Contoh Tugas UAS MPTH Kajian Hadits

Studi Hadis “Padamkanlah Lampu Ketika Hendak Tidur” dan Relevansinya dengan Kajian Ilmiah Modern

Rina Andriani

 

Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad saw sebagai Rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang berkenaan dengan berbagai segi kehidupan manusia. Sumber ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu adalah al-Qur’an dan Hadis. Bagi umat Islam, hadis diyakini sebagai sumber kedua (second source) setelah al-Qur’an. Ketika Nabi masih hidup, ajaran-ajaran Allah tercermin dalam kehidupan beliau sehari-hari. Sementara sesudah beliau wafat, ajaran-ajaran Allah tercermin dalam hadis yang beliau tinggalkan.[1]

Salah satu di antara ajaran-ajaran Islam yang dilakukan sehari-hari adalah menjaga kesehatan yakni istirahat atau tidur baik itu malam atau siang hari dan menjaga kebersihan air. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi sebagai berikut;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَوْكِئُوا الْأَسْقِيَةَ وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا جَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ الْبَيْتِ

Tutuplah bejana-bejana kalian, tempat-tempat air kalian, dan pintu-pintu kalian serta padamkan lampu-lampu kalian, karena bisa jadi tikus menyeret sumbu lampu, lalu membakar penghuni rumah.

Hadis di atas secara global menjelaskan menutup bejana dan wadah, karena setan tidak akan bisa membuka tempat air, yang paling penting dalam menjaga kesehatan dengan mencegah berkembangbiaknya serangga yang memindahkan bakteri penyakit di samping melindungi diri dari menularnya bakteri penyakit baik melalui tangan, ataupun alat-alat makan dari orang yang sakit kepada yang sehat.[2]

Kebiasaan mematikan lampu sebelum tidur juga menjadi hal yang dianjurkan Nabi, karena dengan itu kita bisa terhindar dari bahaya kebakaran yang mengancam. Untuk itu Rasulullah menganjurkan agar lampu dimatikan sebelum tidur.

Hadis dari Rasulullah yang lebih dari 14 abad tersebut, ternyata di abad modern ini manusia yang semakin berkembang ilmu pengetahuannya serta alat teknologi yang canggih, baru diketahui manfaat medis dari tuntunan Rasulullah untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur dan menutup bejana air. Salah satu ilmuan yang meneliti cahaya lampu yaitu ahli biologi Joan Robert mengatakan “tubuh baru bisa memproduksi hormon melatonin ketika tidak ada cahaya. Hormon ini adalah salah satu hormon kekebalan tubuh yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan kanker prostat”.[3]

Maka dari itu penulis tertarik sekali membahas dengan judul Studi Kritik Hadis “Padamkanlah Lampu Ketika Hendak Tidur” dan Relevansinya Dengan Kajian Ilmiah Modern. Penulis memilih judul tersebut karena melihat fenomena di sekitar kita di saat malam hari jarang sekali penghuni rumah untuk mematikan lampu mungkin karena takut atau mungkin karena tidak terbiasa dengan suasana gelap, padahal Rasulullah menyuruh umatnya untuk mematikan lampu. Dan penulis ingin membandingkan hadis tersebut dengan hasil riset yang telah dilakukan oleh ilmuan tersebut dan implikasi terhadap kebiasaan yang berlaku dewasa ini.

  1. Kajian Kritik Sanad dan Matan Hadis

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ شِنْظِيرٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَوْكِئُوا الْأَسْقِيَةَ وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا جَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ الْبَيْتِ.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Katsir bin Syindzir dari ‘Atha` bin Abu Rabah dari Jabir ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah bejana-bejana kelian, tempat-tempat air kalian, dan pintu-pintu kalian serta padamkan lampu-lampu kalian, karena bisa jadi tikus menyeret sumbu lampu, lalu membakar penghuni rumah.”[4]

Sebagai awal penelitian, penulis menggunakan metode takhrij hadis berdasarkan lafaz-lafaz dalam matan hadis. Kitab yang menjadi rujukan pada matan ini adalah al-Mu‘jam al-Mufahras li alfadz al-Hadith al-Nawawi yang lebih dikenal  dengan Mu‘jam. Penulis menggunakan lafadz  أطفؤا  sebagaimana berikut ini:

في معجم المفهرس[5] : خ أشربه 22, بدء الخلق 11, 16            م أشربة 97                                              د أدب 161          ت أطعمة 15, أدب 74    ط صفة النبي 21

حم 2, 362, 3, 31, 319, 362

  • Kritik Sanad

Setelah penulis meneliti penelusuran hadis dengan menggunakan metode tersebut, maka penulis menemukan redaksi hadis berdasarkan sumbernya sesuai tanda-tanda yang ditemukan dari kitab kamus takhrij tersebut. Dalam penelitian ini penulis mengambil riwayat yang mukharrijnya al-Tirmidhi kitab al-Adab bab 15, berikut ini sanad-sanad yang diriwayatkan oleh al-Tirmidhi:

  1. Qutaybah

Nama lengkapanya Qutaybah Sa‘īd bin Jamīl bin Ṭarif bin ‘Abdullah al-Tsaqafi, dengan kuniyahnya Abu Raja‘ yang wafat pada tahun 240 H di Homs.[6] Antara Qutaybah dengan muridnya yakni al-Tirmidhi kemungkinan “muttasil”, sebab Qutaybah menerima hadis dari Hammād dengan menggunakan kata (حدثنا) menunjukkan bahwa Qutaybah menerima hadis dari Hammād secara al-Sama‘. Serta jarak antara al-Tirmidhi dengan gurunya yakni Qutaybah sekitar 39 tahun, ini memberikan indikasi adanya pertemuan di antara mereka .

Qutaybah menerima hadith dari guru-gurunya seperti Ibrahim bin Saīd al-Madani, Ja‘far bin Sulaiman al-Ṣuba‘ī, Hammad bin Zayd, Muhammad bin Abi ‘Adi. Sedangkan muridnya adalah Ahmad bin Hanbal, al-Tirmidhi, Ahmad bin Sa‘īd, Muhammad bin Yahya dan al-Darimi.

Pendapat ulama rijal mengenai beliau adalah: Abu Hatim: Thiqah, an-Nasa’i: Thiqah, Ibn Sayyar: Qutaybah Ṣuduq, Ibn Khirasy: Ṣadūq.[7]

Natijahnya: mengingat komentar yang dilontarkan oleh para kritikus dengan penilaian yang positif, maka dapat disimpulkan bahwa sanad Qutaybah berstatus “Tsiqah

  1. Hammād bin Zayd

Nama lengkapnya adalah Hammād bin Zayd bin Dirham al-Azdi, dengan kuniyahnya Abu Isma‘īl al-Baṣrī al-Azraq yang meninggal pada tahun 179 di Baṣrah. Antara Qutaybah dengan gurunya yaitu Hammād bin Zayd kemungkinan “muttasil”, karena jarak antara mereka berdua sekitar 61 tahun dan kemungkinan guru dan murid bertemu.

Hammād bin Zayd menerima dan belajar hadis dari Iban bin Takhlib, Ibrāhīm bin ‘Uqbah, ‘Abdulah bin ‘Awn, Katsīr bin Syinẓir, dan Muhammad bin Abi Hafsah. Sedangkan murid-murid yang menerima hadis dari beliau antara lain Hammād bin ‘Umar al-Bakrawi, Ishaq bin ‘Isa, Ibn al-Ṭaba‘ī, dan Qutaybah.

Pendapat ulama rijal  mengenai beliau adalah: Abu Hatim: beliau seorang yang hafal hadis, al-Khalili: Thiqah, Ibn Hajar: Thiqah Thabat, Faqih,

Natijahnya: mengingat penilaian dari para ulama rijal terhadap beliau dengan positif maka dapat disimpulkan bahwa sanad Hammād bin Zayd berstatus “Thiqah[8]

  1. Kathīr bin Syinẓir

Nama lengkap beliau Kathir bin Syinẓir dengan laqabnya Abu Qurrah al-Baṣrī yang tinggal Baṣrah dari kalangan tabi’in yang tidak berjumpa dengan sahabat. Antara Katsir dengan muridnya yaitu Hammād kemungkinan bertemu sebab Hammad mempunyai guru dengan nama katsir sedangkan Katsir mempunyai murid yang bernama Hammād.

Kathir menerima hadis sekaligus belajar ke guru-gurunya seperti Anas bin Sīrrīn, Hasaan al-Baṣrī, ‘Ațā’ bin Abī Rabāh, Mujāhid dan Muhammad bin Sīrīn. Sedangkan murid-murid yang menerima hadis dari beliau antara lain Hammād bi Zayd, Hammād bin Yahya al-Abah, Hisyam bin Harān, ‘Abdul Warith bin Sa‘īd, dan al-Aswād ibn Syaybān.

Penilaian ulama rijal terhadap beliau adalaha: Ibn Hazm: Ḍo‘īf jiddan, Ibn Hajar: Ṣadūq yuhti, Abu Zur’ah: Layyin, an-Nasa’i: Laisa bil Qawyyi, al-Bazzar: Laisa bihi ba’s

Natijahnya: mengingat komentar yang dilontarkan oleh para kritikus dengan komentar celaan atau negative dan hanya satu yang bernilai positif, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sanad Kathir bin Syinẓir berstatus “Ḍo‘if”. [9]

  1. ‘Ațā’ bin Abī Rabāh

Nama lengkap beliau adalah Ațā’ bin Abī Rabāh Aslam al-Quraisy al-Fihti dengan laqab Abu Muhammad al-Maki, beliau lahir pada masa khalifah Uthman bin ‘Affan. Beliau wafat tahun 114 H di Marur Rawdz.

Beliau menerima hadis sekaligus berguru kepada ‘Aus bin al-Ṣāmit, Jabīr bin ‘Abdullah, Habīb bin Abī Thābīt, Rāfi bin Khadīj, dan Zayd bin Arqam. Sedangkan murid-murid yang menerima serta belajar ke beliau seperti ‘Umārah bin Thaubān, Qatādah bin Di‘āmah, Kathir bin Syinẓir, dan Abān bin Ṣālih

Penilaian ulama rijal terhadap beliau adalah Yahya bin Ma‘in: Thiqah, Ibn Sa‘ad: Thiqah, Abu Zur‘ah: Thiqah, Ibn Hibban: disebutkan dalam ‘Ath-Thiqah[10]

Natijahnya: dengan komentar yang positif dan tidak ada celaan terhadap beliau, maka dapat disimpulkan bahwa sanad ‘Ațā’ bin Abī Rabāh berstatus “Thiqah

  1. Jabīr

Nama lengkapnya adalah Jabīr bin ‘Abdullah bin Harām bin Tha‘labah bin Ka‘ab Qahma bin Ka‘ab bin Salimah bin Sa‘ad bin ‘Ali bin Asad dengan kuniyahnya Abu ‘Abdullah ada juga yang mengatakan Abu ‘Abdurrahman Abu Muhammad al-Madanī. Beliau adalah sahabat Rasulullah, antara Jabīr dengan muridnya ‘Ațā’ kemungkinan muttasil, sebab Jabīr seorang sahabat sedangkan ‘Ațā’ seorang tabi’in, dan kemungkinan bertemu.

Jabīr menerima hadis langsung dari Nabi Muhammad saw, Khālid bin al-Walīd, Ṭalhah bin ‘Ubaydillah, Abi Sa‘īd al-Khudri,dan ‘Umar bin al-Khațāb. Sedangkan orang-orang yang belajar dan menerima hadis dari beliau seperti ‘Ațā’ bin Abī Rabāh, Muhammad bin ‘Abbād bin Ja‘far, Ismā‘īl bin Abi Basyir, dan Sa‘īd Ibn al-Musayyab.

Penilaian ulama rijal terhadap beliau adalah mengingat posisinya sebagai sahabat Nabi saw, para ulama jarh wa ta’dil tidak mempersoalkan ‘adalahnya, sebab semua ulama sepakat bahwa al-ṣahaby kulluhum ‘udul.[11]

Mengambil Natijah

Kesimpulan periwayatan dari jalur al-Tirmidhi, setelah diadakan penelitian periwayat-periwayat dalam sanad tersebut adanya ketersambungan sanad, masing-masing dari periwayat mempunyai keterkaitan antara guru dan murid, perawinya berstatus tsiqah, tetapi ada satu sanad yang mempunyai nilai jarah tertinggi terhadap sanad tersebut yaitu Kathīr bin Syinẓir, para ulama mengomentari dengan kritik yang tertinggi yaitu dho’if jiddan, layyin.  Sehingga konklusinya dapat dinyatakan bahwa hadis yang bersangkutan berkualitas hasan shahih.

  • Kritik Matan

Dalam hubungannya dengan status kehujahan hadis, maka dalam penelitian sanad dan matan memiliki kedudukan yang sama pentingnya. Karena menurut ulama hadis, keotentikan sebuah hadis ditentukan oleh dua hal, yakni sanad dan matan. Dalam penelitian kandungan matan hadis, yang perlu diperhatikan adalah apakah hadis tersebut bertentangan atau tidak, baik dari hadis-hadis lain maupun dengan al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama dalam Islam.

  • Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an

Terkait dengan perbandingan antara hadis dengan al-Qur’an, hadis yang penulis teliti tersebut, bahwa di dalam al-Qur’an ada yang menjelaskan hal tersebut dalam surah al-Isra’ ayat 27 yang berbunyi:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 27)

Ayat al-Qur’an tersebut menjelaskan bahwasanya Allah tidak menyukai orang-orang yang boros, sebab boros itu adalah saudaranya syaitan. Konteks ayat al-Qur’an bisa dihubungkan dengan hadis tersebut, karena mematikan lampu bisa  menghemat listrik. Dengan berhemat memakai listrik maka akan mengurangi global warning serta berpengaruh juga terhadap kesehatan tubuh kita.

  • Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat kualitasnya

Namun setelah diteliti, penulis berpendapat bahwa hadis tentang mematikan lampu saat hendak tidur dapat dipertanggungjawabkan, karena terdapat hadis-hadis yang mendukung konteks matan, yaitu diriwayatkan oleh Shahih Bukhari:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ كَثِيرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَهُ قَالَ خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ وَاكْفِتُوا صِبْيَانَكُمْ عِنْدَ الْعِشَاءِ فَإِنَّ لِلْجِنِّ انْتِشَارًا وَخَطْفَةً وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ عِنْدَ الرُّقَادِ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا اجْتَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ أَهْلَ الْبَيْتِ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ وَحَبِيبٌ عَنْ عَطَاءٍ فَإِنَّ لِلشَّيَاطِينِ

Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Hammad bin Zaid dari Katsir dari ‘Atha’ dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma yang memarfu’kannya, (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Tutuplah bejana (perabot menyimpan makanan), ikatlah tutup kendi (perabot menyimpan minuman), tutup pintu-pintu rumah dan jagalah anak-anak kecil kalian pada waktu ‘isya’ karena saat itu adalah waktu bagi jin untuk berkeliaran dan menculik, dan padamkanlah lampu-lampu ketika kalian tidur, karena binatang-binatang berbahaya bila datang dapat menarik sumbu lampu sehingga dapat berakibat kebakaran yang menyebabkan terbunuhnya para penghuni rumah”. Ibnu Juraij dan Habib berkata dari ‘Atha’; “(saat itu adalah waktu) bagi setan-setan”. (Bukhari). [12]

 

  • Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera, dan sejarah

Tinjauan sejarah (asbab al-wurud) adalah salah satu langkah yang ditempuh oleh para ulama untuk mengetahui latar belakang historis dari munculnya suatu hadis. Meskipun ilmu ini tidak berpengaruh secara langsung terhadap kualitas suatu hadis, namun dengan ilmu ini dapat mempermudah untuk memahami suatu hadis.

Dalam menggunakan metode yang  ketiga ini, penulis menemukan asbab al-Wurud hadis yang dimaksud, dengan redaksi hadisnya sebagai berikut

إن هذه النار إنما هي عدولكم فإذا نمتم فاطفؤ ما عنكم

“Sesungguhnya api ini musuhmu, maka apabila kamu hendak tidur padamkanlah api itu”. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Musa al-‘Asy’ari)

Asbab: tercantum dalam sahihMuslim dari Musa al-‘Asy’ari, katanya:”sebuah rumah terbakar di Madinah pada malam hari, kebakaran yang menimpa sebuah keluarga itu disampaikan kepada Nabi Muhammad, maka beliau bersabda yang mengingatkan bahwa itu musuh yang harus dipadamkan bila hendak tidur.[13]

  1. Relevansi Teks Hadis dan Konteks
  2. Teks dan Kontekstual Hadis

Kata kontekstual berasal dari “Konteks” ,dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua arti yaitu: pertama, Bagian sesuatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna. Kedua, situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.[14] Kedua arti ini dapat digunakan karena tidak terlepas oleh istilah dalam kajian pemahaman hadis. Manakala kontekstual dalam bahasa Arab adalah al-waqi’iyyah, di dalam hadis yang menunjukkan kaitannya dengan kontekstual adalah asbab al-wurud.

Pemahaman kontekstual atas hadis adalah memahami hadis-hadis Rasulullah dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi munculnya hadis-hadis tersebut, atau dengan memperhatikan dan mengkaji konteksnya. Kajian yang lebih luas tentang pemahaman kontekstual tidak hanya terbatas pada asbab al-wurud, tetapi lebih luas dari itu meliputi konteks historis-sosiologis, di mana asbab al-wurud merupakan bagian darinya.[15]

Dalam aspek penafsiran sebuah teks, untuk mencari relevansinya dengan persoalan masa kekinian serta tujuan menguniversalkan peran hadis sesuai dengan kebutuhan zaman, maka penelusuran melalui metode pendekatan pemahaman kontekstual yaitu melalui sejarah atau ulasan sosiologis dengan mengemukakan pembuktian-pembuktiannya dan sebab akibatnya.

  1. Relevansi terhadap Penelitian Ilmiah

Syuhudi Isma’il menjelaskan bahwa apa yang terekam dari aktualisasi Nabi yang kemudian dikenal dengan hadis-hadis Nabawi, merupakan teks-teks yang kemudian dapat dipahami dari makna yang tersurat, tetapi sekaligus dapat dipahami pada konteks teks tersebut muncul. Itulah sebabnya, ada beberapa hadis yang tepat ketika dipahami secara teks, tetapi ada pula yang kurang tepat kalau tidak dipahami konteksnya. Hal inilah yang melahirkan pemahaman tekstual dan kontekstual.[16]

Pada zaman Nabi, alat penerang waktu malam adalah lampu minyak. Apabila lampu tidak dimatikan tatkala hendak tidur, maka kemungkinan akan terjadi kebakaran. Penyebabnya mungkin karena lampu minyak itu disentuh oleh binatang, misalnya tikus, atau karena hembusan angin. Untuk keamanan bersama dan untuk penghematan, maka penghuni rumah perlu mematikan lampu-lampu terlebih dahalu sebelum tidur.

Pada zaman sekarang, banyak rumah yang menggunakan lampu listrik. Dengan demikian, keamanan lebih terjamin walaupun dinyalakan tatkala penghuni rumah sedang tidur. Dengan fasilitas lampu seperti itu, maka tidak ada salahnya sekiranya lampu tetap menyala walaupun penghuni rumah telah tidur.[17]

Memang benar zaman Rasulullah berbeda sekali dengan zaman sekarang, apalagi dengan konteks hadis tersebut, tetapi sunah Nabi Muhammad saw yang menganjurkan kita mematikan lampu ketika tidur, ternyata memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Semakin malam semakin gelap tubuh kita akan merasa lelah dan mengantuk. Ini jelas wajar, sintesis dan sekresi hormon melatonin oleh kelenjar pineal meningkat seiring dengan semakinnya malam. Hormon inilah yang menyebabkan kita menjadi mengantuk di malam hari. Fungsi dari rasa kantuk adalah sebagai sinyal positif tubuh agar segera mengistirahatkannya. Hormon yang mempengaruhi irama sirkadian ini kemudian akan menyesuaikan sehingga terjadi sinkronisasi antara siklus tidur dengan siklus pergantian siang dan malam di lingkungan.[18]

Melatonin adalah hormon yang diproduksi kelenjar pineal (dipercaya oleh beberapa orang sebagai tempat jiwa) struktur kecil sebesar kacang polong, yang terletak jauh di dalam otak. Melatonin mengendalikan ritme tidur dan bangun sehari-hari serta mungkin merupakan kunci dari proses penuan.

Peran kelenjar pineal adalah ikut mengatur dan menyelaraskan hormon yang diproduksi kelenjar lain. Selain itu, melalui produksi melatonin, kelenjar pineal mengendalikan ritme cicardian jam internal, ritme bulanan, dan ritme tahunan yang memberi tahu tubuh kapan harus tidur, kapan harus bangun, menstruasi, dan berbagai kegiatan fisik mental.[19]

Fungsi melatonin dalam tubuh yaitu kelenjar pineal bereaksi terhadap sinar dengan memproduksi melatonin lebih banyak atau lebih sedikit, membuat kita tidur di malam hari dan bangun serta siaga di siang hari. Sinar yang dideteksi oleh kelenjar pineal bervariasi jumlah dan intensitasnya sesuai pergantian musim dan ini mempengaruhi produksi melatonin musiman pada hewan, yang mengatur musim perkembangbiakan, migrasi, hibernasi, dan pertumbuhan bulu. Sedangkan pada manusia yaitu mengatur emosi.

Ketidakseimbangan melatonin juga merupakan faktor penyebab pada kelainan afektif musiman (SAD); suatu kondisi yang meliputi depresi, ngidam karbohidrat, dan tidur berlebihan di musim dingin. Bayi yang baru lahir belum mulai memproduksi melatonin sampai usia 2-3 hari dan siklus melatonin baru mapan menjadi siklus dengna irama harian yang teratur pada usia satu tahun. Melatonin terdapat dalam ASI dan inilah alasannya mengapa bayi yang mendapat susu botol kadang-kadang sulit tidur. Anak kecil mempunyai kadar melatonin yang lebih tinggi dibanding orang dewasa dan juga tidur lebih banyak, dengan tidur singkat di siang hari. Produksi melatonin pada saat ini dikaitkan dengan kelenjar hipofisis yang bertanggung jawab menstimulasi pertumbuhan. Selama tidur, hormon hipofisis menyekresi hormon pertumbuhan.[20]

Seorang Biolog, Joan Roberts menemukan rahasia setelah melakukan percobaan pada hewan. Ketika hewan tersebut diberi cahaya buatan pada malam hari, melantoninnya menurun dan sistem kekebalan tubuhnya melemah. Rupanya, cahaya lampu seperti TV juga menyebabkan hormon menjadi sangat lelah. Keadaan malam yang gelap diam-diam berkolaborasi dengan tubuh. Hanya dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh menghasilkan Melantonin. Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari sekecil apapun sinarnya menyebabkan produksi hormon melantonin terhenti. [21]

Dan juga penemuan Tracy Bedrosian, seorang mahasiswa program doktor dalam ilmu saraf di Ohio State University, yang melakukan penelitian terhadap tupai, juga menjelasakan bahwa perubahan otak pada tupai timbul dari fluktuasi dalam produksi hormon melatonin. Melatonin memberi sinyal ke tubuh malam hari, tapi cahaya di malam hari menghambat produksi hormone melatonin. “Hormon ini telah terbukti memiliki beberapa efek antidepresan, dan penurunan melatonin dapat memacu gejala depresi”, ujar Bedrosian.

Hormon melatonin sebagian besar dibuat oleh kelenjar pineal dan sebagian kecilnya dibuat di usus dan retina mata. Produksi hormon melatonin dipengaruhi oleh tingkat intensitas cahaya lingkungan dan akan selalu bertambah banyak jika manusia berada dalam lingkungan yang gelap dan suasana hening namun produksinya akan dihambat oleh adanya rangsangan luar seperti sinar yang terang dan medan elektromagnetik.[22] Kadar melatonin yang rendah ditemukan pada pria yang mengalami kanker prostat juga ditemukan hubungan antara kanker payudara dengan kanker gangguan produksi melatonin. Melatonin mencegah perkembangan kanker dengan membatasi produksi hormon seks seperti estrogen. Kadar estrogen yang tinggi dianggap meningkatkan resiko kanker payudara.

 

KESIMPULAN

Hadis tentang mematikan lampu ketika hendak tidur mempunyai kualitas hadis hasan shahih yang diriwayatkan oleh al-Tirmidhi. Sunah Nabi Muhammad saw yang menganjurkan kita untuk mematikan lampu ketika tidur, ternyata memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Hal ini bisa dibuktikan oleh ilmu pengetahuan yang dipublikasikan Joan Roberts, Daily Mail dan ilmuan lainnya. Dengan tidur gelap mematikan lampu maka hormon melatonin akan berproduksi secara maksimal. Hormon melatonin adalah hormon untuk kekebalan tubuh untuk mencegah berbagai penyakit misalnya kanker payudara pada perempuan, kanker prostat pada laki2-laki kanker kulit akibat sinar ultraviolet matahari, tumor, dll.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiono. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Penerbit Agung. 2005

al-Dimasyqī, Ibn Hamzah al-Husaini al-Hanafi. Asbabul Wurud; Latar  Belakang Historis Timbulnya Hadis-Hadis Rasul. Jakarta: Kalam Mulia. 2004. Jilid 2

al-Fanjari, Ahmad Syauqi. Nilai Kesehatan Dalam Syari’at Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1996.

Ismail, Syuhudi. Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual; Telaah Ma’ani Hadis Tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, dan Lokal. Jakarta: Bulan Bintang. 1994

Ibbād, Muhammad Mu‘ariq bin. Mawsu‘ah al-Rijal al-Kitab al-Tis‘ah. Beirut: Dār al-Kitab al-‘Ilmiyāt. 1994

al-Mizzy, Jamaluddin. Tahdhib al-Kamāl fī Asma’ al-Rijāl. Beirut: Muassasa al-Risālah. 1983.

Saurah, Abi Isa Muhammad bin ‘Isa Abi. Sunan al-Tirmidhi. Juz 5. Cairo: Dar el-Fikr. 2005.

Wensink, Aren’t John. al-Mu‘jam al-Mufahras alfadz al-Hadith an-Nawawi. Jilid 4. Istanbul: al-Dar al-Da’wah. 1988.

Yaqub, Ali Mustafa. Kritik Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus. 2000.

Pustaka Kesehatan Populer. Masalah Psikologis, Lansia dan Penyalahgunaan Obat. Indonesia: PT Bhuana Ilmu Populer. 2009. Ensiklopedia.

Gayati, Arum. Kamus Kesehatan. Jakarta: Arcan. 1990.

Dokumen elektronik dari internet

http://m.kompasiana.com/post/read/614964/3. artikel ini diakses pada tanggal 23 Desember 2013.

Jiadi, “Manfaat Tidut Dalam Gelap”, artikel ini telah diakses pada tanggal 23 Desember 2013, dari http://jiadi.blogdetik.com/2013/11/12/manfaat-tidur-dalam-gelap/.

Kusmawan, “Tidur Dengan Lampu Menyala Tidak Baik bagi Kesehatan”.  Diakses pada 22 Desember 2013 http://cousbravo.blogspot.com/2012/03/tidur-dengan-lampu-menyala-tidak-baik.html.  Diakses pada 22 Desember 2013.

Maizuddin, “Pemahaman Kontekkstual Atas Hadis Nabi”, Artikel ini diakses pada 14 Desember 2013 dari http://maizuddin.wordpress.com/artikel/pemahaman-kontekstual-atas-hadis-nabi/.

 

[1] Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h, 35

[2] Ahmad Syauqi al-Fanjari, Nilai Kesehatan Dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h, 33-34

[3] Arum Gayati, Kamus Kesehatan, (Jakarta: Arcan, 1990), h, 95

[4] Abi Isa Muhammad bin ‘Isa Abi Saurah, Sunan al-Tirmidhi, (Cairo: Dar el-Fikr, 2005),Juz 5, h, 44

[5] Aren’t John Wensink, al-Mu‘jam al-Mufahras alfadz al-Hadith an-Nawawi, (Istanbul: al-Dar al-Da’wah, 1988), Jilid 4,

[6] Muhammad Mu‘ariq bin ‘Ibbāad, Mawsu‘ah al-Rijal al-Kitab al-Tis‘ah, (Beirut: Dār al-Kitab al-‘Ilmiyāt,1994), Jilid 3, h, 269

[7] Jamaluddin al-Mizzy, Tahdhib al-Kamāl fī Asma’ al-Rijāl, (Beirut: Muassasa al-Risālah, 1983), Jilid 23, h, 523-531

[8] Jamaluddin al-Mizzy, Tahdhib al-Kamāl fī Asma’ al-Rijāl, (Beirut: Muassasa al-Risālah, 1983), Jilid 7, h, 239-252

[9] Jamaluddin al-Mizzy, Tahdhib al-Kamāl fī Asma’ al-Rijāl, (Beirut: Muassasa al-Risālah, 1983), Jilid 24, h, 122-127

[10] Jamaluddin al-Mizzy, Tahdhib al-Kamāl fī Asma’ al-Rijāl, (Beirut: Muassasa al-Risālah, 1983), Jilid 20, h, 69-84

[11] Jamaluddin al-Mizzy, Tahdhib al-Kamāl fī Asma’ al-Rijāl, (Beirut: Muassasa al-Risālah, 1983), Jilid 4, h, 443-449

[12] Imam al-Bukhari, Kitab Shahih Bukhari, BAB 22 tentang Minuman, jilid ?, halaman?

[13] Ibn Hamzah al-Husaini al-Hanafi al-Damsyiq, Asbabul Wurud; Latar  Belakang Historis Timbulnya Hadis-Hadis Rasul, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), Jilid 2, h, 89-90.

[14] Budiono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Penerbit Agung, 2005), h, 285

[15] Maizuddin, “Pemahaman Kontekstual Atas Hadis Nabi”, Artikel ini diakses pada 14 Desember 2013dari http:// maizuddin.wordpress.com/artikel/pemahaman-kontekstual-atas-hadis-nabi/.

[16] Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual; Telaah Ma’ani Hadis Tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, dan Lokal, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h, 3-4

[17] Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual Dan Kontekstual; Telaah Ma’ani al-Hadits Tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal, Dan Lokal., (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), h,67-68

[18] http://m.kompasiana.com/post/read/614964/3. artikel ini diakses pada 23 Desember 2013

[19] Pustaka Kesehatan Populer, Masalah Psikologis, Lansia dan Penyalahgunaan Obat, (Indonesia: PT Bhuana Ilmu Populer, 2009), h, 96

[20] Pustaka Kesehatan Populer, Masalah Psikologis, Lansia dan Penyalahgunaan Obat, (Indonesia: PT Bhuana Ilmu Populer, 2009), h, 97

[21]Kusmawan, Tidur Dengan Lampu Menyala Tidak Baik bagi Kesehatan.  Diakses pada 22 Desember 2013 http://cousbravo.blogspot.com/2012/03/tidur-dengan-lampu-menyala-tidak-baik.html.  Diakses pada 22 Desember 2013

[22]Jiadi, “Manfaat Tidut Dalam Gelap”, diakses pada 23 Desember 2013, dari http://jiadi.blogdetik.com/2013/11/12/manfaat-tidur-dalam-gelap/.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: