Mia Fitriatunnisa

Judul

“PEMAHAMAN DAN PRAKTEK MASYARAKAT TERHADAP HADIS-HADIS IMSAKIYAH ( Studi Kasus Anggota Majlis Ta’lim Kecamatan Gunung Putri Bogor ) “

Latar Belakang

Sebagian kaum muslimin saat ini masih memiliki kecenderungan kepada pemahaman bahwa ketika telah tiba seruan imsak, maka itu adalah batas terakhir diperbolehkannya makan dan minum dan menjadi awal dimulainya puasa pada hari itu. Sehingga apabila seseorang melakukan hal-hal yang seyogyanya membatalkan puasa setelah waktu imsak tersebut hingga tiba waktu adzan Subuh maka menjadi batallah puasanya.

Pemikiran dan pemahaman ini telah menjadi stigma adanya sebuah aturan atau lebih tepat dikatakan sebagai tradisi yang membudaya di kalangan kaum muslimin di mana saja. Bahkan sudah menjadi sesuatu yang dilazimkan di kalangan mereka dengan mencetak almanak-almanak Islam ketika menjelang bulan suci Ramadhan dimana tertera di dalamnya waktu Imsak sebelum waktu Subuh. Kecenderungan berpegang pada pemahaman ini dikarenakan terlalu cepatnya mengambil hujjah yang dianggap sebagai ijma’ (konsensus) dari para ulama salaf.

Sebaliknya disisi lain sangat disayangkan bahwa mereka tidak mencoba meneliti kembali syariat diadakannya imsak melalui naṣ-naṣ yang cukup jelas dan hadits-hadits yang cukup banyak kemudian dikomparasikan dan mencari mana yang lebih rajih yang dapat dipakai sebagai hujjah yang sejatinya dijadikan kebiasaan ilmiah kaum muslimin saat ini sebelum berkata dan beramal. Rasulullah SAW bersabda:

 كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذنَ اِبْنُ أمِّ مَكتُومٍ فَإنَّهُ لاَيُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْر

“Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan karena dia tidak mengumandangkannya kecuali jika telah terbit fajar”.

Kekeliruan yang banyak terjadi saat ini adalah didengungkannya seruan ‘imsak’ sekitar 10 atau 15 menit sebelum masuknya waktu Subuh. Seruan imsak itu bertujuan agar orang-orang yang berpuasa memulai menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa pada waktu-waktu tersebut, mendahului waktu yang semestinya. Banyak di antara kaum muslimin yang menjadi rancu dalam memahami kapan seharusnya mereka memulai berpuasa. Hal itu diakibatkan seruan imsak tersebut. Sah-sah saja jika ingin menghentikan makan dan minum sahur sebelum adzan, akan tetapi yang salah besar adalah jika imsak ini dijadikan tanda haramnya makan minum dan meyakini bahwa itulah awal kita mulai berpuasa pada hari itu.

Penetapan waktu awal puasa atau berhentinya kita dari makan dan minum, adalah harus berdasarkan ketetapan naṣ melalui tafsirnya yang mu’tabar dan hadīts ṣaḥiḥ dengan kejelasan asbab al-wurud dan asbab nuzul-nya dan kesepakatan pendapat para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sehingga merupakan suatu rahmat yang sangat besar dari Allah Ta’ala ketika kita diberi keleluasaan mengakhirkan sahur hingga terbitnya fajar kemerahan dan terdengarnya suara adzan Subuh.

Berdasarkan alasan itulah penulis tertarik melakukan penelitian lapangan dengan mengambil sampel di wilayah kecamatan Gunung Putri, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang pemahaman dan praktik masyarakat terhadap waktu imsak dalam bulan Ramadhan yang secara prakteknya bersifat heterogen. Ada yang mengikuti kalender, tokoh ulama, atau bahkan sekedar mengikuti tradisi.

Research Question

Apa yang menjadi landasan dalam memahami dan mempraktikan jadwal imsakiyyah sebagai batas akhir sahur di lingkungan masyarakat khususnya anggota majlis-majlis taʻlim di kecamatan Gunung Putri?

Metodologi Penelitian

Untuk mengukur pemahaman mereka, dalam pengumpulan data tersebut penulis melakukan metode pendekatan kualitatif yang dikuantifikasikan, sebab ini menghasilkan data deskriptif berupa tertulis maupun lisan dari informan, sehingga dipandang cocok untuk meneliti permasalahan waktu imsakiyyah ini. Pertanyaan yang berisi permasalahan tersebut akan diteliti dalam bentuk penelitian kombinasi antara kepustakaan dan studi lapangan. Dalam penelitian lapangan penulis akan melakukan penelitian lapangan dengan cara observasi (pengamatan), interview (wawancara) kepada beberapa sumber, ataupun memberikan angket kepada responden untuk melengkapi data dalam penelitian yang akan penulis lakukan.  Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kontekstual. Hal ini dilakukan untuk menimbang dari latar belakang masalah yang terjadi ikhtilafiyah pemahaman antara konsep dan praktek yang terjadi di masyarakat yang tidak sesuai dengan hadis-hadis karena kurangnya wawasan terhadap imsakiyah itu sendiri, sehingga masyarakat cenderung mengikuti dan menerapkan waktu imsak itu sesuai dengan jadwal dikalender dan tokoh ulama setempat yang dianggap oleh masyarakat memahami tentang imsakiyah itu. Meskipun itu sebenarnya bisa saja menyesatkan dan bid’ah yang jelas-jelas tidak boleh diikuti apalagi sebagai acuan dalam berpuasa.

Daftar Pustaka Sementara

Al-ʻAsqalānī, Al-Imam al-Hafzh Ibnu Hajar, Fathul Baari: Penjelasan Kitab Shahih al-Bukhari, diterjemahkan oleh Amiruddin, Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.

Al-Baghdādī, Aḥmad bin Muḥammad bin Ḥanbal bin Hilāl bin Asad al-Marwazi, Musnad Aḥmad bin Ḥānbal, Kairo: Mu ̓assasah Qurthubah.

Al-Bāqīʻ, Muḥammad Fuʻād ʻAbd, Miftāh al-Kunūz al-Sunnah, Lahore: Suhail Akademi, 1971.

Al-Bayhaqī, Aḥmad bin Ḥusayn bin ʻAlī bin Mūsā Abū Bakr, Sunan al-Bayhaqī, Makkah al-Mukarramah: Daar al-Baaz, 1994.

Al-Jaʻfī , Muḥammad bin Ismāʻīl Abu ʻAbdullāh al-Bukhārī, Ṣāḥīḥ Bukhārī, Beirut: Daar Ibn Katsīr, 1987.

Al-Maḥallī, Jalaluddīn dan al-Suyūṭī, Jalaluddīn, Tafsīr al-Jalālayn, (Kairo: Daar al-Hadits).

Al-Nasā ̓ i, Aḥmad bin Syuʻayb Abū ʻAbdurraḥman, Sunan al-Nasā ̓ i al-Kubrā, Beirut: Daar al-Kutub al-ʻIlmiyyah, 1991.

Al-Nawāwī, Abū Zakariya Yaḥyā bin Syarf bin Murriī, al-Minḥāj Syarh aḥīh Muslim al-Nawāwī, Beirut: Daar Ihya̓ al-Turats al-ʻArabī.

Al-Qarḍawī, Yusuf. Fatwa-fatwa Kontemporer, terj. Asʻad Yasin, Jakarta: Gema Insani, 1995.

Al-Qurasyī, Abū al-fidā ̓ Ismā ̓ īl bin ʻUmar bin Katsīr, Tafsīr al-Qur ̓an al-ʻAẓīm, Daar Thayyibah li al-Nasyri wa al-Tauzīʻ, 1999.

Al-Qurāsyī, Abū al-Ḥusayn Muslim bin Hajjāj bin Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Beirut: Daar al-Afak al-Jadidah.

Al-Salamī, Muḥammad bin ʻĪsā Abū ʻĪsā al-Tirmidzī, al-Jāmiʻ al-Ṣāḥīḥ Sunan al-Tirmidzī, Beirut: Daar Ihya’ al-Turats al-ʻArabi, 1968.

Al-Sijistanī, Abū Dāwud Sulayman bin al-̓Asyʻats, Sunan Abī Dāwud, Beirut: Daar al-Kutub al-ʻArabi, 1988.

Departemen Agama RI, al-Qur ̓ān dan Terjemahannya, Jakarta: Bumi Restu, 1976.

Khazin, Muhyiddin, Kamus Ilmu Falaq, Jogjakarta: Buana Pustaka, 2005.

Maskufa, Ilmu Falaq, Jakarta: Gaung Persada Press, 2009.

Sumaji, M. Anis dan Zuhdi, M. Najmuddin, 125 Masalah Puasa, Solo: Tiga Serangkai, 2008.

 

Satu Tanggapan to “Mia Fitriatunnisa”

  1. Daftar Judul Penelitian MPTH 2012 « Blog MENGAJAR Says:

    […] 05-07 — Mia Fitriatunnisa “Pemahaman dan Praktek Masyarakat terhadap Hadis-Hadis Imsakiyah (Studi Kasu… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: