis

 

Jane Dammen McAuliffe Jane Dammen McAuliffe menjabat sebagai Dekan di Georgetown College, seorng Professor of Sejarah dan bahasa Arab di Georgetown University, Washington DC, USA. Beberapa karyanya adalah “Qur’anic Hermeneutics: The Views of al-Tabari and Ibn Kathir” in A. Rippin, Approaches to the History of theInterpretation of the Qur’an. Oxford: Clarendon Press, 1988, pp. 46 – 62;  Qur’anic Christians: An Analysis of Classical and Modern Exegesis.Cambridge: Cambridge Univ. Press, 1991. Qur’an
Johann Fueck Johann Fueck (1894-1974), mengkritik pendekatan skeptic para pendahulunya. Menurut Fueck, mereka yang menganggap hadis sebagai koleksi pandangan generasi belakangan telah mengabaikan pengaruh mendalam Nabi terhadap kaum muslimin. Dengan begitu, mereka gagal melihat orisinalitas literature hadis, dan menganggapnya hanya sebagai “mozaik” yang dirangkai dari elemen-elemen asing. Akibatnya mereka menganggap hadis sebagai sesuatu yang dibuat-buat hingga terbukti sebaliknya. Hadis
Josef Horovitz Koranische Untersuchungen (Berlin, 1926) berkenaan dengan bahagian naratif dan nama-nama dalam al-Qur’an, sedangkan   “Alter und Ursprung des Isnad” in Islam viii (1918); ix (1921) mencoba merangkai kronologi isnad dengan memakai metode Ibn Ishaq. Menurutnya, isnad pertama kali muncul pada kuarter akhir abad pertama hijrah, ini membuatnya berbeda dengan para pendahulunya mengenai persoalan kronologi isnad, meskipun ia menggunakan kerangka berfikir yang sama dengan mereka bahwa Islam mengandung beragam elemen agama dan kebudayaan lain, hingga ia menyebut Islam sebagai “sebuah wilayah di mana sikretisme mendominasi”. Qur’an & hadis
Josef van Ess Zwischen hadit und theologie (1975). Hadis
M. Cook and Patricia Crone Hagarism, the Making of Islamic World (1977) Qur’an
M.J. Kister Studies in Jahiliyya and Early Islam (1980) Hadis
Michael Cook Early Muslim Dogma: A Source Critical Study (1981) Qur’an
Nabia Abbot Studies in Arabic Literary Papyri II: Qur’anic commentary and tradition (1967) Qur’an &Hadis
Patricia Crone Slaves and Horses: the Evolution of Islamic Polity (1980), Meccan Trade and the Rise of Islam (1987) ?
Paul Nwyia “Sentences de Nuri par Sulami dans Haqa’iq al-Tafsir” Mélanges de l’Université Saint-Joseph. Imprimerie Catholique, Appendice A, pp. 30-33 (1968). Exégèse coranique et langage mystique: nouvel essaisur le lexiquetechnique des mystiques musulmans. Beyrut: Dar el-Machreq , pp. 316-48 (1970), Trois oeuvre inédites de mystique musulmans Šaqiq al-Balkhi, Ibn‘Ata’, Niffari (ed. critique avec introd. par P. Nwyia). Beyrouth: Dar El-Machreq (1972). Qur’an
Regis Blachere Le Coran: traduction selon de reclassement des sourates (3 vols., 1947-1951) Quran
Reinhart Dozy Het Islamisme (1863). Influenced by both Sprenger and Muir, Dozy argued that about half of the hadiths in al-Bukhari were authentic. Hadis
Richard Bell “A Duplicate of the Koran; the Composition of Surah xxiii”, Moslem World, xviii (1928), 227-33; “Who were the Hanifs”, MW, xx (1930), 120-4; “The Men of the A’raf (Surah vii:44), MW, xxii (1932), 43-8; “The Origin of Idul Adha”, MW, xxiii (1933), 117-20; “Muhammad’s Call”, MW, xxiv (1934) 13-19; Muhammad’s Vision, MW, xxiv, 145-54; “Muhammad and Previous Messenger, MW, xxiv, 330-40; “Muhammad and Divorce in the Qur’an”, xxix (1939), 55-62; “Surat al-Hasr: a Study of its Composition”, JRAS, 1937, 233-44; “The Development of Muhammad’s teaching and Prophetic Consciousness”, SOSB Cairo, June 1935, 1-9; “The Beginnings of Muhammad’s Religious Activity, Transactions of the Glasgow University Oriental Society, vii (1934-5), 16-24; “The Sacrifice of Ishmael, TGUOS, x, 29-31; “The Style of the Qur’an”, TGUOS, xi (1942-4), 9-15; “Muhammad’s Knowledge of the Old Testament”, Studia Semitica at Orientalia, ii, Glasgow, 1945, 1-20.   Qur’an
Rudi Paret Der Koran: Kommentar und Konkordanz (1971). Memahami makna asli yang dipahami oleh Muhammad dan para sahabat, dan tidak mengandalkan penafsiran generasi belakangan. Qur’an
Stefan WiId Stefan Wild adalah seorang professor emeritus untuk kajian filologi bahasa-bahasa Semit dan kajian Islam di Universitas Bonn. Selain ahli dalam bidang kajian al-Qur’an dan sastra klasik dan modern Arab, ia juga ahli dalam bidang leksikografi bahasa Arab klasik. Beberapa karyanya adalah sebagai editor Self-Referentiality in the Qurʾan (2006) dan co-editor untuk Die Welt des Islams: International Journal for the Study of Modern Islam (Leiden). Qur’an
Tor Andrae Muhammed The Man and His Faith (1936).  Ia  mengatakan bahwa perkembangan Islam menegaskan sebuah fakta bahwa kepribadian Muhammad sebagai seorang nabi menjadi sumber orisinal bagi terciptanya sebuah agama baru. Menurut Andrae, Islam adalah sebuah energi spiritual, sebuah benih yang hidup, yang kemudian berkembang sesuai dengan kehidupannya sendiri dan menarik kehidupan spiritual lain ke dalam dirinya. Bahkan setelah periode perkembangan selama 13 abad, menurutnya, kita masih melihat ketaatan Islam yang asli, sebuah keunikan yang diambil dari pengalaman spiritual pendirinya terhadap Tuhan. Islam
Toshihiko Izutsu Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal, 1966) Qur’an
William Muir Dalam pengantar bukunya The Life of Mahomet, ia  menyodotkan beberapa criteria tentang otentisitas hadis. William Muir juga menulis utuh sebuah karya tentang al-Qur’an The Coran, Its Composition and Teaching; and its Testimony it bears to the Holy Scriptures (London, 1878). Qur’an & Hadis
William St. Clair Tisdall William St. Clair Tisdall (1859-1928) yang bertugas sebagai sekretaris Missionary Society dari Church of England di Isfahan, Iran, menyebutkan pengaruh luar lebih banyak lagi yang menjadi sumber bagi al-Qur’an. Oleh karena itu, menurut Tisdall, bukan saja ajaran Judaisme yang memberi pengaruh terhadap al-Qur’an,  tetapi dalam The Sources of the Qur’an (1905) Tisdall menyebut pengaruh agama-agama lain termasuk dari kebiasaan bangsa Arab pra-Islam, cerita-cerita dari sekte-sekte heretik Kristen, serta sumber-sumber Zoroaster dan tradisi agama Hanif yang berkembang di Arabia pada masa awal Islam. Qur’an

UQ 2012 FU/PA/1 Pertemuan Kedua

04/09/2012

Kita akan membahas seputar konsep wahyu dan al-Qur’an. Tugas individu yang saya berikan kepada setiap mahasiswa adalah memahami definisi konsep wahyu dan al-Qur’an.

Apa definisi wahyu? dan apa definisi al-Qur’an?
Apa manfaat memahami konsep wahyu dalam kajian studi agama-agama?

Kedua pertanyaan tersebut akan didiskusikan dalam pertemuan kedua Selasa, tanggal 11-09-2012. Setiap mahasiswa diharapkan aktif berpartisipasi aktif dengan memaparkan hasil catatan pembacaan yang ditugaskan, serta aktif mengikuti diskusi yang dilakukan.

Berikut adalah list topik-topik yang akan dibahas dalam tiap-tiap tatap muka di dalam kelas:
01. Wahyu
02. Al-Qur’an
03. Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an
04. Ulum al-Qur’an dan Perkembangannya
05. Ilmu Asbab Nuzul
06. Ilmu Munasabat
07. Ilmu Makki dan Madani
08. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih
09. I’jaz al-Qur’an
10. Tafsir dan Ta’wil
11. Penyimpangan dalam Tafsir

Kajian Barat terhadap al-Qur’an dan Hadis

04/09/2012

Selamat datang di blog MENGAJAR,
Semester ini,salah satu  mata kuliah yang saya asuh di FU-TH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah Kajian Barat terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mata kuliah ini lebih khusus dari sekedar kajian tentang Orientalisme secara umum, karena kita tidak akan memperbincangkan pemikiran, metode/pendekatan. motif, ataupun sikap kita sebagai muslim terhadap bidang kajian Islam secara umum yang dibahas oleh tokoh-tokoh Barat yang non-Muslim, tetapi kita lebih berfokus pada kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis yang menjadi pusat kajian jurusan Tafsir dan Hadis.

Memang al-Qur’an dan Hadis telah dikaji banyak sarjana, baik Orientalis atau sarjana Muslim sendiri, yang menjadikan keduanya sebagai sumber untuk menggali aspek-aspek pemikiran Islam lainnya seperti teologi, hukum, sastra, dan lain sebagainya. mengingat luasnya cakupan bidang kajian yang termasuk studi Islam secara umum tadi, maka kajian ini hanya akan dibatasi pada gagasan intelektual kalangan orientalis dalam mengkaji al-Qur’an dan Hadis sebagai sebuah disiplin akademik, yang lebih tepatnya disebut sebagai Qur’anic Studies dan Hadis Studies. Jikapun masih ada ketertarikan untuk membahas aspek lain di luar dua bidang kajian, yang sebenarnya masih saling terkait tersebut, maka mahasiswa masih bisa melakukan kajian baik yang menyangkut bidang kajian studi Islam secara umum ataupun konsep-konsep orientalisme secara lebih umum lagi, yang tidak saja menyangkut bidang kajian Islamologi.

Untuk itu, pembagian pembahasannya dapat dibedakan menjadi tiga kategori:
1. Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an/tafsir (Qur’anis Studies),
2. Kajian Orientalis terhadap Hadis (Hadis studies)
3. Kajian Orientalis tentang Orientalisme secara umum, atau aspek-aspek kajian Islam di luar Tafsir Hadis, serta kritik-kritik Sarjana Muslim terhadap Orientalisme.

Untuk itu, sebagai panduan di tahun kedua saya mengasuh mata kuliah ini, beberapa tokoh orientalis memang sudah dikaji oleh para mahasiswa tahun lalu, seperti dapat dilihat dalam bagian PENDAHULUAN buku saya yang dapat anda akses di link berikut:

https://anwarsy.files.wordpress.com/2012/01/kajian-orientalis-thd-al-quran-hadis.pdf

Untuk daftar nama tokoh orientalis yang bisa dibahas akan disertakan dalam posting blog ini berikutnya.

TUGAS
1. Mahasiswa diharuskan mengambil salah satu kajian dari tokoh-tokoh tersebut, atau tokoh lain menurut pilihannya sendiri.
2. Aspek-aspek pembahasan yang wajib untuk dimuat dalam makalah adalah tentang (1) pemikiran tokoh tersebut, (2) metode/pendekatan yang dilakukan, (3) motivasi yang melatarbelakangi, (4) Sikap kita terhadap gagasan tersebut.
3. Tugas dilakukan mandiri atau berkelompok (maksimal 2 orang untuk kelompok).
4. Tugas dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari FLOOR.
5. Setelah presentasi, tugas direvisi sesuai saran/tanggapan dalam diskusi.
6. Nilai didasarkan pada kehadiran (10%) aktivitas dalam floor diskusi (20%), presentasi makalah (30%), dan makalah akhir hasil revisi (40%).
7. Setiap ketidakhadiran akan mendapatkan pengurangan nilai 5 poin dari maksimal 100 poin kehadiran.
8. Berikut jadwal perkuliahan sementara:

Selasa, 04-09-2012 Dosen: Kontrak Kuliah
Selasa, 11-09-2012 Dosen: Pengantar Perkuliahan

Selasa, 18-09-2012 Kelas A: Ahmad Fauzan & Fiqri A (A.J. Arberry), Ahmad Baiquni (R. Bell), Kelas B: Menyusul

Selasa, 25-09-2012

nilai mpth 2011-2012

26/06/2012

MAKALAH PENELITIAN dan form angket

21/06/2012

Dear Mahasiswa,

Terima kasih saya ucapkan bagi mahasiswa yang telah menyerahkan tugas UAS tepat waktu. Bagi mereka yang meminta koreksi berkas diharapkan untuk bersabar menunggu, karena prioritas pekan ini adalah memeriksa dan memberi nilai anda. Melalui email anda semua, juga telah saya kirimkam form evaluasi dosen, kiranya anda bersedia mengisi form tersebut, dapat mengembalikannya secepatnya.

MAS

Tugas UAS Ayoo kirim segera, jangan tunggu tanggal 19…

09/06/2012

Dear Mahasiswa,

Bagi mahasiswa yang sudah selesai melakukan penelitian, sudah bisa menyerahkan MAKALAH yang menjadi LAPORAN HASIL PENELITIAN MINI yang dilakukan sesuai dengan judul yang sudah diajukan sebelumnya. So, bagi mereka yang sudah selesai, tidak perlu menunggu TENGGAT WAKTU TERAKHIR, yaitu tanggal 19 Juni 2012.

Semakin cepat menyerahkan tugas, semakin baik, karena sepekan setelah waktu formal UAS, nilai anda sudah harus diterbitkan via ais.

Mohon diperhatikan!!!!!!!!!!!!!!

Salam

MAS

Belum Menyerahkan UTS

15/05/2012

Ini daftar mahasiswa yang belum serahkan tugas UTS berupa proposal penelitian mini.

Muhammad Muslih

Ahmad Junaedi

Muhammad Syaman

Dimas Yedia Satria Adiguna

Misbak (diminta revisi)

Ali Hamzah Al-Husaini, 20-05 “Jual Beli Ilegal dalam Perspektif Tafsir dan Hadis”

Izzul Muttaqin

Agung Syafiullah

Roro Estri Melati

Ahmad Jaenuddin

Harri Lukman

Untuk mahasiswa semester 8 ke atas yang mengulang mata kuliah MPTH diharapkan menyerahkan tugas-tugasnya sekaligus, sehingga bisa secepatnya diterbitkan nilainya.

Harap diperhatikan!!!!

Salam

MAS

Pengumpulan Tugas UTS

09/05/2012

Tugas UTS MPTH dilakukan dengan menyerahkan proposal penelitian. Bagi mahasiswa yang telah menyerahkannya tepat waktu saya ucapkan terima kasih atas kerja keras anda, tugas anda selanjutnya adalah melakukan penelitian dan menyiapkan makalah hasil penelitiannya sebaik-baiknya, dengan bentuk seperti diberikan dalam contoh.

Bagi mereka yang belum menyerahkan diharapkan untuk segera menyerahkan tugas UTS, karena semakin lama anda menunda menyerahkannya kepada saya, maka semakin sedikit waktu yang anda miliki untuk pelaksanaan penelitiannya.

Harap dicatat!!!

Salam,

MAS

Daftar Judul Penelitian MPTH 2012

05/05/2012

Alhamdulillah, sudah ada beberapa proposal/disain penelitian mini yang masuk untuk tugas UTS MPTH 2011-2012. Ketentuannya dapat dilihat dalam posting tulisan saya sebelum ini, atau juga dengan mengakses halaman berikut: https://anwarsy.wordpress.com/contoh-proposaldisain-penelitian-2012/ Dalam list di bawah ini saya cantumkan tanggal penyerahan, nama-nama mahasiswa, dan judul penelitian yang diajukannya. Bila memungkinkan, maka anda semua dapat mengakses teksnya sebagai contoh agar memiliki pedoman yang dapat menjadi bandingan, selain dari proposal saya sendiri yang saya cantumkan dalam katagori tulisan tugas UTS di blog ini.

04-23 — Azizatul Iffah “Reinterpretasi Ayat Mawaris dalam al-Qur’an Perspektif Jender”

05-02 — Makhmudah “Tinjauan al-Qur’an dan Kedokteran tentang Bayi Tabung”

05-06 —Nur Laila Syahidah “Studi Komparatif antara Metodologi Pemahaman Hadis Ibn Hajar al-Asqallani dengan Ulama Modern”

05-07 — Aan Nurjannah “Penafsiran QS an-Nisa 4:101 tentang Kebolehan Mengqashar Shalat Menurut Ibnu Katsir”

05-07 — Mahfudoh “Jihad dalam Pandangan Abu Bakar Baasyir”

05-07 — Mia Fitriatunnisa “Pemahaman dan Praktek Masyarakat terhadap Hadis-Hadis Imsakiyah (Studi Kasus Anggota Majlis Ta’lim di Kecamatan Gunung Putri Bogor”

05-07 — Susi Ernawati “Studi Kritik atas Hadis-hadis Tawassul dan Tabarruk dalam kitab Sahih Ibnu Hibban”

05-07 — Taufik Akbar “Praktek Poligami dalam Tinjauan Hadits”

05-08 — Naelatus Sa’adah “Tanaqud dalam al-Qur’an (Kajian atas Ayat-ayat yang diangga Kontroversial oleh Kalangan Orientalis”

05-08 — Ai Eli Latifah, ““Konsep Cinta dalam al-Qur’an: Kajian atas Makna Kata al-Hubb dalam Tafsir al-Azhar Karya HAMKA”

05-08 — Ahmad Heri, “Fitnah Wanita dalam Hadis (Kajian Kritik Sanad dan Matan Hadis)”

05-08 — Salina “Tafsir Tematik Surat An-Nisa’ tentang Hak dan Kewajiban Kaum Perempuan”

05-08 — Nasroh “KAJIAN KRITIK HADIS-HADIS TENTANG JUAL BELI”

05-08 —Agus Maulana Yusuf “Kajian Ma’ani Hadis-Hadis Tentang Terputusnya Salat Karena Melintasnya Anjing, Keledai dan Wanita”

05-08 — Nurhidayat Setiawan “Al-Qur’an dan Solusi Masalah Kejiwaan pada Diri Manusia”

05-08— Mahdi “Konsep al-Qur’an tentang Kebersihan dan Pelestarian Lingkungan Hidup”

05-08 — M. Zamzami “PERPECAHAN UMAT BERAGAMA DALAM AL-QURAN Kajian terhadap Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab

05-08 —Arrahmah “KAJIAN KRITIK HADIS TENTANG TAHLIL”

05-08 — M. Reza Fadil 

05-08 —Muhammadun KONSEP KEPRIBADIAN MUSLIM DALAM AL QUR”AN

05-08 — Zainal Mu’id “Pentingnya Hubungan Silaturrahmi Dengan Tetangga dalam Persepektif Hadis”

05-08 — Nurlaila “Penafsiran Larangan Berbuat Syirik dalam Q.S. Luqman ayat 13 Menurut M. Quraish Shihab”

05-08 — Ayu Siti Khaerunnisa “KB dalam Islam dan Perannya dalam Membangun Keluarga Sakinah”

05-08 — Lia Herliati “Kajian Kritik terhadap Hadis-Hadis Perawatan Jenazah”

05-08 — Ahmad Damanhury “Sains dalam pandangan al-Quran”

05-08— Mu’min maulana “Transfer Hadîts bil Lafdzi dan bil Ma’na (Studi Kasus Gharib al-Hadîts)”

05-08 —Ahmad Gunawan “Perbandingan Interpretasi Mu’tazilah dan Ahlussunah wal jama’ah terhadap Ayat-ayat Amsal (analisis tafsir al-kasyaf dan Ibnu Katsir pada Q.S. Al-Ahzab:72)”

05-08— Faridah “Pendekatan Jihad dalam al-Qur’an dan  Terorisme (Kajian Tafsir al-Azhar)

05-08 —Ma’mun “Konsep Masyarakat Ideal Perspektif al-Qur’an”

05-08 —Ummi Hannik “Hadis-hadis KKN: Studi Kasus atas Hadis tentang Larangan Menerima Hadiah bagi Pejabat  Pemerintah dalam Melaksanakan  Tugas-tugas Negara”

05-08 — Amirudin Natonis “Tafsir Tematik Hak-hak Asasi Manusia dalam al-Qur’an.

05-08 —Nidaul Husna “Konsep Kependidikan Ditinjau dari Al-Qur’an”

05-08 — Nurulwati “Studi Kritik Kualitas Sanad dan Matan Tentang Hadis-Hadis Ilmiah”

05-08 — M. Khaoirul Anam “Pembuktian Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Berbagai Aspek”

05-08 — Harisman, Hukum Berjabat Tangan dengan Lawan Jenis

05-09 — Fatkhul Mubin “Motivasi Kerja dalam al-Qur’an”

05-09 —Nurul Hasanah, “Studi Komprehensif atas Penafsiran Kalangan Mutakallimin tentang Perbuatan Manusia”

05-10 —Ari Nurhayati “MEMAHAMI NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19”

05-12 —Sahlan Sohri Badawi “Toleransi Beragama dalam al-Qur’an (Kajian atas Tafsir Surat al-Kafirun)

05-12 —Taufik Abdul Aziz “Konsep al-Qur’an tentang Jihad”

05-13 —Zulkifli Natonis “Persoalan tentang Hijab di dalam al-Qur’an”

Catatan:

bagi mahasiswa yang belum menyerahkan tugas UTS diharapkan untuk secepatnya menyerahkannya via email. Bagi yang diberikan peluang perbaikan diharapkan untuk secepatnya menyerahkan revisi proposal yang diajukan sesuai yang disarankan.

Terima kasih

Salam,

MAS

TUGAS-TUGAS MPTH 2012

24/04/2012

My Dear Students,

Waktu terus berjalan dan saatnya diskusi teoretis segera mencapai batas akhir. Anda diharapkan secepatnya mempersiapkan judul penelitian yang akan anda lakukan di sisa waktu yang tersedia. Tugas praktek pertama adalah MEMBUAT DISAIN/PROPOSAL PENELITIAN sebagai tugas pengganti Ujian Tengah Semester (UTS). Anda diharuskan menyetorkan sebuah disain peneilitian yang terdiri dari 1-3 halaman saja yang berisikan:

  1. Judul Penelitian
  2. Latar Belakang Permasalahan
  3. Research Question (atau perumusan masalah)
  4. Metodologi Penelitian,</strong> dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
  5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Sebagai gambaran, contoh tugas ini dapat anda lihat dalam link berikut:

https://anwarsy.wordpress.com/2010/04/10/285/

Tugas ini dapat anda kirimkan melalui email saya dengan alamat m.anwarsy@gmail.com atau ma_syarifuddin@yahoo.com selambat-lambatnya tanggal 8 Mei 2012. Demikian harap diperhatikan.
LEBIH CEPAT ANDA MENGAJUKAN DISAIN/PROPOSAL PENELITIAN INI, LEBIH BANYAK WAKTU YANG AKAN ANDA DAPATKAN UNTUK MELAKUKAN PRAKTEK PENELITIAN YANG MENJADI TUGAS UAS ANDA.

SELAMAT BEKERJA!!!

Kelengkapan Materi MPTH

13/03/2012

Dear Mahasiswa,
Bagi mereka yang membutuhkan materi kuliah MPTH dalam bentuk slide powerpoint maupun bentuk cetak pdf-nya dapat mengklik link dibawah ini:

untuk slide powerpoint: https://anwarsy.wordpress.com/?attachment_id=272

untuk slide PDF : https://anwarsy.files.wordpress.com/2010/03/mpth-slide.pdf
Semoga membantu!

MPTH 2012

06/03/2012

Dear Mahasiswa,
Selamat datang saya ucapkan untuk para mahasiswa yang mengambil mata kuliah METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR HADIS (MPTH) 2012, yang terdaftar di kelas FU-TH/VI-b/c. Di blog ini tersedia semua yang terkait dengan materi perkuliahan selama satu semester ke depan.

Berikut saya sajikan jadwal perkuliahan untuk semester ini:

HARI/TANGGAL MATERI PENYAJI
Selasa, 06-03-2012 Pengantar Perkuliahan: Apa itu Metodologi Penelitian Tafsir Hadis? Dosen
Selasa, 13-03-2012 Memahami Ruang Lingkup Kajian Tafsir (al-Qur’an, Ulum al-Qur’an, Tafsir, dan Metode Penafsiran.
Selasa, 20-03-2012 Memahami Ruang Lingkup Kajian Hadis dan Ulum al-Hadis.
Selasa, 27-03-2012 Urgensi Penelitian Tafsir Hadis melalui Pendekatan Interdisipliner. Dosen
Selasa, 03-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Filologis, Kajian Naskah, dan Kritik Sastra.
Selasa, 10-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Kritik Kontekstual (Sejarah, Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora).
Selasa, 17-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Pendekatan Hermeneutika.
Selasa, 24-04-2012 Penelitian Interdisipliner melalui Perspektif Kesetaraan Jender.
Selasa, 01-05-2012 UTS – Praktikum Penelitian: Menyusun disain penelitian. Kerja Mandiri
Selasa, 08-05-2012 UTS – Praktikum Penelitian: Menyusun disain penelitian. Kerja Mandiri
Selasa, 15-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 22-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 29-05-2012 Praktik Lapangan: Melakukan penelitian mini. Kerja Mandiri
Selasa, 05-06-2012 Review Perkuliahan Semua
Selasa, 16-06-2012 Pekan Tekun –
Selasa, 19-06-2012 UAS: Mengumpulkan tugas Praktik Lapangan

Jakarta, 06 Maret 2012
Dosen pengampu

Moh. Anwar Syarifuddin, MA.
NIP : 19720518 199803 1 003

Tugas Pertemuan Kedua UQ PA/I/A 11-09-2012

06/10/2010

Kita akan membahas seputar konsep wahyu dan al-Qur’an. Tugas individu yang saya berikan kepada setiap mahasiswa adalah memahami definisi konsep wahyu dan al-Qur’an.

Apa definisi wahyu? dan apa definisi al-Qur’an?
Apa manfaat memahami konsep wahyu dalam kajian studi agama-agama?

Kedua pertanyaan tersebut akan didiskusikan dalam pertemuan kedua Selasa, tanggal 11-09-2012. Setiap mahasiswa diharapkan aktif berpartisipasi aktif dengan memaparkan hasil catatan pembacaan yang ditugaskan, serta aktif mengikuti diskusi yang dilakukan.

Berikut adalah list topik-topik yang akan dibahas dalam tiap-tiap tatap muka di dalam kelas:
01. Wahyu
02. Al-Qur’an
03. Sejarah Pemeliharaan al-Qur’an
04. Ulum al-Qur’an dan Perkembangannya
05. Ilmu Asbab Nuzul
06. Ilmu Munasabat
07. Ilmu Makki dan Madani
08. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih
09. I’jaz al-Qur’an
10. Tafsir dan Ta’wil
11. Penyimpangan dalam Tafsir

UAS MPTH 2013, Kerjakan mulai sekarang!!!

26/04/2010

Ujuan Akhir Semester untuk mata kuliah MPTH dilakukan dengan menyerahkan sebuah tulisan/artikel/paper/makalah yang merupakan hasil dari penelitian mini yang dilakukan berdasarkan design yang diusulkan sebelumnya.

Panjang tulisan adalah 3.000 kata (atau jika tidak menggunakan komputer; misalnya, jika ada yang ingin menyerahkannya dalam format ketikan mesin ketik, maka 3000 kata itu setara dengan tulisan 15 halaman kwarto spasi ganda).

Waktu untuk melakukan penelitian ini dan penulisan hasilnya secara formal diberikan dalam 7 pekan, maksimum. Bagi mereka yang telah menyerahkan disain penelitian lebih awal, maka dapat memulai pelaksanaan penelitian ini juga lebih awal. bagi mereka yang sudah dapat menyelesaikan paper/makalah penelitian juga diharapkan secepatnya menyerahkan, tanpa harus menunggu batas waktu akhir penyerahan.

Tulisan diharapkan dapat diserahkan dalam bentuk softcopy dalam sebuah attachment melalui email ke alamat  m.anwarsy@gmail.com paling lambat sudah diterima tanggal 08 Januari 2014. Pengirim diharapkan menuliskan nama dan nimnya di sudut kiri atas tulisan. Agar memudahkan klaim, setiap pengirim juga diharapkan memberi konfirmasi melalui sms, baik secara kolektif atau individu; dan bila sudah diterima, maka saya akan mengirimkan konfirmasi balik, baik melalui sms ataupun balasan email. Konfirmasi balik dari saya ini diperlukan sebagai bukti kalau anda benar-benar telah mengirimkan tugas UAS sesuai dengan format yang dikehendaki. Jika di kemudian hari terdapat komplain, seperti kasus nilai yang tidak keluar, padahal anda merasa sudah menyerahkan tugas melalui email, maka anda bisa mengajukan konfirmasi balik tersebut sebagai alat bukti penguat untuk dasar pengeluaran nilai susulan.

Bagi mereka yang menuliskannya dalam format ketikan mesin ketik dapat diserahkan draft asli ketikannya, bukan fotokopi, tanpa dijilid, cukup diklip atau distreples saja. Tulisan diserahkan langsung ke tangan saya langsung.

SELAMAT BEKERJA!!!

UTS MPTH

26/04/2010

Ujian Tengah Semester (UTS) dilakukan dengan menyetorkan sebuah disain peneilitian (dengan contoh terlampir) dan terdiri dari 1-3 halaman saja yang berisikan:

1. Judul Penelitian
2. Latar Belakang Permasalahan
3. Research Question (atau perumusan masalah)
4. Metodologi Penelitian,
dengan menyebutkan (a) jenis penelitian dan (b) metode pembahasan. Jika memungkinkan (ada/direncanakan) disebutkan pula (c) pendekatan yang ingin dipakai, terutama untuk penelitian yang menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitiannya masih berada dalam disiplin TH, maka cukup disebutkan point (a) dan (b) saja.
5. Daftar Pustaka Sementara, yaitu sumber-sumber literatur yang akan dipakai untuk penelitian, baik berupa sumber primer, sekunder, maupun juga referensi lain seperti kamus, ensiklopedi, arsip, dan data-data lain yang relevan.

Sehubungan dengan pemberitahuan yang dilakukan sejak masa awal perkuliahan tentang kewajiban setiap mahasiswa untuk mempersiapkan judul penelitian, serta kesiapan melakukan sebuah penelitian mini berdasarkan disain tersebut, maka besar harapan tugas UTS ini bisa diserahkan tepat waktu.

SELAMAT BEKERJA!!!

Contoh Makalah Penelitian Mini

24/04/2010

Contoh Makalah Penelitian Mini

Salah satu output yang dihasilkan dari perkuliahan MPTH adalah kemampuan mahasiswa dalam menjalankan penelitian, baik dalam menyusun disain penelitiannya, maupun juga menghasilkan artikel/makalah/tulisan/paper berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di akhir masa perkuliahan.

Untuk itu, di sini saya berikan salah satu contoh artikel yang memuat hasil penelitian saya sendiri, berdasarkan disain penelitian yang sudah saya berikan contohnya dalam tugas UTS. Artikel saya diberikan tajuk yang sama “Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an”. Versi cetak tulisan ini dapat dilihat dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat vol.1, no.2 Desember 2004, halaman 1 – 18. Jurnal ini dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Bias Jender dalam Bahasa Arab

24/04/2010

Diskusi

Salah satu kritik utama kelompok feminisme terhadap keberadaan bias jender dalam konsep-konsep ajaran Islam adalah lantaran Islam menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa rujukan utama. Bahasa ini memiliki bias jender, sehingga tidak pula mengherankan bila kemudian hal tersebut menularkan bias jender serupa terhadap konsep-konsep yang dilahirkan, apalagi didukung dengan proses kelahirannya yang juga berasal dari kultur Arabia yang seperti juga bahasanya mengenal bias jender.

Di sini, jelas ada keterkaitan erat antara bahasa dan bidaya sebuah masyarakat. Persoalannya, ketika Islam dilahirkan dalam konteks budaya dan bahasa Arab yang bias jender, maka sejauh mana peran peneliti muslim masa kini dalam menjelaskan persoalan ini agar didapatkan penjelasan dan penalaran serta kritik yang seimbang, terutama dalam melakukan penafsiran ulang atau sebut saja reinterpretasi terhadap konsep-konsep yang bias dalam pandangan kesetaraan jender, terlepas dari kuatnya kesan apologi dalam masalah ini.

Sebagai bahan bacaan tambahan, anda bisa membaca makalah saya yang berjudul “Bias Jender dalam bahasa Arab“. Di situ, tertuang beberapa persoalan yang memicu timbulnya kesan ketimpangan jender, baik dalam struktur bahasa Arab yang menjadi bahasa al-Qur’an, maupun juga beberapa konsep yang dilahirkannya.

Perspektif Kesetaraan Jender

24/04/2010

Pendekatan baru yang kini tengah digandrungi sebagai sebuah model penelitian dalam banyak aspek kajian, dan lebih khusus kajian keislaman dewasa ini terutama menyangkut masalah perempuan, adalah pendekatan kesetaraan gender. Sebelum memasuki diskusi lebih mendalam tentang persoalan ini, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dulu apa yang disebut dengan jender atau gender dalam bahasa Inggrisnya, sehingga ketika isu ini diintegrasikan ke dalam persoalan kesetaraan jender antara kaum laki-laki dan perempuan, maka pembahasan kemudian lebih banyak menyoroti persoalan feminism.

Kata jender atau gender didefinisikan sebagai semua hal baik yang dikonstrusksi secara sosial maupun kultural, yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu kelas ke kelas lainnya. Gender adalah pembedaan peran, status, pembagian kerja, yang dibuat oleh sebuah masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Hal ini menjadi bentukan manusia yang tidak baku, karena bisa berubah. Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Perbedaan gender ini tidak menjadi masalah krusial ketika tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities), akan tetapi pada kenyataannya perbedaan jender justru melahirkan struktur ketidakadilan, dalam berbagai bentuk: marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, beban kerja, yang secara ontologis merupakan modus utama kekerasan terhadap perempuan. Pada kondisi inilahm kekuasaan laki-laki mendominasi perempuan, bukan saja melangengkan budaya kekerasan, tetapi juga melahirkan rasionalitas sistem patriarki. Ideologi patriarki adalah ideologi kelaki-lakian, di mana laki-laki dianggap memiliki kekuasaan superior dan priviledge ekonomi. Patriarki dianggap sebagai masalah yang mendahului segala bentuk penindasan. Hal inilah yang menjadi agenda kaum feminis ke depan, ketika pusat persoalan adalah tentang tuntutan kesetaraan, keadilan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dari sinilah persoalan mengenai jender seolah tidak bisa dilepaskan dengan masalah feminisme.

Apa itu feminisme? Dalam hal ini, ada 3 definisi yang memberi makna istilah ini:
(1) Feminisme adalah teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, sehingga Juliet Mitchell dan Ann Oakley dalam What is Feminism? (1986) mengatakan seorang daat dikategorikan sebagai feminis jika ia mempertanyakan hubungan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan, sekaligus secara sadar menyatakan dirinya sebagai seorang feminis.
(2) seorang dapat dikatakan feminis sepanjang pemikiran dan tindakannya dapat dimasukkan ke dalam aliran-aliran feminisme yang dikenal sekarang ini, seperti feminisme liberal, marxis, sosialis, dan radikal.
(3) Feminisme adalah sebuah gerakan yang didasarkan pada adanya kesadaran tentang penindasan perempuan yang kemudian ditindaklanjuti dengan aksi untuk mengatas penindasan tersebut. Di sini kesadaran dan aksi menjadi inti komponen yang harus ada kedua-duanya agar dikatakan sebagai feminis.

Kesimpulan yang bisa diambil dari 3 definisi di atas, feminisme tidak mendasarkan pada sebuah grand theory yang tunggal, tetapi lebih pada realitas kultural dan kenyataan sejarah yang konkrit, dan tingkatan-tingkatan kesadaran, persepsi, dan tindakan. Untuk itulah maka gerakan feminisme kerap diasosiasikan sebagai gerakan pembebasan, di mana kemudian ketika terjadi penyandaran argumentasi yang mengatasnamakan agama, atau opengambilan sumber-sumber ajaran yang berasal dari kitab suci, maka terjadilah apa yang disebut sebagai teologi feminisme, yang kemudian dikenal pula sebagai bagian dari teologi pembebasan.

Teologi Feminisme berasal dari teologi pembebasan (liberation theologi) yang dikembangkan oleh James Cone pada akhir tahun 1960-an, di mana perempuan dianggap sebagai kelas tertindas. Namun, tidak seperti paradigma marxisme murni, faham teologi feminis tetap menyertakan agama. Hanya saja, bukan agama yang melegitimasi penguasa, tetapi agama sebagai alat untuk membebaskan golongan yang tertindas, yaitu perempuan. Hal yang ingin dicapai dalam teologi feminisme adalah tercapainya perubahan struktur agar keadilan jender dan keadilan sosial dapat tercipta. Teologi feminisme berkembang dalam agama-agama semitik: Yahudi, kristen, Islam, di mana agama sering ditafsirkan dengan memakai ideologi patriarki yang menyudutkan wanita. Para teolog feminis dalam Islam adalah mereka yang mencari konteks dan latar belakang ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkenaan dengan perempuan. Seperti dikatakan Rif’at Hassan, seorang Feminis Pakistan, bahwa cara pandang dan sikap negatif terhadap perempuan yang banyak terjadi pada masyarakat muslim berakar pada teologi. Oleh karena itu, jika dasar-dasar teologi yang cenderung membenci perempuan (misoginis) dan androsentris tidak dibongkar dan dihancurkan, maka diskriminasi terhadap perempuan dalam Islam akan terus berlangsung.

Pengkajian terhadap agama yang mengetengahkan perspektif kesetaraan jender seringkali diidentikkan dengan pembahasan yang berpusat pada persoalan seputar perempuan. Persoalan ini selalu menjadi pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para feminis dan para pemerhati perempuan. Ini dikuatkan dengan kemunculan gerakan-gerakan feminisme (Liberal, Marxis, Sosialis, Radikal), yang kesemuanya bermaksud memperjuangkan kebebasan perempuan dari dominasi laki-laki, atau juga membebaskan teks dari dominasi penafsiran yang bias laki-laki dengan mengeliminasi aspek-aspek penafsiran yang bernada misoginis, membenci perempuan.

Latar belakang yang mendasari kemunculan gerakan kesetaraan gender ini dalam sisi pembaharuan pemikiran Islam adalah sebuah upaya untuk mengembangkan apa yang disebut oleh orang barat sebagai “teologi feminis” yang dalam konteks Islam yang memiliki tujuan untuk membebaskan kaum perempuan dan kaum muslimin pada umumnya dari struktur-struktur dan perundang-undangan yang tidak adil dan tidak memungkinkan terjadinya hubungan yang hidup antara laki-laki dan perempuan. Rifat menilai bahwa ada ketidaksesuaian yang mencolok antara cita-cita Islam dan praktek umatnya sejauh menyangkut perempuan. Dalam hal ini, beberapa kesalahan mendasar ditemukan dalam pandangan normatif Islam yang berakar pada penafsiran terhadap al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam beragam konteks, kesetaraan kedudukan semua manusia baik laki-laki maupun perempuan di hadapan Allah dipertentangkan dengan bias penafsiran yang menganggap kelebihan status laki-laki sebagai qawwamun (yang umunya diterjemahkan sebagai “penguasa” atau “pengatur”) perempuan, laki-laki memperoleh bagian waris dua kali lebih besar dibandingkan dengan bagian kaum perempuan, kesaksian laki-laki yang sama dengan kesaksian dua orang perempuan, maupun argumen-argumen yang berakar dari hadis ketidaksempurnaan perempuan daam salat, atau menyangkut kecerdasan akalnya sebagai konsekuensi dari kesaksiannya yang dihitung hanya setengah dar kesaksian laki-laki. Kesemua doktrin teologis tersebut di atas memerlukan telaah lebih dalam, mengingat pemahaman tersebut masih mengindikasikan bias gender, padahal dalam sudut pandangan Islam normatif laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, kendati ada perbedaan status biologis dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Penafsiran yang dianggap bias gender, dan bercorak misoginis, sehingga menempatkan status laki-laki dalam derajat yang lebih superior dibandingkan dengan perempuan juga dijumpai dalam tradisi agama-agama lain. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, akar pandangan yang bias gender didapati dalam 3 asumsi teologis: (1) Ciptaan Tuhan yang utama adalah laki-laki, dan bukan perempuan karena perempuan diyakini diciptakan dari tulang rusuk Adam. Konsekuensinya, secara intologis kedudukan perempuan bersifat derivatif dan sekunder; (2) Perempuan, dalam hal ini Hawa, menjadi penyebab kejatuhan manusia dari surga. Konsekuensinya, semua anak perempuan Hawa dipandang dengan rasa benci, curiga, dan jijik; (3) Perempuan tidak saja diciptakan dari laki-laki, tetapi juga untuk laki-laki. Konsekuensinya, keberadaan perempuan hanya bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar. Ketiga asumsi teologis yang memandang rendah kaum perempuan ini, sedikit banyak masih tergambar dalam pandangan masyarakat Arab yang melatarbelakangi setting historis dan sosiologis turunnya al-Qur’an.

Dalam hal ini, tidak pula dipungkiri bahwa Islam telah berupaya untuk sedikit demi sedikit mengangkat derajat kaum perempuan dari pandangan sosialdan teologis yang ada sebelumnya. Akan tetapi, struktur sosial yang patriarkhis dan dominasi peran laki-laki dalam kultur peradaban dan perkembangan pemikiran Islam masa klasik dan periode salanjutnya menjadikan cara berfikir yang bias gender masih saja berlangsung, atau setidaknya terekam dalam praktek-praktek penafsiran al-Qur’an, yang umumnya juga dilakukan oleh ulama lak-laki. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam banyak kasus, penafsiran yang tidak didasarkan pada asas kesetaraan gender ini masih terus berlangsung sampai pada saat tafsir-tafsir tersebut digagas pada periode perkembangan pemikiran Islam abad pertengahan sampai abad awal abad ke-20. Istilah feminisme Islam sendiri baru digagas sekitar tahun 1990-an, sebagai sebuah gerakan dalam mengimbangi perkembangan gerakan Islamism. Akar gerakan kesetaraan gender sendiri sudah ada sejak seabad yang lalu, sebagaimana diadvokasi oleh Qasim Amin dari Mesir dan Mumtaz Ali dari India. Beberapa tokoh ternama lainnya yang berkecimpung dalam gerakan feminisme Islam adalah Leila Ahmad, professor kajian wanita asal Mesir; Fatima Mernissi, seorang penulis asal Maroko; Amina Wadud, dan tokoh-tokoh lainnya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa perspektif kesetaraan gender dalam penelitian kajian al-Qur’an maupun hadis ditujukan untuk menganilisis ulang teks-teks yang beredaksi misoginis, dalam sebuah upaya kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang tidak saja mempertimbangkan konteks sosio-historis dalam memahaminya, tetapi juga dengan menarik signifikansinya bagi konteks sosiologis yang terjadi pada masa kini, sehingga tetap didapatkan makna pesan-pesan al-Qur’an yang teguh berpegang pada dimensi keadilan dan kesetaraan derajat antara sesama manusia.

Pendekatan Filsafat Hermeneutika

18/04/2010

Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau bentuk nomina hermeneia yang berarti penafsiran. Dua kata ini dalam beragam bentuknya muncul beberapa kali dalam teks klasik seperti Organon dan Peri Hermenias karya filsuf besar Yunani Aristoteles. Dalam bentuk kata benda, kata hermeneia juga muncul dalam karya filsuf Yunani yang lain seperti Plato, Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan Longinus. Dengan menelusuri asal katanya, hermeneutika mengarah pada arti “membuat menjadi mengerti”, khususnya ketika proses ini mengikutsertakan bahasa, di mana bahasa merupakan satu-satunya medium dalam proses memahami. Proses ini dikaitkan dengan peran Hermes dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pembawa pesan, sekaligus penafsir bagi pesan-pesan para dewa. Ini sejalan dengan makna kata kerja hermeneuein yang meliputi 3 aktivitas: (1) mengekpresikan secara lantang dengan kata-kata, atau sebut saja “mengatakan”, (2) menerangkan, seperti dalam menerangkan situasi, dan (3) menerjemahkan, seperti dalam menerjemahkan pesan ke dalam bahasa asing. Ketiga aktivitas tersebut tercakup dalam makna kata “menafsirkan”. Oleh karena itu, sudah semestinya bila hermeneutika memiliki kaitan yang erat dengan upaya penafsiran, yang dalam hal ini akan diuraikan sebagai salah satu pendekatan dalam bidang kajian Tafsir Hadis.

Dalam sejarah perkembangannya, pemakaian yang paling umum dari istilah hermeneutika merujuk pada sebuah proses penafsiran kitab suci. Ini juga berlaku bagi apa yang disebut sebagai philosophical hermeneutics, yang secara khusus bisa disebut sebagai perkembangan dari penafsiran kitab suci yang menyajikan dukungan teoretis bagi beragam proyek interpretasi. Akan tetapi, perkembangan seputar terbentuknya disiplin ini dalam kancah pemikiran Barat modern nampaknya berlangsung dalam sebuah proses yang belum akan mencapai titik akhir, mengingat setiap tokoh yang mengusung definisi istilah ini selalu saja menampilkan aspek dan penekanan khusus yang berbeda dengan para pendahulunya. Oleh karena itu, setelah menjalani proses perkembangan historis yang cukup mengundang perdebatan, penentuan makna dan definisi yang tepat untuk istilah hermeneutika tidak bisa ditetapkan sesederhana dengan mengambil salah satu konsep dan membuang yang lain. Uraian yang akan diberikan di bawah ini merupakan sebuah ulasan pengantar agar kita bisa menempatkan pemakaian istilah yang menjadi pendekatan akademis ini dengan tepat dan tidak tumpang tindih, yaitu melalui penelusuran terhadap perkembangannya baik dalam masa klasik, maupun pembentukan teori-teori yang terjadi dalam perkembangan pemikiran Barat modern pasca era pencerahan. Tujuan yang diharapkan dari uraian yang bersifat pengantar ini adalah guna memberikan panduan bagi penelaahan dan pemahaman lebih lanjut yang lebih komprehensif, bila kemudian pendekatan yang lebih bernilai filosofis ini dapat diterapkan bagi pengembangan minat penelitian dalam kajian tafsir hadis dan studi Islam pada umumnya.

Pertanyaan tentang apa itu hermeneutika agaknya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dijawab, tetapi terlalu rumit untuk dijelaskan secara sederhana. Meskipun demikian, sebuah asumsi populer mungkin ada baiknya untuk diungkapkan terlebih dahulu, sebelum memasuki pembahasan tentang tahap-tahap perkembangan dan pembentukan hermeneutika sebagai disiplin akademik. Makna paling umum dari hermeneutika dalam dunia Barat dapat dirujuk sebagai ilmu umum mengenai penafsiran teks. Meskipun secara teknis akademis disiplin hermeneutika baru tercipta pada abad ke-17, tetapi apa yang menjadi inti kajian di dalamnya merujuk pada masa perkembangan yang sudah cukup lama dalam tradisi penafsiran perjanjian lama, atau bahkan dalam tradisi yang bersumber dari para pakar retorika Yunani kuno yang mengkaji aspek literatur yang memajukan Alexandria.
Beberapa hal yang bisa dicermati dalam perkembangan metode penafsiran teks yang menunjukkan kenyataan akan kesadaran hermeneutis dalam tradisi kristen abad pertengahan, misalnya, kita akan mendapati sebuah panduan penafsiran yang mengakar kepada 4 tingkatan yang menekankan perbedaan antara huruf dengan semangat teksnya: makna literal (sensus historicus) kitab suci memberi pengertian tentang apa yang diungkapkan dan disebutkan oleh teks secara langsung; makna allegorikal (sensus allegoricus) memberikan penjelasan dalam teks terkait dengan isi doktrin dan dogma agama, sehingga setiap elemen kalimat memiliki makna simbolik; makna tropologis yang memberikan aplikasi moral teks terhadap pembaca dan pendengar individual; dan makna anagogikal menggambarkan secara tidak langsung kandungan rahasia yang dimiliki teks mengenai pengetahuan metafisk dan eskatalogis yang disebut dengan istilah gnosis. Tradisi penafsiran semacam ini, termasuk juga kemiripan tradisi yang sama dalam penafsiran rabbinik Yahudi, merupakan sumber yang membentuk dan turut menentukan aspek-aspek kajian dalam membentuk aliran-aliran yang muncul dalam perkembangan pembentukan disiplin hermeneutika modern.

Tahap-tahap perkembangan dalam pembentukan hermeneutika dalam iklim akademik Barat pasca era pencerahan dapat dilihat dalam analisis Richard E. Palmer dalam bukunya Hermeneutics, Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Ia menjeaskan bahwa tahapan historis perkembangan definisi hermeneutika merujuk pada enam makna, yang masing-masing menampilkan aliran pemikiran dengan tokoh dan pendekaan yang berbeda-beda sebagaimana tercermin di dalam judul karyanya. Dalam kronologi yang berurutan, menurut Palmer, enam macam definisi itu adalah: (1) hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, (2) metodologi filologi secara umum, (3) ilmu tentang semua pemahaman lingusitik, (4) landasan metodologis bagi Geisteswissenschaften, (5) fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, (6) sistem penafsiran, baik yang bersifat rekolektif maupun ikonoklastik, yang dipakai manusia dalam memahami makna dibalik mitos dan simbol-simbols. Menurut Palmer, masing-masing definisi itu lebih dari sekedar perkembangan historis, karena masing-masing menunjuk sebuah “momentum” dan pendekatan penting terhadap problematika penafsiran. Secara sederhana, ke-enam makna tersebut dapat disebut biblikal, filologis, saintifik, geisteswissenschaftliche, eksistensial, dan penekanan kultural.

Hermeneutika sebagai penafsiran biblikal merupakan pemahaman yang tertua dan mungkin masih dikenal secara luas. Dalam masa yang paling awal, makna ini dipakai oleh J.C. Dannhauer untuk membedakan penafsiran (exegesis) dengan aturan, metode, dan teori yang mengaturnya (hermeneutics). Pemakaian makna tersebut masih menjadi pijakan bagi definisi hermeneutika baik dalam teologi, maupun literatur non-biblikal ketika pengertiannya diperluas pada masa belakangan. Meskipun begitu, sementara istilah “hermeneutika” sendiri lahir pada abad ke-17, operasi penafsiran tekstual dan teori-teori penafsiran dalam bidang agama, hukum, dan sastra sudah ada sejak masa klasik. Oleh sebab itu, ketika kata itu diterima sebagai nama istilah untuk teori penafsiran, bidang kajian yang dicakupnya secara retroaktif meluas dalam bidang penafsiran biblikal merujuk kepada masa perjanjian lama, ketika pada masa itu juga dikenal aturan-aturan guna dapat menafsirkan kitab Taurat secara tepat.
Dua hal yang patut dicatat dalam mencermati perkembangan hermeneutika yang diartikan sebagai teori penafsiran biblikal: pertama, karakter hermeneutika sebagaimana diindikasikan dalam contoh-contoh teori penafsiran kitab suci; yang dalam hal ini dapat disebutkan bahwa hermeneutika menyajikan “sistem” interpretasi yang dengan itu suatu ayat dalam kitab suci dapat ditafsirkan. Melalui sistem tersebut, seorang mufassir dapat menemukan makna yang tersembunyi dari sebuah teks. Hal tersebut didasari pada pertimbangan, bukan saja lantaran sebuah teks tidak bisa ditafsirkan dengan sendirinya, tetapi setelah masa pencerahan teks-teks kitab suci merupakan wahana yang memiliki banyak kebenaran moral, yang akan bisa ditemukan di dalamnya jika prinsip-prinsip penafsiran dibentuk untuk menemukannya.
Kedua, dengan memahami hermeneutika sebagai teori penafsiran biblikal, maka akan didapatkan kejelasan tentang ruang lingkup hermeneutika, yang tidak saja mencakup teori-teori eksplisit tentang aturan-aturan dalam menafsirkan, tetapi juga teori-teori yang didapatkan secara tidak langsung dalam praktek penafsiran yang dilakukan. Jika Gerhard Ebeling, misalnya mengkaji “Hermeneutika Martin Luther”, maka ia tidak saja memusatkan kajiannya pada pernyataan-pernyataan Luther tentang teori penafsiran biblikal, tetapi juga terhadap praktek penafsiran yang dilakukannya seperti yang didapatkan dengan menganalisis khutbah-khutbah yang diberikan dan tulisan-tulisannya yang lain. Dari sini, lingkup kajian hermeneutika menjadi lebih luas —sebagai sebuah sistem penafsiran baik yang eksplisit maupun implisit— yang tidak saja diterapkan bagi teks kitab suci, tetapi juga terhadap literatur di luar kategori kitab suci itu sendiri.

Sebuah konsekuensi dari perluasan ruang lingkup Hermeneutika yang meliputi teks-teks non-biblikal, dimulailah kecenderungan untuk memperlakukan kitab suci sama dengan perlakuan terhadap buku-buku sekuler lainnya. Dalam sebuah panduan hermeneutika yang ditulis 1761, Ernesti menyatakan bahwa makna verbal kitab suci harus ditetapkan secara sama seperti yang dilakukan terhadap buku-buku lain. Hal senada diungkap oleh Spinoza, bahwa norma penafsiran biblikal hanya bisa menjadi penerang untuk akal yang sama. Dengan mencermati perkembangan semacam ini metode penafsiran biblikal menjadi sama saja dengan filologi klasik yang menjadi dasar teori penafsiran sekuler, sebuah bangunan yang menjadi landasan bagi definisi modern kedua bagi hermeneutika sebagai metode filologi.

Fase selanjutnya dalam sejarah perkembangan hermeneutika adalah mengkonsepsi hermeneutika sebagai “seni” atau “ilmu” memahami, sebagaimana dilontarkan oleh F. Schleiermacher. Patut dicatat di sini bahwa hermeneutika mengimplikasikan sebuah kritik radikal terhadap landasan utama filologi, yang mengharuskan hermeneutika untuk bergerak mencapai batas luar konsepsinya sebagai sekumpulan aturan-aturan, dan untuk membuatnya koheren secara sistematis, yaitu sebuah bidang ilmu yang menjelaskan kondisi bagi pemahaman dalam segala dialog. Hasilnya, bukan lagi sekedar hermeneutika filologis, tetapi hermeneutika yang bersifat umum yang prinsip-prinsipnya dapat menjadi pondasi bagi penafsiran segala macam teks. Perkembangan seterusnya di tangan Wilhelm Dilthey, seorang penulis biografi F. Schleiermacher, kemudian, hermeneutika menjadi disiplin induk yang menjadi pondasi bukan saja bagi penafsiran teks yang melandasi definisi ketiga, tetapi menjadi definisi baru yang meliputi segala disiplin yang memusatkan perhatian pada pemahaman seseorang terhadap seni, prilaku, dan tulisan-tulisan yang disebut dengan istilah geisteswissenschaften.

Definisi kelima merubah pandangan hermeneutika ke dalam kajian fenomenologis terhadap keberadaan manusia sehari-hari di dunia. Tokohnya adalah Martin Heidegger. Dalam pandangannya, hermeneutika bukan lagi ilmu ataupun aturan-aturan tentang interpretasi teks, bukan pula merujuk kepada metodologi geisteswissenschaften, tetapi hermeneutika merujuk kepada penjelasan fenomenologis tentang eksistensi manusia itu sendiri. Dalam analisis Heidegger, “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan bentuk dasar keberadaan manusia. Dengan karyanya Being and Time, Heidegger menandai perubahan dalam perkembangan hermeneutika, yang di satu sisi terkait dengan dimensi ontologis pemahaman, dan pada saat yang sama hermeneutika diidentifikasikan dengan konsepsinya tentang fenomenologi secara khusus.

Hans Georg Gadamer mengembangkan implikasi dari sumbangan pemikiran Heidegger menjadi sebuah karya sistematik tentang “hermeneutika filosofis”. Karyanya yang lain, Truth and Methode, merupakan upaya untuk menghubungkan hermeneutika kepada aspek-aspek estetika dan filosofis sejarah pemahaman. Dalam hal ini, hermeneutika dibawa selangkah lebih jauh tetapi masih dalam fase “linguistik” dengan pernyataan Gadamer bahwa keberadaan yang bisa dipahami adalah bahasa, sehingga hermeneutka adalah sebuah pertemuan dengan yang ada melalui bahasa.

Dalam fase akhir perkembangan hermeneutika, menurut Palmer, hermeneutika dipahami sebagai sistem penafsiran, yaitu antara mendapatkan kembali makna melawan pembongkaran tradisi (iconoclasm). Tokoh yang pertama mengadopsi konsep ini adalah Paul Ricoeur. Dalam bukunya de l’interpretation (1965), ia mengatakan, “kami mengartikan hermeneutika teori tentang aturan yang mengatur sebuah penafsiran, atau dapat dikatakan, interpretatsi teks khusus atau kelompok tanda yang bisa dianggap sebagai teks.” Pada tahap ini, hermeneutika menjadi proses penggalian makna yang dari sesuatu yang isi dan makna yang manifest menuju makna yang tersembunyi atau laten. Objek penafsirannya sendiri yang berupa teks, dalam bentuk yang sangat luas bisa terdiri dari lambang-lambang dalam mimpi, atau bahkan mimpi dan kejadian dalam mitos dan simbol-simbol masyarakat atau karya sastra. Dalam hal ini, Ricoeur membedakan antara simbol-simbol yang jelas merujuk kepada satu makna (univocal) dan simbol-simbol yang samar-samar dan mengandung beragam makna (equivocal). Yang terakhir inilah yang menjadi fokus perhatian hermeneutika. Menurutnya, hermeneutika berkaitan dengan teks-teks simbolik yang memiliki makna ganda. Makna ganda ini bisa jadi menyusun sebuah kesatuan semantik yang —seperti dalam mitos-mitos— memiliki makna zahir yang jelas dan pada saat yang sama juga sebuah signifikansi yang mendalam. Hermeneutika, menurut Ricouer, adalah sistem yang memunculkan signifikansi batin dari dalam substansinya yang tampak. Definisi hermeneutika semacan ini pada gilirannya membawa Ricoeur untuk membedakan dua sindrom hermeneutika yang sangat berbeda dalam era modern: pertama, berkenaan dengan simbol dalam sebuah upaya untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana diwakili oleh upaya “demitologisasi” Rudolf Bultmann; dan kedua upaya untuk membongkar simbol yang menjadi representasi realitas yang salah, seperti ditampilkan oleh Marx, Nietzsche, dan Freud yang membongkar kedok-kedok dan ilusi-ilusi melalui gerakan rasionalisasi yang tiada henti dalam upaya “demistifikasi”. Ketiga tokoh yang terakhir ini menafsirkan kenyataan lahiriah sebagai sebuah kesalahan dan mengajukan sistem pemikiran yang menghancurkan kenyataan tersebut. Ketiganya secara aktif berdiri berseberangan dengan agama, sementara cara berfikir yang benar bagi ketiganya adalah dengan mengajukan “rasa curiga” (suspicion) dan keragu-raguan.

Atas dasar dua pendekatan yang berbeda dalam penafsiran simbol dewasa ini, menurut Ricoeur, tidak akan pernah ada aturan-aturan prinsipal (canons) yang bersifat universal untuk menafsirkan, akan tetapi hanya berupa teori-teori yang terpisah dan saling berlawanan tentang aturan-aturan (rules) penafsiran. Pengikut aliran demythologizer (atau “demitologisasi”) memperlakukan simbol atau teks sebagai jendela menuju realitas sakral, sementara kaum demystifier memperlakukan simbol yang sama (sebut saja teks kitab suci) sebagai sebuah kenyataan salah yang harus dihancurkan.

Pendekatan Ricoeur sendiri dalam mengkaji pemikiran Freud merupakan sebuah upaya brilian dalam kerangka type penafsiran yang pertama. Ia berupaya menemukan kembali dan menafsirkan kembali signifikansi Freud dengan cara baru pada momen kesejarahan masa kini. Dalam hal ini, Ricoeur berusaha untuk menerobos rasionalitas keragu-raguan dan kepercayaan terhadap interpretasi rekolektif dalam sebuah filsafat rekleftif yang tidak kembali ke dalam abstraksi atau menjadi lebih buruk dengan pengajuan keragu-raguan secara sederhana. Sebuah filsafat yang menangani tantangan hermeneutika dalam mitos dan simbol, serta secara reflektif mentemakan realitas di belakang bahasa, simbol, dan mitos-mitos tadi. Fisafat telah menaruh perhatiannya pada bahasa, yang senyatanya sudah menjadi hermeneutika. Tantangan untuk membuatnya hermeneutikal secara kreatif.

Dari keenam makna yang menadai perkembangan hermeneutika dalam era modern, yang tidak menutup kemungkinan akan terus berlanjut dalam fase perkembangan yang lebih mutakhir dalam filsafat Barat modern, pendekatan hermeneutika yang bisa disajikan dalam penelitian bidang kajian tafsir hadis, selain bisa didekati dari pilihan-pilihan dalam enam definisi di atas, dapat pula ditujukan pada apa sebenarnya makna interpretasi yang menjadi manifest hermeneutika, khususnya dalam kajian sastra. Palmer mengajukan beberapa prinsip dalam kajian yang memakai pendekatan hermeneutika, seperti apa yang dirujuknya dari Heidegger tentang perlunya upaya untuk mendekati teks secara lebih mendalam untuk menemukan apa yang tidak, bahkan mungkin yang tidak mampu, dikatakan oleh teks. Menurutnya, menafsirkan sebuah karya adalah untuk melangkah ke dalam cakrawala pertanyaan ke arah mana teks bergerak. Akan tetapi, hal ini juga berarti bahwa sang penafsir bergerak ke dalam sebuah horozon di mana jawaban yang lain juga dimungkinkan. Dalam hal jawaban jawaban yang lain inilah —dalam konteks temporal sebuah karya dan juga dalam era kekinian— bahwa seseorang mesti memahami apa yang dikatakan oleh teks. Dengan kata lain, apa yang dikatakan dapat dipahami hanya melalui apa yang tidak dikatakan.

Prinsip lainnya dalam pendekatan hermeneutika adalah signifikansi penerapan terhadap masa sekarang. Dalam hal hermeneutika yuridis maupun teologis, misalnya diharuskan untuk melihat pemahaman tidak sesederhana upaya mengaitkan kajian klasik untuk memasuki dunia lain yang diinginkannya, tetapi sebagai sebuah upaya untuk menjembatani jarak yang ada antara teks dengan situasi saat ini. Interpretasi bukan melulu menjelaskan apa makna teks dalam dunianya sendiri, tetapi apa maknanya untuk kita. Sebuah teks ditafsirkan bukan atas dasar kesesuaiannya, tetapi karena substansi teks adalah sesuatu yang dimiliki bersama. Landasan kesamaan milik ini tidak selalu bersifat personal, tetapi bahasa. Seseorang berada di dalam dan diliputi bahasa; bahkan ketika seseorang harus menjembatani kesenjangan dalam dua bahasa yang berbeda, ia masih saja menafsirkan dalam dunia bahasa di mana wujud (being) menjadi pengganti di dalam bahasa.

Beberapa literatur lain yang bisa dipakai sebagai rujukan dan panduan dalam memahami teori-teori hermeneutika yang berkembang dalam publikasi yang lebih belakangan dapat dibaca dalam Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as method, philosophy, and critique karya Josef Bleicher (London: Routlege and Kegan Paul, 1980); atau dalam Three Faces of Hermeneutics, An Introduction to current theory of understanding (Berkeley: Unversity of California Press, 1982).

catatan: Rujukan yang dipakai untuk tulisan ini dapat dilihat dalam modul perkuliahan.

Contoh Proposal Penelitian MPTH

10/04/2010

Contoh Proposal Penelitian MPTH

Judul
Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan al-Qur’an

Latar Belakang
Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan diungkapkan oleh al-Suyutī dalam bukunya al-Itqān fī ulum al-Qur’ān, di mana ia menyatakan bahwa penjelasan yang dilakukan para Sufi terhadap al-Qur’an bukanlah suatu bentuk “tafsīr” (amma kalām al-sūfiyya fi al-Qur’ān fa laysa bi tafsīrin). Dalam bukunya, al-Suyuti juga membedakan antara tafsir dan ta’wīl sebagai dua metode penafsiran yang berbeda. Yang pertama dianggap sebagai metode penafsiran yang memiliki nilai formal, dianggap standar yang patut dilakukan dan terpuji, dan memiliki keunggulan karena menetapkan makna yang dikehendaki Tuhan sebagai penjelasan atas Kalam-Nya. Sementara metode ta’wīl dianggap sebagai aktivitas di luar prosedur formal, dinilai sebagai tindakan tercela, dan tidak bisa menetapkan satu makna. Signifikansi yang diambil dari sebuah ayat al-Qur’an melalui proses ta’wil tidak bersifat baku lantaran hal itu diambil dari makna “jauh” yang hanya bisa diterapkan karena ada konteks yang mendukungnya. Proses ta’wil inilah yang kebanyakan dilakukan oleh para sufi dalam memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Research Question
Apakah Sufi diperbolehkah, atau anggap saja memiliki otoritas, untuk menafsirkan al-Qur’ān?

Metodologi Penelitian
Pertanyaan tersebut akan diteliti melalui bentuk penelitian kepustakaan. Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kritik kontekstual dan hermeneutika sekaligus. Yang pertama dilakukan untuk menimbang latar belakang yang mendasari munculnya pernyataan yang diungkapkan oleh al-Suyuti dan dipadukan dengan timbangan terhadap validitas penafsiran yang dilakukan sufi. Di sini, penilaian kritik dilakukan untuk mengukur sejauh mana pernyataan al-Suyuti memiliki relevansi bagi problematika penafsiran al-Qur’an dalam corak yang bernilai sufistik sejak masa klasik Islam sampai abad pertengahan, dan guna menguji apakan thesis suyuti masih bisa dipertahankan pada saat sekarang ini. Berangkat dari kritik sejarah tadi, pengujian lebih lanjut terhadap teori-teori penafsiran al-Qur’an akan dilakukan para sufi memerlukan pendekatan filsafat hermenutika, baik sebagai sebuah kajian terhadap problematika umum pemahaman manusia, maupun dalam maknanya yang terbatas sebagai ilmu yang membahas teori penafsiran kitab suci.

Daftar Pustaka Sementara
Abū Zayd, N.H. Hakadhā Takallama Ibn Arabī, Kairo: al-Hai’ah al-misriyya al-amma li al-kitāb, 2002.
Abu Zayd, Mafhūm al-nash, Kairo: matba’ah al-hayāt al-mishriyya li ‘ammāt al-kitāb, 1993.
Afifī, A.A. Malāmatiyya wa al-shūfiyya wa ahl al-futuwwa, Kairo : Dār ihyā’ al-kutub, 1945.
Bruns, Gerard L. Hermeneutics Ancients and Modern, New Haven: Yale University Press, 1992, h.134
Dhahabī, Muhammad Husein al-. Al-Tafsir wa al-mufassirun, Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsiyya, tt, 2 vol.
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Kairo : Dār al-ma’ārif, tanpa tahun.
Ibn Shalāh, Taqiy al-Dīn. Fatāwā, Kairo: Idāra Thabā‘a al-Munīriyya, 1348 H.
Lane, E.W. An Arabic English Lexicon, Cambridge: 1984.
Robson, J. “Ibn Salāh” in The Encyclopaedia of Islam, Leiden: EJ Brill, CD ROM edition 2002, vol.iii, 927a.
Mahmūd, Abd al-Halīm. Manāhij al-Mufassirin, Kairo: Dār al-kitāb al-mishrī, 1978.
Subkī, Tabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā, Kairo: Musthafā al-bāb al-halabī, tt.
Sulamī, Abu Abd al-Rahmān al-. Haqā’iq al-Tafsīr, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyya, 2002, 2 vols.
Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqān fī Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār el-Fikr, 1979, 2 vol.
Syirbasi, Ahmad al-. Sejarah Tafsir al-Quran, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1985.
Taftazānī, Sa‘d al-Dīn al-. Sharh al-Aqā’id al-Nasafiyya, Damaskus: Wizārat al-Tsaqāfa wa irshād al-qawm, 1974.
Tustarī, Sahl b. Abd Allāh al-. Tafsir al-Qur’ān al-Azhīm, Kairo: Dār al-kutub al-‘aabiyya al-kubrā, 1911.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.